CEO Galau

CEO Galau
Episode 5 Cintanya hilang



Gardin sedang dalam perjalanan menuju apartemen Maura.  Dia sedang berfikir keras bagaimana


menyampaikan berita ini pada Maura, bahwa ia mampu menduga kalau Maura hamil anaknya,


dan berubah fikiran. Ia bermaksud membatalkan rencana menceraikan Maura.  Dia bingung menyampaikan kalau dia akan beristri dua.  Hanya ingin minta maaf pada Maura, dan besar harapannya Maura memaafkannya dan bersedia hidup bersama


lagi dengannya, kembali ke rumah mereka di Pondok Indah.


Gardin merasa sangat mengenal istrinya, Maura.  Perempuan lembut, tapi juga tegas dan


berprinsip.  Gardin menyadari kini, bahwa ia masih sangat mencintai istrinya.  Berfikir keras untuk bisa membujuk Maura untuk melupakan semua perkataan kasar yang pernah terlontar, perbuatannya yang tercela, dan yang penting bersedia memaafkannya dan mau Kembali padanya.  Semoga Maura mengerti, bahwa Gardin hanyalah manusia yang juga pernah salah, pernah khilaf, hingga juga pernah nakal.  Semoga Maura bisa mengerti bahwa dia tidak bisa menapikkan puber keduanya.  Tapi kini ia telah menyadari kalau dia telah melakukan kesalahan, semoga Maura bersedia melupakan dan memaafkan semua itu.  tapi yang terpenting, semoga Maura menerima di poligami bukan untuk sementara waktu.


Terlalu asik termenung, hingga Subhan sang supir pribadinya harus memberi tahu tiga kali pada Gardin kalau mereka telah sampai di apartemen Maura.  Begitu gugupnya Gardin turun dari Jauguar keluaran terbaru.  Dia pun melangkah menuju tower tempat Maura bernaung.


“Mau ke mana pak?” Tanya seorang satpam dengan sopan.


“Ke tempat ibu Maura.” Jawab Gardin sambil menuju lift.


“Ibu Maura di lantai 9?”


Gardin mengangguk.


“Ibu Maura sudah sebulan tidak tinggal di sini lagi pak.”  Satpamnya heran kok Gardin nggak tahu.


“Ha? Kamu yakin?”


Sang satpam mengangguk. “Kalau bapak tidak percaya bisa hubungi pihak marketing, karena ibu Maura menyewa unitnya melalui kantor marketing


kami.”


Gardin semakin heran.  Jadi itu apartemen sewaan? Maura tidak membeli apartemen yang murah itu?  Gardin tahu kok, dengan tabungan yang Maura punya dia mampu membeli apartemen kecil begitu mah.


Gardin pun langsung menghubungi Maura melalui telepon genggamnya,


mesin operator menyatakan nomer itu tidak aktif.  Kemudian Gardin menelepon Pak Mochtar. Menanti sesaat “Pak, Maura ada di mana?”


Pak Mochtar menghela nafas. “Mas Gardin ke kantor saya saja ya


sekarang, kebetulan saya sedang kosong sampai jam tiga nanti.”


“Ok, saya ke sana sekarang.”  Gardin pun langsung bergegas menuju satu gedung pencakar langit di jalan TB Simatupang.


**


“Maura di mana pak?”  Tanpa basa-basi Gardin pun langsung bertanya begitu ia tiba di ruangan kerja Pak


Mochtar.


Pak Mochtar menghela nafas. “Saya nggak bisa bilang mas, saya sudah berjanji pada mbak Maura.”


“Apa bapak tega, istri saya hilang pak.”  Gardin begitu memohon.


“Seharusnya mas berfikir seperti ini sebelum anda menyakiti dia.”


“Apa saya nggak punya kesempatan untuk memperbaiki pernikahan saya


pak?”


“Mas, saat ini Mbak Maura butuh tenang.”


“Saya nggak tenang pak.  Saya


nggak tahu dia di mana.”


Pak Mochtar hanya diam.


“Tolong saya pak, dia di mana?”


Pak Mochtar ragu.  “Setelah


Mas Gardin tahu, mas mau apa?”


“Saya akan temui dia.”


“Kalau begitu saya tidak akan memberi tahu.”


“Kok bapak seperti ini?”  Gardin benar-benar kecewa dengan Pak Mochtar.  Dia menitipkan Maura untuk dijaga oleh


laki-laki tua ini, bukan untuk disembunyikan begini.


“Mas, Mbak Maura butuh tenang, demi kesehatannya.”


