CEO Galau

CEO Galau
Episode 24 Perrin Park



“Ra, nanti kamu ke Perrin Park?”  Gardin bertanya dengan ragu.   Mereka sedang di airport, Maura mengantarkan


Gardin yang akan terbang kembali ke Jakarta.


Maura mengangguk. “Ya diundang, masa nggak dateng, nggak enaklah.  Mas Arifin baik banget sama aku dan Hiro


selama ini.”  Jawab Maura santai.


“Baik banget?” Tanya Gardin curiga.


Maura menangkap sih kecemburuan Gardin, wajarlah. Dia mengangguk. “Baik banget.”


“Ra…” Gardin sama sekali tidak menyembunyikan kecemburuannya itu.  Dibuang jauh-jauh harga dirinya.  “Dia punya rasa sama kamu?”  Gardin bertanya hati-hati.


“Aku nggak tahu, dia nggak pernah ngomong itu sama aku.”


“Kamu punya rasa sama dia?” Gardin masih hati-hati, takut juga kalau Maura tersinggung.


Maura menatap Gardin tajam. “Kamu mau jawaban yang jujur?”


Gardin mengangguk.  Antara siap dan tidak menerima penjelasan Maura.


“Awalnya aku iba mendengar bahwa ia kehilangan istri dan anaknya lima tahun yang lalu karena demam berdarah.  Makanya aku sering bawa Hiro bertemu dia karena bisa mengurangi kangennya dia pada anaknya.  Tapi


lama-lama aku juga kagum dengan kecerdasannya.  Masih sebatas itu sih.”


Gardin memegang tangan Maura. “Ra, jangan lebih dari itu dong!” Pintanya.  Dia nggak mungkin keras, diakan


sedang berusaha mendapatkan cinta Maura lagi.


Maura tersenyum, berusaha menenangkan Gardin. “Masih kurang dengan pengakuanku semalam? Akukan sudah bilang aku cuma cinta kamu.  Mungkin kalau kamu nggak datang lagi, aku akan mempertimbangkan untuk jatuh cinta pada dia.  Karena naluriku berkata dia laki-laki baik.”


Gardin tersenyum, tapi terlihat begitu khawatir dengan pengakuan Maura. “Ra, jangan datang ke Perrin Park dong! Aku takut.”


Maura mendelik marah. “Hei, belum jadi suami lagi aja sudah melarang-larang, nggak bisa ya, aku sudah janji untuk datang.”


“Ya udah deh, aku temenin ya, aku balik ke Jakartanya nanti malam aja.”


“Kalau kamu melakukan itu, aku akan mengurungkan niatku untuk kembali ke kamu.” Jawab Maura tegas.


“Ra, kok gitu?”  Gardin mencoba mengiba.


“Memang kenapa sih kalau aku ketemu laki-laki baik? Memangnya aku nggak berhak ya diperlakukan dengan baik?”


“Aku janji Ra, aku akan melakukan yang terbaik untuk kamu.  Tolong dong Ra, jangan buka hati kamu untuk


laki-laki lain, buat aku aja!”  Gardin begitu memohon.


Maura tersenyum. “Aku tuh bercanda sayang. Sudah ah… dia teman baik aja kok.”  Maura berusaha meyakinkan Gardin.


“Ra…” Gardin masih ragu.


“Percaya aku, dan biarkan aku menyelesaikan masalahku dengan caraku sendiri!”


**


Sekali lagi Gardin menyerah.  Dia menuruti kemauan Maura untuk tetap pulang ke Jakarta. Dia pun nggak


bisa melarang Maura untuk tidak datang ke Perrin Park. Tapi dia wanti-wanti banget pada Angga dan Arkan untuk menjaga Maura.  Penjagaan harus diperketat, jangan kasih kesempatan untuk Arifin dekat dengan Maura, walaupun mungkin saat ini terakhir kalinya mereka bertemu.


Sialnya keadaan tidak berpihak pada Gardin.  Pada acara Farewell party di Perrin Park, banyak sekali teman-teman yang hadir.  Karena memang lokasinya di taman yang memiliki banyak fasilitas olah raga, setelah banyak makan, teman-teman berinisiatif main basket.  Jadilah Angga dan Arkan asik terlibat ikutan main basket. Mereka lupa dengan tugas mereka untuk menjaga Maura dari Arifin.  Maka, tak bisa dihindari, ada kesempatan di mana Arifin dan Maura bisa mengobrol santai, karena kebetulan juga Hiro tertidur dalam strollernya setelah tadi lelah berlari-larian bersama anak-anak kecil yang lain.


