
"Jangan mengikuti ku!!!!."π‘
Dong Ho menyunggingkan senyumnya, sambil masih terus mengikuti Ha Neul. " Ini bagian dari pekerjaan nona. Aku takut dipecat." Ucap pria itu. "Dan kau tidak membawa ponselmu, jadi dia tidak bisa melacak keberadaan mu sekarang."
"Cih!!!. Tapi dia bisa melacak oppa kan!!!." Sindir Ha Neul kesal.
"Hahaha".π Dong Ho malah tertawa mendengar sindiran itu. "Ia tak seromantis itu pada kami nona, hanya kau yang mendapat perlakuan istimewa seperti itu." Jelas pria itu. Taek Won memang sengaja memasang GPS di ponsel Ha Neul, tapi pria itu tidak pernah meminta bodyguardnya memasang GPS untuk melacak keberadaan mereka.
"Jadi....kau ingin menenangkan diri dimana??. Oppa ini bersedia mengantarmu kemana saja."π
πΊπΊ
"......."π§
"Kenapa??." Ha Neul bertanya dengan pandangan tidak suka. Dari tadi Dong Ho terus menatapnya seperti orang bodoh.
"Kau....sepertinya sangat menyukai..., Maeundakbal (ceker ayam pedas), hahaha."π Jelas Dong Ho canggung. Ia yang tak terlalu menyukai makanan pedas itu, benar-benar takjub melihat Ha Neul memakannya dengan sangat lahap.
"Ajumma (Bibi), pesan maendakbal satu porsi lagi. Lalu tteokbokki, Buldak, dan aku sudah menghabiskan donkatsu pedas satu porsi, jadi gratis satu lagi kan !π ". Ha Neul tersenyum kearah pemilik rumah makan langganan gadis itu. Si ajumma hanya tersenyum lalu mengambil pesanan Ha Neul.
"Oppa, tidak lapar??." Tanya gadis itu, ketika semua pesanan makanannya sudah terhidang di atas meja.
Dong Ho menggeleng. "Aku...tidak terlalu suka makanan pedas."
Jawaban itu langsung mendapat cibiran dari Ha Neul. "πKalian bahkan punya selera makan yang sama, cih!!."
Dong Ho tak bisa mengatakan apapun selain terus takjub melihat Ha Neul makan, gadis itu sudah menghabiskan satu porsi tiap makanan yang dipesannya dan ia kembali memesan makanan dengan porsi yang sama.
"Jangan salahkan oppa, jika badanmu kembali bulat seperti dulu yah." Dong Ho memperingatkan gadis itu.
Ha Neul menghentikan pergerakan tangannya yang sedang menusuk irisan donkatsu pedas. "Dari mana oppa tau kalau dulu aku....
Dong Ho menarik nafas dalam. Sepertinya ia akan kembali jadi cupid kali ini. Jadi, setelah iseng mencicipi tteokbokki dan berakhir dengan batuk-batuk. Dong Ho akhirnya menceritakan tentang Taek Won yang sudah lama menyukai Ha Neul, dan menjadi stalkernya. Ia menjelaskan bahwa dia sendiri ditugaskan untuk selalu mengikuti Ha Neul sejak gadis itu masuk SMA.
"Percaya atau tidak, dia dulu tak selembut sekarang." Jelas Dong Ho setelah mengakhiri ceritanya tentang Taek Won yang selalu datang ke restoran tempat Ha Neul part time dulu.
"Dia benar-benar berubah sejak kau berkerja di apartemennya. Pria yang dulunya selalu bertampang dingin dan bertemperamen tinggi itu, melunak dengan tiba-tiba. Kau mungkin terbiasa menerima perlakuannya yang aneh, lembut, ramah, kekanak-kanakan, tapi dulu, semua orang terbiasa menerima intimidasi darinya."
"Dan percaya atau tidak, dulu aku tak terlalu suka denganmu." Ucapan terakhir itu mendapat tatapan terkejut dari Ha Neul.
