CEO Galau

CEO Galau
Episode 30 Lamar aku lagi dong!



Jumat malam, Gardin, Maura dan Hiro sedang bersantai di ruang tengah


sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing.  Gardin dan Hiro sedang asik menyusun lego, sedangkan Maura membaca


majalah ketika Pak Karim datang dengan membawa baju yang tercover rapih dengan


gantungannya.


“Bu, ini diletakan di mana?” Tanya Pak Karim.


Maura mendongak memperhatikan apa yang dibawa Pak Karim. “Oh, tolong


digantung di tiang gantungan baju dekat kulkas itu pak!” Pinta Maura.  Cover baju itu tertulis nama desiner terkenal


Indonesia.


Pak Karim pun melaksanakan apa yang diminta Maura. Dan Maura pun


berterima kasih.


Gardin pun penasaran. “Apa tuh Ra?”


“Oh itu, kebaya buat nikahan kita nanti.”  Jawab Maura acuh.


Gardin kaget, “Ha serius? Kamu sudah bikin kebaya?”  Gardin bahagia banget mendengarnya.  Rasanya sudah di depan mata pernikahannya


akan segera terwujud.  Bukan pernikahan


sih, pengulangan prosesi ijab qobul sebenarnya.  Mereka kan sudah menikah hampir empat belas tahun yang lalu.


Maura bingung, kenapa Gardin kaget, kan memang sudah direncanakan


toh? “Ya kan sudah hampir enam bulan.  Sudah waktunya kita rujukkan?”


Gardin menghampiri Maura, dan langsung mencim pipi Maura, setelahnya


memeluknya.  “Aku seneng banget sayang.”


Maura tersenyum.  Nggak cuma


Gardin kok yang senang.


“Aku nanti pakai apa Ra? Aku kan juga pengen ganteng buat kamu.”


Gardin begitu bersemangat.


Maura tersenyum. “Itu sudah sekalian kok, kebaya aku, baju koko kamu


dan Hiro juga.”


“Oh…”


“Warna apa Ra?”


“Biru, kesukaan


kamu.”


Gardin meluk lagi. Senangnya bertubi-tubi rasanya.


“Din, aku boleh ngajuin syarat lagi nggak?” Maura tersenyum, tapi


kali ini sebenarnya dia iseng aja sih.  Bukan


satu hal yang penting.


Raut wajah Gardin langsung nggak enak gitu, dia mendesah pelan.


“Masih ada syarat lagi Ra?”


Maura tersenyum, mengalungkan tangannya di leher Gardin.  “Aku pengen dong dilamar romantis gitu.”


Pintanya manja-manja ngegemesin gitu deh.


“Ha, ngelamar lagi? Serius ini?” Gardin bingung, males mendengarnya.


“Ya, tapi nggak penting sih… kalau kamu nggak mau juga kita tetep


bakal rujuk kok.”  Jawab Maura.  Tapi dengan expresi agak-agak kecewa sedih


gimana gitu.


Kan Gardin jadi nggak tega ya, masa sih dia ngecewain perempuan yang


dicintai itu, permintaannya juga nggak macem-macem kok sebenarnya. “Ya udah


deh, kasih aku waktu seminggu ya.”


“Seminggu?”  Maura heran,


kira-kira apa ya yang akan dipersiapkan Gardin?


Gardin pun mengangguk misterius.


**


Selama satu minggu Maura uring-uringan karena begitu penasaran.  Kira-kira apa yang yang akan dilakukan Gardin


untuknya.  Benar-benar nggak ada clue sama sekali.  Gardin kalau di rumah terlihat biasa-biasa


saja, seperti tidak ada yang sedang ia persiapkan.  Maura kan jadi makin penasaran ya? Hadeuh


kalau tahu sebegini penasarannya jadi pengen ngebatalin permintaannya itu deh,


dari pada mati penasaran gini.  Pernah


sekali Maura menyinggung itu ke Gardin, eh tapi Gardin malah senyum-senyum


sambil bilang “mau tahu aja.” Ih… ngeselinkan?


