
ALEA AL ZAHIRA
Ini adalah minggu ke-2 aku berada di Busan.
Keluarga Mr. Kim sangat baik sekali padaku, mereka menganggap ku sebagai bagian dari keluarganya sendiri.
Ya kecuali si Rae, yang sikapnya acuh terhadapku, kami tidak pernah bertegur sapa, hanya saling menganggukkan kepala jika tidak sengaja bertemu pandang.
Tapi aku tidak mempermasalahkan hal itu, lebih nyaman seperti ini, akan menjadi lebih canggung jika dia mengajak ku berbicara, entah apa yang harus ku bicarakan dengan seorang seleb terkenal dunia.
Ku dengar member termuda LUXURY BOYS ini sedang mengambil cuti selama 6 bulan ke depan dari semua kegiatan grupnya.
Entah apa alasannya, aku tidak begitu mengikuti berita tentang grup Idol Korea Selatan.
"Alea, apa rencana mu hari ini?", tanya Mrs. Min ah padaku saat kami semua tengah makan pagi.
"Seperti biasa eonni, hari ini aku hanya akan melatih teater di SSB dan kemudian aku akan pulang, tidak ada rencana khusus", jawab ku.
"Kalau begitu, bisakah nanti kau ikut dengan ku berbelanja di supermarket sepulang mu dari SSB?", tanyanya kembali.
"Tentu, dengan senang hati, akan ku pastikan aku pulang tepat waktu".
"Rae, tidakkah kau ingin berjalan-jalan juga? Sejak kau sampai disini 3 minggu yang lalu, kau hanya berdiam diri saja di rumah, keluarlah, bersenang-senanglah", kata Mr. Kim kepada Rae yang tengah bermain-main dengan makanan dalam piringnya.
"Aku tak ingin kemana pun hyung", jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari piringnya.
"Ooohhh...ayolah, kau tidak bisa terus seperti ini", tukas Mr. Kim.
Entah apa yang tengah terjadi pada Idol terkenal ini.
Memang jika ku perhatikan selama aku berada disini, dia terlihat murung, waktunya lebih banyak dihabiskan mengurung diri di dalam kamar.
tidak pernah ku lihat dia tertawa kecuali saat menggoda Nari, dia akan sedikit tersenyum saat melihat Nari berteriak.
..........
"Kami pulang", teriak Nari saat kami pulang dari berbelanja di supermarket.
Dan ku dapati di meja ruang tengah terdapat beberapa botol soju yang telah kosong.
"Dia mulai lagi", keluh Mrs. Min ah pelan sambil menghela nafas.
"Lea, bisakah kau ajak Nari masuk ke dalam kamarnya?", Tanya Mrs. Min ah pada ku.
"Tentu saja eonni".
"Kim Rae", Seru Mrs. Min ah sesaat setelah menerima senyuman ku.
Pertanda yang tidak bagus menurutku saat ku lihat mimik wajah Mrs. Min ah menyerukan nama adik iparnya, dan segera kutarik tangan Nari menuju kamarnya setelah terlebih dahulu kami meletakkan barang-barang belanjaan di dapur.
Entah apa yang terjadi, kudengar suara Mrs. Min ah berbicara sedikit keras kepada adik iparnya dan berakhir dengan suara isak tangisnya.
"Huuhhh...oppa membuat eomma menangis lagi", kata Nari, yang hanya ku jawab dengan senyuman, tak pantas rasanya bertanya pada Nari tentang apa yang sedang terjadi. disini aku hanya menumpang, aku tidak boleh mencampuri urusan keluarga mereka.
............
Saat makan malam tiba, suasana terasa agak sedikit canggung di meja makan.
Ku lihat mata Mrs. Min ah yang sembab, ada bekas air mata di sana.
Mr. Kim berulang kali mengusap pundak istrinya saat makan malam.
Dan Rae yang duduk tepat di hadapan ku, tengah mengaduk-aduk makanannya sambil memejamkan mata, kukira dia masih dalam keadaan mabuk.
"Ah, eonni, biar aku saja yang membereskan dan mencuci semuanya", seruku saat ku lihat Mrs. Min ah akan membereskan meja makan.
"Terima kasih Alea, hari ini aku merasa sedikit tak enak badan", jawabnya sambil menyentuh punggung tangan ku.
"Istirahatlah di kamar eonni, jangan memikirkan apapun, semuanya akan baik-baik saja", kataku sambil mulai membereskan meja makan.
Dan...ku lihat Rae tengah menatap ku tajam.
Oh No, adakah aku membuat kesalahan?
Adakah kata-kata ku yang menyinggungnya?
Memangnya aku mengatakan apa tadi?
Tatapannya padaku mengerikan.
Segera ku turunkan pandangan ku, dia terlihat menakutkan saat menatap seperti itu, seolah-olah dia ingin membunuh ku.
.............
Setelah selesai mencuci piring, aku segera memasuki kamar ku.
