
KIM RAE
"Aku bertemu seorang wanita dan aku mencintainya", kata Gi padaku malam itu.
"Hyung, bercanda mu tidak lagi lucu", ujar ku sambil tertawa.
"Aku tidak bercanda, maafkan aku", jawab Gi.
Sial, kenapa aku tidak juga bisa melupakannya?.
Ku acak rambutku dengan frustasi.
10 tahun kami menjalin cinta, dan hanya dalam waktu semalam dia menghancurkan ku dengan mengatakan mencintai wanita lain?.
Ini benar-benar gila.
membuatku sangat frustasi dengan rasa marah bercampur sedih karena sakit yang luar biasa.
"Kami pulang", suara melengking itu menyadarkan ku dari lamunan.
"Hai tengil, Tidak bisa kah kau tak berteriak?", Seruku.
"Kembalilah ke Seoul jika paman tidak suka suara teriakan ku", balasnya berteriak padaku.
Hehehehe dia selalu memanggil ku paman saat sedang kesal padaku, dia selalu berhasil membuatku tersenyum.
Kim Nari, dia keponakan ku, anak perempuan satu-satunya dari kakak laki-laki ku Kim Jung, aku tak suka dia memanggil ku paman, aku lebih suka bila dia memanggil ku oppa.
Karena itu lah Nari akan memanggilku paman saat dia merasa kesal padaku.
Sepertinya ada tamu, ahh...mungkin mentor teater Nari dari Indonesia telah datang.
1 tahun yang lalu Nari terpilih sebagai perwakilan pertukaran pelajar Korea-Indonesia.
Selama 3 bulan Nari di Indonesia, Nari tinggal di kediaman Alea, begitu namanya kalau tidak salah.
Nari sangat menyayangi mentornya itu.
Dia selalu bercerita tentang betapa baik dan keren eonninya dari Indonesia itu.
Aku pernah dikenalkan Nari kepadanya melalui sambungan video call, beberapa kali kami berbicara lewat telpon atau video call, ya sekedar obrolan basa basi biasa.
Dan saat ini mentor Nari dari Indonesia itu akan tinggal selama 3 bulan di rumah ini, selama dia menangani proyek kerjasama pertunjukan teater dengan sekolah Nari dalam rangka perayaan Festival Seni Busan.
Ku langkahkan kaki ku menuju ruang tamu, benar saja disana ada seorang perempuan mengenakan kain sebagai penutup kepala, Gohan hyung pernah mengatakan padaku nama penutup kepala itu adalah hijab.
Ya, mentor Nari memang wanita berhijab, dia adalah seorang mus
"Eonni, besok akan ku ajak kau jalan-jalan berkeliling Busan", kata si cerewet itu pada mentornya.
Ku jitak kepalanya dengan gemas, dan dia pun berteriak, hahahaha lucu sekali ekspresi wajahnya.
..................................
Sore ini, kakak ipar ku bersama Nari dan Alea sedang berbelanja di supermarket, sedangkan hyung masih belum pulang dari kantor.
Dan aku disini masih tetap sama bergelut dengan seluruh rasa sakit dan kecewa yang kian lama terasa semakin menyiksa.
Entah ini sudah botol soju keberapa yang ku tenggak hingga tendas, berharap rasa pahitnya bisa menutupi kecewa yang ku kecap.
Tapi hingga aku mabuk dan kepala ku terasa berat pun aku masih bisa merasakan kecewa dan sakit itu dengan sangat nyata.
"Kim Rae, bangunlah, kau mabuk lagi hem", nuna membangunkan ku yang entah sejak kapan terlelap.
"Hemmm...", Hanya suara itu yang keluar dari tenggorokan ku, kepalaku terlalu berat walau pun hanya sekedar untuk membuka mata.
"Sampai kapan kau mau begini, mabuk dan mengurung diri dikamar? Aku begitu merindukan keceriaan adik ku.
Hanya karena seseorang mencampakkan mu, itu bukan berarti kau kehilangan segalanya, kami disini mencintaimu Rae", aku tau nuna mulai terisak, meskipun mataku terpejam.
ahhh...maafkan aku nuna, aku pun begitu mencintai kalian, tapi rasa sakit ini benar-benar membuat ku tidak berdaya.
.....................................
"Rae, Rae, bangunlah", hyung membangunkan ku dengan menepuk pundak ku perlahan.
