
"Ma'af. Kakak ku terpaksa menginap di rumah majikannya karena anak laki-laki mereka jatuh sakit dan kedua orang tuanya berada di luar kota, jadi aku menjemput si kembar dari tempat penitipan anak dan membawanya ke apartemenmu, aku harap kau tidak keberatan."
Taek Won hanya menatap si kembar lalu berjalan masuk kedalam kamarnya dan baru keluar satu jam kemudian.
"Aku sudah membuatkan ice cream coklat dan cake coklat, semuanya ada di dalam kulkas. Menu makan malammu sudah ku hidangkan di meja, kau bisa langsung memakannya dan memanggilku setelah selesai makan, aku harus menidurkan si kembar dulu.....Boleh ku pinjam salah satu buku cerita di lemarimu??." Tanya Ha Neul sambil melepaskan celemek yang ia pakai.
Pria itu hanya mengangguk lalu duduk dan mulai makan, sementara Ha Neul pergi dan membacakan buku untuk keponakannya di ruang tamu.
"Lalu pinokio pun berubah menjadi manusia dan hidup bahagia dengan kakenya, selesai." Ha Neul menutup buku cerita bergambar di tangannya lalu tersenyum memperhatikan si kembar yang sudah tertidur pulas.
"Kakakmu bilang kalau mungkin ia tidak bisa pulang dalam seminggu ini, anak bibi Han dirawat di Rumah Sakit, sementara bibi Han masih diluar kota dan tidak bisa pulang karena mertuanya juga sedang sakit." Taek Won yang entah sejak kapan sudah duduk di sopa ruang baca mengagetkan Ha Neul.
Taek Won menunjukkan ponsel Ha Neul lalu menyerahkannya pada gadis itu. "Paswordnya terlalu gampang." Jelas Taek Won ketika Ha Neul menatapnya dengan pandangan bingung.
"Tidak sopan membuka pesan orang lain." Ha Neul segera mengganti pasword di ponselnya.
"Ponselmu yang terlalu berisik, aku tidak tahan mendengarnya sementara kau sibuk mendongeng. Kenapa kau meninggalkannya di dapur??. Sengaja mau mengganggu makanku ya!!."
Ha Neul hanya menarik nafas dalam, ia tau kalau berdebat dengan Taek Won, pria itu tak kan mau mengalah.
"Menginap saja!!." Pria itu berkata ketika Ha Neul berniat pulang bersama si kembar.
"Aku tidak menyuruhmu tidur di kasurku lagi, kau kan juga punya kamar disini. Lagipula repotkan kalau harus bolak balik seperti itu. Aku tidak mau kau terlambat membersihkan rumahku atau menyiapkanku makanan karena sibuk mengurusi si kembar."
"Tidak akan repot......
"Pasti repot!!. Kau belum membereskan ruang tamuku, dan piring belum di cuci. Sekarang kau mau pulang, jangan bercanda!!!." Taek Won memotong ucapan Ha Neul.
Ha Neul menatap Taek Won dengan pandangan kesal, " Aku akan kembali lagi setelah mengantarkan si kembar ke kamar mereka. Akan kubereskan semuanya malam ini juga."
"Lalu meninggalkan si kembar tanpa pengawasan, tega sekali kau!!, bagaimana kalau terjadi sesuatu pada mereka??."
"Kalau begitu aku tinggal membawa mereka ke kamarku yang ada di apartemen ini, mereka tidak mungkin tidur disini kan, ini ruang tamu!!. Lalu aku merapikan ruang tamu dan mencuci piring, setelah nya aku bisa membawa mereka pulang dan istirahat." Jelas Ha Neul makin kesal.
"Menginap saja!!. Aku sama sekali tidak keberatan. Kau bisa langsung istirahat, besok pagi saja kau bereskan ruang tamu dan mencuci piringnya."
Melongo. Itu yang dilakukan Ha Neul begitu melihat Taek Won menggendong si kembar menuju kamarnya.
"Kenapa di bawa ke kamarmu??."
"Karena tempat tidurku jauh lebih besar dari tempat tidur yang ada di kamarmu. Aku tidak mau mereka jatuh dari tempat tidur." Jawab Taek Won santai.
Sementara Taek Won menggendong yang satunya, Ha Neul menggendong kembarannya ke kamar pria itu.
"Nah sekarang pergi lah!!. Atau kau juga mau tidur sini??. Masih muat kok."
"........"
