CEO AND I

CEO AND I
16. Misunderstand



Entah apakah pria dihadapannya ini benar-benar jadi gila, atau memang ia sudah gila sejak awal. Ia terus saja tersenyum memamerkan kedua lesung pipinya sambil menatap Ha Neul yang sibuk memasak.


Setelah 1 bulan tidak pulang ke apartemen karena sibuk dengan bisnisnya di Inggris. Taek Won kembali membawa tumpukan oleh-oleh yang memenuhi ruang tamu dan sekarang jadi gila karena punya waktu libur.


Selama kesibukkan nya, pria itu rajin mengirim pesan padanya, meski hanya sekedar ucapan selamat pagi atau ejekan 'penakut' karena Ha Neul selalu mengingatkannya untuk tidak sering makan makanan manis.


Hubungan mereka jadi lebih dekat sejak ungkapan pria itu terakhir kali. Dan entah kenapa, Ha Neul nyaman dengan hal itu.


Tepi kenyamanan itu tidak sampai pada batas ia terbiasa dengan tingkah aneh Taek Won.


Pria yang biasanya hanya suka memerintah itu bahkan dengan suka rela membantu Ha Neul mencuci peralatan dapur setelah memasak, lalu menata makanan diatas meja, bahkan membuang sampah.


"Apa kau tidak bekerja??. Ini kan hari senin, bukannya kau biasanya pergi pagi-pagi sekali." Tanya gadis itu.


"Aku disuruh istirahat oleh keponakanmu. Mereka bilang aku sudah seperti orang gila."


Sekarang kau juga seperti orang gila.ย Pernyataan itu hanya diucapkan Ha Neul dalam hatinya saja.


"Kau menuruti ucapan si kembar. Bagaimana bisa??."


Taek Won memasukkan suapan omelet terakhir ke mulutnya sebelum menjawab pertanyaan itu.


"Karena mereka itu seperti guru besar bagiku."


Ha???๐Ÿ˜•.


"Ah bukan...mereka itu...dokter cinta๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…."


๐Ÿ˜ Benar-benar gila.


Taek Won mengambil piring Ha Neul yang juga telah kosong dan berniat mencucinya ketika gadis itu mendadak berdiri dan mencegah hal itu.


"Ma'af, tapi aku digaji untuk melakukan semua pekerjaan ini. Jadi, tolong jangan ambil pekerjaanku!!."


"Hahahaha." Taek Won mengacak rambut Ha Neul karena gemas mendengar ucapan gadis itu. "Kalau begitu aku akan membantumu mengeringkan piringnya saja. Dan ku jamin gajimu tetap utuh."๐Ÿ˜Š


"........"


Pria itu mengambil kain lap dan menunggu piring yang sudah dicuci oleh Ha Neul diberikan padanya.


Akhirnya Ha Neul hanya membiarkan pria itu membantunya.


Ha Neul naik ke bagian atap apartemen. Ia berniat memanen tomat cerry yang ia lihat kemarin sudah memerah. Gadis itu benar-benar tidak menyangka kalau Taek Won mengikutinya.


"Wuahh, aku bahkan tak tau kalau atap apartemen ini dijadikan kebun seperti ini." Ucap pria itu takjub.


"Bukankah kau harus istirahat??." Nanti kau tambah gila.


"Ini istirahat namanya." Pria itu berkata sambil memetik tomat cerry.


Ha Neul mengerutkan dahi bingung. "Istirahat itu, berarti kau harus tidur dirumah kan!!."


Taek Win menatap Ha Neul sambil menggeleng tidak setuju. "Istirahat dalam kamusku itu berarti aku tak pergi ke kantor, atau keluar kota, atau keluar negeri, atau menerima panggilan yang ada hubungannya dengan pekerjaan." Jelas pria itu santai. "Ah..sini๐Ÿ˜Š, biar ku bantu bawakan."


"......."๐Ÿ˜


Ha Neul menarik nafas dalam karena sekarang, pria itu berkata kalau ia mau membantunya membuat cake.


"Kau....tolong jangan bertingkah aneh begini. Aku merasa...kau sengaja berbuat baik karena aku melakukan kesalahan padamu. Kau....tidak berpikir untuk balas dendam kan!!."


