BUSAN, LOVE AFTER GI

BUSAN, LOVE AFTER GI
22. ALEA REGAINED CONSCIOUSNESS



KIM RAE


Pukul 10 hyung, nuna dan Nari datang ke rumah sakit.


Nuna membawa berbagai macam makanan dan camilan.


"Bagaimana kondisi Alea", tanya hyung padaku.


"Kata dokter kondisinya baik, tapi dia belum sadar juga, itu membuat ku cemas".


"Jangan cemas, mungkin dia terlalu lelah, sehingga butuh tidur lebih banyak", jawab nuna.


"Seperti yang kita tau, dia bekerja sangat keras belakangan ini", sambung hyung.


Kulihat Nari berulang kali mencium pipi Alea.


"Bangunlah eonni, kami semua mencemaskan mu", kata Nari sambil mengelus pipi Alea.


"Tadi pagi kami menelpon orang tua Alea, mengabarkan kondisi putrinya disini.


Orang tua Alea tampak terkejut dan sedih.


Rencananya mereka akan terbang ke Busan hari ini juga.


Mungkin besok pagi mereka akan tiba di sini, aku sendiri yang akan menjemput mereka di airport".


"Syukurlah jika hyung sudah memberi kabar kepada orang tua Alea.


Semalam aku memikirkan hal ini juga".


"Baiklah, aku harus pergi.


Aku akan menjemput kalian jam 1 siang", kata hyung pada nuna dan Nari.


"Hemm...", Jawab nuna.


"Istirahatlah, aku yang akan menjaga Alea", ujar nuna padaku.


"Tidak, aku tidak lelah".


"Kau keras kepala sekali.


Tidurlah di ranjang itu sekarang juga, jangan membantah ku", nuna memarahiku.


Dan aku segera merebahkan tubuh ku di ranjang.


"Bagus", jawab nuna dengan wajah puas.


"Oppa, bukankah eonni sangat cantik?", tanya Nari padaku.


"Ya, dia cantik, baru kali ini aku melihatnya tanpa hijab".


" Eonni memiliki rambut panjang yang indah dan lembut, rambutnya juga harum.


Dulu saat aku di Indonesia, aku suka sekali bermain dengan rambutnya sebelum tidur".


"Kau membuat ku iri", kata ku pada Nari sambil mulai memejamkan mata.


...................


Aku terbangun dari tidurku karena bunyi dering ponsel ku.


Minki hyung menelpon ku.


"Ya hyung".


"Rae, aku dan semuanya akan kembali ke Seoul, pesawat kami akan terbang beberapa menit lagi", terdengar suara Minki hyung dari sebrang sana.


"Ahh...baiklah hyung, berhati-hatilah", jawab ku.


"Jaga diri mu baik-baik.


Jika terjadi sesuatu, segera hubungi kami".


"Ya hyung, aku mengerti, jangan khawatir, salam untuk semuanya".


"Ya baiklah, nanti akan ku sampaikan".


Aku menyimpan kembali ponselku di saku celana.


Aku hampiri ranjang Alea.



"Apa dia belum siuman?", tanya ku pada nuna.


"Belum.


Makanlah, aku sudah menyiapkan makan siang untuk mu", kata nuna.


"Aku tidak berselera, aku benar-benar cemas pada Alea.


Dia tertidur lama sekali".


"Jangan cemas, dia akan segera bangun.


Makanlah, kau pun harus menjaga kesehatan mu".


Aku berjalan menuju meja, di sana sudah tersaji nasi, gomjangeo (belut laut yang di panggang kemudian di beri bumbu khusus), ada juga ban chan (pelengkap hidangan utama berupa kimchi, muchim sayuran yang sudah di bumbui serta tauge yang di campur dengan minyak wijen, kecap, gula dan irisan cabai), 1 kotak susu dan sebotol air mineral.


Nuna benar-benar tidak membiarkan ku kelaparan, dia menyajikan makan siang lengkap.


"Hyung, apa kalian sudah makan?", Tanya ku pada ke dua bodyguard ku.


"Ya, kami sudah makan".


"Hyung yang ada di depan pintu apa sudah makan juga".


"Ya, kami semua sudah makan.


Nikmatilah makan siang mu".


Aku tersenyum sebagai jawaban.


"Rae, kami akan pulang, tidak masalahkan kau sendirian disini?", tanya nuna pada ku.


"Tidak masalah, ada mereka ber 4 yang menemaniku di sini".