Ku buka mata ku sedikit, achhh...kepala ku pusing, ku coba bangkit dan mendudukkan diriku.
"Kau mabuk lagi?
"Bangunlah, kita makan malam bersama, setelah makan tidurlah kembali".
"Ya" jawabku sambil mengusap-usap wajah ku.
Ku ikuti langkah hyung yang telah lebih dulu meninggalkan ku menuju ruang makan.
Ku hempaskan tubuh ku di kursi makan, sebenarnya aku tidak berselera, tapi aku tak ingin hyung dan nuna lebih kecewa lagi padaku.
Makan malam hari ini terasa begitu canggung, masih dapat kulihat sisah air mata di wajah nuna.
Aku hanya mengaduk-aduk makanan ku, hingga nuna berdiri hendak membereskan meja makan.
"Ah, biar aku saja yang membereskan dan mencuci semuanya eonni", tiba-tiba saja Alea berdiri mencegah eonni membereskan meja.
"Istirahatlah di kamar eonni, jangan memikirkan apapun, semuanya akan baik-baik saja".
Ku tatap Alea saat mengatakan hal itu, aku pun berharap itu yg akan terjadi, semuanya akan baik-baik saja.
.......................................
Sial mimpi itu lagi.
Aku terbangun dengan rasa sesak, seolah-olah ada tangan tak terlihat yang tengah meremas paru-paru ku.
Pandangan mataku berkeliling mencari inhaler, ternyata inhaler itu ada di atas meja di sebrang tempat tidurku.
Dengan nafas yang semakin tersenggal, aku mamaksakan diri melangkah menuju meja di seberang tempat tidurku untuk mengambil inhaler.
Tapi sial, aku semakin terasa tercekik, sebelum aku berhasil meraih inhaler itu, aku ambruk ke lantai, tangan ku menyenggol vas yang ada di atas meja, menyebabkan vas itu terjatuh dan pecah, akibatnya telapak tangan ku terluka karena pecahan vas itu.
Sepertinya aku akan mati malam ini.
Tok tok tok,
Ku dengar suara ketukan dari luar pintu kamar ku.
Ingin rasanya aku berteriak minta tolong, tapi tidak ada sedikit pun suara yang bisa keluar dari mulut ku.
"Apa kau baik-baik saja?", Itu suara
Alea.
Dia mengetuk pintu kamar ku beberapa kali, hingga akhirnya dia membuka pintu kamar ku yang memang tidak terkunci, lalu menyala kan lampu kamar.
Bisa ku lihat raut terkejut di wajahnya saat dia melihat ku terkapar dilantai dengan telapak tangan berdarah, dia bergegas menghampiriku.
Aku mencoba memberitahunya dengan isyarat untuk mengambilkan inhaler ku yang ada di belakangnya, dan untung lah dia mengerti.
Segera ku hisap dalam-dalam inhaler itu setelah Alea menyodorkannya di dekat mulut dan hidung ku, perlahan nafas ku mulai kembali stabil.
"Tunggulah, akan ku bangunkan Mr. Kim", katanya padaku.
Tapi aku menarik tangannya ketika Alea hendak bangkit berdiri.
Aku cegah dia melakukan hal itu, aku tidak mau melihat hyung dan nuna cemas.
"Jangan", kata ku pelan.
"Tapi kau tidak dalam keadaan baik-baik saja, kau perlu segera mendapatkan pertolongan".
"Aku baik-baik saja, Aku tidak mau membuat mereka khawatir", kata ku tersendat.
"Baiklah. Tapi kau tidak bisa terus tergeletak dilantai begini, apa kau bisa bangun? Aku akan membantumu", ujar Alea.
Dan aku menganggukkan kepala ku.
Alea mengalungkan lengan ku di pundaknya, mencoba membantuku untuk bangkit dari lantai dan memindahkan ku ke ranjang.
Aku tau dia sangat kesulitan, tubuhnya begitu kecil dan dia harus menumpu tubuh bongsor ku.
Setelah aku berbaring di ranjang, dengan cekatan Alea mencari kotak obat di kamar ku untuk mengobati tangan ku yang terluka.
Dia menyentuh dahiku kemudian mengambil baskom berisi air dan selembar handuk kecil untuk mengompres dahiku.
apakah aku demam? entahlah, aku merasa seluruh tubuh ku sakit.
Kepala ku pusing.
Ku pejamkan mataku untuk meredam rasa sakit di kepalaku.