๐Ÿ˜. "Aku baik salah, aku kesal juga tidak boleh. Hei...bukankah kau terlalu berpikir buruk tentangku."


Ha Neul mengabaikan pernyataan itu. "Bagaimana kalau kau pergi ke tempat si kembar saja. Bukankah kau biasa mengantar jemput mereka."


"Kau mau mengusirku ya??."


"......"


"Padahal aku sengaja libur. Aku juga sudah susah paya ingin membuat kejutan untukmu dan berpikir kau akan senang. Benar-benar mengecewakan."๐Ÿ˜”


"......"


Pertanyaan dan pernyataan itu membuat suasana jadi canggung.Keduanya tak bicara untuk beberapa saat. Tapi baru saja Ha Neul ingin bicara. Mendadak Taek Won bertanya soal keinginan Ha Neul untuk kuliah.


"Aku sudah bertanya dengan kolega ku yang berada di AS dan di Inggris. Berdasarkan nilai akademik dan prestasimu, kau memenuhi syarat untuk kuliah kedokteran diย Universitas Harvard dan Cambridge. Kau bisa pilih yang mana. Aku juga sudah menemukan tempat tinggal yang tak jauh dari kampus, jadi kau tak usah memikirkan biaya transfortasi atau susah-susah mencari tempat tinggal lagi."


Pria itu kembali melanjutkan perkataannya. "Aku tau kemampuan bahasa Inggris mu bagus, tapi ada baiknya kalau kau mengikuti kursus untuk lebih memastikannya, dan kau juga boleh ikut bimbel. Sejak bekerja padaku kau tak pernah belajar lagi kan!. Bukannya aku meragukan kepintaranmu, hanya saja lebih baik kalau kau melakukannya, semua itu demi kebaikkanmu juga."


Taek Won menunggu tanggapan dari Ha Neul yang malah terlihat merenungi perkataan pria itu. Inilah kejutan yang di maksud Taek Won, dia bahkan sudah berniat membeli rumah di salah satu negara itu kalau Ha Neul setuju kuliah disana.


"Aku hanya memberi saran. Kau...berhak menentukan pilihanmu. Tentu agar tak mengganggu konsentrasi mu belajar, kakak dan keponakanmu akan tinggal denganku." Ucap pria itu lagi. "Dulu kau ingin sekali kuliah, kan!."


"....Apa!!!."


Dibanding senang mendengar bahwa ia akhirnya bisa kuliah, Ha Neul malah merasa benar-benar kecewa dan juga kesal. Penjelasan panjang pria itu seolah menyuruhnya untuk segera angkat kaki dari apartemen pria itu.


"Apa maksud ucapanmu itu. Kau kan memang sudah lama ingin kuli....YAAA!!!๐Ÿ˜ก, dengarkan dulu orang selesai bicara!!." Taek Won menahan Ha Neul yang sudah berjalan menuju pintu. Heran kenapa mendadak gadis itu marah padanya.


"Kau....!!๐Ÿ˜ง๐Ÿ˜Ÿ. Kenapa kau menangis???." Taek Won tambah bingung.


Ha Neul menghapus air matanya. Aku tidak tau๐Ÿ˜ญ. "Kau mengusirku!."


๐Ÿ˜•"Aku tidak mengusirmu!!."


Ha Neul menatap Taek Won dengan pandangan marah. "Kau mau menjauhkanku dari keluargaku!!."


Oh ya ampun!!!.ย Taek Won mengacak rambutnya, frustasi. "Kapan aku melakukannya??." Tanya pria itu menahan kekesalannya. Remaja labil memang sulit di mengerti.


"Aku tak pernah memintamu mencarikanku tempat kuliah di luar negeri. Kau bahkan sudah mencarikanku tempat tinggal disana. Padahal di Korea ini juga ada fakultas kedokteran dan jaraknya tak jauh dari apartemen ini. Apa kau segitu bencinya padaku sampai tega membuangku ke negara orang lain??. Kau sendiri tau kalau aku sangat menyayangi kakak dan keponakanku."


