
Gardin berjalan cepat di pelataran rumah sakit. Lusy sudah menghubunginya puluhan kali. Kadang cara manja Lusy sangat menguji emosinya. Sudah dibilang dia sedang ada rapat penting, tapi Lusy nggak mau dengar, Gardin harus menepati janjinya untuk menemaninya kontrol kandungannya sore itu.
Dulu, Ketika awal-awal mereka menjalin hubungan, Lusy nggak pernah begini. Dia perempuan yang sangat
pengertian. Sangat mengerti posisinya bahwa ia hanya yang kedua untuk Gardin. Itu pun mereka lakukan dengan diam-diam. Mengingat sebagai pengusaha Bardin harus membawa nama baiknya. Makanya Gardin jatuh hati pada Lusy. Sebagai kompensasinya dia bersedia memberikan segala kemewahan untuk Lusy. Apartement mewah di tengah kota, Mobil mewah, hingga segala Pernik-pernik mewah perempuan Gardin persembahkan untuk Lusy.
Tapi sekarang, keadaannya menjadi berbeda, Ketika Lusy hamil, dia menuntut keberadaannya diakui. Lusy tahu
benar Gardin memang menginginkan seorang anak. Mengingat pernikahannya dengan Maura yang telah berjalan hampir sepuluh tahun belum dikaruniai seorang anak. Kalau sudah begini, pasti Maura yang mandulkan? Buktinya sekarang ia bisa hamil anak Gardin.
Ketika ia mendapati Lusy sedang ada di ruang tunggu, sibuk dengan telepon genggamnya, Gardin menghampirinya. “Masih berapa lama lagi?”
Lusy tersenyum, “Kita yang VIP dong sayang, setelah ini langsung masuk.”
Gardin pun duduk di samping Lusy.
“Kamu tapi janji ya, kita cuma kontrol di sini, aku melahirkan di Amerika atau paling tidak di Singapura.” Lusy pun memeluk lengannya dan berbicara dengan gaya manjanya.
Gardin hanya menjawab dengan senyuman. Yah kalau ingin melahirkan tanpa ditemani dirinya silahkan di Amerika sekalipun. Mana punya waktu dia harus menemani Lusy ke Amerika. Jadwal kerjanya padat gila.
Tak lama, mereka pun dipanggil untuk masuk ke dalam ruangan dokter. Pengecekan rutin terjadi sebelum
Lusy dibawa ke tempat tidur untuk pemeriksaan USG. Sebelumnya dokter mengecek dengan cara mencari detak jantungnya. Menurut perkiraan dokter sih kehamilan Lusy kira-kira dua belas minggu, sudah bisa
dideteksi detak jantungnya. Tetapi sepertinya dokter mengalami kesulitan. Masih mencoba tersenyum, dokter pun mencoba dengan alat USG dua dimensi. Terlihat titik yang tidak terlalu jelas di layar itu, tapi dokter pun masih belum bisa menemukan detak jantung sang janin. Sang dokter masih penasaran, kali ini ia akan melakukan USG dalam, artinya alat akan dimasukan ke dalam lubang ****** Lusy, sang dokter meminta Lusy untuk rileks, tapi ternyata dokter pun belum menemukan berita baik untuk disampaikan. Setelah cukup lama berkutat, akhirnya dokter pun menghela nafas.
“Pak, Bu… sepertinya janinnya tidak berkembang.”
Gardin dan Lusy saling berpandangan.
“Maksudnya gimana dok?” Lusy kebingungan.
Gardin menghela nafas, sudah lima kali terjadi dalam hidupnya, Maura empat kali mengalami hal yang sama. Janin tidak berkembang, dan secepatnya harus dikuret. Dan kali ini pun terjadi pada Lusy.
“Harus dikuret dok?”
Sang dokter pun mengangguk. “Secepatnya pak, kalau bisa malam ini juga, saya selesaikan pasien saya dulu, setelah itu kita lakukan tindakan.”
