
Satu masalah selesai. Sepertinya Lusy menepati janjinya untuk tidak mengganggu Gardin dan Maura
lagi. Memang ada kompensasi untuk itu
semua sih, Gardin memang memberikan uang setelah Lusy meminta maaf pada Maura
secara terbuka, tulus atau nggaknya yah nggak usah dipusingin deh. Jumlah uangnya terbilang lumayan aja,
dibandingkan dulu dengan yang ia dapatkan setelah bercerai dengan Gardin, ya
kali ini mah terbilang kecil banget. Sepertinya
Lusy cukup belajarlah dari pengalaman kemarin, dia tidak lagi berfoya-foya,
sudah mikir hiduplah, mesin ATMnya kini udah nggak berfungsi sama sekali untuk
dirinya.
Masalah baru buat Arkan dan Angga adalah minta maaf pada Maura bahwa
selama ini mereka telah membohongi Maura. Kenapa mereka yang harus minta maaf ya? Kan mereka juga orang suruhan?
Tapi ya… ini masalah etika berteman aja sih. Dibalik semua itu, sebenarnya mereka tulus kok mau berteman dengan
Maura. Maura kan personalitinya baik dan
menyenangkan. Apalagi ada Hiro, anak
bayi yang lucu, menggemaskan dan sama sekali nggak ada rewelnya.
Angga dan Arkan pun kembali dorong-dorongan memasuki restoran Maura
di sabtu siang. Angga membawa Dagna juga
sih, dan Dagna sampai bingung dengan sang suami dan Arkan kenapa sebegitu
gugupnya sih. Mereka naik ke lantai dua
masih dalam keadaan gugup. Tadi salah
satu pramusaji mengatakan bahwa ibu Maura menanti mereka di lantai 2. Setelah berada di lantai dua, mereka pun
memilih duduk di sofa yang nyaman untuk menanti Maura. Ketiganya pun duduk manis.
Maura keluar dari kantornya di lantai yang sama, dan dia pun
tersenyum pada ketiganya. “Apa kabar nih?”
Ketiganya berdiri dan tersenyum menyambut Maura.
Maura pun duduk bersama mereka, tapi kebingungan. “Kok pada kaku
begini sih? Kayak sama orang lain aja?”
“Iya nih Mbak, gue juga heran. Dari tadi mereka grogi banget.” Dagna yang menjawab.
Maura pun tertawa ramah. “Grogi kenapa, mau pengakuan dosa ya?”
Arkan dan Angga hanya cengengesan.
“Biasanya mereka nggak pernah begini nih Na, sama gue.” Maura bicara
dengan Dagna.
“Mau minta maaf Mbak, selama ini bohongin Mbak Maura.” Arkan memulai
pembicaraan.
“Iya Mbak, tapi kan kami disuruh Bang Gardin dan Bang Jason kalau
nggak boleh ngomong sama Mbak Maura.”
Maura tersenyum lebar. Dia pun mengangguk maklum. “Iya gue sangat
mengerti kok posisi kalian, siapa sih yang bisa ngelawan big bos, ye kan?”
Angga dan Arkan tersenyum tulus. “Tapi sebenarnya kami sama sekali nggak keberatan kok Mbak untuk jagain
Mbak Maura dan Hiro, secara Mbak Maura nyenengin, Hiro juga gemesin.”
“Serius nggak keberatan, bukannya dulu elo udah gerah banget mau
pulang biar cepet nikah?” Goda Maura ke Angga, “Gue juga sering lihat elo agak
BT karena pengen ngajak Indah kencan tapi nggak bisa karena lagi giliran jaga
Hiro.” Kali ini Arkan yang digoda.
Keempatnya tertawa mengingat banyak peristiwa yang kurang lebih
bikin gregetan, di mana mereka dalam dilemma itu.
“Itukan kadang-kadang aja mbak, tapi selebihnya suatu kehormatan
jagain anak dan istri big bos mbak.” Jawab Arkan.
“Setuju.” Angga menimpali
Maura tersenyum. “Makasih banyak lho ya, terus terang gue bahagia bahwa
kalian yang diutus jaga gue. Coba kalau
orang lain, yang lebih dewasa, lebih ganteng, wah… bisa-bisa gue nggak jadi
rujuk sama Gardin tuh.” Maura sedikit menghayal.