"Kau....kau membenciku kan!!!. Karena aku menolak mu. Kau...pasti membenciku."๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ


Taek Won yang kebingungan dengan reaksi tak terduga itu, hanya bisa memeluk Ha Neul dan menunggu sampai gadis itu tenang dan berhenti menangis.


ย 


๐ŸŒบ๐ŸŒบ


ย 


"Entah ini bisa jadi salah paham atau tidak tapi aku merasa senang mengetahui hal ini." Taek Won berkata sambil mengelus rambut Ha Neul.


Gadis itu masih berada dipelukannya meski sudah berhenti menangis.


"Aku sama sekali tak ada niat menjauhkanmu dari siapapun. Aku memilih universitas terbaik di dunia, karena aku ingin kau mendapatkan yang terbaik. Aku tak bilang kalau tempat kuliah yang ada di Korea ini buruk, aku hanya bilang kalau aku selalu memilih yang terbaik, dan menurut pendapat dunia, 2 tempat kuliah itu adalah pilihan yang paling baik."


"Tentu saja keluarga mu bisa ikut denganmu dan tinggal bersamamu kalau kau menginginkannya. Aku sama sekali tak keberatan. Dan aku tak pernah punya perasaan benci padamu, meskipun kau sudah menolakku dengan sadis, penolakan mu.....tidak ada hubungannya dengan ucapanku padamu dulu yang berjanji akan membantumu kuliah."


Taek Won menjauhkan sedikit tubuh Ha Neul hanya untuk sekedar melihat wajah gadis itu.


"Aku menyukaimu Kim Ha Neul. Aku juga sangat menyayangimu. Dan aku juga tak rela kau menghilang dari duniaku, jadi meskipun kau tinggal di luar negeri, aku tetap bisa menemuimu karena kau tetap berada dalam jangkauanku. Jadi...jangan pernah berpikir aku membencimu."


Lagi-lagi Taek Won mengelus rambut Ha Neul dengan penuh sayang. Pria itu akhirnya benar-benar melepas pelukannya dan beralih memungut tomat cerry yang berserakan dilantai. Tadi ketika ia menarik tangan Ha Neul, gadis itu tak sengaja menjatuhkan semua tomat cerry yang berada dalam keranjang.


"Aku sempat berharap....


Ha Neul menoleh, menunggu kelanjutan ucapan Taek Won. Pria itu mendadak berhenti dan duduk di lantai.


"Aku berharap kalau kau berkata kau juga tak mau pergi jauh dariku, jadi mungkin aku bisa salah paham dan berpikir kalau kau mulai tertarik padaku. Tapi sepertinya...tidak ya."


"Kau...hanya tidak mau di pisahkan dari keluarga mu, dan aku salah paham dan mengira kalau....kau mulai ada perasaan spesial untuk ku."


"......."


Ha Neul jelas melihat kekecewaan dibalik senyuman diwajah Taek Won. Dan ia lagi-lagi tak tau harus menjawab apa.


"Tomat cerry mu sangat manis, aku jadi ingin memberikannya pada si kembar". Taek Won bangkit dan memberikan keranjang kecil yang berisikan tomat cerry yang tadi ia pungut kepada Ha Neul. Lalu berbalik untuk membuka pintu apartemen.


!!!!!


"Kau....Kau boleh salah paham". Ha Neul tanpa sadar menahan ujung lengan baju Taek Won.


Pria itu berbalik menghadap Ha Neul memastikan ucapan yang baru saja didengarnya.


Wajah Ha Neul sudah semerah tomat cerry dalam keranjang itu. "Sepertinya aku....๐Ÿ˜ณ sepertinya aku...juga tidak ingin kau jauh...


!!!!!!


Tiba-tiba saja Taek Won sudah mendaratkan bibirnya pada bibir gadis itu. Dan meski awalnya terkejut, entah kenapa Ha Neul akhirnya membiarkan saja pria itu menciumnya.


"Aku pastikan kalau aku benar-benar salah paham sekarang." Taek Won tersenyum, kali ini Ha Neul tak menolaknya lagi.


Kau sudah jatuh cinta padaku. ๐Ÿ˜Š


ย 


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


ย