Gardin mengangguk. “Berikan kami yang terbaik dok!”
Lusy tidak mengerti. “Maksudnya apa sih Bang?”
Gardin hanya tersenyum.
Dokter pun bergerak menuju meja prakteknya, “Saya buat rujukan untuk rawat inap, masuk kamar dulu saja ya bu. Saya usahakan tindakan sore ini.”
Nggak lama setelah itu, Gardin membawa Lusy keluar dari ruangan itu. Mereka berjalan pelan karena Gardin
sedang menelepon asisten pribadinya untuk bergerak membooking kamar VIP untuk Lusy di rumah sakit itu. Dia pun menelepon sekretarisnya untuk meminta membatalkan semua janji pertemuannya di sore hingga malam itu.
Setelahnya, dia pun mengajak Lusy duduk di salah satu sudut ruangan itu. Mencoba perlahan menjelaskan pada Lusy. “Janin kamu tidak berkembang, artinya dia telah meninggal sebelum dilahirkan. Sehingga harus segera dikeluarkan karena kalau tidak akan membahayakan kamu.”
Mendengar itu Lusy nggak percaya, dia pun menangis pelan. Gardin pun memeluk sang kekasih. Ini pengalaman pertama keguguran untuk Lusy, menyakitkan pastinya. Gardin hanya bisa mencoba menenangkannya. Dia sudah sangat terbiasa mengalami hal ini. Bahkan selalu merasa bersalah pada para perempuannya karena tidak mampu memberikan bibit unggul sehingga perkembangan janin itu selalu terhenti di masa-masa awal kehamilan. Empat kali telah terjadi pada Maura, dan kali ini pada Lusy. Bagaimanapun kehilangan begitu menyakitkan, walaupun Gardin telah berkali-kali merasakannya.
**
Di daerah urban pery Jakarta, Lebih tepatnya Bekasi Timur, Maura sedang ada di salah satu rumah
sakit di sana. Ia juga sedang memeriksakan kehamilannya, tapi ia seorang diri. Dokter kandungan perempuan itu mengatakan bahwa janinnya sangat sehat, tumbuh sesuai perkembangannya. Saat ini usia janinnya telah mencapai delapan belas minggu. Maura begitu bahagia, besar harapannya anak ini tumbuh sehat. Karena dialah satu-satunya alasan untuknya bertahan hidup saat ini. Tuhan memberikan anugrahnya di saat begitu tepat. Di saat ia harus kehilangan pegangan karena harus kehilangan laki-laki yang begitu ia cintai, Tuhan menggantikannya dengan kehidupan dalam rahimnya yang membuatnya begitu bergairah menjalani hidup. Maura telah pindah dari apartemen sewaannya yang di Kelapa Gading itu. Sekarang ia tinggal di hotel selama seminggu di daerah Bekasi Barat. Setelah mendapatkan rekomendasi dokter bahwa ia aman untuk menempuh perjalanan dengan pesawat terbang. Dia akan terbang dalam dua hari ini, mencoba menjauh dari hiruk pikuknya Jakarta. Lebih dari itu, dia sedang berusaha menyembunyikan kehamilannya dari Gardin. Dia tidak mau berbagi kebahagian
dengan Laki-laki yang telah membuangnya. Kebahagiaan yang dia punya sekarang, hanya untuk dirinya sendiri.
**
“Mana cucu papa?” Handoko begitu marah pada Gardin.
Gardin begitu ketakutan. “Maaf pa, saya gagal lagi memberikan papa cucu, Lusy baru aja keguguran.”
“Siapa Lusy, Mana Maura?” Handoko semakin marah.
“Lusy calon menantu papa juga.”
“Menantu papa cuma Maura. Kalau sampai ada apa-apa dengan Maura dan cucu papa, papa ambil semua
apa yang papa kasih ke kamu! Cari cucu papa, cari Maura!” Handoko begitu marah.