Hari ini hari jumat, persis seminggu dari Maura mengucapkan


keinginannya.  Seharusnya hari inikan ya


Gardin akan merayunya, atau melamarnya, atau apalah.  Sesuatu yang seharusnya membuat hatinya


berbunga-bunga, dan kemudian dia akan bilang “I do…” gitu lho, kayak acara-acara romantis di TV.  Kalau dipikir-pikir itu norak.  Tapi kok ya pengen sekali-kali punya cerita


norak.  hehehe…  semakin penasaran, sejak pagi hari Maura


mulai menduga, hm… mungkin kejutannya ada di restoran, semua karyawannya


disuruh Gardin mendekorasi ruangan, terus Gardin bawa bunga sama cincin gitu?


Maura membayangkan seperti itu yang akan terjadi.  Eh begitu masuk restoran nggak terjadi


apa-apa lho, biasa-biasa aja gitu.  Semua


berjalan normal.  Maura mulai masuk ke


ruangan kantornya di lantai dua, begitu di depan pintu dia nggak langsung


masuk.  Maura membayangkan di dalam


kantornya sudah ada Gardin dengan segala kejutannya.  Maka, dia pun membuka pintu dengan hati-hati…


sebelumnya mempersiapkan diri bergaya kaget.  Begitu buka pintu… ya udah pintunya terbuka, dia masuk, duduk di meja


kerjanya, dan Santi asistennya menyediakan teh hangat untuk dirinya.  Serius nggak ada Gardin.  Hm… rasanya kecewa-kecewa gimana gitu.  Apa jangan-jangan Gardin sibuk banget ya,


jadinya dia lupa kalau hari ini tepat seminggu waktu yang dia minta untuk


memperiapkan diri melamar Maura? Ah… tahu ah… membayangkan hal itu, Maura jadi


kecewa.  Dia jadi cemberut nggak


jelas.  Kayaknya memang Gardin nggak akan


melakukannya deh, paling nggak bukan hari ini.  Yang artinya Gardin nggak menepati janjinya.  Tapi, hm.. tenang dong Maura!  Hari ini kan baru saja di mulai, hari masih


panjang.  Ini baru pukul Sembilan pagi


Dan yang ditunggu akhirnya datang lho.  Gardin datang setelah sholat Jumat.  Tapi Maura agak kecewa, Gardin datang dengan


berlenggang tanpa membawa apapun, mbok ya bunga kek, atau penampilannya lebih


ganteng gitu.  Ini nggak lho, Gardin


datang dengan menggunakan kemeja kerja yang tangannya digulung hingga siku. Kelihatan


pulang sholat Jumat banget deh. Kemejanya warna biru muda, celana hitam, ya


biasa aja.  Datang ke hadapan Maura


dengan gaya santainya sambil nyengir.


“Aku sudah siap melamar kamu nih.”


Maura langsung bersungut-sungut.  “Lamaran macam apa ini.”


“Lho, jangan lihat luarannya dong, lihat kedalaman makna proses


melamar kamu.”  Gardin pun menarik Maura


untuk bangun dari kursi kerjanya.  Diajaknya Maura untuk duduk di meja meeting,


yang saling berhadapan lebih dekat dari pada harus duduk di meja kerja


Maura.


Sejauh ini Maura masih nurut, karena dia penasaran dengan apa yang


akan dilakukan oleh Gardin.  Mereka pun


duduk berhadapan, sangat berdekatan.  Gardin pun mengambil tangan Maura dan menempelkan tangan itu di pipinya,


sesekali diciumnya tangan itu.  Dia pun


tersenyum.


“Kalau ada yang salah jangan diketawain ya, kalau kamu bisa bantu


aku betulin.” Pinta Gardin.


Maura pun makin bingung, “betulin apa?”


Gardin nggak menjawab dia hanya tersenyum penuh misterius.


