
KIM RAE
"Oppa, bantu aku menyalahkan kembang api ini", pinta Nari padaku.
"Baiklah, aku datang",
Aku berjalan menghampiri Nari.
Nari sangat suka sekali bermain kembang api.
Di meja makan ku lihat nuna sedang memeluk Alea, entah apa yang sedang mereka bicarakan.
Baru kisaran 2 minggu Alea tinggal di rumah ini, tapi nuna dan hyung sepertinya sudah sangat menyayanginya.
Alea memang baik, dia pandai membawa diri.
dia cepat sekali bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya.
dia bisa dengan mudah mengakrabkan diri dengan orang-orang baru di sekitarnya.
Lain sekali dengan ku yang cenderung tertutup.
butuh usaha sangat keras bagi ku untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan baru.
aku butuh proses cukup lama untuk bisa akrab dengan orang-orang baru.
"Nari-yaa", panggilku pada Nari yang sedang asik dengan kembang apinya.
"Mwo?", Jawabnya tanpa menoleh kepadaku.
"ajaklah eonni mu bermain bersama", kata ku pada Nari.
"Arasseo", jawabnya.
"Yaa eonni, kemarilah, ini sangat seru".
Ku lihat Alea melambaikan tangannya lalu beranjak dari kursinya.
Dia berjalan menghampiri kami.
"Tolong nyalahkan satu untuk ku", pinta Alea.
Dan aku menyalahkan kembang api untuknya.
"Wooww...., Ini sangat keren", ku lihat binar di kedua matanya, entah itu karena pantulan cahaya kembang api, atau matanya memang sangat indah.
Ku ambil kamera ku, ku rekam setiap gerak mereka berdua yang membuatku tidak berhenti tertawa.
Terkadang aku pun ikut dalam kehebohan mereka berdua.
"Kemarilah kalian berdua, kita perlu selca", aku mengajak Nari dan Alea berfoto bersama.
Ada banyak foto yang ku ambil malam ini, mereka berdua objek yang bagus untuk di foto.
Diam-diam ku hampiri Alea yang tengah duduk di rumput sambil menatap kembang apinya, dan tanpa dia sadari ku foto dia beberapa kali dari samping.
Aku sedikit terkesima dengan hasil foto ku. Ini gambar yang luar biasa.
Aku mendudukkan diri di sampingnya, ku angkat ponsel ku dan ku ajak dia selca berdua.
Dia tersenyum sambil membuat mimik yang mengemaskan di depan kamera ponsel ku.
Ku foto lagi dia dari jarak dekat, dia sedikit memalingkan wajahnya karena malu.
Aku tertawa melihat semburat pink di pipinya.
Ketika tiba-tiba saja ponsel ku berdering,
Ku baca tulisan yang tertera di layar ponsel ku 'Minki hyung' begitu yang tertulis disana, aku sedikit tersenyum, ini panggilan video call dari Minki hyung salah satu dari ke 6 hyung ku di L-Boys.
Ku geser panel merah dilayar dan seketika deringnya berhenti.
"Kenapa?", Tanya Alea saat melihat ku menolak panggilan telpon.
"Minki hyung menelfonku
Minki adalah member L-BOYS.
Dia salah satu hyung ku di L-BOYS", jawab ku.
"Lalu?", Tanyanya lagi.
"Aku sedang tidak ingin berbicara dengannya?".
"Kenapa?".
"Entahlah, mungkin aku belum siap", jawab ku tidak yakin, sejujurnya aku pun tidak tau alasannya, mengapa sejak aku putus hubungan dengan Gi, aku selalu menolak panggilan telpon dari semua hyung L-BOYS ku.
"Belum siap?, Apakah berbicara dengan hyung mu di L-BOYS perlu persiapan?".
"Maksudku....", Aku bingung harus menjawab apa.
"Itu hanya sebuah panggilan, tidak perlu bereaksi berlebihan.
Semua hyung mu di L-BOYS pasti sangat menghawatirkan mu", kata Alea padaku.
Ya, Alea benar, aku tau mereka pasti sangat menghawatirkan aku, dan mungkin kecewa karena aku terus-terusan menolak panggilan telpon dari mereka semua.
"Ya, aku.....", Kata-kata ku terputus karena ponsel ku berdering kembali.
"Jawablah, semua akan baik-baik saja, mereka hyung mu", kata-kata Alea sedikit menenagkan ku.
Ku geser panel hijau di layar ponsel ku dan kemudian muncul wajah Minki hyung di layar.
"Yoboseyo", sapa ku sambil tersenyum canggung.
"Rae, apa kabar?", Balas Minki hyung sambil tersenyum lebar kepadaku.