Gardin terbangun dari mimpinya dalam keadaan nafas tersengal-sengal. Bagaikan ia baru saja berlari kencang puluhan kilometer. Tubuh Gardin berkeringat, nafasnya pun masih belum stabil. Begitu menyadari itu hanya mimpi dia begitu lega. Menghela nafas panjang. “Astaga pa, bahkansudah di surga sekalipun, masih aja doyan marah. Pakai ngancem lagi.” Dia pun menggeleng-geleng. Akhirnya ia pun bangkit dari tidurnya menuju kamar mandi. Berwudhu dan hendak sholat malam. Hal yang sudah sangat jarang ia lakukan. Mungkin sang papa kangen
padanya, ia pun ingin mengadu pada Tuhan tentang masalahnya, kesedihannya, dan titip rindunya untuk sang ayah.
**
Pengacara Maura menghampiri Gardin dan menyalaminya.
“Saya turut berduka cita atas kehilangan calon anak mas Gardin.”
Gardin kembali tersenyum. Memang saat itu sebenarnya ia ada pertemuan dengan Pak Mochtar tapi dibatalkan karena Lusy harus dikuret. “Kembali pada pertemuan kita pak, apa yang harus dibicarakan mengenai Maura?”
“Sebenarnya ini bukan waktu yang tepat mengingat Mas Gardin masih berduka. Tapi sepertinya saya harus
memperingatkan Mas Gardin.”
Gardin menunjukan wajah kalau dia tidak mengerti.
Pak Mochtar pun mengeluarkan telepon genggamnya dan menunjukan sebuah video. “Saya tidak mau mengadu
domba mas Gardin dengan Lusy, tapi bagaimanapun saya wajib melindungi client saya.”
Gardin menerima telepon genggam pak Mochtar dan mencoba melihat apa yang ingin diperlihatkan. Ternyata
sebuah video yang memperlihatkan Lusy sedang memaki Maura di sebuah pusat perbelanjaan. Dengan kasar Lusy mengatakan Maura perempuan matre yang tidak mau melepas Gardin demi uang. Menonton video itu Gardin sangat marah apalagi dia melihat Maura hanya diam, dan berusaha melindungi dirinya dari
serangan Lusy. “Tolong dikirim ke saya pak!” Pinta gardin.
Gardin sangat emosi, tapi tidak mungkin dia bersikap keras saat ini, mengingat Lusy sedang dalam pemulihan paska kuret. Sudah seminggu ia dalam perawatan VIP di rumah sakit bertaraf international. Sepertinya memang berlebihan. Tapi itu mau Lusy, dia merasa dirinya sangat lemah paska operasi. Ya sudahlah.
“Saya sudah mengenal Mas Gardin sangat lama, sejak almarhum Pak Handoko masih ada. Beliau client terbaik saya. Dan saya pun sangat tahu bahwa ayah anda sangat menyayangi mbak Maura.”
“Karena itu saya minta bapak jadi pengacara Maura pak, karena saya yakin bapak akan memberikan yang terbaik untuk Maura.”
“Mas Gardin yakin akan menceraikan Maura demi Lusy?”
Gardin menggeleng. “Ini kemauan Maura pak, sebenarnya saya sedang mencari cara agar tidak terjadi
perceraian ini. Saya memang harus menikahi Lusy, tapi berat bagi saya melepas Maura. Toh saya mampu mempunyai dua istri sekalipun.”
“Pernikahan tidak semata-mata tentang harta mas. Apa Mas Gardin yakin bisa adil?” Laki-laki yang hampir menginjak usia tujuh puluh tahunan ini berusaha bersikap bijak pada lawan bicaranya.
Gardin hanya diam. “Tolong berikan yang terbaik untuk Maura pak, apapun yang dia minta pasti saya berikan.”
“Permasalahannya dia tidak ingin apa-apa.”