Ha Neul segera berbalik tanpa menoleh lagi dan Taek Won tersenyum melihat kepergian gadis itu.
"Aku benar-benar tidak keberatan."
🌺🌺
"Kenapa kau mengikutiku??. Apa kau tidak bekerja??, apa tidak apa-apa kau pergi ketempat seperti ini??."
Taek Won menatap Ha Neul dengan pandangan datar karena dari tadi gadis itu terus bertanya seperti itu padanya. Ia yang baru saja memasukkan roti kacang merah kedalam mulutnya menjawab singkat "cerewet sekali!!," pada Ha Neul.
"Bukan begitu, tapi ini kan pasar tradisional, kau dengan pakaianmu itu tidak cocok masuk ke pasar. Dan lagi, kalau CEO perusahaan bisa bolos dengan seenaknya seperti ini bukankah akan berdampak buruk untuk kinerja perusahaan, bagaimana kalau ada yang meniru tingkah lakumu itu??." Tanya Ha Neul lagi.
Ia tak habis pikir kenapa Taek Won ngotot ikut bersamanya ke pasar tradisional, padahal jelas-jelas pria itu akan pergi keperusahaan dan mengatakan kalau ia ada rapat penting ketika Ha Neul menyiapkan sarapan pagi. Lalu mendadak Taek Won mengurungkan niatnya begitu tau Ha Neul ingin mengajak keponakannya ke pasar.
"Sudah lama aku tak kesini."
"Apa???."
"Oh, imonim anyeong hasaeyo (Bibi, selamat pagi)". Taek Won menyapa ramah seorang penjual jajanan, penjual wanita itupun langsung membalas sapaan Taek Won dengan senyum hangat bahkan mengajakkan masuk ke restorannya untuk makan.
"Bagaimana kau......
"Ini tempat favoritku. Disini jajangmyeonnya enak sekali, apalagi es kacang merahnya". Jelas Taek Won, setelahnya ia malah sibuk mengajari si kembar cara memegang sumpit yang benar, sementara Ha Neul hanya memperhatikan pria itu dengan takjub.
Kenapa dia jadi ramah sekali??, apa dia memang seperti ini??, kenapa dia tersenyum seperti itu??, rasanya dia jarang tersenyum kalau di rumah.
"Aigoo, nommu kiyopta (Yak ampun, imut sekali!!). Mirip sekali denganmu." Salah satu pelanggan restoran mendekati si kembar. "Berapa tahun??."
"3 tahun 2 bulan," jawab Taek Won.
"Aigoo, aku ingin sekali anak kembar yang lucu seperti ini, namanya siapa??." Tanya ibu itu pada si kembar.
"Anyeong haseyo Kim Woo Bin imnida (Halo saya Kim Woo Bin)."
"Kim Won Bin imnida (Saya Kim Won Bin)."
Keduanya memperkenalkan diri dengan sopan, mereka berdua sebenarnya jarang bicara, tapi ibu si kembar dan Ha Neul mengajarkan mereka untuk bersikap sopan pada orang asing. Ibu itu mengelus pipi keduanya dengan penuh sayang, bahkan memesankan cumi goreng krispi untuk keduanya sebagai bonus karena diizinkan berfoto bersama si kembar.
"Aku tidak tau kalau kalian bisa bicara." Taek Won menatap si kembar dengan pandangan kecewa, ia sering bermain bersama keduanya, tapi tak pernah sekalipun mendengar keduanya bicara.
Ha Neul merasa sedikit kasihan pada Taek Won, lalu menjelaskan kalau kedua keponakannya itu memang jarang sekali bicara.
🌺🌺
"Jadi kau Woo Bin dan kau Won Bin, nama yang bagus. Ayo kita berteman, tapi aku tidak mau dipanggil paman, panggil aku Wonie hyung (Kakak laki-laki Wonie) dan kalian bisa bermain robot-robotan termasuk mobil-mobilan di rumah sepuasnya." Taek Won mengulurkan tangannya pada si kembar. Keduanya bertukar pandang seperti memutuskan sesuatu dan akhirnya menjabat tangan Taek Won.
"Kami berjanji akan merapikannya setelah bermain. Jangan marahi imo (bibi)." Ucap keduanya bersamaan.
Taek Won ikutan menatap Ha Neul lama, hingga akhirnya mengangguk setuju. Sementara Ha Neul hanya tersenyum menyaksikan hal itu.
