BUSAN, LOVE AFTER GI

BUSAN, LOVE AFTER GI
7. MELODIOUS HUM



KIM RAE


"Alam nasyrah laka sadrak".


Sayup terdengar sesuatu dari kamar sebelah.


Seketika membuyarkan lamunan ku tentang rasa sakit yang di hadiahkan oleh Gi.


Ku tegakkan duduk ku dan ku pertajam pendengaran ku.


"Wa wada'na 'anka wizrak".


Seperti sebuah senandung.


Suaranya merdu.


"Alladzi an qada dzahrak".


Apa Alea yang tengah bersenandung itu?.


Aku turun dari ranjang, berjalan menuju pintu kamar, ku buka pintu kamar perlahan, suara itu semakin jelas, aku yakin itu suara senandung Alea.


"Wa rafa'na laka dzikrak".


Pintu kamar Alea terbuka sedikit dan aku bisa melihatnya jelas dari celah pintu yang tidak tertutup rapat itu.


benar saja itu suara Alea.


Dia tengah duduk bersila diatas ranjangnya, tangannya memegang sebuah buku, entah buku apa itu.


"Fa inna ma’al ‘usri yusraa".


Suaranya merdu.


"Inna ma’al ‘usri yusraa".


Mendayu-dayu, menenagkan bising dalam diriku.


"Fa idza faraghta-fansab".


Suara Alea dalam senandung itu seakan menghipnotis ku.


"Wa ilaa rabbika farghab".


Tak ku sangka suara Alea sebagus itu saat bersenandung.


Dia menutup buku yang ada di pangkuannya.


Kemudian beranjak turun dan berjalan menuju meja.


Apakah sudah selesai?.


Ah, aku masih ingin mendengarkan suara senandungnya.


Ku lihat Alea berjalan ke arah ku.


Sepertinya dia melihat ku dari pantulan cermin meja riasnya.


"Apakah suaraku terlalu keras?....",


Begitu membuka pintu kamarnya, dia langsung mencercah ku dengan berbagai pertanyaan.


"Suara mu bagus", kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut ku.


Tak ku hiraukan Alea yang bingung dengan jawaban ku.


"Boleh aku masuk?", tanyaku


Aku begitu penasaran, buku melodi apa yang tadi dia baca.


Aku begitu ingin tau.


Dan begitu dia mempersilahkan aku masuk, aku langsung masuk ke dalam kamarnya.


"Apa yang sedang kau lakukan tadi?", Tanya ku.


"Mengaji", jawabnya.


'mengaji' sebuah istilah yang asing bagi ku, aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan 'mengaji'.


"Aku membaca kitab suci ku", jawab Alea saat ku tanya apa itu mengaji.


Aha...jadi dia tadi sedang membaca kitab sucinya.


Jadi itu bukan buku melodi, itu kitab sucinya.


bukan juga senandung tapi mengaji.


Jadi tadi Alea sedang beribadah.


Mungkin semacam melantunkan puji-pujian untuk Tuhan nya.


Ya aku mengerti sekarang.


"....Bacalah kitab suci mu itu setiap hari dengan suara yang keras, agar aku dapat mendengarnya, aku suka mendengar kau membacanya", kata ku padanya.


Ya, itu jujur, aku memang suka mendengar Alea mengaji.


Bahkan tadi aku sempat sedikit kecewa saat mengajinya usai.


Aku masih sangat inggin mendengar dia mengaji.


Tapi dari raut wajahnya sepertinya dia agak sedikit canggung.


Bukan hal yang aneh, dia pasti merasa tidak enak jika harus mengaji dengan suara yang keras, karena keluarga kami berbeda keyakinan dengannya.


Tapi menurutku keluarga kami cukup terbuka, tidak akan jadi masalah jika Alea mengaji setiap hari dengan suara yang sedikit keras, toh suaranya merdu saat mengaji.


Kami tidak pernah mempermasalahkan soal keyakinan seseorang.


Dan menurut keluarga kami, beribadah adalah hak setiap orang yang wajib di hormati.


