
Kim Ha Neul POV
Kakakku baru saja membuka restoran itu satu minggu yang lalu, belum juga banyak pelanggan yang datang, hanya ada segerombol pegawai kantoran yang tiba-tiba menggedor pintu jam 10 malam, meminta dimasakkan 100 buah nasi kotak dan harus diantar keesokan harinya tepat jam 7 pagi. Bahkan uang dari 100 buah nasih kotak itupun belum kami terima, lalu kenapa tiba-tiba restoran kakakku ini harus digusur seperti ini.
" Tanah yang kakak nona tempati adalah milik perusahaan properti Jung, dan karena perusahan sedang mengadakan pelebaran kantor, jadi terpaksa restoran ini kami gusur. Kami punya bukti-bukti surat pembelian tanah ini dan surat itu asli. Kalian pasti telah ditipu oleh orang yang mengaku sebagai pemilik restoran ini sebelumnya".
Penjelasan dari perwakilan perusahaan properti itu jelas membuat kakakku menangis. Aku tau benar kakak ku menghabiskan seluruh tabungannya untuk membeli restoran itu, belum lagi ia juga meminjam uang di bank untuk menghidupi kedua anak kembarnya yang masih balita. Aku hanya bisa memeluk kakakku sambil berusaha bernegosiasi dengan perwakilan dari perusahaan itu. Meminta mereka menunda penggusuran restoran tempat kami tinggal sampai kami menemukan tempat tinggal baru.
"Ma'af sekali, proyek perluasan kantor sudah harus selesai dalam bulan ini, dan kami bisa dipecat jika menunda-nunda hal ini. Bukannya tidak mau membantu, kami juga sedang dalam keadaan terdesak. Sebenarnya proyek ini harus sudah di kerjakan sejak 2 bulan yang lalu, tapi petugas yang memegang tanggung jawab terhadap proyek ini tiba-tiba saja menghilang. Mereka kabur membawa uang perusahaan dan pemilik perusahaan benar-benar marah sekarang. Kami benar-benar minta ma'af karena tidak bisa membantu, tolong pengertiannya karena kami juga sedang dalam masalah."
Aku hanya bisa menunduk lesu sedangkan kakakku masih saja menangis. Apa yang bisa kulakukan untuknya???, aku bahkan baru saja lulus SMA.
"Kalau begitu bisa beri kami waktu 3 hari??. Setidaknya kami ingin melaporkan kasus penipuan penjualan restoran ini pada polisi, lalu mencari tempat tinggal baru. Kakak ku....tidak memiliki suami, tapi dia punya dua anak yang harus diurus, jadi........bisa tolong beri kami waktu 3 hari saja sampai kami menemukan tempat tinggal baru."
Untungnya permintaanku tadi mau mereka terima, tapi tentu saja masalah tak selesai sampai disitu. Sekarang kami harus mencari tempat tinggal baru karena rumah yang kami punya dulu telah dijual untuk mencukupi uang membeli restoran ini, dan yang jelas tak ada uang yang bersisa dalam tabungan kakakku. Melihat kakakku yang masih menangis sambil memeluk kedua anaknya benar-benar membuatku tidak tahan. Aku hanya berjalan keluar restoran dan duduk menenangkan diri di kursi depan, berusaha mencari solusi.
"Aku bisa saja menggunakan uang itu........., lagipula uang itu cukup untuk membeli sebuah toko kecil untuk kakakku dan juga tempat tinggal, tapi kakak pasti sangat marah kalau sampai aku menggunakan uang itu. lalu aku harus bagaimana??."
"Kau punya tabungan?."
"Tentu saja, uang yang kudapat dari beasiswa prestasi dan segala olimpiade yang pernah ku menangkan ku simpan semuanya di bank, lagipula aku juga dapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Universitas Korea jurusan Kedokteran dan uangnya sudah ditransfer ke tabunganku jadi..............
".............."
".............."
"Anda siapa???," tanyaku heran. Sejak kapan pria ini duduk di sampingku??. Dan siapa dia seenaknya bertanya seperti itu.
"Aku pemilik..........., bukan, aku mau bayar uang 100 buah nasi kotak 2 hari yang lalu. Pegawai Ku......, bukan, maksudku rekan kerjaku bilang mereka memesan nasi kotak itu disini."
"Oh. Tunggu sebentar, aku panggil kakakku dulu." Aku segera masuk bersama pria itu. memanggil kakakku yang wajahnya kelihatan sembab karena terus-terusan menangis, ia bahkan masih sibuk menghapus air matanya sambil menghitung total biaya nasi kotak itu. Meninggalkan kakakku dan pria tadi, aku menemani kedua keponakanku yang tampak senang menggigit mainan plastik di depan mereka. Memandang keduanya dengan pandangan kasihan dan berdo'a dalam hati semoga kedua keponakanku ini selalu sehat dan masalah yang terjadi sekarang bisa selesai dengan cepat.
"Ha Neul~yaaaaa." Kakakku tiba-tiba muncul dan memelukku dengan wajah bahagia. Tunggu dulu....memangnya apa yang terjadi???.