"Apa kami juga boleh bermain dengan mereka??."
"Apa mereka orang baik??."
"Imo bilang....kami tidak boleh sering-sering bicara pada orang asing."
Taek Won kembali menatap Ha Neul. "Jadi kau penyebab mereka jarang bicara, umur berapa kau mengatakan hal itu pada mereka, anak kecil jangan terlalu di kekang seperti itu." Taek Won malah menasehati Ha Neul.
"Hei, wajarkan!!." Ha Neul tidak terima dinasehati seperti itu. "Mereka keponakanku yang sangat imut, dan kalau mereka sering tersenyum dan bersikap sangat ramah mereka akan jadi incaran para penculik anak-anak imut, dan itu akan membuat kakakku susah. Aku hanya menghindari hal buruk terjadi di masa depan," jelas Ha Neul.
😒"Over protective!!." Sindir Taek Won.
"Biar saja!!."
Taek Won kembali bicara pada si kembar yang menanyakan tentang kelima bodyguard yang selalu mengikuti Taek Won, menjelaskan kalau mereka orang baik yang pandai berkelahi dan kalau si kembar ingin belajar bela diri, mereka tinggal meminta para bodyguard mengajari keduanya.
Setelah dari pasar, bukannya langsung pulang. Taek Won malah mengajak mereka ke kebun binatang bercerita bahwa ia suka sekali ke tempat itu sendirian, dan berjanji akan membawa si kembar ke sana lagi lain kali.
Terakhir, mereka berhenti di cafetaria. Memesan ice cream porsi besar membuat si kembar langsung menoleh ke Ha Neul dan bertanya apa mereka boleh menghabiskannya.
"Kenapa kalian bertanya padanya??, kan harusnya bertanya padaku, disini aku yang mentraktir, jadi kalian boleh makan sepuasnya." Taek Won berkata setelah memasukkan sesendok besar ice cream kedalam mulutnya.
"Tadi kau melarang mereka memakan cake coklat, sekarang kau melarang mereka makan ice cream. Kalau kau anti terhadap makanan manis karena takut berat badanmu bertambah lagi, tolong jangan pengaruhi mereka juga". Sindir Taek Won.
Ha Neul mengerutkan dahi bingung darimana pria itu tau kalau dia dulu bertubuh gendut, tapi ia tak bertanya lebih jauh tentang hal itu. ia malah menjelaskan alasan kenapa ia melarang si kembar makan makanan manis. "Terlalu banyak makan manis tidak baik untuk kesehatan, aku tidak mau disalahkan kalau nantinya mereka di olok-olok karena bertubuh gendut, rasanya tidak terlalu menyenangkan".
"Imo, Woo Bin mau pipis." Ucap Woo Bin menghentikan perdebatan Ha Neul dan Taek Won. Ha Neul segera mengajak Woo Bin ke Toilet sementara Taek Won menjaga Won Bin.
"Kalian dilarang makan apa lagi??," tanya Taek Won pada Won Bin
"Bukan dilarang, hanya tidak boleh makan yang manis terlalu sering." Jawab Won Bin.
"Nanti jadi lebih sering ketemu dokter gigi dan disuntik. Won Bin takut disuntik, jadi tidak boleh makan manis terlalu sering." Tambahnya.
Taek Won menggeleng tidak percaya karena Ha Neul bahkan mengancam si kembar dengan alasan seperti itu. "Kau tau, asal kau juga rajin sikat gigi setelah memakan segala macam makanan manis, gigimu tidak akan rusak. Dan kalau kau rajin olahraga badanmu tidak akan gendut. Sampaikan hal ini pada imo mu itu."
"Kalau itu imo juga tau." Ucap Won Bin. "Tapi imo bilang, pasti ada waktunya kita lupa gosok gigi dan olahraga, jadi untuk pencegahan lebih baik nafsu makannya ditahan saja." Tambahnya sambil menyendokkan ice cream dan memakannya sambil tersenyum.
"Kalian....membuatku iri saja!!." Taek Won merasa sedikit sedih. "Tak ada yang pernah menasehatiku seperti itu. Jadi aku makan saja apa yang kusuka sepuasnya."
Won Bin menatap Taek Won sekilas, setelahnya langsung berdiri dari tempat duduknya dan naik keatas meja lalu mengelus rambut Taek Won, "Hyung tenang saja. Nanti Won Bin bilang ke imo agar imo menasihati hyung juga." Setelah mengatakan hal itu, Won Bin kembali duduk dan makan ice cream, sementara Taek Won menutup wajahnya dengan telapak tangan karena merasa senang.