"Kau tidak lapar", tanyaku sebelum meninggalkan kamar Alea.


"Apa kau lapar?....", Dia memang orang yang aneh, aku bertanya dan dia kembali bertanya pertanyaan yang sama padaku.


Aku bilang padanya bahwa aku ingin makan eomuk.


Dan aku mengajaknya untuk membeli eomuk di depan minimarket.


entah mengapa tiba-tiba aku merasa lapar dan ingin makan banyak eomuk.



Aku juga ingin jalan-jalan sebentar di luar.


Aku pun tidak mengerti, tapi aku merasa saat ini mood ku berubah menjadi baik.


Alea merasa itu bukan ide yang bagus, tapi aku bilang padanya aku akan tetap berangkat membeli eomuk dengannya atau tanpanya.


Dan akhirnya dia mau menemaniku membeli eomuk.


Ku kenakan hoodie, topi dan masker.


Aku tak ingin ada yang sadar akan keberadaan ku.


Ahhh...malam yang cerah


Aku hirup udara sebanyak mungkin.


Nyaman sekali rasanya.


Entah sudah berapa minggu aku mengurung diri di kamar.


Kami membeli eomuk di depan minimarket, lalu kami duduk sebentar di taman sambil menikmati eomuk yang tadi kami beli.


Aku merasa ***** makan ku telah kembali pulih, entah sudah berapa tusuk eomuk yang telah kulahap.


Perasaan ku saat ini juga terasa lebih ringan dari sebelumnya.


Sepertinya masih terlalu pagi untuk bangun, tapi aku haus sekali dan air di dalam teko yang ada di nakas habis.


Dengan malas dan masih sangat mengantuk aku berjalan keluar kamar, menuju dapur untuk mengambil segelas air putih.


"Kau sedang apa?", Tanyaku pada Alea yang pagi buta begini sudah ada di dapur.


"Ohh..., Selamat pagi", jawabnya pada ku sambil tersenyum.


"Kau sudah bangun?.


Apa kau membutuhkan sesuatu?", Sambungnya tanpa menjawab pertanyaan ku.


"Eh, ya aku haus",


Dan dengan cekatan dia mengmbilkan ku segelas air putih, kemudian menyerahkannya pada ku.


Tiba-tiba kantuk ku menjadi hilang, aku mendudukkan diriku di atas kursi kayu yang ada disana.


Aku perhatikan setiap gerak yang dilakukan oleh Alea.


Alea menoleh kepada ku, mungkin dia tau bahwa aku sedang memperhatikannya.


"Kenapa belum di minum?.


Apa kau ingin aku buatkan segelas susu hangat?", Tanyanya padaku.


Susu? Ahhh...itu minuman favorid ku.


"Kau tau aku suka minum susu?", Tanya ku penasaran.


"Tentu saja dia tau, menurutmu siapa yang belakangan ini membuatkan mu susu hangat setiap paginya?", Nuna tiba-tiba saja sudah berada di belakang ku.


"Selamat pagi eonni", sapa Alea kepada eonni.


"Pagi cantik", balas eonni.


"Apakah Alea yang membuatkan ku susu setiap pagi?", Tanyaku kepada nuna yang tengah sibuk memasang celemek.


"Bukan hanya susu, makanan yang kita makan setiap pagi itu buatannya".


"Hah??? Benarkah???", Tanya ku terkejut.


"Apa menurutmu sepagi ini dia berada di dapur untuk bermain volly?", Tukas nuna sambil mulai melakukan aktivitas memasak.


"Tidak biasanya kau bangun sepagi ini?", Sambungnya lagi.


"Ya, aku....,


isshhh...., Kau keterlaluan sekali nuna, mengapa membiarkan tamu kita memasak?".


"Aishhh..., anak ini, aku sudah melarangnya, tapi dia sama keras kepalanya dengan mu", sembur nuna sambil memukul lengan ku dengan sendok kayu.


Alea tertawa kecil melihat ku meringis kesakitan.


"Apa yang kau buat pagi ini Alea", tanya nuna pada Alea.


