
Maura dan Gardin bersama Hiro menjalani kehidupan yang sempurna dan
bahagia sekarang. Saling memperbaiki
diri dan menjaga diri mereka dari godaan. Tiga tahun setelahnya mereka kembali dikaruniai seorang anak kali ini
seorang anak perempuan. Maura menjalani kehamilannya dengan penuh
kebahagiaan. Gardin begitu menjadi suami
siaga. Tidak mau terulang lagi Maura
menjalani kehamilan terdahulunya dengan perasaan sedih. Kali ini Gardin berusaha keras mencukupi
semua kebutuhan Maura tanpa Hiro merasa terabaikan. Buah hati kedua mereka bernama Lovely Putri
Gardin Handoko. Kebahagiaan keluarga ini
begitu lengkap.
Dua puluh dua tahun kemudian dari pengulangan ijab qobul
Usia Hiro Putra Gardin Handoko telah menginjak dua puluh lima tahun,
sedangkan sang adik perempuan kini berusia dua puluh tahun. Suasana duka menyelimuti keluarga Gardin
Handoko saat ini. Gardin Darren Handoko
baru saja dipanggil yang Maha Kuasa dalam usia 65 tahun. Dia meninggal dalam tidurnya, tidak ada
tanda-tanda apapun kalau dia menderita sakit. Hal itu tentu saja membuat Maura sang istri sangat syok. Yang berbeda semalam hanya Gardin lebih manja
dari biasanya pada Maura. Sejak kembali
bersama dua puluh dua tahun yang lalu mereka memang seperti tidak bisa
terpisahkan lagi. Gardin selalu membawa
Maura kemanapun ia pergi, terutama keluar kota ataupun keluar negeri.
Semalam, kata-kata terakhir Gardin sebelum tidur panjangnya “Terima
kasih telah bersedia mendampingi aku sayang. Nggak ada kata-kata yang mampu mengungkapkan betapa sempurnanya bahagiaku
bersama kamu.” Setelahnya ia pun memeluk
Maura, membisikan doa tidur dan dua kalimat syahadat. Dua hal yang selalu mereka lakukan sebelum
tidur.
Gardin pun tertidur dalam tidur abadinya.
Kini Maura pun terdiam dalam duka dalamnya, ditemani Putri (nggak
mau dipanggil Lovely) yang masih dalam isak pelannya. Hiro mendadak berperan sebagai kepala
keluarga. Seharian ini dia sangat sibuk mengatur
semuanya, termasuk mempersiapkan upacara pemakaman sang ayah dibantu oleh
Denny, Fendi, Angga dan Arkan. Rencananya Gardin akan disemayamkan di kantornya. Disholatkan setelah Dzuhur, dan langsung
dimakamkan di makan keluarga yang terletak di Bogor. Di samping Alm Handoko sang ayah, and Almh
Alicia Alsker sang bunda. Ribuan orang,
yang merupakan para pekerja, teman-teman dan relasi business Gardin melayat dan menyampaikan bela sungkawa mereka
kepada keluarga ketika Gardin disemayamkan, dan ratusan orang bersedia
mengantarkannya ke pemakamannya.
Selama empat puluh hari setelahnya keluarga itu mengadakan pengajian
setiap malam. Rumah mereka di Pondok
Indah selalu ramai didatangi oleh keluarga, relasi, dan pekerja yang
terus-menerus menunjukan simpati dan bela sungkawa mereka pada keluarga
itu. Setiap harinya mereka pun
mengundang anak-anak dari panti asuhan untuk datang dalam pengajian itu.
Malam harinya, Maura, Hiro dan Putri duduk di ruang tengah. Mereka masih dalam keadaan duka dan lelah.
