BUSAN, LOVE AFTER GI

BUSAN, LOVE AFTER GI
30. SUNSET IN GWANGALLI BEACH



ALEA AL ZAHIRA


Saat ini aku dan Rae tengah berada di pantai.


Pantai yang sangat indah dengan garis lengkung menyerupai bulan sabit, pasir putih yang halus dan sebuah jembatan megah di dapan sana melengkapi indahnya pemandangan di pantai ini.



Rae bilang nama pantai ini Gwangalli


"Pantai yang indah", kata ku.


"Aku ingin menikmati senja dan menghabiskan malam dengan mu di pantai ini.


Apa kau keberatan?", tanya Rae pada ku.


"Aku tidak keberatan".


Kami berjalan perlahan di sepanjang bibir pantai tanpa alas kaki, sambil menunggu senja menyapa kami.



Suasana yang damai sekali.


Angin mengibarkan jilbabku.


Pasir halus di sela jemari kaki ku.


Dan cahaya lembut matahari yang bersiap untuk tenggelam.


Berjalan berdua di tepi pantai yang indah bersama Rae, seorang seleb dunia dengan ribuan fans, sungguh tidak pernah terbayangkan oleh ku.



Pria yang aksi panggungnya selalu garang, dan mampu melelehkan hati ribuan penggemarnya itu tampak berbeda sekali dengan yang selama ini terlihat.


Sesungguhnya dia adalah pria rapuh yang mudah sekali patah.


"Kita duduk di sini, sepertinya senja mu mulai tiba", kata ku pada Rae.



"Apa kau senang hari ini?", tanya Rae pada ku.


"Sangat senang sekali.


Busan kota yang indah.


Tuhan memberikan banyak kasih sayangnya di kota ini, itulah sebabnya Busan menjadi satu-satunya kota yang tidak mendapatkan serangan saat perang civil Korea yang menyebabkan Korea terbagi menjadi 2".


"Kau tau banyak tentang Busan dan Korea", katanya memujiku.


"Tidak, aku sedikit tau karena aku suka membaca, hanya itu saja".


"Kau mahir dalam berbagai macam bidang seni.


Kau tau banyak soal sastra, kau pandai menari, kau tidak buta akan kisah-kisah di dunia, kau juga hebat soal memasak, kau bisa segalanya.


Sebenarnya kau ini manusia atau apa?.


Kenapa kau bisa begitu banyak hal?.


Apa yg tidak bisa kau lakukan?".


"Aku tidak seperti itu.


Tentu saja ada banyak hal yang aku tidak bisa dan ada banyak hal yang aku takuti", jawab ku.


"Apa hal yang tidak kau kuasai?".


"Emmm...., Aku tidak mahir berolah raga, aku juga tidak begitu pandai dalam hal hitung-hitungan".


"Lalu apa yang kamu takuti.


Aku merasa kau tak takut apa pun".


"Aku takut balon".


"Jinjja??? Kau takut balon???.


Kenapa kau takut balon???.


Balon bukan hal yang berbahaya".


"Aku takut balon itu meletus, rasanya sangat menakutkan saat membayangkan balon itu akan meletus".


"Kau benar-benar gadis yang aneh".


"Lihatlah, senja mu sudah datang", aku mengarahkan jari ku di ufuk barat.


Kami terdiam beberapa saat menikmati semburat warna jingga yang indah.


"Berdirilah di sana", minta Rae pada ku.


Kulihat dia telah menggenggam kameranya.



Aku beranjak menuju posisi yang dia tunjuk.


Rae membidikkan moncong kameranya ke arah ku.


Aku hanya berdiri mematung, tak tau harus berpose apa.


Aku memang tidak pandai berpose.


"Berbaliklah, menghadap ke senja itu",


Rae memintaku berbalik menatap senja.


Tampaknya dia ingin memotret ku dari belakang.


Ku lakukan apa yang Rae minta.


Dia fotografer yang handal.


Hasil photonya selalu mempesona.


Rae menghampiri ku, lalu mengajak ku untuk selca, aku langsung tersenyum di depan kamera Rae.


Dia mengambil banyak sekali foto selca kami berdua.


Aku dan Rae kembali duduk di atas pasir.


Dia menunjukkan hasil potret yang di ambil tadi pada ku.


"Ini karya yang indah, Kau hebat, kau fotografer profesional", puji ku padanya, dan itu bukan sekedar basa basi, hasil fotonya selalu luar biasa.


"Buka aku yang hebat, tapi objek fotonya yang memang luar biasa indah".


"Senjanya memang indah".


"......", Rae menggumamkan sesuatu dan aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas.


"Apa?", tanya ku lagi padanya.


"Ya, senjanya indah", kata Rae sambil menatap ku lekat-lekat.


Ah....dia menatap ku lagi.


Aku selalu saja salah tingkah dan merasa malu setiap kali Rae menatap ku seperti itu.


