
[Ada hal yang ingin aku bicarakan mengenai perpisahan ini. Bisa aku bertemu kamu lagi?] Maura terpana membaca pesan singkat dari Gardin. Apalagi sih yang mau dia bicarakan apa nggak
bisa dibicarakan oleh para pengacara saja. Dia sangka tempo hari itu adalah pertemuan terakhirnya dengan Gardin.
[Apa nggak bisa disampaikan ke Pak Mochtar saja?] Maura menyarankan untuk disampaikan ke pengacaranya saja.
[Nggak, ini terlalu pribadi.]
Maura menghela nafas membacanya. [Ya sudah. Kapan?]
[Boleh aku ke tempat kamu besok siang?]
Ah ternyata Gardin masih kekeuh mengetahui di mana dia tinggal. Ya sudahlah, diijinkan saja toh minggu depan
dia juga sudah akan meninggalkan tempat ini. Maura pun menuliskan alamat apartemen kontrakannya ini pada pesan singkatnya untuk Gardin. [Mau datang jam berapa?]
[Makan siang. Nanti biar aku saja yang bawakan makan siangnya.]
Terserahlah. Maura pun melempar telepon pintarnya ke sofa, dan berlari kecil ke toilet, tiba-tiba ada
dorongan kuat untuk mengeluarkan isi perutnya. Mual luar biasa.
**
Siang itu Maura telah bersiap menyambut Gardin. Berusaha keras agar kehamilannya tidak
diketahui Gardin, Maura menggunakan dress baby doll berwarna gelap selutut. Tubuhnya yang memang tidak
kurus tapi juga tidak berlebihan membuat penampilannya terlihat biasa-biasa saja. Bahkan orang yang tidak terlalu
perhatian pun tidak akan menganggap bahwa berat badannya naik. Ya memang sih selama kehamilannya yang
berjalan hamper empat bulan ini belum ada kenaikan berat badan yang signifikan. Bahkan cenderung turun
karena dia sering kali muntah.
Menggunakan make up tipis, Maura berusaha keras menutupi kepucatan wajahnya akibat sejak pagi sang janin belum mau kompromi. Semua yang masuk dikeluarkannya lagi. Seakan sang janin sedang marah karena
keberadaannya yang masih ditutupi Maura.
Maura membukakan pintu untuk Gardin Ketika Gardin membunyikan bel di pintu unitnya. Begitu masuk Gardin
langsung mengamati sekeliling apartemen satu kamar tidur yang begitu sederhana itu. Dia seketika sedih, Lusy ia belikan apartement yang begitu mewah, sedangkan istri sahnya tinggal di apartemen sederhana, yang baginya lebih mirip kamar kostan. Bagaimanapun tempat ini begitu bersih dan sangat memiliki aura nyaman. Gardin
duduk di satu-satunya sofa yang ada di sana.
“Kamu mau kopi?”
Gardin menggeleng. “Kita makan siang saja, saya sudah bawa makanan kesukaan kamu.”
Maura menerima apa yang di bawa Gardin dan mencoba memindahkannya ke piring dan mangkuk. Seperti yang dia duga, ada sapo tahu, sup kepiting asparagus, dan udang goreng tepung. Kesemuanya bernuansa seafood, begitu membuka kemasan, sebenarnya Maura begitu mual. Tapi dia tahan. Berkata pelan sambil
mengelus-elus perutnya. “Nak kita makan pemberian ayah ya, bisa jadi ini terakhir kalinya ayah membelikan kita
makanan.” Magic, sesaat mual itu hilang. Maura pun tersenyum mengeluarkan makanan yang telah ia pindahkan ke wadah yang layak dan disajikan di hadapan Gardin.
Mereka menikmati makan siang itu dalam diam.
Gardin mengamati Maura.”Kamu sakit?”
“Kok makannya dikit, biasanya kamu lahap kalau makan makanan ini?”
“Biasa aja kok.”
Setelah makan usai, dan Maura membenahi makanan sisa dan alat makan bekas pakai, dia pun menghampiri Gardin.
“Ada apa?” Mencoba langsung pada tujuan utama Gardin datang siang ini.
Gardin menghela nafas. “Aku tahu ini menyakitkan, kamu tahukan Lusy hamil. Aku harus menikahi dia
secepatnya.”