“Bunda, apa Mas tunda saja keberangkatan Mas?” Tanya Hiro pelan, dia sangat tahu bahwa sang
bunda masih sangat berduka. Rencananya
dalam dua hari ini harusnya Hiro berangkat ke New York untuk melanjutkan
Maura menggeleng. “Jangan,
Mas berangkat saja, nggak usah khawatir! Perusahaan biar bunda yang urus selama mas sekolah.” Sekarang Maura mengerti, mengapa tiga tahun
terakhir ini Gardin kekeuh Maura harus terlibat langsung dalam bisnis
mereka. Peran Maura belakangan ini tidak
hanya mendampingi Gardin kemana pun ia pergi, tapi juga sering menjadi penentu dalam
keputusan perusahaan. Ternyata Gardin
sedang meminta Maura untuk belajar menangani perusahaan mereka.
“Bunda nggak papa sendiri?”
“Bunda nggak sendiri sayang, Ada Om Denny, Om Fendi, Om Angga dan Om
Arkan yang bantu bunda.” Keempatnya
adalah orang-orang yang sangat setia dan menjadi kepercayaan Gardin. Keempatnya menduduki posisi direktur sekarang. Denny direktur operasional dan site, Fendi
dibantu Angga sebagai direktur legal and international relationship, sedangkan
Arkan direktur internal dan HR. Perusahaan mereka telah berkembang dengan pesat
dan sehat.
Jason tiga tahun yang lalu telah meninggal dunia. Tapi memang dua tahun sebelumnya dia telah
pensiun karena sakit. Keluarganya kini menikmati deviden dari saham yang ia punya, selain itu memang
anak-anaknya pun memiliki usaha sendiri yang cukup sukses. Hubungan Keluarga Gardin dan Keluarga Jason
memang sangat baik, mereka sudah seperti saudara. Anak-anak mereka pun berteman dengan baik. Walaupun anak-anak Jason jauh lebih tua dibandingkan dengan Hiro dan Putri. Selain itu pun, hubungan Maura dan Safina pun layaknya kakak beradik yang saling support dan menyayangi.
Maura pun menatap Putri, anak keduanya. “Kamu nggak boleh manja lagi ya sekarang. Harus banyak mendoakan ayah agar ayah tenang di surga!” Membelai kepalanya dengan sayang.
Putri pun memeluk sang bunda. “Iya bunda, Putri sekarang temenin bunda ya. Bunda jangan sedih terus.”
Yah dibilang begitu, Maura malah menitikan air matanya lagi. Langsung dihapus dengan punggung tangannya. Nggak mungkinlah ia nggak bersedih, belahan jiwanya bertakdir pergi meninggalkannya saat ini. Harus ikhlas memang, tapi nggak bisa dipungkiri ini ujian yang begitu berat bagi Maura.
“Kamu kuliah yang baik di sana sayang, cepet pulang, cepet bantu bunda, setelahnya perusahaan akan sepenuhnya tanggung jawab kamu!” Maura pun memberi petuah pada Hiro.
Hiro pun mengangguk.
Maura lega banget, anak-anaknya tumbuh menjadi anak-anak yang
baik. Mereka memang tidak kekurangan
apapun. Cinta dan sayang Gardin dan
Maura diberikan pada porsi yang tepat pada mereka sehingga walaupun secara
ekonomi mereka sangat berlebih, tapi tidak satupun dari Hiro ataupun Putri
menjadi anak manja dan tengil.
Maura bangkit dari duduknya. “Bunda tidur dulu ya.”
“Bunda mau Putri tidur sama bunda?”
Maura menggeleng. “Nggak usah, bunda mau tidur sendiri aja
kok.” Dia pun meninggalkan kedua
anaknya, sebelumnya ia pun mencium kening keduanya.
Ketika Maura siap untuk tidur, dia berbaring, memeluk guling begitu erat
seakan dia memeluk Gardin, masih dalam keadaan terisak pelan, berusaha untuk
ikhlas, Maura pun berkata: “Sayang, tunggu aku ya di Surga, jangan tunggu di
pintunya, kamu masuk duluan aja! Di dalam ada banyak bidadari yang menemani
kamu. Jangan lupakan aku ya, aku akan
menyusul kamu setelah anak-anak siap aku tinggalkan. Ketika Allah menentukan takdirku untuk pulang
lagi dalam pelukanmu. Tunggu aku ya
sayang. Aku cinta kamu. Kita pasti akan
bertemu dalam keabadian. InshaAllah.”