
Menikah dengan Gardin, seorang CEO pada perusahaan berkelas konglomerasi
bidang energy, memang meningkatkan kualitas hidup Maura. Seorang perempuan berasal dari kelas ekonomi
menengah ke bawah, sang ayah hanya mampu menyekolahkannya di akademi
sekretaris. Dipilihnya program study itu karena ia ingin cepat bekerja, ingin cepat-cepat membantu perekonomian keluarga yang morat-marit. Kondisi ekonomi mereka kala itu semakin terpuruk karena sang ayah dalam kondisi sakit. Sang ibu telah meninggal lima tahun sebelum Maura menikah, ketika ia masih di bangku SMA. Sejak itu ia hanya tinggal berdua dengan sang ayah. Dan Ayahnya pun meninggal dunia tepat beberapa menit setelah ia memberikan restunya untuk Gardin dan Maura menikah. Maka menikahlah mereka di hadapan jenazah sang ayah. Ketika itu usia Maura dua puluh dua tahun dan Gardin berusia tiga puluh tahun. Bagi Maura tidak ada cobaan yang lebih berat dalam hidupnya melebihi kehilangan kedua orang tuanya. Kehilangan sang ayah membuatnya sangat rapuh dan kehilangan pegangan. Maka kehadiran Gardin datang di saat yang sangat tepat.
Sebelum kehadiran Lusy sebagai orang ketiga di pernikahan Maura dan Gardin, kelangsungan pernikahan mereka begitu damai dan Bahagia. Gardin yang memang memiliki karakter yang tenang, didampingi oleh Maura perempuan yang mampu menciptakan ketenangan dan kedamaian yang dibutuhkan Gardin. Hanya saja,
pernikahan mereka belum dikaruniai anak. Sebenarnya Gardin tidak mempermasalahkan hal itu, mengingat kerasnya Maura berusaha untuk memiliki anak. Bahkan Maura telah empat kali keguguran. Hingga Gardin benar-benar merasa tak tega apabila Maura harus mengalaminya lagi. Gardin mencintai Maura, tapi tidak bisa
menapikan keseksian Lusy yang begitu menggoda.
Setelah mereka menikah Gardin tidak mengijinkannya bekerja lagi. Tapi mendukungnya untuk melanjutkan sekolah. Maka, ia pun kuliah lagi di extention ekonomi UI. Berat, tapi Maura bahagia menjalaninya. Tepat empat tahun ia menyelesaikan kuliahnya dengan nilai yang gemilang. Berbekal ijasah S1 nya itulah membuat dia berkeinginan melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya. Mengingat sejak kecil, menuntut ilmu adalah hobinya. Sebetulnya sudah lama ia punya keinginan itu, tapi selalu diurungkan mengingat sebagai istri Gardin dia begitu sibuk mendukung gerak bisnis sang suami.
Sekarang, Maura memutuskan untuk menjauh dan terbang ribuan kilometer dari Jakarta. Ia berencana untuk melahirkan di kota itu, setelahnya ia akan mengambil program master. Melakukan sesuatu yang telah menjadi cita-citanya sejak dulu. Selain itu, dia seorang diri sekarang. Maura amat menyadari bahwa ia harus meningkatkan kualitas dirinya apabila ke depannya harus berjuang di atas kakinya sendiri. Pendidikan merupakan investasi terbaik yang terfikirkan saat ini. Tabungannya sangat cukup untuk menunjang itu semua. Untuk melahirkan di negeri orang, dan kemudian melanjutkan pendidikan. Yang berat adalah ia harus menjalani semua itu seorang diri. Meyakinkan dirinya bahwa ia sanggup, dan ia pasti bisa menjalaninya. Demi ketenangan batinnya, demi anak yang sedang dikandungannya. Anugrah terbesar yang akan dia dapatkan, setelah penantiannya selama sepuluh tahun. Ia harus menjaga kandungan ini baik-baik.
**
Gardin mengundang Lusy untuk datang ke kantornya ketika kondisi Lusy sudah sangat sehat. Lusy bahagia sekali
dia bisa memasuki kantor mewah itu berperan sebagai istri dari pemilik perusahaan raksasa itu. Hm… calon istri sebenarnya.
