
Gardin begitu sedih harus meninggalkan Brisbane. Tapi di sisi lain\, dia sepertinya bisa bersemangat lagi menjalani harinya karena Maura perlahan telah membuka dirinya. Gardin pun telah menyampaikan isi hatinya langsung tanpa perantara. Walaupun Maura meminta Gardin untuk bersabar\, dan belum memberikan keputusan apapun\, tapi memberikan harapan bagi Gardin untuk bisa bersama lagi. Menjadi keluarga yang utuh\, kali ini menjadi sempurna dengan adanya Hiro di tengah-tengah mereka. Gardin telah berkomitmen untuk tiap tiga bulan sekali datang ke Brisbane mengunjungi Maura dan Hiro. Pengennya sih tiap bulan\, tapi jadwal kerjanya begitu padat\, rasanya sulit untuk tiap bulan ada di Brisbane. Kalau sedang bercanda dengan Jason\, Gardin selalu berkata bahwa tiga bulan sekali dia pulang kampung. Bukan karena dia menganggap\, St Lucia\, Brisbane adalah kampungnya\, tapi Maura dan Hiro adalah tujuannya pulang. Dan diapun berharap\, suatu saat Maura pun akan beranggapan sama pada dirinya. Mudah-mudahan yang dimaksud dengan ‘suatu saat’ itu secepatnya ya…‘Mohon doanya aja’ #Selebriti_Indonesia_tone_kalau_ditanya_kapan_kawin.
**
Nggak terasa ya, ternyata Maura, Arkan, Angga sudah lebih dari satu setengah tahun kuliah di UQ. Hiro juga
usianya telah satu tahun lebih kini. Dia tumbuh menjadi anak sehat yang lucu dan menyenangkan. Sudah satu setengah tahun lho usianya. Sejak usia satu tahun Maura sudah mulai mengenalkan Hiro dengan daycare.
Arkan dan Angga sudah di akhir study masternya. Sedangkan Maura masih harus satu semester
lagi untuk bisa menyandang gelar master. Tapi bagaimana pun waktu cepat sekali berjalan. Atas bantuan Pak Mochtar yang telah berkordinasi dengan Gardin, Arkan dan Angga akan magang dulu di kantor
pengacara bertaraf international di Brisbane selama satu semester. Setiap hari kerja mereka akan ada kantor
pengacara itu selama empat jam. Sebenarnya itu alasan aja sih agar Maura nggak curiga walau study mereka selesai, tapi kok mereka nggak langsung pulang. Ya mau gimana, tugas merekakan memang harus bisa mengawal Maura dan Hiro sampai tanah air dengan selamat.
Kalau boleh milih sih, Angga mah pengen pulang cepat. Dagna sang tunangan sudah gerah banget nih
karena mereka nggak nikah-nikah. Gardin berhasil merayu Angga dan Dagna bahwa Dagna akan mendapatkan tiket untuk terbang ke Brisbane saat Angga wisuda nanti, dan mereka akan mendapatkan hadiah sebuah rumah begitu mereka menikah nanti. Mereka berdua yang pilih lokasi dan rumahnya, Gardin tinggal bayar. Tapi untuk itu semua, Dagna nggak boleh rewel. Tugas Angga sebentar lagi selesai kok. Dengan iming-iming dua hadiah
menggiurkan itu, akhirnya Dagna bersedia bersikap manis dan sabar.
**
“Mbak, elo tuh lagi ngapain sih?” Arkan kebingungan melihat Maura yang dari kemarin sibuk di depan laptopnya. Kehadiran Gardin saja setengah dicuekin. Padahal semesteran sudah selesai kok. Nilai sudah keluar, Angga dan Arkan bahkan minggu depan sudah mau wisuda.
Saat ini bisa dibilang keenam kalinya Gardin ada di Brisbane. Walau hubungannya dengan Maura tidak berkembang banyak, tapi Gardin sabar dan bahagia kok karena Maura sangat ramah dan sama sekali tidak pernah
mempertontonkan dendam dan sakit hatinya pada Gardin.