"......"
Dong Ho tertawa. "Tapi itu dulu, dulu sekali.π Sekarang kau sudah berubah jadi gadis kecil imut dan menggemaskan, jadi aku rasa kalian cocok satu sama lain." Jelas pria itu.
Ha Neul kembali makan, tapi kali ini suasana canggung menemani mereka berdua, dan Dong Ho menyadari hal itu.
"Aku dulu seorang model, kalau-kalau kau ingin tau. Dulu, bagiku penampilan adalah segalanya, jadi aku juga melihat segala sesuatunya dari penampilan luarnya dulu. Jadi, ketika dulu aku tau Taek Won si perfect prince itu menyukai seseorang sepertimu.....Aku pikir hubungan kalian tidak akan bertahan lama.
"Dia itu sungguh mengagumi sosok mu yang selalu tersenyum dengan pipi bulat mu dulu, juga sifat mu yang ceria, juga prestasimu. Pokoknya semuanya tentangmu, hingga aku pikir dia pasti sudah gila."
Ha Neul tersenyum sementara Dong Ho kembali melanjutkan ceritanya.
Ketika kau mulai rajin olahraga dan diet ketat hingga bisa semungil sekarang, hal itu tidak kulaporkan pada Taek Won, karena dia pasti sangat khawatir. Karena aku pikir dia menyukaimu karena kau berbeda dengan para gadis yang ada di sekitarnya."
Dong Ho tersenyum. "Aku berhalan-lahan menikmati dan jadi ikutan semangat melihatmu berusaha keras menurunkan berat badan dan jadi cantik seperti sekarang. Dan karena kau sudah berusaha keras dan mendapatkan hasil yang sangat memuaskan, aku harap kau tak kembali bulat seperti dulu, karena nanti kau sendiri yang susah. Cemoohan netizen lebih pedas dari pada makanan yang kai makan itu." Dong Ho memberi nasehat terakhir sambil menggeser piring makanan yang baru saja datang.
Dong Ho memesan 3 buah Bungeoppang yang langsung membuat Ha Neul tersenyum lebar. Gadis itu juga memesankan makanan itu untuk di berikan pada Taek Won.
"Jadi.....apa sekarang oppa boleh tau bagaimana perasaanmu pada tuan muda kami yang satu itu??." Tanya Dong Ho. "Kenapa kalian bertengkar??. Tadi kami mendengar kau berteriak. Tapi kami tak berani masuk."
Ha Neul menarik nafas dalam sebelum mulai menjelaskan masalahnya. Entah kenapa, gadis itu merasa nyaman mengungkapkan perasaannya pada Dong Ho, sama seperti rasa nyamannya pada Ha Na.
"Aku hanya mulai merasa terintimidasi oleh status." Ungkap gadis itu.
"Ini pertama kalinya aku berpacaran, pertama kalinya aku menerima kebaikan dari orang lain selain kakak ku, juga pertama kalinya merasa terbebani. Dulu....aku sangat benci orang seperti Jung Taek Won, tuan muda kaya yang memiliki segalanya, sama seperti suami kakak ku. Aku sudah diperlakukan buruk sejak orang tua ku meninggal, terus menerima perlakuan buruk bahkan sampai sekarang, jadi wajar saja kalau aku ingin berubah."
Ha Neul meletakkan sumpit ditangannya, berhenti sebentar untuk minum kemudian kembali bicara. "Semakin aku mengenal seorang Jung Taek Won, semakin aku menyadari bahwa aku menyukainya. Aku juga semakin merasa rendah diri. Aku tau, dia bisa memenuhi semua kebutuhanku, dia juga bisa membungkam dunia dengan kekuasaannya, tapi dia tidak bisa menghentikan cemoohan orang lain."