"Apa kau sedang melakukan Vlive hyung?", Tanya ku, tanpa menjawab pertanyaannya, aku tidak mau panggilan video call ini di siarkan di media sosial.
"Ahhh...tidak, aku tidak sedang melakukan siaran, aku tidak sebodoh itu menelpon mu saat sedang siaran Vlive, jadi kau jangan khawatir", jawaban Minki hyung melegakan ku.
"Bagus.
Bagaimana kabar mu dan kabar semua hyung disana?", Tanya ku.
"Kami tidak begitu baik tanpamu di sini, kau tau, kami semua sangat mencemaskan mu".
"Aku baik-baik saja, jadi kalian tidak perlu cemas.
Eemmm....maafkan aku karena telah membuat kalian cemas", aku mengatakan hal yang sebenarnya, aku memang merasa bersalah karena membuat mereka mencemaskan ku.
"Tidak, kami mengerti ini berat untuk mu", Minki hyung meyakinkan ku.
"Ya, awalnya begitu, tapi sekarang aku baik-baik saja".
'kau sedang siaran Vlive?', ku dengar suara Joon hyung di sana.
"Tidak, aku sedang menelpon Rae" jawab Minki hyung.
'benarkah, berikan padaku', teriak Joon hyung.
"Rae, aku sangat merindukan mu", seru Joon hyung dengan mata berkaca-kaca.
Aku menoleh pada alea sambil tersenyum.
Dia benar, semua baik-baik saja, aku tidak perlu bereaksi berlebihan karena mereka hyung ku, mereka pasti memahami dan mengerti aku.
Dan Alea membalas senyum ku dengan acungan kedua ibu jari nya.
"Aku juga sangat merindukan mu Joon hyung, jangan menangis, itu memalukan", kata ku sambil tertawa lebar.
Ku lihat Alea beranjak berdiri meninggalkan ku.
Sebenarnya aku ingin dia tetap duduk di sini di sampingku.
Aku butuh dukungan darinya.
"Mengapa kau selalu menolak panggilan telpon dariku, dan mengapa tidak pernah membalas pesan ku?", Joon hyung mulai mengomel.
"ayolah hyung, jangan mengomel, aku tidak mau Rae memutus sambungannya, aku masih merindukannya", ujar Minki hyung yang berada di belakang Joon hyung.
"Baiklah baiklah, mianhae Rae-yaa".
'ada keributan apa di sini?', itu suara Hyujin hyung.
"Hhhaaaa.....Rae, panda kecil ku", teriaknya ketika melihat ku, dia mendorong Joon hyung menjauh.
Dan aku tertawa di buatnya.
Tingkah mereka konyol sekali.
"Aku sangat merindukan mu, kau kejam sekali kepada ku, tidak pernah mengangkat telponku dan tidak pernah membalas pesan ku", Hyujin hyung mulai menangis.
"Mianhae, sebenarnya aku sudah membalas pesan kalian melalui pikiran ku jadi setelah aku membaca pesan kalian aku menutup ponsel ku karena aku rasa aku sudah membalasnya hahaha".
"Bicaralah sesuka mu, aku sangat merindukan mu".
"Hallo adik ku tersayang", wajah Jihoo hyung tiba-tiba muncul.
"Hallo hyung, apa mereka semua merepotkan mu?", Tanya ku pada Jihoo hyung.
"Mereka samua semakin tidak terkendali tanpa ada kamu disini, cepatlah pulang, aku butuh dukungan mu untuk mengendalikan mereka".
"Aku akan segera pulang jika urusan ku di sini telah selesai".
"Hai, panda kecil, kau masih hidup rupanya", kali ini Gohan hyung yang berbicara.
"Seperti yang kau lihat hyung, aku sangat sehat disini".
Dan....plasss, jantung ku terasa lepas dari tempatnya, di belakang sana bisa kulihat wajah Gi hyung yang tersenyum padaku sambil melambai.
Joon hyung, Jihoo hyung, Hyujin hyung, Gohan hyung dan Minki hyung bersamaan menoleh kebelakang ke arah Gi saat mereka menyadari senyumku sempat menghilang beberapa detik.
Wajah semua hyung ku seketika berubah agak canggung.
Dan Bisa kulihat Minki hyung mencoba menarik Gi untuk menjauh dari situ.
"Hallo Gi hyung, jangan biarkan Minki hyung menindasmu disana", kata ku sambil tersenyum.
Minki hyung berhenti menarik Gi.
"Itu tidak akan terjadi", jawabnya sambil tersenyum.
Aku merubah posisi duduk ku, untuk menenagkan diri, harus ku akui rasa sakit itu masih bisa aku rasakan saat aku melihat Gi, tapi aku harus bisa mengendalikannya.
