
Di bulan Desember, kursus Bahasa Inggris telah selesai, mereka punyabanyak waktu sebelum pertengahan February memulai perkuliahan. Maura sebenarnya agak bingung Arkan dan Angga sepertinya tidak ada rencana untuk pulang ke Indonesia ataupun jalan-jalan seputaran Australia, paling nggak seputaran Queenslandlah, alasan mereka mereka masih menyesuaikan diri di sini, dan budget mereka sangat limit untuk jalan-jalan karena beasiswa yang diberikan kantor mereka nggak banyak. Lha beasiswa dikit kok mobilnya Harrier, walaupun mereka berdalih bahwa itu hanya mobil om nya Angga tetep aja biaya untuk bensin dan perawatannya kan nggak sedikit.
Kalau Maura mah jelas, dalam hitungan hari ia akan melahirkan. Ia mulai dirundung kegugupan yang luar
biasa. Bisa dipahami sih, merasa seorang diri dengan pengalaman pertama ini. Sudah mulai merasa nggak nyaman di sana-sini. Mulai sulit makan, perutnya pun terlihat sudah sangat turun. Makanya dia
merasa beruntung banget ketika Angga dan Arkan berkomitmen akan mendampinginya melahirkan. Bantuan sahabat-sahabat barunya sungguh berharga.
Angga dan Arkan sebenarnya gugup luar biasa, tanggung jawabnya menjaga Maura mulai menunjukan bukan perkara mudah. Bayangin aja, dua bujangan dengan usia yang begitu muda, punya tanggung jawab menjaga perempuan yang dalam hitungan hari, atau mungkin beberapa jam lagi akan melahirkan. Hadeuh… rasanya Angga dan Arkan pengen banget membatalkan perjanjiannya dengan Gardin. Senewennya luar biasa.
“Mbak Maura mau gue pijitin pinggangnya?”
Angga dan Maura terkejut mendengar tawaran Arkan. Arkan ditatap begitu jadi nggak keenakan. “Eh…
jangan salah sangka mbak, gue nggak tega melihat mbak Maura dari tadi kayaknya kesakitan. Pegangin pinggang terus.”
Maura tersenyum mengerti. “Iya sih, sakit banget sebenarnya. Tapi nggak usah makasih ya Kan.” Maura
pun berusaha untuk membuat dirinya nyaman duduk di sofa. Tapi sepertinya kurang berhasil.
Angga menghampiri Arkan dan berkata pelan. “Hati-hati bacot lo bos, didenger big bos mati lo!”
“Iye gue tahu.” Arkan pun menjawab sambil berbisik. “Tapi gue nggak tega.”
“Gue ngerti, gue juga bingung lihatnya.” Mereka masih bisik-bisikan.
Arkan dan Angga benar-benar serba salah. Tapi mereka juga nggak tahu sebenarnya harus bagaimana. Mereka hanya berdiri stand by setiap kali Maura bergerak.
Ketika sepertinya Maura sudah bisa sedikit nyaman, Angga dan Arkan pun duduk di sofa tidak jauh dari Maura untuk nonton TV bersama.
Tidak lama Maura pun bergerak perlahan. “Aku ke kamar aja deh, nyoba tidur.”
“Oh gitu mbak? Kalau bisa pintunya nggak usah dikunci ya mbak. Kita khawatir.”
“Kalau ada apa-apa teriak aja ya mbak.”
Maurapun menjawab dengan senyuman. Dia pun bergerak menuju kamarnya.
Begitu Maura masuk kamar, Angga dan Arkan saling bertatapan mereka langsung memegang telepon genggam mereka masing-masing.
[Bang, kita harus bagaimana? bingung banget] Angga yang pertama memberi kabar.
[Iya bang, sepertinya Mbak Maura sudah mau melahirkan.]
[Gardin lagi meeting, kayaknya HP ini dia tinggal di ruangan.] Jason yang menjawab. [Nggak dibawa ke
rumah sakit aja?]
[Tadi kita udah anter ke rumah sakit bang, tapi kata dokter masih
bukaan satu, jadi disuruh pulang lagi.]
Jason berusaha mengingat bagaimana istrinya dulu melahirkan. Panik luar biasa dia saat itu. Jadi lupa dia dulu ngapain aja. [Semua perlengkapan sudah siap?]
[Sudah di mobil bang.]
