CEO Galau

CEO Galau
Episode 33 Janda CEO



Maura dan Gardin bersama Hiro menjalani kehidupan yang sempurna dan


bahagia sekarang.  Saling memperbaiki


diri dan menjaga diri mereka dari godaan.  Tiga tahun setelahnya mereka kembali dikaruniai seorang anak kali ini


seorang anak perempuan. Maura menjalani kehamilannya dengan penuh


kebahagiaan.  Gardin begitu menjadi suami


siaga.  Tidak mau terulang lagi Maura


menjalani kehamilan terdahulunya dengan perasaan sedih.  Kali ini Gardin berusaha keras mencukupi


semua kebutuhan Maura tanpa Hiro merasa terabaikan.  Buah hati kedua mereka bernama Lovely Putri


Gardin Handoko.  Kebahagiaan keluarga ini


begitu lengkap.


Dua puluh dua tahun kemudian dari pengulangan ijab qobul


Usia Hiro Putra Gardin Handoko telah menginjak dua puluh lima tahun,


sedangkan sang adik perempuan kini berusia dua puluh tahun.  Suasana duka menyelimuti keluarga Gardin


Handoko saat ini.  Gardin Darren Handoko


baru saja dipanggil yang Maha Kuasa dalam usia 65 tahun.  Dia meninggal dalam tidurnya, tidak ada


tanda-tanda apapun kalau dia menderita sakit.  Hal itu tentu saja membuat Maura sang istri sangat syok.  Yang berbeda semalam hanya Gardin lebih manja


dari biasanya pada Maura.  Sejak kembali


bersama dua puluh dua tahun yang lalu mereka memang seperti tidak bisa


terpisahkan lagi.  Gardin selalu membawa


Maura kemanapun ia pergi, terutama keluar kota ataupun keluar negeri.


Semalam, kata-kata terakhir Gardin sebelum tidur panjangnya “Terima


kasih telah bersedia mendampingi aku sayang.  Nggak ada kata-kata yang mampu mengungkapkan betapa sempurnanya bahagiaku


bersama kamu.”  Setelahnya ia pun memeluk


Maura, membisikan doa tidur dan dua kalimat syahadat.  Dua hal yang selalu mereka lakukan sebelum


tidur.


Gardin pun tertidur dalam tidur abadinya.


Kini Maura pun terdiam dalam duka dalamnya, ditemani Putri (nggak


mau dipanggil Lovely) yang masih dalam isak pelannya.  Hiro mendadak berperan sebagai kepala


keluarga.  Seharian ini dia sangat sibuk mengatur


semuanya, termasuk mempersiapkan upacara pemakaman sang ayah dibantu oleh


Denny, Fendi, Angga dan Arkan.  Rencananya Gardin akan disemayamkan di kantornya.  Disholatkan setelah Dzuhur, dan langsung


dimakamkan di makan keluarga yang terletak di Bogor.  Di samping Alm Handoko sang ayah, and Almh


Alicia Alsker sang bunda.  Ribuan orang,


yang merupakan para pekerja, teman-teman dan relasi business Gardin melayat dan menyampaikan bela sungkawa mereka


kepada keluarga ketika Gardin disemayamkan, dan ratusan orang bersedia


mengantarkannya ke pemakamannya.


Selama empat puluh hari setelahnya keluarga itu mengadakan pengajian


setiap malam.  Rumah mereka di Pondok


Indah selalu ramai didatangi oleh keluarga, relasi, dan pekerja yang


terus-menerus menunjukan simpati dan bela sungkawa mereka pada keluarga


itu.  Setiap harinya mereka pun


mengundang anak-anak dari panti asuhan untuk datang dalam pengajian itu.


Malam harinya, Maura, Hiro dan Putri duduk di ruang tengah.  Mereka masih dalam keadaan duka dan lelah.