Arkan dan Angga langsung berhenti tertawa, dan agak tersinggung.
“Maksudnya kita kurang dewasa dan kurang ganteng gitu mbak?”
Maura tertawa renyah. “Bercanda kali Kan, nggak usah diambil hati
gitu deh. Kalau gue bilang kalian nggak
ganteng, Dagna tersinggung dong.”
be honest memang gantengan Bang Gardin sih Mbak.”
“Apa?” Angga kaget dan tersinggung.
Dua perempuan itu tertawa makin renyah. “Bercanda Ngga, ya kali
Dagna suka sama om om.” Maura menengahi.
Angga masih ngambek.
Dagna pun mencium pipi suaminya. “Becanda sayang, kalau kamu nggak
ganteng masa aku bela-belain nunggu kamu sampai tiga tahun sih.” Mereka memang
sudah tunangan setahun sebelum Angga berangkat ke Brisbane.
Angga pun kembali tersenyum.
Maura pun melirik Arkan. “Cepetan si Indah dilamar biar nggak ngiri
ngeliat Angga sama Dagna!”
Arkan tersenyum sebagai jawaban.
“Jadi beasiswa kalian dari kantor karena sekalian dapat tugas jagain
gue?”
Arkan dan Angga pun mengangguk.
“Fasilitasnya pastinya lebih lengkap dari beasiswa biasa dong?” Maura mulai intrograsi.
Keduanya mengangguk lagi. “Bulanannya
gede banget mbak, lumayan buat tabungan modal nikah. Terus ya unit tempat tinggal, mobil, tagihan
apapun sama sekali kita nggak bayar, ditambah lagi terbang ke sananya naik business class.” Jawab Angga.
“Bonusnya?”
“Hm… Dagna dan orang tua gue dapet tiket saat wisuda itu mbak.”
“Gue juga, dapet tiket buat nyokap and adek gue pas wisuda.”
“And?”
Angga malu-malu gitu, “Begitu kita berhasil membawa Mbak Maura dan
Hiro ke Indonesia, kita dapet rumah.”
“Wow.” Maura takjub. Gardin
bisa seroyal itu ya dengan dua anak ini. “Jadi kado nikahan kalian ya?”
Dagna dan Angga mengangguk.
“Kalau gue ya ditinggalin bareng nyokap dan adek gue mbak. Karena selama ini kan kami masih kontraktor.”
Maura bahagia mendengarnya, Hadiah dari Gardin untuk keduanya begitu
bermakna ternyata. “Syukurlah kalau memang berguna buat kalian ya.”
“Mbak.” Angga menatap Maura tajam. “Bukan berarti kita nggak tulus
lho berteman sama elo, dan kita sangat ingin Mbak Maura dan Bang Gardin rujuk
lagi.”
Maura tersenyum dan mengangguk. “Gue merasakan ketulusan kalian
berteman dengan gue kok. Apapun
dibelakang itu, gue tetep berterima kasih dengan kalian yang bersedia menjaga
gue dan membantu gue menjaga Hiro.”
Keempatnya tersenyum lega. Lega buat semua, lega juga karena semua uneg-uneg sudah keluar. Sudah
bisa jujur satu sama lain.
“Mbak, ngomong-ngomong kok elo bisa tahu sih kalau kita suruhan Bang
Gardin?” Arkan penasaran.
“Lha, kan elo yang keceplosan.” Jawab Maura.
“Ha?” Angga dan Arkan kaget. “Kapan?”
“Waktu gue mau melahirkan, Angga kan saat bawa mobil hampir nabrak
possum, terus dia ngerem mendadak. Terus
elo keplak kepalanya sambil bilang hati-hati ***** bawa bini big bos nih, mati
bareng nanti kita kalau kenapa-kenapa. Kan elo ngomong gitu.”
“Ha? Jadi elo denger?” Arkan dan Angga kaget banget.
“Hei gue memang kesakitan mau melahirkan saat itu, tapi bukan
berarti mendadak tuli.”
Keempatnya pun tertawa bersama menertawakan kebodohan keduanya.
Dalam hati Arkan dan Angga begitu lega, ternyata Maura dengan mudah
memaafkan mereka. Nggak enak juga sih
kalau Maura nggak memaafkan mereka, mengingat mereka kan masih bekerja di
perusahaan Gardin. Bukan nggak mungkin
mereka akan sering bertemu kedepannya.