"Kenapa kau begitu menggemaskan Won Bin."😆😆
🌺🌺
"Imo...." Panggil Woo Bin keluar dari kamar Taek Won.
Ha Neul yang sedang memasak sarapan pagi segera memeluk keponakannya yang baru bangun itu dan mencium pipinya dengan penuh sayang.
"Won Bin masih tidur??." Tanya Ha Neul sambil menggendong Woo Bin, anak kecil itu mengangguk lalu berkata bahwa Taek Won juga masih tidur.
"Memangnya dia tidak bekerja hari ini??." Ha Neul bertanya bingung. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah 7, biasanya Taek Won sudah bangun bahkan sudah berpakaian rapi setiap kali Ha Neul datang ke apartemen pria itu pukul setengah 6 pagi.
"Imo...." Kali ini Won Bin yang memanggil Ha Neul, anak kecil itu langsung berlari dan memeluk Ha Neul dan mengucapkan selamat pagi sambil mencium pipi gadis itu.
"Apa kalian mau makan dengan tenang sementara imo membangunkan hyung kalian." Pinta Ha Neul kepada kedua keponakannya itu. Mereka mengangguk dan lagsung naik keatas kursi dan mulai makan dengan tenang sementara Ha Neul pergi membangunkan Taek Won.
Begitu sampai di depan pintu kamar Taek Won yang terbuka, langkah Ha Neul terhenti.
"......."😐
Ha Neul menggaruk pipinya yang tidak gatal dengan telunjuk, bingung apakah ia harus membangunkan Taek Won atau tidak. Pria itu jelas tak memakai baju dan hanya mengenakan boxer pendek di atas lutut, tidur dalam posisi meringkuk seperti bayi dalam kandungan.
"Kalau ku siram dengan sebotol air, dia marah tidak ya??. Rasanya aku ingin sekali balas dendam." Gumam Ha Neul sambil melirik sebotol air mineral yang berada di atas meja komputer di samping tempat tidur.
"Paling dipecat." Ha Neul meraih botol air mineral itu dan mulai tersenyum jahil, tapi belum sempat ia membuka tutup botol tiba-tiba saja Taek Won menarik tangannya dan menindi tubuh mungil Ha Neul.
"Bukankah akan lebih baik kalau kau memberiku pelukan atau ciuman selamat pagi seperti yang kau lakukan pada keponakanmu tadi, daripada berniat balas dendam seperti itu." Taek Won berkata sambil tersenyum sementara Ha Neul menelan ludah, takut.
"Ka...jadi kau sudah bangun???, kenapa tidak langsung ke dapur??."
Aku terbangun karena Woo Bin berteriak memanggilmu, lalu kau memeluk dan mencium pipinya, aku kembali ke kamar dan tidur lagi, lalu kembali terbangun ketika Won Bin juga berteriak memanggilmu dan dia berlari memeluk dan mencium pipimu. Kau ingin aku mendemonstrasikan yang mana??, adegan berteriak, memeluk atau bagian ciumannya atau karena kau yang sudah berbaik hati membangunkanku dan sekarang aku sedang memelukmu, bagaimana kalau sekarang kau menciumku!. Pipi kiri atau yang kanan terserah kau saja." Jelas Taek Won masih dengan senyum jahilnya.
"Mm...Bibir juga boleh." Tambah Taek Won kali ini sambil berbisik, membuat Ha Neul langsung menjitak kepala pria itu. Gadis itu akhirnya berhasil melepaskan diri dari pelukan Taek Won, ia segera bangkit dan melarikan diri.
"Hei....aku hanya ingin kau berlaku adil." Teriak Taek Won ketika Ha Neul berhasil keluar dari kamarnya. Taek Won mengelus keningnya yang tadi di jitak Ha Nael, tanpa sadar kembali tersenyum. Rasanya menyenangkan menggoda gadis itu di pagi hari, apa lagi melihat wajah terkejut Ha Neul dan pipinya yang tiba-tiba memerah itu, mungkin lain kali gadis itu tak kan berani masuk ke kamarnya lagi.
Taek Won menyusul Ha Neul ke dapur, tersenyum menyapa si kembar dan melirik ke arah makanan yang terhidang diatas meja dengan pandangan tidak suka.