“Bunda, apa Mas tunda saja keberangkatan Mas?”  Tanya Hiro pelan, dia sangat tahu bahwa sang


bunda masih sangat berduka.  Rencananya


dalam dua hari ini harusnya Hiro berangkat ke New York untuk melanjutkan


Maura menggeleng.  “Jangan,


Mas berangkat saja, nggak usah khawatir!  Perusahaan biar bunda yang urus selama mas sekolah.”  Sekarang Maura mengerti, mengapa tiga tahun


terakhir ini Gardin kekeuh Maura harus terlibat langsung dalam bisnis


mereka.  Peran Maura belakangan ini tidak


hanya mendampingi Gardin kemana pun ia pergi, tapi juga sering menjadi penentu dalam


keputusan perusahaan.  Ternyata Gardin


sedang meminta Maura untuk belajar menangani perusahaan mereka.


“Bunda nggak papa sendiri?”


“Bunda nggak sendiri sayang, Ada Om Denny, Om Fendi, Om Angga dan Om


Arkan yang bantu bunda.”  Keempatnya


adalah orang-orang yang sangat setia dan menjadi kepercayaan Gardin.  Keempatnya menduduki posisi direktur sekarang.  Denny direktur operasional dan site, Fendi


dibantu Angga sebagai direktur legal and international relationship, sedangkan


Arkan direktur internal dan HR. Perusahaan mereka telah berkembang dengan pesat


dan sehat.


Jason tiga tahun yang lalu telah meninggal dunia.  Tapi memang dua tahun sebelumnya dia telah


pensiun karena sakit.  Keluarganya kini menikmati deviden dari saham yang ia punya, selain itu memang


anak-anaknya pun memiliki usaha sendiri yang cukup sukses.  Hubungan Keluarga Gardin dan Keluarga Jason


memang sangat baik, mereka sudah seperti saudara.  Anak-anak mereka pun berteman dengan baik.  Walaupun anak-anak Jason jauh lebih tua dibandingkan dengan Hiro dan Putri. Selain itu pun, hubungan Maura dan Safina pun layaknya kakak beradik yang saling support dan menyayangi.


Maura pun menatap Putri, anak keduanya.  “Kamu nggak boleh manja lagi ya sekarang.  Harus banyak mendoakan ayah agar ayah tenang di surga!”  Membelai kepalanya dengan sayang.


Putri pun memeluk sang bunda. “Iya bunda, Putri sekarang temenin bunda ya.  Bunda jangan sedih terus.”


Yah dibilang begitu, Maura malah menitikan air matanya lagi. Langsung dihapus dengan punggung tangannya. Nggak mungkinlah ia nggak bersedih, belahan jiwanya bertakdir pergi meninggalkannya saat ini.  Harus ikhlas memang, tapi nggak bisa dipungkiri ini ujian yang begitu berat bagi Maura.


“Kamu kuliah yang baik di sana sayang, cepet pulang, cepet bantu bunda, setelahnya perusahaan akan sepenuhnya tanggung jawab kamu!”  Maura pun memberi petuah pada Hiro.


Hiro pun mengangguk.


Maura lega banget, anak-anaknya tumbuh menjadi anak-anak yang


baik.  Mereka memang tidak kekurangan


apapun.  Cinta dan sayang Gardin dan


Maura diberikan pada porsi yang tepat pada mereka sehingga walaupun secara


ekonomi mereka sangat berlebih, tapi tidak satupun dari Hiro ataupun Putri


menjadi anak manja dan tengil.


Maura bangkit dari duduknya. “Bunda tidur dulu ya.”


“Bunda mau Putri tidur sama bunda?”


Maura menggeleng. “Nggak usah, bunda mau tidur sendiri aja


kok.”  Dia pun meninggalkan kedua


anaknya, sebelumnya ia pun mencium kening keduanya.


 


Ketika Maura siap untuk tidur, dia berbaring, memeluk guling begitu erat


seakan dia memeluk Gardin, masih dalam keadaan terisak pelan, berusaha untuk


ikhlas, Maura pun berkata: “Sayang, tunggu aku ya di Surga, jangan tunggu di


pintunya, kamu masuk duluan aja! Di dalam ada banyak bidadari yang menemani


kamu.  Jangan lupakan aku ya, aku akan


menyusul kamu setelah anak-anak siap aku tinggalkan.  Ketika Allah menentukan takdirku untuk pulang


lagi dalam pelukanmu.  Tunggu aku ya


sayang.  Aku cinta kamu. Kita pasti akan


bertemu dalam keabadian. InshaAllah.”