“Mas Gardin ke mana Mbak?”  Arifin mengawali percakapannya.


“Tadi pagi sudah kembali ke Jakarta Mas.”


Seketika keduanya terdiam.


“Mbak Maura kembali pada Mas Gardin?”  Arifin bertanya hati-hati.


Maura tersenyum.  Setelah hampir dua tahun berteman baik, Maura memang telah banyak cerita tentang


kondisinya.  Tapi sebenarnya status mereka sejauh ini memang sebatas teman baik kok.


“Sepertinya begitu mas, saya memang masih sayang dia.  Dan saya pun melihat kesungguhannya untuk


minta maaf dan memperbaiki kesalahannya.  Saya nggak punya alasan untuk tidak kembali pada dia.”


Arifin hanya tersenyum getir. “Sepertinya saya sudah tidak punya kesempatan.”


Mendengar itu Maura pun juga ikut tersenyum getir.  “Kita sudah sama-sama dewasa, bukannya saya


nggak tahu dengan semua ini.  Tapi kalau kita paksakan hubungan ini akan terlalu rumit.  Saya dan Gardin belum bercerai secara resmi, talak Gardin hanya dijatuhkan secara agama, itupun masih meragukan antara sah atau tidaknya mengingat dulu dia tidak tahu saya sedang hamil.  Saya nggak mau melibatkan Mas Arif, takut terkesan


Mas Arif orang ketiga. Malah jadi nama Mas Arif yang jelek nantinya.”


“Sebenarnya saya terlanjur sayang dengan Mbak Maura dan Hiro.”


“Sebelum terlanjur jauh, sebaiknya dihentikan saja Mas, walaupun saya yakin saya pun terluka menolak laki-laki sebaik Mas Arif.”


Arif pun mengangguk setuju.


“Terima kasih Mas Arifin sudah bersedia menjadi mentor dan teman baik untuk saya dan Hiro.” Maura pun mengucapkan terima kasih pada Arifin.


“Saya sangat bahagia punya kesempatan bertemu perempuan sekuat Mbak Maura.  Saya juga senang bisa dekat


dengan Hiro.”


Sepintas kalimat-kalimat terucap itu seperti basa-basi, tapi sebenarnya itu ungkapan tulus dari keduanya dan cara keduanya saling menghibur satu sama lain.  Bagaimanapun ada kelegaan bahwa perasaan mereka masih-masing telah terucapkan dengan baik.


Maura kembali tersenyum. “Rencana ke depan Mas Arif bagaimana?”


“Menikah.”


Maura kaget, “Menikah?”


“Beberapa bulan yang lalu Ibu saya menjodohkan saya dengan sepupu jauh saya, saya masih ragu karena masih menyimpan rasa pada Mbak Maura. Jadi saya minta waktu pada ibu saya.  Tapi dengan adanya pembicaraan kita sekarang memantapkan saya untuk menerima perjodohan itu.  Saya sudah sangat mengenal sepupu


saya itu, dia sangat baik dan santun.”


“Alhamdulillah kalau memang begitu.  Saya yakin Mas Arif akan mampu mencintai dia dengan layak.”


Arifin tersenyum tulus.


“Saya akan diundang mas?”


Arifin menggeleng. “Sepertinya nggak Mbak, saya nggak mau galau di hari pernikahan saya nanti.”


Maura tertawa mendengar kejujuran Arifin.


“Ya sudah, saya pasti mendoakan kebahagiaan Mas Arif kok.”


“Makasih mbak, semoga Mbak Maura juga bahagia sama Mas Gardin ya.”


“Aamiin.”


Keduanya tersenyum dengan doa yang saling mereka panjatkan.  Sekali lagi, kedewasaan menyelesaikan permasalahan mereka tentang rasa.


Selain dikenal sebagai mentor untuk Maura, Arifin itu seorang dosen dari salah satu universitas Negeri di Surabaya.  Laki-laki asal Minang Kabau, yang merantau sejak kuliah S1 ke Surabaya.  Kuliah S1 jurusan Ekonomi Management di Universitas Airlangga, S2 Jurusan Business di University of Groningen, Belanda, dan S3 dengan jurusan yang sama di UQ.  Maura sempat berkhayal dulu, kalau dia sampai ‘jadi’ dengan Arifin dia akan ikut Arifin ke Surabaya.  Berusaha mengubur kenangannya bersama Gardin dengan benar-benar meninggalkan Jakarta.  Yah… mau dibilang apa kalau memang bukan jodoh.  Musnah sudah khalayannya.