Bergaya sangat glamor, dan selalu berkata pada siapapun yang dia temui di kantor itu bahwa ia adalah istri pemilik perusahaan itu. Dari satpam, Receptionist, pegawai marketing yang sedang menanti tamu, bahkan office girl yang sedang sibuk membawa minuman untuk tamu tak luput mereka semua menerima informasi yang tidak penting itu. Bahwa ia istri dari pemilik Gedung pencakar langit di wilayah Jendral Soedirman beserta perusahaan yang ada
di dalamnya. Berusaha menapikan bahwa ia baru calon, berum istri sesungguhnya, Lusy berjalan melenggak-lenggok dengan indahnya. Menggunakan high heels puluhan juta rupiah, kaca mata hitam yang sebaiknya dibuka aja sih kalau sudah sampai ruangan tapi dia kekeuh memakainya, cartier limited edition boo, jadi harus
banget dipakai dong. Make up yang begitu paripurna, Lusy tampil sangat ngehits. Sepertinya ia lupa kalau dia datang ke kantor sang calon suami, bukan untuk syuting. Tapi justru itu yang penting. Sebagai calon pendamping orang nomer satu di kantor itu, Lusy menganggap penampilan dan kesan pertama melangkah ke kantor itu menjadi sangat penting.
Ketika memasuki ruangan Gardin, Lusy langsung mencoba mencium Gardin ketika di dapatinya Gardin tersenyum menyambut kedatangannya. Tapi Gardin dengan halus menolak ciuman itu, karena dia tidak sendiri di ruangan itu. Ada Bang Jason sang pengacara.
“Ini kantor, tolong jaga sikap!” Pintanya pelan pada Lusy.
Lusy hanya cemberut mendengarnya. Dan duduk di samping Gardin.
Setelah semuanya duduk tenang.
“Sebelum menikah, aku membuat penjanjian pra nikah untuk kamu. Aku melakukan hal yang sama pada Maura dulu.” Gardin menyerahkan satu berkas dokumen pada Lusy. “Kamu baca baik-baik ya!”
Lusy pun dengan enggan membaca. Tertulis bahwa statusnya adalah istri ke dua, apa yang menjadi haknya
dan apa yang menjadi kewajibannya. Tertulis juga tentang apabila terjadi perceraian dan apabila mereka
memiliki anak.
“Kamu bilang, aku menjadi istri kedua hanya sementara waktu, kenapa sekarang menjadi tertulis begini?”
“Kok sekarang jadi berubah? Apa karena aku tidak hamil lagi?”
“Sama sekali tidak ada hubungannya dengan kamu, ada hal lain yang tidak bisa aku jelaskan.”
“Aku nggak mau.”
“Kalau kamu nggak mau nggak papa, artinya pernikahan ini tidak akan
terjadi.”
“Kok kamu sekarang seperti ini?”
“Karena aku sangat marah dengan kamu.” Gardin pun memperlihatkan video itu.
Lusy kaget, ternyata ada bukti rekaman ketika ia menyerang Maura.
“Berapa kali aku bilang, jangan ganggu Maura. Apa tidak cukup bagi kita sudah mengkhianati
dia, masih juga harus kamu siksa seperti itu?”
“Bukan begitu kenyataannya, video ini editan. Dia menyerangku lebih dulu.”
“Sepuluh tahun aku bersama dia, aku sangat tahu dia seperti apa. Jangan berbohong lebih jauh, atau
sama sekali tidak ada pernikahan.”
“Aku akan bunuh diri kalau kamu nggak menikahi aku.”
“Kalau kamu bunuh diri yang rugi kamu sendiri. Kamu nggak melihat apa yang kamu dapatkan
kalau menikahi aku?”
Lusy diam.
“Silahkan baca lagi apa yang akan menjadi hak kamu!”
Lusy terdiam setelah membaca. Apa yang dia inginkan semua akan ia dapatkan. Hanya satu yang tidak akan dia dapatkan, menguasai Gardin dan hartanya seutuhnya, karena ia harus berbagi dengan Maura.
“Bersedia tanda tangan?”
Lusy pun mengambil pulpen yang ada di hadapannya dan langsung menanda tangani berkas itu.” Tapi dia
cemberut. Masih belum sepenuhnya ikhlas.
“Jangan pernah kamu ganggu Maura lagi!”