"Kita.....kita segera pindah dari sini." Ucap kakakku terbata.
"Mereka bilang, pemilik perusahaan itu bersedia memberi kita tempat tinggal sekaligus pekerjaan, tapi kita harus segera pindah dari sini." Jelas kakakku kali ini dalam satu tarikan nafas.
"Benarkah???." Aku jelas tak percaya mendengar hal itu, tapi mau tak mau juga merasa senang dan jelas sangat berterima kasih pada pemilik perusahaan properti yang baik itu.
"Tidak, tunggu dulu. Kau segera ganti bajumu dan berpakaian lah yang rapi. Interviewnya dimulai 15 menit lagi dan dia tidak mau kau terlambat. Biar kakak saja yang membereskan barang-barang." Kakakku mendorongku kearah kamar mandi sementara aku masih kebingungan mengikuti kemauannya dengan berganti pakaian dan berdandan dengan rapi. Begitu muncul di depan pintu restoran, seseorang membukakan mobil dan menyuruhku masuk dan akhirnya tibalah aku di depan sebuah gedung yang sebenarnya tepat berada 5 meter dari restoran kami.
"Tuan Jung menyuruh anda langsung menuju lantai 10 dan tunjukan kartu identitas ini jika ada yang bertanya tentang anda."
Hanya itu petunjuk yang ku peroleh begitu mulai masuk ke dalam gedung perusahaan itu. masih bertanya-tanya dalam hati kenapa aku berada disini, aku tak terlalu memperdulikan beberapa orang yang melirikku dengan pandangan heran atau lebih tepatnya tidak suka.
Ok, aku memang berpikir aku sedang memegang kartu kuning aneh yang menjadi pusat perhatian, yang sepertinya memiliki arti spesial bagi orang-orang di perusahaan itu. Aku sempat mendengar bisik-bisik mereka ketika berada satu lift denganku yang mengatakan kalau aku pasti anak salah satu orang dalam perusahaan yang berusaha masuk melalui koneksi. Dan hal itu sontak membuatku tersenyum geli, untuk apa aku masuk dan melamar pekerjaan yang tak ada hubungannya denganku, yang jelas aku lebih minat menjadi pelayan di bidang kesehatan di banding menjadi sales.
Yah, akhirnya aku sampai di lantai 10 yang ternyata ramai dipenuhi para pencari kerja, sepertinya perusahaan itu sedang mencari karyawan-karyawan baru mengingat mereka juga sedang memperluas gedung perusahaan.
Begitu tiba didepan pintu masuk supir (mungkin) yang tadi membawaku ke gedung itu mempersilakan ku masuk kedalam ruangan interview, dan yang membuatku heran adalah tak ada orang disana, hanya ada satu buah komputer yang dilayar nya terpampang tulisan selamat mengikuti interview.
"Apa anda bisa berhitung dengan baik???."
Tiba-tiba saja ada suara yang muncul, meski bingung, aku tetap duduk ditempat ku dan menjawab pertanyaan itu. Mungkin ini cara interview kerja model baru.
"Ee........meski tak bisa membuktikannya karena saya tak membawa sertifikat saya, tapi....saya memenangkan olimpiade matematika sejak duduk di bangku sekolah dasar dan masih terus memenangkannya hingga satu minggu yang lalu. Saya.... baru saja lulus SMA." Jelasku santai, tetap merasa aneh, bahkan tak ada perkenalan awal dalam interview ini. Apa mereka tau namaku, atau komputer itu bisa menganalisa langsung seperti apa aku ini, hahaha. Pikiran itu malah membuatku tersenyum makin lebar.
"Bahasa apa saja yang anda kuasai, yang berarti benar-benar anda kuasai termasuk cara menulisnya???."
"Sedikit bahasa Indonesia........., ee, ibu saya orang Indonesia. Lalu....bahasa Inggris, Jepang dan......Mandarin. Saya juga cukup ahli dalam hal komputer, terutama membuat program-program baru seperti game atau.........merusak komputer orang lain dengan virus yang saya buat, tapi karena menjadi hacker itu terlalu bahaya (meskipun sebenarnya cukup menyenangkan) jadi saya tak terlalu berminat bekerja dalam bidang itu." Jelasku panjang lebar.
"Apa motto hidup anda???."
"Membahagiakan kakakku dan kedua keponakanku."
"Kenapa bukan orang tua???, kenapa bukan untuk diri anda sendiri??."
Aku tersenyum mendengar pertanyaan itu. "Orang tua saya meninggal ketika saya berusia 8 tahun, dan kakak saya yang usianya 10 tahun lebih tua dari saya merawat saya dengan susah payah, jadi dia sudah seperti orang tua saya sendiri. Sekarang giliran saya yang membalas kebaikan kakak saya itu, karena sekarang dia sudah menjanda dan mempunyai 2 anak kembar."
"Jadi anda bersedia melakukan apa saja demi mereka???."
"Ya. Tentu saja."
"Ya, tentu sa............