Gardin tersenyum mendengar pertanyaan Arkan pada istrinya. Sedari tadi dia memang sudah mau bertanya
sih. Cuma nggak enak saja kalau banyak tanya. Dalam hati Gardin berucap thanks to si polos Arkan.
Maura jadi ngeh kalau ternyata dia begitu fokus jadi lupa lingkungan. “Ini, gue lagi bikin project.”
“Project?” Gardin penasaran.
“Semester depan itu kan gue harusnya thesis. Tapi gue boleh milih antara bikin project sama nulis thesis.”
“Terus?”
“Bulan kemarin lihat ada vacant gitu di kantin, ada satu stall yang kosong. Terus kepikiran aja kalau mau
jualan gitu di kantin, sekalian itu dijadiin project. Nah sekarang lagi bikin semacam proposal start up untuk buat UKM gitu.”
“Maksudnya?” Gardin mengerti sih maksud Maura tapi dia masih nggak percaya.
Maura menghela nafas mencoba menjelaskan keinginannya pada Gardin dan Arkan. “Aku mau buka stall makanan Indonesia di kantin kampus, kan udah ada makanan India, kebab, makanan Singapore, Mexico, dan
pastinya western, nah biar beragam aja aku mau coba jualan makanan Indonesia. Bukan makanan mewah, semacam paket makan sianglah, konsep warteg gitu. Sekalian jadikan ini project pengganti thesis ku.”
Angga yang baru keluar kamar jadi ikut menyimak. “Ha, maksudnya elo mau jadi ibu kantin mbak?”
Maura tergelak, “Iya ya, ibu kantin. Tapi ya karena ini juga bagian dari project study gue, jadinya nggak
sesimple jadi ibu kantin di kantin kampus S1 elo dulu. Gue harus bikin ijin usaha dulu, bikin TFN,
ngurus pajak, ada itung-itungan bisnisnya, banyak banget online training yang harus gue jalanin dari pemerintah Australia, mengingat bisnis yang gue jalananin ini kan makanan, jadi agak sensitif.”
“Wah, seru ya kayaknya.” Arkan bersemangat.
Maura tersenyum dia lebih bersemangat lagi makanya beberapa hari ini ia begitu fokus menjalankannya. Dosen
pembimbingnya pun mendukung projek yang ingin ia buat. Karena bisnis yang ingin ia lakukan di kampus
juga, dan dalam skala amat kecil, sehingga bukan nggak mungkin bisa terlihat hasilnya hanya dalam beberapa bulan saja.
“Apa yang bisa kita bantu nih mbak?”
“Hm… pastinya aku akan ngerepotin kalian sih, mungkin untuk mengurus perijinannya. Dan nanti kalau udah running, ya butuh bantuan angkut, angkut belanjaan sih.”
“Oh, siap!” Arkan pun semangat.
“Apa malah justru itu nggak bikin kamu repot Ra, Hiro jangan sampai terbengkalai lho!” Gardin mulai terlihat
“Ha, kok jadi Hiro, apa hubungannya sama dia, aku ibunya, nggak mungkinlah aku menyia-nyiakan dia.” Maura agak tersinggung.
Angga melirik ke Gardin. Kok sepertinya Gardin kurang senang ya mendengar project Maura itu. Wajahnya keruh banget begitu tahu kalau Maura mau jadi ibu kantin. Sepertinya Gardin ingin menyampaikan keberatannya pada Maura. Insting Angga mengatakan bahwa Gardin butuh waktu berdua saja dengan istrinya. “Kan, Anterin gue yuk!”
Arkan bingung. “Ke mana?” Lagi tengah-tengah ngobrol kok malah diajak pergi?
Angga mengambil kunci mobil di meja makan. “Beli titipan Dagna, katanya sebelum dia dateng minggu depan, barangnya harus udah ada.” Angga pun menyeret Arkan.
“Apaan?”
“Apa gitu… udah yuk! Jalan dulu ya mbak, Bang.”
Gardin terdiam sesaat menunggu Arkan dan Angga benar-benar pergi dari unit itu. “Kenapa harus ngerjain
projek Ra, kenapa nggak mini thesis aja. Kalau memang butuh data, kamu bisa ambil data perusahaan kita.” Gardin benar-benar tidak setuju dengan apa yang dilakukan Maura.