"Mereka harus makan sayuran." Jelas Ha Neul sebelum Taek Won buka suara dan mulai protes padanya, tapi pria itu hanya diam saja dan langsung duduk meminum coklat hangat miliknya.
"Anak pintar." Ha Neul mengelus rambut Won Bin ketika keponakannya itu menghabiskan makanannya tanpa sisa. Beberapa detik kemudian Ha Neul melakukan hal yang sama pada Woo Bin, lalu menyuruh keduanya bermain di ruang tamu.
"Kalau aku makan itu.......apa.........kau akan melakukan hal yang sama padaku??." Taek Won bertanya sambil menatap semangkuk salad sayuran di atas meja dengan penuh minat.
"Kau.....juga akan mengelus rambutku dengan penuh sayang seperti yang kau lakukan pada keponakanmu tadi kan!!." Jelas Taek Won karena Ha Neul menatapnya bingung. "Aku sedikit cemburu pada mereka."
".......Apa!!!". Ha Neul benar-benar terkejut dengan pernyataan terakhir Taek Won.
Taek won menatap gelas kosong ditangannya. "Dulu sebanyak apapun aku menghabiskan benda hijau ini....mereka malah menatapku jijik dan mengataiku rakus. Bahkan meskipun aku bangun pagi dan berusaha bersikap baik dengan membangunkan mereka, mereka malah mengusirku dan mengunci pintu, aku dikatai alaram rusak. Perlakukanmu pada mereka membuatku merasa tidak adil, aku tau ini kekanak-kanakkan tapi.........aku tetap saja merasa cemburu dan juga iri, tidak ada yang pernah memanjakanku seperti kau memanjakan si kembar."
Ha Neul tiba-tiba berdiri lalu mengelus rambut Taek Won, membuat pria itu menatapnya sedikit terkejut.
"Kalau kau berkelakuan baik, aku akan sering-sering melakukannya." Ucap Ha Neul sambil tersenyum, lalu meletakkan piring kotor miliknya dan milik si kembar ke tempat cucian piring. Taek Won terpana ketika melihat senyum Ha Neul, ini pertama kalinya gadis itu tersenyum padanya.
"Jadi kau juga akan memeluk ku??."
"........"
"Kau juga akan mencium pipiku???."
"......Tentu saja tidak!!!."
"Kenapa???."
"Kau kan bukan anak kecil!!. Aku hanya melakukan hal itu pada keponakanku. Nah, habiskan makannya, jangan menyisakan apapun!. Lalu letakkan piringnya di tempat pencucian piring, dan mandilah. Kau bau!!!". Setelah mengatakan hal itu Ha Neul bergegas kekamar Taek Won untuk merapikan kamarnya.
"......." Taek Won menatap kepergian Ha Neul dengan wajah murung.
"Tidak berhasil ya??." Tanya si kembar bersamaan, ketika melihat Taek Won makan dengan raut wajah lesu. Pria itu menatap keduanya sambil tesenyum, lalu mengacak rambut keduanya.
"Kalian benar!!. Tadi rambut hyung juga di elus-elus seperti ini." Taek Won mempraktekkan hal yang dilakukan Ha Neul padanya tadi.
"Benarkan!!. Itu artinya imo juga sayang pada Wonie hyung". Ucap Won Bin, membuat Taek Won kembali mengacak-acak rambut anak kecil itu.
"Tapi imo mu itu tidak mau mencium pipi hyung". Taek Won kecewa, entah kenapa ia malah berkeluh kesah pada kedua anak kecil di depannya itu.
"Itu karena hyung sudah dewasa."
Taek Won sedikit kaget mendengar perkataan Woo Bin. " Mak....sudnya?, memang kalian tau dewasa itu apa??."
"Dewasa itu....jauh lebih tinggi dari kami, kami anak-anak." Won Bin menjawab pertanyaan itu lalu menunjuk pipinya. "Bukan disini (pipi), tapi disini (bibir)."
"........."😲
"Di sini....(nunjuk bibir) khusus dewasa." Woo Bin menambahkan penjelasan Won Bin
"........."😧
"Siapa yang mengatakan hal itu pada kalian??." Tanya Taek Won kaget.
"Omma (Ibu)." Jawab keduanya kompak.
"Oh Ya ampunn!!." Taek Won menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sepertinya omma dan imo kalian mengajarkan hal-hal yang bertolak belakang. Mengerikan sekali!!!."
🌸🌸🌸