"Kalau begitu baiklah!!!. Anda diterima."
"Apa???". Tunggu dulu!!!." Aku mendadak berdiri dan balik bertanya bagaimana mereka tau kalau aku ingin menjadi dokter.
"........."
Tak ada jawaban, dan itu membuatku sedikit merasa kesal, yahh entah kenapa.
"Apartemen kakak anda berada di lantai 8, apartemen anda berada di lantai 7. Anda boleh mengunjungi kakak anda ketika jam kerja anda selesai, dan anda mulai bekerja besok pagi. Supir akan mengantar dan menjemput anda jika anda butuh sesuatu diluar. Saya benci orang yang tidak disiplin, jadi baca semua persyaratannya di map di atas meja itu, tanda tangani dan gaji anda langsung bisa anda cek di bank begitu anda selesai tanda tangan."
Aku mendekati meja dan mendapati sebuah map putih berada di sana. Rasanya interview ini semakin aneh saja. Aku yang tadinya sudah memutuskan untuk keluar ruangan itu, akhirnya kembali duduk dan membaca isi dalam map yang merupakan persyaratan menjadi asisten seorang CEO bernama Jung Taek Won.
Berpenampilan sopan
Bertingkah laku baik
Disiplin
Bisa memainkan alat musik
Bisa bernyanyi dengan baik
Bisa memasak dengan baik
Bisa membersihkan rumah dengan baik
Bisa............
"Ma'af...., tapi........apa anda sedang mencari asisten rumah tangga???." Tanyaku begitu membaca poin-poin yang tertera di kertas itu. Ini bahkan diluar dugaan ku.
"Tanda tangan saja, dan gaji anda langsung di trans.........
"Ma'af, Saya mungkin setuju jika menjadi asisten yang bekerja di perusahan ini, atau jadi sales menjual alat rumah tangga juga tidak masalah, tapi menjadi asisten rumah tangga atau pembantu bahasa lainnya, tidak termasuk dalam daftar pekerjaan yang saya inginkan." Ucapku kesal.
"Kakak anda bilang kalau anda pasti setuju, dan anda juga sepertinya tak keberatan karena langsung datang dan mengikuti interview ini dan karena saya sudah mau berbaik hati menerima anda bekerja di apartemen saya dan uangnya juga sudah ditransfer ke rekening anda, jadi silahkan tanda tangan."
"Ma'af sekali lagi, tapi kalau anda ingin memperalat orang lain dengan cara seperti ini, anda jelas salah orang, saya tidak mau bekerja dengan anda!!!."
Aku melempar kertas-kertas persyaratan tadi ke atas meja, kembali berbalik dan berjalan ke arah pintu keluar, tiba-tiba saja sebuah pintu terbuka di balik cermin yang terpasang di dinding ruangan itu. Seorang pria tinggi berpakaian rapi muncul dengan raut waja angkuh. Pria yang tadi tiba-tiba muncul di depan restoran dan bertanya persoal uang tabungan milikku.
"Kau............
Pria itu berjalan kearah meja dan mengambil kertas-kertas yang tadi ku lempar lalu menyerahkannya kembali padaku.
"Jadilah asistenku selama 1 tahun ini, setelah itu kau bisa mengikuti kuliah kedokteran di Harvard Medical School University gratis, termasuk biaya tinggal dan hidup disana. Kalau kau mau menandatangani surat kontrak ini, uang kuliahmu bisa langsung ku transfer detik ini juga."
Entah kenapa mendengar ucapan pria itu malah membuatku makin kesal. "Siapa kau sebenarnya??, bukannya tadi kau bilang kalau kau ini seorang pegawai. Kau pikir biaya kuliah dan tinggal disana itu murah. tolong jangan bercanda seperti ini. Benar-benar tidak lucu sama sekali."
"..........."
Pria itu terlihat mengutak-atik ponselnya, lalu detik berikutnya dengan raut wajah datar pria itu berkata kalau uang kuliah ku sudah ditransfer ke rekeningku. Dan bagaimana pria itu bisa tau nomor rekeningku???
$ 100.000.000
"!!!!!!." Berapa jumlahnya kalau di won kan??. mendadak otak ku yang biasa menghitung ini jadi beku mendengar nominal yang disebutkan oleh pegawai bank yang ku telpon tadi. Aku sontak menatap pria yang masih berdiri di depanku itu.
"Jung Taek Won." ucapnya santai, lalu berbalik dan duduk di kursi dan berpose ala bos besar (maksudku, dia terlihat seperti direktur perusahaan, atau memang dia direkturnya???).
"Namaku selalu menjadi urutan paling atas di situs jejaring sosial. setelah kau yakin kalau aku ini nyata dan uang itu juga nyata, segeralah tanda tangani surat kontrak itu, dan pindah lah ke apartemen yang ada di kertas itu. Nah, sekarang aku harus kembali bekerja."
Jadi setelah mendengar perkataan terakhir itu, aku masih berdiri di ruangan itu seperti orang bodoh.
🌸🌸🌸