“Kita? Kamu kali.” Maura kebingungan kenapa sekarang Gardin bilang perusahaannya jadi perusahaan bersama. Sejak kapan ia punya hak atas perusahaan itu. “Projek ini penting buat aku, itung-itung aku belajar dan sekaligus praktek buka usaha kecil-kecilan.”
“Thesis aja berat Ra, apalagi projek seperti itu. Kamu yang penting bisa dapet gelar master kan,
kenapa harus mempersulit diri?”
Maura agak kesal dengan apa yang disampaikan Gardin. “Kamu kenapa sih? Kok bukannya dukung aku malah keberatan gini?”
Gardin menghela nafas. “Bukan begitu, aku hanya ingin kamu cepat selesai kuliahnya, cepat pulang dan kembali ke aku.”
“Kamu itu egois ya, kok yakin banget aku mau kembali ke kamu?” Maura mulai meninggi.
“Maksud kamu apa? Kamu nggak mau balik ke aku Ra?” Gardin kaget.
Maura menghela nafas dengan begitu kasar. “Din, aku baru mempertimbangkan itu, belum memutuskan. Tapi melihat keegoisan kamu, aku jadi ragu.”
“Aku egois apa?” Gardin kebingungan tapi dia jadi latah ikut emosi.
“Kenapa kamu nggak suka aku mengerjakan projek?”
“Karena itu jauh lebih sulit dari mengerjakan thesis Ra.”
“Kamu meragukan kemampuan aku?”
“Bukan begitu, aku hanya nggak ingin kamu mengalami kesulitan.”
“Selain itu?” Maura sangat paham dengan Gardin. Dia tahu ada maksud
terselubung dari keberatan Gardin. Sepuluh tahun bersama gardin, dia sangat mengenal suaminya itu.
Gardin menghela nafas. “Aku nggak ingin kamu buka kantin Ra, aku nggak ingin aku susah. Apa aku salah?”
“Siapa bilang aku susah, ini penting buat aku, karena begitu aku sampai di Indonesia aku akan buka usaha rumah makan.”
Gardin menghela nafas, dia benar-benar terdiam dalam duduknya.
“Sebenarnya inikan yang kamu nggak mau, kamu nggak menginginkan aku kerja, nggak mengijinkan aku mandiri?” Maura menatap tajam Gardin.
“Kamu istriku Ra, kamu kehormatanku. Kewajiban aku memenuhi semua kebutuhan kamu. Apa aku salah?” Gardin begitu frustasi.
“Setelah itu apa? Kalau kamu bosan kamu buang aku? Aku yang sepuluh tahun hidup dengan kamu tanpa pengalaman mandiri apapun benar-benar kehilangan pegangan. Kamu fikir kondisi itu tidak
mendatangkan trauma untuk aku? Kamu fikir aku akan senang kembali dalam kondisi yang sama? Kamu fikir aku sebodoh itu?” Maura benar-benar meluapkan semua emosinya.
Ternyata begitu dalam ya luka dan trauma yang dia buat pada istrinya ini. Gardin benar-benar terpana dengan
semua luapan emosi Maura. “Apakah maaf dan janjiku tidak lagi bisa kamu percaya Ra?”
“Itu sama sekali nggak ada hubungannya dengan rencana hidupku Gardin. Aku sedang belajar untuk berdiri
di kakiku sendiri. Ibarat burung, aku ini adalah burung tua yang sedang belajar terbang. Karena majikanku yang dulunya menyayangi aku, membuangku begitu saja. Meski begitu terlambat, tapi aku sedang berusaha. Tolong jangan patahkan sayapku lagi!” Dengan kasar Maura menutup laptopnya, dia pun bergerak ke dalam kamarnya.
Gardin kaget ditinggal Maura begitu saja. “Shit!” Jeritnya keras. Dia pun keluar unit itu dengan menutup pintu dengan kasar. Benar-benar butuh oksigen untuk meredam
emosinya.