"Baiklah, telpon kami segera jika kau membutuhkan sesuatu", kata hyung.


"Baiklah, aku mengerti", jawabku.


"Oppa, aku pulang dulu, segera kabari aku jika eonni ku sudah bangun", kata Nari sambil memeluk ku.


"Ya, tentu saja", ku balas pelukan Nari dan ku cubit pipinya.


........................


Aku tak bosan-bosannya menatap Alea.


Dia terlihat tidur sangat nyenyak.


Bangunlah Alea, kau sudah terlalu lama tidur.


Tidak kah kau ingin melihat ku?



Seharusnya semalam aku memaksamu untuk turun dari panggung.


Bodohnya aku membiarkan mu tetap menari, padahal aku tau kau sedang kesakitan.


Ketika aku mengamati wajah Alea, ku lihat kelopak mata Alea bergerak-gerak.


Aku mendekatkan wajah ku lebih dekat lagi.


Ahh....benar, bola matanya bergerak di dalam kelopak matanya.


"Alea, Alea, bangunlah", kata ku pelan sambil mengelus pipinya.


Dan perlahan dia mulai membuka matanya.


Ku genggam tangan nya erat.


Dia mengerjap-ngerjapkan matanya.


Hingga akhirnya dia membuka matanya dengan sempurna.


Alea menatapku,


Ku balas tatapannya sambil tersenyum,


"Aku senang kau akhirnya bangun".


"Minum, aku haus", katanya pada ku.


"Ah ya", aku menuangkan air yang ada di teko ke dalam gelas.


Aku menyuapi Alea minum dengan sendok secara hati-hati.


"Sudah", katanya.


Ku usap ujung bibir Alea yang basah dengan ibu jari ku.


Bibirnya benar-benar lembut.


Dan gelenyar aneh itu terasa lagi di perutku.


"Aku akan memanggil perawat", kata ku lalu menekan tombol pada sebuah alat yang ada di kepala ranjang Alea.


Sesaat kemudian seorang perawat masuk kedalam kamar.


"Dia sudah siuman".


"Akan saya panggilkan dokter".


Perawat itu mengangkat telpon yang menempel didinding, memencet nomornya, kemudian berbicara kepada seseorang.


Setelah menelpon, perawat tersebut menarik meja beroda yang ada di ujung ruangan.


Kemudian mulai mengukur suhu tubuh Alea.


Mengecek layar monitor di sebelah ranjang Alea.


Tidak berapa lama dokter Nam, dokter yang mengoperasi Alea masuk ke dalam kamar.


"Selamat sore", sapa dokter Nam sambil tersenyum.


"Bisakah anda memberitahu saya siapa nama anda?", tanyanya kepada Alea sambil mulai memeriksa.


"Alea".


"Berapa usia anda?".


"24 tahun".


"Bagus sekali".


"Apa yang anda rasakan saat ini? Apakah anda merasa pusing atau mual?".


"Tidak, tapi perut saya terasa nyeri".


"Itu hal yg wajar, luka bekas operasi memang terasa nyeri, tapi rasa nyeri itu akan menghilang dalam beberapa hari.


Nanti saya akan memberi obat pereda rasa nyeri".


"Semuanya normal.


Nona Alea baru boleh makan 2 jam lagi, makannya pun masih berupa bubur cair, mengingat lambungnya yang baru saja dioperasi belum sembuh benar.


Untuk saat ini dia hanya boleh minum.


Dia juga tidak boleh terlalu banyak bergerak dulu, agar tidak terjadi infeksi atau pendarahan pada lukanya".


"Baik, saya mengerti dokter".


dokter menyuntikkan obat ke dalam infus Alea.


"Jika nona Alea mual, muntah, atau mengeluh sakit kepala, segera hubungi perawat.


Baiklah saya permisi dulu.


Besok pagi saya akan mengunjungi anda lagi nona".


"Baik, terima kasih dokter".


"Katakan apa yang terjadi padaku?", tanya Alea setelah dokter dan kedua oerawat tersebut meninggalkan kamar rawat.


"Semalam saat di ruang artis kau pingsan, apa kau tidak ingat?".


"Aku ingat perutku sangat sakit, terasa seperti di tusuk-tusuk.


Pandangan ku kabur karena menahan rasa sakit yang hebat.


Lalu....."


"Lalu kau pingsan.


Kata dokter kau mengalami pendarahan di lambung.


Bagaimana bisa kau menahan rasa sakitmu yang begitu hebat sambil terus menari di atas panggung", omel ku pada Alea.