Dia pun menarik nafas, dan dia pun memulai. “Audzubillah Himinas Syaiton


Nirojim…. Bismilah hirrahman nirohim….” menarik nafas perlahan… “Alif Laam Miim…. gulibatir-rụm…. fī adnal-arḍi wa hum


mim ba’di galabihim sayaglibụn….”


Maura terpana… Subhanallah, Gardin melantunkan surah Ar-Rum… Maura benar-benar terpukau.


Gardin terus berusaha mengingat


hafalannya. “Binaṣrillāh, yanṣuru may yasyā`,


wa huwal-‘azīzur-raḥīm…”


Maura begitu terpukau…


Gardin terus melantunkan ayat demi


ayat dengan masih menggenggam tangan Maura dan meletakkan di pipinya, masih


terus sesekali ia pun mencium tangan itu.


“Wa’dallāh, lā yukhlifullāhu wa’dahụ wa lākinna


akṡaran-nāsi lā ya’lamụn..”


Maura mulai meneteskan airmata


harunya.  Ini serius suaminya begitu niat


menghafal dan melafalkan ayat demi ayat.  Walaupun terbata-bata dan nggak seindah qori yang ada di pengajian, di Youtube,


atau di TV, tapi keinginan keras Gardin tetap membuat Maura begitu terharu.


“Faṣbir inna wa’dallāhi ḥaqquw wa lā


yastakhiffannakallażīna lā yụqinụn.”


Gardin berhasil lho, 60 ayat surah Ar-Rum berhasil ia


hafalkan.


“Sadaqallahul azim.”Gardin menyelesaikan lafalannya. Setelahnya dia pun membuka matanya dan


menatap Maura tersipu-sipu. “Maap ya, masih banyak salah pengucapan.”


Maura mengambil tangannya yang masih digenggam Gardin untuk menghapus


airmata harunya. “Kenapa harus surah Ar-Rum?” agak penasaran sih.


“Terinspirasi dari undangan-undangan kawinan.” Gardin pun nyengir. “Tapi


kalau cuma ngapalin ayat itu aja, kok kurang menantang.  Saat aku baca keseluruhan surah nya, dan


membaca artinya ternyata maknanya dalem banget.  Aku mengartikannya sebagai kondisi aku saat ini, aku yang yang pernah


khilaf, yang pernah begitu sombong, aku yang kehilangan arah, dan aku yang


akhirnya menemukan jalanku kembali kepada kamu karena Allah selalu meminta aku


untuk menjadi manusia yang berfikir.  Itu


yang aku bisa maknai tentang surah ini.” Gardin menjelaskannya dengan


Malu-malu.


Huuuuu Kok rasanya pengen meluk Gardin ya, sambil bilang I do… eh belom diminta ya? Maura sudah


nggak sabar.


Gardin pun mengambil kembali tangan Maura yang dipakai untuk menghapus


airmatanya tadi.  Dia pun mengeluarkan


cincin yang ada di jari kelingkingnya, dan kemudian menyematkan ke jari manis


kiri Maura.  “Aku pernah khilaf,


mengkhianati kamu, pernah meminta kamu pergi dari hidupku, pernah nggak perduli


apa yang kamu rasa, Membiarkan kamu menjalani kehamilanmu seorang diri. Aku pun


tahu bahwa semua itu berat untuk kamu.” Gardin tersenyum, tapi dia


bersungguh-sungguh dalam bicaranya. “Sekarang aku menyesal dan berusaha keras


memperbaiki kesalahanku. Maura Amelia Andrakarma mau ya


jadi istriku lagi?”


“Ya kalau sudah begini mana bisa nolak.”  Maura pun memeluk Gardin.


Semoga ya, kali ini pernikahan ini bisa berkah untuk semua ya,


hingga maut memisahkan dan bertemu lagi dalam Jannah yang di janjikan


Allah,SWT.


Ternyata membuat perempuan luluh tuh nggak selalu mesti bunga, dan


dekorasi cantik, dan berlutut ya.  Kesungguhan dan keseriusan pun menjadi sangat penting dan romantis


banget.  Sekian liputan sore ini.