Gardin mendesah mengingat kembali kondisi ini. “Saya harus bagaimana pak? Saya tidak ingin menceraikan dia karena saya ingin dia tetap memiliki hak atas harta saya apabila suatu saat saya mati. Tapi dengan tidak menceraikan dia, saya membuatnya terombang-ambing begini. Saya telah menyakiti dia terlalu lama.” Gardin benar-benar dalam dilemma.
Pak Mochtar menepuk bahu Gardin. “Pikirkan matang-matang. Saya ke sini hanya untuk memberitahukan video ini. Saya harap Mas bisa bijak menanggapinya. Tugas saya melindungi client saya.” Pak Mochtar pun pamit pulang dan meninggalkan Gardin yang termenung sendirian di ruangan kerjanya.
Dalam kesendiriannya, Gardin mengulang-ulang video yang di kirim pak Mochtar tadi. Terlihat sepintas bahwa Maura berkali-kali berusaha melindungi perutnya ketika Lusy beberapa kali
mendorongnya. Semakin memperkuat keyakinannya bahwa sebenarnya bahwa Maura juga sedang hamil. Dan dia sangat yakin kalau itu anaknya. Perasaan seorang suami dan calon ayah nggak bisa dibohongi. Ditambah lagi mimpi kedatangan ayahnya semalampun memberitahukannya hal yang sama. Gardin
dan Maura baru dua bulan pisah rumah. Sebelum mereka pisah rumah, bahkan dalam kondisi dia sudah mulai selingkuh dengan Lusy dia masih beberapa kali kok bercinta dengan istri sahnya itu. Gardin pun sangat paham dengan Maura, setelah dua kali pernah keguguran, Maura memang tidak pernah lagi terlalu cepat memberi
tahu kalau dia hamil, karena takut keguguran lagi. Bahkan kehamilan ketiga dan keempat Maura baru
diketahui oleh Gardin ketika ia harus mendampingi istrinya dikuret. Maura begitu tabah menghadapi semua itu. Makanya ia paham betul kalau Maura kali ini juga tidak memberitahukan kehamilannya.
“Ya Allah, kalau memang Maura sedang hamil, kuatkanlah janinnya, sehatkanlah mereka, semoga anak ini lahir dengan selamat dan sempurna. Karena ini akan menjadi satu-satunya harapan hamba untuk memperbaiki pernikahan ini.” Doa Gardin pada yang kuasa begitu sungguh-sungguh.
**
“Mbak Maura yakin kalau saya benar-benar tidak boleh memberitahukan hal ini pada Mas Gardin?” Pak Mochtar
mengkonfirmasi sekali lagi permintaan clientnya saat mereka sedang di airport.
“Iya pak.” Maura menggagguk mantap. “Saya hanya ingin tenang, dan tak ingin Gardin berubah fikiran.”
“Beliau berhak tahu, ini anaknya. Anak ini dari pernikahan yang sah. Kekuatan hukum agama maupun Negara jauh lebih kuat dibandingkan dengan anak yang dikandung Lusy, mbak.”
“Saya tidak ingin menghambat perceraian ini Pak. Saya akan memberi tahu kalau anak ini sudah
lahir nanti. Saya berharap saat itu saya sudah bercerai.” Jawabnya dengan nada sedih yang nggak bisa disembunyikan.
“Apa Mas Gardin juga tidak boleh tahu dimana mbak Maura berada?”
“Tidak saat ini. Bapak hanya boleh memberi tahu kalau memang benar-benar terpaksa.”
Maura melirik pada jam tangannya. “Sudah waktunya saya boarding pak.” Diapun memberikan tangannya untuk
dijabat. “Saya sangat menunggu berita baik dari bapak.”
Pak Mochtar mengangguk dan menerima jabat tangan itu. “Hati-hati mbak.” Sepintas perkataan itu tidak seperti
pengacara pada clientnya, tapi lebih bagai seorang ayah pada anak perempuannya.
Maura pun mengangguk. Dan kemudian ia pun berlalu memasuki airport itu untuk boarding. Semoga perjalanannya memberikan ketenangan dalam menjalani proses kehamilannya.