[Di Sana sudah jam berapa.]
[Jam 8.]
[Ok bang.]
Percakapan selesai. Jason jadi ikutan gugup mendengar berita ini. Ini kenapa meetingnya Gardin lama banget sih. Dia pun melangkah menuju ruangan Gardin. Sebelumnya bertemu Mia di depan ruangan Gardin, yang memang ruangan Mia.
“Mi, Pak Gardin meetingnya belum selesai?”
“Belum pak, mereka agak rigit.” Mia menceritakan tentang tamu mereka, investor dari Texas.
Jason melirik ke ruangan meeting yang begitu transparan itu. Terlihat sih kalau Gardin memang tidak tenang tapi berusaha untuk fokus. Dalam ruangan itu Selain Gardin, ada Denny asisten pribadinya, Fandi anak buah Jason yang mengurusi masalah legalnya dan empat orang dari pihak calon investor dari Texas itu. Mereka memang sedang membahas projek mereka di Sumatera Selatan yang rencananya akan dimulai tahun depan. Jason seharusnya hadir dalam meeting itu tapi Gardin memintanya untuk menjaga kabar dari Maura. Paling tidak salah satu dari mereka saja yang fokus pada pekerjaan. Untuk urusan Maura, selain Gardin sendiri yang memang hanya Jason yang tahu di kantor itu.
“Mi, kamu tolong online check in dong, untuk penerbangan malam ini saya dan Gardin ke Brisbane.”
Mia bingung. “Oh, Pak Gardin jadi berangkat malam ini pak?” Tapi tangannya pun tetap bergerak dengan
lihai di keybord komputer untuk melakukan permintaan Jason.
Jason mengangguk. Dia berusaha memberi kode pada Fendi agar menyampaikan pada Gardin untuk
mempercepat meetingnya. Pesawat mereka pukul 8 malam, ini sudah pukul 5 sore.
“Oh ya, minta Subhan untuk stand by di Lobi ya!” Jason kembali memerintahkan Mia melakukan persiapan untuk mobil yang akan mengantar mereka ke airport.
Sepuluh menit berselang terlihat bahwa meeting itu selesai. Sepertinya terjadi kesepakatan. Mereka saling berjabat tangan. Sepertinya Gardin mengucapkan permintaan maafnya kalau ia harus meninggalkan tamunya. Ia pun meminta Denny dan Fandi menemani tamunya keluar. Tapi justru dia keluar paling duluan dari ruangan itu.
“Gimana bang?”
“Sudah bukaan satu.”
“Maksudnya apaan?” Gardin bingung.
“Artinya proses melahirkan sudah dimulai.” Jason kebingungan menjelaskan.
“Gue ambil Hp gue satunya di ruangan dulu.” Gardin pun setengah berlari, dan kembali
keluar dalam hitungan detik. “Paspor saya mana Mi?”
Mia pun langsung memberikan paspor dan boarding pass online pada Jason dan Gardin.
“Tolong nggak ada yang tahu kalau saya ke Brisbane ya, termasuk Lusy!” Begitu menerimanya, mereka berdua pun setengah berlari menuju lobi.
Melihat peristiwa itu Mia hanya terdiam, sudah bisa menduga apa yang sedang terjadi. Tapi sebagai sekertaris
ia harus bisa menjaga rahasia atasannya itu. Sepintas ia pun berdoa untuk keselamatan siapapun yang akan melahirkan.
[Bang, kita menuju rumah sakit sekarang, mbak Maura udah kesakitan banget.] Arkan memberi kabar.
Di mobil Gardin dan Jason saling pandang. Gardin pun langsung menelepon Arkan. Tapi langsung di reject.
[Bang, jangan nelepon dulu. Mbak Maura masih ada dalam mobil. Nanti kita kabarin, kalau ada yang mau elo bilang WA aja dulu.] Arkan memberikan informasi.
“Tuhaaaannnn saya harus bagaimana?” Gardin panik banget.
Jason berusaha menenangkan Gardin. Dia pun mengelus-elus kasar punggung Gardin. “Tenang ya… Bentar lagi kita sampai airport kok.” Sumpah ini udah bagus banget jam 6 sore, hari kerja, Di tol bisa 40 km/jam.
[Kita OTW ke BNE. Kalian jaga Maura baik-baik ya. Gardin udah nggak bisa nulis. Panik banget.]