Ku rebahkan tubuh ku di ranjang.
Hari yang melelahkan.
Ku buka tab ku, ku lihat kembali rekaman latihan teater hari ini untuk mengkoreksi hal-hal yang perlu ku perbaiki.
Tidak lupa ku tuliskan catatan-catatan penting di dalam buku ku sebagai rujukan untuk latihan esok hari.
Dan.....
Pyar...
Brakkk...
Kudengar suara sesuatu pecah di kamar sebelah yang di ikuti dengan suara sesuatu terjatuh ke lantai.
Ku lirik jam kecil yang ada di meja sebelah tempat tidur ku.
23.40
Aku kembali mendengar suara-suara di kamar sebelah.
Ku urungkan niat ku untuk masuk kembali ke dalam kamar ku.
Ku tempelkan telingaku di pintu kamar sebelah.
Aku sangat yakin mendengar sesuatu, dan aku rasa ada suara erangan kesakitan di dalam sana.
Aku mulai cemas
Apa yang harus aku lakukan
Apa aku harus masuk kedalam sana?
Atau aku harus membangunkan Mr. Kim?
Tok tok tok
Ketuk ku pelan,
Dan tidak ada sahutan dari dalam sana
"Apa kau baik-baik saja?", Tanya ku pelan.
Tok tok tok
Tok tok tok
Beberapa kali ku ketuk tetap tidak ada jawaban dari dalam sana, hanya suara erangan kesakitan yang kembali ku dengar
"Apa kau baik-baik saja? Bolehkah aku masuk ke dalam?", Tanyaku kembali.
Dan masih tetap sama, tidak ada jawaban dari dalam sana.
Tangan ku meraih hendel pintu, dan ku buka pintu kamar yang ternyata tidak terkunci itu.
"Permisi, maafkan aku, aku akan masuk ke dalam", kata ku sebelum membuka lebar pintu kamar tersebut.
Kamarnya gelap, ku rabah-rabah dinding di sebelahku, mencoba mencari saklar lampu.
Ku pencet tombol saklar lampu saat aku menemukannya.
Setelah lampu menyalah dan kamar menjadi terang, ku edarkan pandangan ku ke sekeliling kamar tersebut.
"Innalillahi...", Jerit ku tertahan ketika kulihat Rae tergeletak di lantai dalam keadaan setengah sadar dengan telapak tangan yang mengeluarkan darah.
Aku segera menghampirinya dan duduk di dekatnya.
Sepertinya dia tengah kesulitan bernafas
Allah, apa yang terjadi
Apa yang harus aku lakukan padanya
Ku lihat dia mencoba mengatakan sesuatu padaku,
Jarinya menunjuk ke arah belakang ku.
Aku menoleh untuk melihat apa yang dia tunjuk
Ah...inhaler, dia membutuhkannya
Segera saja kuambil benda yang tergeletak di belakangku itu dan ku dekatkan di mulutnya.
perlahan-lahan dia mulai bernafas dengan bantuan inhaler tersebut.
Setelah beberapa saat, kulihat Rae mulai bisa bernafas dengan lebih baik.
"Tunggulah, akan ku bangunkan Mr. Kim", kata ku sambil beranjak.
Tapi dia menahan tangan ku dan aku terduduk kembali di sampingnya.
"Jangan", bisiknya pelan.
"Tapi kau tidak dalam keadaan baik-baik saja, kau perlu segera mendapatkan pertolongan".
"Aku baik-baik saja, Aku tidak mau membuat mereka khawatir", katanya tersendat.
"Baiklah", kataku menyerah.
"Tapi kau tidak bisa terus tergeletak dilantai begini, apa kau bisa bangun? Aku akan membantumu", lanjut ku.
Dan dia menganggukkan kepalanya.
Ku kalungkan lengannya kepundak ku, ku coba membantunya untuk bangkit.
Ugghhh...., tentu saja bukan hal yang mudah buat ku untuk menyanggah tubuhnya yang jauh lebih tinggi dan jauh lebih bongsor daripada ku.
dia sungguh sangat berat sekali
Setelah aku berhasil merebahkan tubuhnya di ranjang, aku beranjak mencari kotak obat untuk mengobati luka di tangannya.
Tampaknya itu luka akibat pecahan vas bunga yang ada di lantai.
Mungkin saat dia terjatuh, tangannya menyenggol vas bunga sehingga vas tersebut jatuh dan pecah kemudian mengenai tangannya.
Setelah ku obati tangannya, kurasa Rae sedikit merintih, ku sentuh dahinya, benar saja Rae terserang demam.
Segera ku ambil baskom berisi air dan selembar handuk kecil untuk mengompres dahinya.
Ku pandang wajahnya yang layu, apa yang sebenarnya terjadi pada Idol paling hits di dunia ini, dia tampak rapuh, sangat berbeda dengan yang selama ini ku lihat di media.