"Entah apa nama makanan ini disini, di Indonesia ini di sebut semur daging, semalam cuaca agak dingin, jadi kurasa makan sesuatu yang berkuah dan hangat di pagi hari akan sangat menyenangkan".


Nuna membuka tutup panci yang ada di atas kompor.


Seketika bau harum menyebar ke seluruh dapur.


Dan aku jadi sangat lapar.


"Hhhmmm...harum sekali, ini terlihat sangat lezat Alea".


Entah apa yang merasuki ku, tiba-tiba saja aku berjalan menghampiri Alea dan menyerahkan mangkuk kosong padanya.


"Aku lapar" kata ku sambil terus menatap makanan berkuah yang ada di dalam panci.


Takk....


Nuna memukul kepalaku.


"Awww...., Sakit nuna", kata ku sambil mengusap kepalaku.


"Ini belum matang, cuci muka dan gosok gigi mu dulu, ganti juga baju mu juga, apa kau akan makan pagi bersama kami dengan penampilan seperti itu hahhh?? Menjijikkan".


"Baiklah, tapi bolehkah aku mencicipinya sedikit", tanyaku memelas.


"Tidak", jawab nuna dan Alea bersamaan.


dan ketika kami makan pagi bersama....


"Oppa, apa cacing di perutmu sedang sangat kelaparan?.


Itu adalah mangkuk ke-3 mu", kata Nari padaku.


"Ini sangat lezat Nari", jawab ku dengan mulut penuh.



"Mengapa oppa baru sadar bahwa masakan eonni sangat lezat?.


Padahal oppa sudah memakannya selama 1 minggu ini", tanya Nari.


"aku juga tidak mengerti akan hal itu", jawab ku sambil terus mengunyah.


"Bisakah kau makan dengan perlahan?


Kau bisa tersedak nanti", kata Alea pada ku.


"Tak perlu terburu-buru Rae, ambil semuanya untuk mu", hyung mendekatkan panci makanan kepadaku sambil tertawa.


"Jika kau makan seperti itu, semua fans mu akan memanggil mu panda gembul", nuna mencibir sambil mulai membereskan meja makan.


Uhhuukkk....uhuukkk.....,


Aku tersedak demi mendengar perkataan nuna.


Alea yang sedang memasukkan buah anggur ke dalam kotak bekal Nari di sebelah ku, segera memberiku segelas air dan menepuk-nepuk punggung ku perlahan.


" Kau sungguh seperti anak kecil, makanlah dengan perlahan", kata Alea padaku.


"Baiiikkkk....", teriak ku bersemangat.


"Nari, ini bekal mu, kau berangkat bersama eonni atau...".


"Ya eonni, aku sudah selesai", potong Nari.


"Baiklah, segera ambil tas mu, aku harus datang lebih awal, ada beberapa plot yang harus aku perbaiki".


Aku menarik-narik lengan baju Alea perlahan, "Emm..., nanti malam kita beli eomuk?".


"Tidak, berolah ragalah, jika kau tidak ingin kehilangan abs mu dan menjadi panda gembul seperti kata eonni", sahut Alea.


Nuna dan hyung tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata Alea.


"Yakkk..., abs ku tetap disini, mereka tidak akan menghilang hanya karena aku makan beberapa tusuk eomuk, apa kau mau melihatnya?", jawabku sengit.


"Tidak, terima kasih", jawab Alea.


"Kau benar-benar yakin oppa, abs mu masih ada di situ?.


Aku sangat tidak yakin akan hal itu", ujar Nari sambil memicingkan matanya ke arah perut ku, seolah-olah menghinaku.


"YAK...., KIM NARI!!!", teriak ku.


"Kau sudah siap Nari?.


Eonni, Mr. Kim, kami berangkat".


"Baiklah sayang, berhati-hatilah kalian".


Sebelum berangkat Alea dan Nari menatap perutku dengan tatapan iba dan kemudian mereka tertawa sambil melakukan high five.


"Yakkk...., ishhh...., akan ku perlihatkan abs ku pada kalian nanti", teriak ku frustasi.