"Statusku sekarang adalah pembantu rumah tangga yang merangkap sebagai kekasih sang majikan kaya. Aku tidak memiliki harta, juga hanya tamatan SMA. Egoku untuk menyetarakan status demi hubungan kami kedepannya sudah ada sejak lama. Tapi bukan dengan jalan memanfaatkannya, aku lebih suka memperbaiki hidupku dengan usahaku sendiri, dengan begitu hatiku juga merasa puas. Jadi aku berpikir untuk mulai kuliah, aku hanya belum sempat bilang padanya soal itu. Dan aku tak tau kalau dia akan se marah itu."
Ha Neul mendadak tersenyum. "Persoal penampilan luar itu......aku mengerti kenapa oppa dulu tak menyukaiku." Ucap Ha Neul membuat Dong Ho merasa tak enak.
"Semua orang pada awalnya juga menilai segala hal dari penampilan luar, hanya sedikit yang mau memperhatikan sifat dasar yang tentu butuh waktu lama untuk dinilai."
"Aku hanya ingin membuat hubungan kami lebih mudah di kemudian hari, tanpa cibiran orang lain yang bisa merusak semuanya." Ha Neul mengakhiri penjelasannya dengan kalimat itu
Selesai mendengar isi hati Ha Neul. Keduanya kembali ke rumah. Dalam perjalanan pulang Dong Ho kembali menasehati Ha Neul, kalau gadis itu harus mulai terbuka pada Taek Won. "Satu-satunya yang tidak bisa dia tau dan membuatnya frustasi adalah isi hatimu. Jadi, lebih seringlah kau ungkapkan padanya, dengan begitu dia akan lebih tenang."
"Aku hanya tau sedikit tentang masa lalu yang membuatnya trauma. Ibunya yang sangat ia cintai meninggalkannya di rumah kakek Jung. Dia berada di tempat asing sendirian, mendapat perlakuan buruk dan tidak bisa mengeluh. Tae Won menunggu ibunya menepati janjinya untuk menjemputnya dan tinggal bersama, tapi...ibunya tidak pernah kembali."
"Dia takut kau melakukan hal yang sama."
Ha Neul tersenyum mendengar hal itu. Mereka berdua sampai di depan apartemen kakak Ha Neul, ketika tiba-tiba Ha Neul berkata kalau dia tadi hampir diperkosa. Ia meminta Dong Ho untuk menasehati pria itu, agar bisa mengendalikan sifat buruknya itu.
Dong Ho menyunggingkan senyumnya. "Ya. Aku bisa melihat buktinya." Tunjuk Dong Ho kearah leher Ha Neul. "Dia biasanya menghancurkan barang-barang, atau yang paling kejam, membuat hidup orang yang dibencinya hancur dalam hitungan detik. Kau beruntung bisa kabur."
"......"
"Dia bilang.....dia tidak mau minta ma'af." Ucap Ha Neul lagi, dan kali ini Dong Ho terkekeh.
"Mungkin kau juga harus bertanya alasannya kenapa ia sampai melakukan hal itu padamu." Jelas pria itu. "Tapi.....
Dong Ho berhenti bicara ketika membuka pintu apartemen. "Dia memang bukan tipe orang yang suka meminta ma'af."
"Tidak dengan ucapan." Tambah pria itu. Ha Neul dan Dong Ho masuk apartemen dan melihat mungkin ratusan tumpukan kotak buah apel tersebar di seluruh ruangan.
KKami biasanya hanya mendapat satu buah apel ketika dia merasa bersalah, dan berniat minta ma'af. Cih!!π, aku jadi sedikit iri." Ungkap pria itu santai sambil mengambil sebutir buah apel dan menggigitnya.
π§Ha Neul sendiri masih berdiri di depan pintu masuk, melongo takjub.
πΈπΈπΈ
(Sekedar info : Di Korea, apel bahasa Korea juga berarti "ma'af", jadi buah apel sering dijadikan alternatif sebagai pengganti kata ma'af).