"Aku hebatkan?", katanya sambil tersenyum.


"Itu tidak hebat, itu gila".


"Kau suka dengan penampilan ku semalam?", tanya Alea.


"Ya, aku sangat suka, penampilan mu sangat luar biasa, gerakan mu indah, jelas dan sangat detail, penuh power.


Aku tak percaya kau bisa menari dengan begitu hebat dalam kondisi....,


Jangan mengalihkan pembicaraan.


Aku akan terus memarahimu".


"Benarkah aku sehebat itu?".


"Ya, kau sangat luar biasa, aku....


Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan lagi.


Di ruang ganti kau berjanji padaku akan baik-baik saja.


Tapi apa ini?


Sekarang kau berada di ranjang ini setelah perut mu di operasi.


Kau bahkan tidak sadarkan diri lebih dari 15 jam, membuat ku cemas setengah mati, kau benar-benar membuatku frustasi.


Kau pembohong, kau tidak menepati janjimu" aku mengomeli Alea panjang lebar.


"Hahaha..., Auwww...", Alea tertawa tapi kemudian meringis kesakitan.


"Apa perut mu sakit?


Jangan tertawa, siapa yang menyuruhmu tertawa.


Perut mu akan sakit jika kau tertawa".


"Kau sangat lucu".


"Aku?? Aku lucu?? Aku sedang marah padamu, aku bukan sedang melucu", kata ku sambil membelalakkan mata.


"Maaf kan aku", kata Alea.


"Tidak".


"Ayolah, maafkan aku".


"Tidak, aku tidak akan memaafkan mu", jawabku sambil melipat tangan di depan dada dan ku palingkan mukaku ke samping.


"Oppa, mianhae".


Ku lirik Alea dengan ekor mata ku.


"Oppa....".


Aku menahan senyum, jantungku berdebar keras, seakan ada musik yang sedang berdentum di dalam diriku.


Aku sangat senang sekali Alea memanggilku oppa.


"Oppa...", Kata Alea sambil menarik ujung lengan bajuku.


"Hhmmm....".


"Oppa, mianhae", ulangnya lagi.


Aku hampir menampakkan senyum lebar ku.


"Auuwww....", Alea tampak kesakitan sambil memegang perutnya.


"Kenapa? Ada apa? Apa yang sakit? Apa perutmu sakit?", kata ku panik


"Akan ku panggilkan dokter", sambung ku.


Alea menahan lengan ku,


"Katakan dulu kau memaafkan ku".


"Ya baiklah", kata ku.


Tapi Alea masih menahan juga lengan,


"Katakan", pintanya lagi.


"Aku tidak marah padamu.


Aku akan memanggil dokter".


"Benarkah?", Dia menarik lengan ku lagi.


"Ya, aku tak pernah marah padamu".


"Gumawo.


Jangan panggil dokter, perutku sudah tidak sakit lagi", kata Alea tersenyum.


"Apa?".


"Perutku sudah tidak sakit".


"Kau menipuku?", tanya ku sambil menatapnya tajam.


"Emm...tidak, tadi perutku benar-benar sakit, tapi sekarang tidak lagi".


"Kau menipuku hemmm...", aku mendekatkan wajah ku ke wajah Alea sambil terus menatapnya.


Aku bisa merasakan debaran jantung ku yang semakin cepat.


"Aku....aku...", Alea tampak sedikit ketakutan, dan ketika jarak wajah kami sudah sangat dekat, Alea memalingkan mukanya ke samping


"Jangan pernah membuatku cemas lagi, aku benar-benar tidak sanggup melihatmu kesakitan", bisik ku tepat di telinga Alea.


Alea menganggukkan kepalanya pelan.


Aku bisa mencium harum rambut Alea, aku juga bisa mencium aroma tubuhnya dari posisi ini.


Aroma tubuhnya menimbulkan rasa geli di perutku, rasa geli yang kemudian berubah menjadi semacam sengatan di sekujur tubuh ku.


Aku bangkit dan kemudian berjalan menuju tirai, ku tarik tirai itu hingga menutupi ranjang Alea.


Aku tidak mau bodyguard-bodyguard itu melihat Alea tanpa hijab.


aku mengambil minuman dingin di lemari es, rasanya tenggorokan ku sangat kering.


Hai jantung, berhentilah bertingkah tidak normal, berhentilah berdebar dengan begitu cepat.


Apa aku harus memeriksakan mu ke dokter jantung yang ada disini hah???.