“Maura sakit?”


Gardin diam.  Hadeuh apa lagi ini.  Dia tahu kalau dia pihal yang


bersalah, tapi apa iya Maura harus pergi begini? “Pak, saya mohon beri tahu saya dia di mana!”


“Saya akan beri tahu, asalkan Mas Gardin janji tidak akan


mendatanginya sebelum ijin pada saya.”


“Kenapa begitu?”


“Karena nantinya saya akan bertanya pada beliau apakah diijinkan Mas


Gardin menemuinya.”


Gardin menghela nafas.  Memejamkan matanya sesaat. “Ok, saya janji saya tidak akan menemui dia


tapi saya butuh tahu dia ada di mana.”


Pak Mochtar menyalakan alat perekam yang ada di hadapannya. “Tolong ulangi janji Mas Gardin sekali lagi, saya belum sempat membuat surat pernyataan.”


“Saya, Gardin Darren Handoko berjanji tidak akan menemui istri saya, Maura Amelia Andrakarma walaupun saya tahu dia di mana sebelum saya mendapatkan ijinnya.”  Gardin mengulang pernyataannya untuk direkam.


Pak Mochtar pun mematikan alat rekamnya. “Mbak Maura ada di


Brisbane.”


“Apa?”  Ada apa di Brisbane, kenapa Maura justru pergi ke Brisbane?  Kota yang sama sekali tidak pernah dibayangkan Gardin menjadi tempat pelarian Maura.


“Dia akan melanjutkan program masternya di sana, selain mencari ketenangan.  Karena ia nggak sanggup


menghadapi pernikahan Mas Gardin dengan Lusy.”


Oh begitu “Kenapa Brisbane?”


“Karena Universitas yang ada di sana yang menerimanya pertama.”


Gardin diam, dia memang sudah lama tahu kalau Maura sangat ingin sekolah lagi, tapi dulu Gardin tidak mengijinkan, karena ia tak mau jauh dari Maura.  Rupanya Maura ingin mewujudkan cita-citanya


yang tertunda.  Gardin sangat bangga dengan Maura, di saat kondisi seperti ini, meraih pendidikan tinggi justru


menjadi pelariannya.


“Dia sendirian di sana pak?”


“Mas Gardin tahukan betapa kerasnya istri anda?  Tapi nggak usah khawatir, saya sudah menitipkan dia pada beberapa rekan saya yang ada di sana.”


Gardin masih terdiam.  Dia pun bangkit dari duduknya.  “Terima kasih informasinya pak.”  Diapun hendak


meninggalkan kantor itu.


“Mas, tolong tepati janji anda, Biarkan Mbak Maura tenang!”  Pinta Pak Mochtar.


Gardin pun hanya mengangguk linglung dan meninggalkan kantor itu.


**


Gardin semakin panik begitu mengetahui bahwa apa yang dia khawatirkan benar adanya.  Jason mendapatkan data akurat bahwa Maura hamil, saat ini kehamilannya telah berjalan lima bulan.  Sejauh ini ibu dan janin


dalam kondisi sehat.  Mengetahui data itu, perasaan Gardin Bahagia dan sedih menjadi satu.  Dia pun juga frustasi ternyata dia laki-laki gagal yang tidak mampu tanggap dan menjaga istrinya.


“Gue harus gimana Bang? Gue udah janji sama Pak Mochtar untuk nggak menemui dia.  Tapi gue bener-bener nggak tenang.”  Gardin terlanjur berjanji.  Bagai buah simalakama, benar-benar dalam dilemma.


“Kita kirim orang aja untuk mengawasi dia, biar orang itu yang akan melaporkan setiap harinya.”


“Apa yakin Maura nggak tahu?”


“Kita usahainlah, Maurakan mau sekolah toh? Kita buat orang suruhan kita untuk jadi mahasiswa juga.”


Gardin tersenyum.  “Ide bagus tuh.”


“Elo setuju? Gue akan cari orang untuk itu.”


“Secepatnya ya bang! Gue bener-bener harus tahu kabar Maura.”


Jason mengangguk.  Dia pun bangkit dan bermaksud meninggalkan Gardin.  “Gue hubungi elo secepatnya.  Nggak usah khawatir ya.”


“Ah elo, ini tentang anak dan istri gue Bang.”


“Udah ilang baru lo cari.  Kemaren-kemaren ke mane aje?  Nyusahin aja lu!”


Gardin tersenyum kecut.  “Yah… namanya juga khilaf.”