Maura bingung, itukan alasannya mereka bercerai. Terus kenapa sekarang diungkit lagi?
“Kalau menunggu proses perceraian kita akan terlalu lama. Aku harus segera menikahi dia.”
“Lalu?” Maura malas mendengar itu semua. Apa hubungannya dengan dia?
“Aku mohon ijin untuk poligami sementara waktu ini. Sampai perceraian kita selesai aja. Aku butuh persetujuan kamu.”
Oh udah ngebet banget nih ceritanya. Maura berguman dalam hati. Dia hanya menunjukan senyum yang tidak tulus. “Mana yang harus aku tanda tangani?”
Gardin mengeluarkan surat ijin yang dimaksud.
Maura langsung menanda-tanganinya tanpa ia baca lagi. Dia benar-benar muak dan tersakiti. Tapi berusaha keras ia tahan. “Tolong jangan terlalu lama membuat aku terombang-ambing. Aku butuh kejelasan untuk menata hidupku.” Maura memohon agar ia secepatnya diceraikan. Sesuai kesepakatan mereka, Gardin yang akan mengurus semuanya.
Gardin mengangguk. Tapi kemudian dia ragu, ada yang masih ingin dia sampaikan. “Tolong terima apa yang akan aku berikan Maura!”
Maura menggeleng mantap. “Apa yang aku dapatkan lebih dari cukup.”
“Maura please ! jangan buat aku merasa bersalah begini!”
Maura hanya tersenyum.
“Oke kalau kamu merasa cukup punya tabungan, paling nggak ijinkan aku beliin kamu rumah, kamu mau tinggal di daerah ini? Aku beliin sekarang juga.”
“Nggak usah, makasih.”
“Paling nggak bawa mobil yang ada di rumah kita, Ra, berapa pun terserah kamu.”
“Sudah cukup ngomongin harta! Apa hanya itu yang ada dalam fikiran kamu? Jelas ini bukan Gardin yang aku kenal. Gardin yang aku sayang tidak pernah mempermasalahkan
materi, aku butuh cinta dan kesetiaan kamu. Kalau kamu tidak lagi ingin berikan itu, ya sudah nggak apa-apa, jangan coba gantikan dengan harta yang kamu punya. Nggak usah pamer sama aku! Aku sangat tahu berapa banyaknya harta kamu itu.” Maura sangat keras sekarang.
Gardin diam, perempuan lembut ini memang sulit terbantahkan. Perkataan tegas Maura membuat Gardin semakin merasa bersalah.
“Apa yang kamu butuhkan sudah kamu dapatkan. Aku lelah mau tidur. Kamu bisa keluar sekarang?”
Ha? Sejak kapan Maura tidur siang? Gardin bingung. Apa Maura sakit? Dia memang terlihat pucat sih. Tapi dia tak ingin membantah. Maura telah mengusirnya. Atas apa yang telah ia lakukan, dia memang pantas diusir. Gardin pun melangkahkan kakinya ke luar apartemen itu tanpa bicara lagi.
Entah kenapa Gardin menjadi semakin dirundung rasa bersalah yang demikian hebat. Ingin sekali ia lebih
lama ada di rumah itu. Gardin sangat berharap Maura mengiba padanya untuk tidak diceraikan. Apabila satu kata itu terucap, maka saat itu juga ia akan membatalkan niatnya untuk menceraikan Maura. Urusan dengan Lusy bisa nanti ia fikirkan. Tapi sepertinya Maura sudah demikian terluka, baru kali ini Maura membentaknya. Sepuluh tahun Gardin Bersama Maura, baru kali ini ia menemukan Maura membentaknya dan bersikap demikian tegas. Ah sudahlah, semua memang salahnya. Nasi telah menjadi bubur.
Menutup pintu apartemen begitu Gardin keluar dari tempat itu, Maura langsung berlari ke kamar mandi. Mengeluarkan semua makanan dari mulutnya. Sudah tidak tahan, mual sangat. Tadi sebenarnya dia tidak bermaksud marah, hanya Gardin bertele-tele, sedangkan dia dalam kondisi di ujung tanduk karena
mual sangat. Setelah puas mengeluarkan isi perutnya, dia pun berdoa, semoga Gardin tidak mendengar kalau dia sedang muntah. Semoga yang Gardin tahu ia hanya emosi dan terluka.