Seperti kata Alea, semuanya pasti baik-baik saja.
"Wooo...., Siapa itu yang ada di belakang mu?", tanya Hyujin hyung tiba-tiba.
"Siapa?", tanyaku sambil menoleh ke arah belakang, dan ku lihat di belakang ku Nari tengah bermain kembang api.
"Itu Nari", jawab ku.
"Bukan disisi itu, tapi disisi satunya", kata Minki hyung.
Ku tengok sisi belakang ku satunya
Ahhh....pasti Alea yang di maksud oleh Hyujin hyung.
"Dia mentor teater Nari", jawab ku sambil mengarahkan sedikit ponselku ke arah Alea yang sedang makan.
"Dia berhijab?", tanya Gohan hyung.
"Ya", jawab ku tersenyum.
"Simpan gadis itu baik-baik Rae, jauhkan dari Gohan, kau tau kan, mentor Nari itu adalah type kesukaan Gohan hahahaha", kata Joon hyung.
"Kau cerewet sekali hari ini hyung", balas Gohan hyung sinis.
"Dia cantik, kenalkan dia pada kami", kata Jihoo hyung.
"Tidak akan pernah hahaha", kata ku sambil mengalihkan kamera ponsel ku ke sisi lain agar tidak lagi menyorot Alea.
"Sepertinya kalian cocok", seru Minki hyung di belakang sana.
"Benarkah? Hahaha", kata ku sambil tertawa.
"Haiiii oppa....kemarilah, kami sedang berpesta disini", kata Nari yang kini sudah berada di samping ku.
"Perlukah Minki oppa terbang kesana sekarang juga?.
Ooohhh....aku sungguh ingin pergi ke Busan".
"Hallo bayi kecil ku, kau semakin mengemaskan", kata Joon hyung.
"Joon oppa, aku ingin makan sup daging pedas buatan mu", kata Nari.
"Antar Rae oppa mu kembali ke Seoul, dan aku akan membuatkan mu sup daging pedas sepanci penuh".
"Ahhhh....Nari sayang, tidak kah kau merindukan Hyujin oppa?".
"Tentu saja aku sangat merindukan mu.
Oppa, kau lihat eonni ku disana?, Dia sangat jago menari, dia sangat kerennnn", kata nari mengarahkan kamera ponsel pada Alea
"Benarkah?.
Tidak mungkin ada yang lebih keren dari Hyujin oppa mu ini", kata Hyujin hyung merengut.
"Hahaha, tapi sungguh eonni ku memang keren".
"Nari, kau semakin cantik", ujar Jihoo hyung.
"Tentu saja Jihoo oppa, aku semakin terlihat dewasakan?".
"Hahahaha....ya ya, tentu saja, kau bukan bayi lagi", jawab Jihoo hyung.
"Kenalkan aku pada eonni mu itu Nari" ujar Gohan hyung.
"Tidak akan, aku sudah memiliki rencana yang lainnya", kata Nari penuh rahasia
"Si kecil ini makin mirip dengan pamannya", cibir Gohan hyung.
"Gi oppa, apa kau tidak merindukan ku?", tanya Nari pada Gi yang sedari tadi hanya menunduk.
"Aku sangat merindukan mu Nari".
"Tapi kau tidak menepati janji mu, kau berjanji akan mengirimiku video terbaru cleo , dan kau belum juga mengirimkannya".
"Ahhh...mianhae, setelah ini aku pastikan, akan ku kirim segera ke ponsel mu".
"Yaksok?", tanya Nari.
"Ye", kata Gi sambil menunjukkan ponselnya.
"aku sudah sangat mengantuk, aku akan pergi tidur, aku mencintai kalian semua oppa", pamit Nari kemudian menyerahkan ponsel kepadaku.
"Dia semakin cerewet", kata ku.
"Dia manis", kata Hyujin hyung.
"Baiklah, aku akan menutup telponnya", ujar ku.
"Rae, jangan pernah menolak panggilan telpon kami lagi", Joon hyung melebarkan matanya padaku.
"Dan balaslah pesan kami", Hyujin hyung memohon.
"Cepatlah kembali", ujar Gohan hyung.
"Jaga kesehatan mu", kata Jihoo hyung.
"Aku akan menelpon mu kembali, aku masih ingin bicara banyak dengan mu", kali ini Minki hyung yang berkata.
"Mianhae", ucap Gi pada ku.
"Selamat malam, jaga diri kalian baik-baik", kata ku tersenyum lebar pada mereka semua.
Dan kemudian ku matikan sambungan telponnya sambil menarik nafas panjang.