Tatapan tajam yang intens tanpa kedip,


Aku merasa tatapannya menembus sampai ke belakang tubuhku.


"Aku punya sesuatu untuk mu", kata nya pada ku.


Dia membuka tas ranselnya dan mencari sesuatu disana.


Kemudian Rae mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna hitam.


Dia menyerahkan kotak itu padaku.


Aku membuka kotak itu perlahan.


Dan terkejut melihat isinya.


"Aku bantu memasangnya", Rae mengambil benda yang ada di dalam kotak itu.


Lalu memasangkan pada pergelangan tangan ku.



Gelang yang sangat cantik.


Rae menaikkan lengan hodienya, dan menunjukkan gelang yang sama dengan yang ada di pergelangan tangan ku.


"Aku juga punya yang sama dengan itu".


"Gumawo, Ini cantik sekali".


"Kau suka?", tanyanya.


"Ya, aku suka, tapi aku tidak punya apapun untuk ku berikan padamu", kata ku sangat menyesal.


"Kamu ada di Busan selama 4 bulan ini sudah merupakan hal terbaik untuk ku", kata ku sambil mengusap puncak kepala ku lembut.


Mungkin ini saatnya aku harus bertanya pada Rae.


Aku harus memastikan bahwa dia dalam kondisi baik-baik saja sebelum aku meninggalkannya untuk pulang kembali ke Indonesia.


Aku tidak akan bisa tenang sebelum mengetahui dengan pasti bahwa dia baik-baik saja


Bahwa dia sudah tidak sakit lagi


Bahwa badainya telah benar-benar berlalu.


"Boleh aku bertanya sesuatu?", tanya ku.


"Apa itu?".


"Bagaiman hati mu?".


"Hati ku?", tanyanya tak mengerti.


"Apa kau masih merasakan sakit?".


"Ahhh....", Rae tampaknya mulai mengerti arah pembicaraan ku.


Jeda sejenak,


"Tidak, aku sudah tidak merasakan sakit lagi, aku bahkan sudah tidak merasakan apapun padanya", sambung nya.


Benarkah yang dia katakan?.


Apakah dia mencoba menutupi rasa sakitnya agar aku tidak khawatir?.


Apakah dia hanya bersikap seolah baik-baik saja di depanku?.


Padahal di dalam hatinya masih berdarah hebat.


"Benar kah?", tanya ku tidak yakin.


"Ya".


"Ini bukan sekedar cara mu untuk menutupi rasa sakit mu kan?", tanya ku ragu.


"Tidak, aku bersungguh-sungguh".


"Hubungi hyung mu, aku akan percaya jika melihatnya sendiri", pinta ku pada Rae.


Mungkin ini permintaan yang keterlaluan, tapi aku harus benar-benar memastikan bahwa dia sudah baik-baik saja.


Rae mengbil ponsel di saku celana jeansnya.


Menekan nomor yang ada di layar ponselnya.


Dan kemudian terdengar nada


Tut tut tut tut.


"Ponsel Gi hyung sedang tidak aktif", ujar nya.


"Aku akan menghubungi Minki hyung, mungkin saja Gi hyung sedang bersamanya".


Rae kembali memencet ponselnya.


"Woowww....kejutan yang manis, tumben kau menghubungi ku", seru seseorang di layar hp nya.


"Hanya iseng", jawab Rae menggunakan bahasa Inggris.


Sepertinya dia sengaja berbicara menggunakan bahasa Inggris agar aku mengerti apa yang sedang dia bicarakan.


"Iseng? Iseng kata mu?


Kau anggap apa aku hah?


Kau keterlaluan sekali pada hyung mu".


"Kau sedang ada dimana hyung?", tanya Rae.


"Aku dan yang lainnya sedang latihan di studio, apa kau ingin menyapa mereka?".


"Ya, aku ingin menyapa semua hyung ku".


"Hyung, kemarilah, Rae ingin menyapa kalian semua".


Dan sesaat kemudian, bisa ku dengar suaran-suara yang lainnya dari ponsel Rae.


"Halo panda ku".


"Hai Rae".


"Adik ku yang manis, aku merindukan mu?".


"Apa kabar Rae?".


"Hai hyung, aku baik-baik saja, apa kabar kalian semua".


"Kami baik-baik saja di sini".


"Gi hyung, benarkah kau sedang mempersiapkan solo album?.


Aku mendengarnya dari Minki hyung dan Joon hyung saat mereka ke Busan tempo hari", aku mendengar Rae menyebut nama Gi.


Aku pandang lekat-lekat matanya, aku mencari sesuatu yang mungkin dia sembunyikan di situ.


Tapi aku tidak dapat menemukan apapun disana.


Tidak rasa sakit, marah atau pun kecewa.


"Itu baru rencana, aku sedang mengumpulkan materi lagunya".


"Kau hebat hyung, aku akan selalu mendukung mu", kata Rae lagi


Pujian yang tulus untuk Gi, itulah yang aku tangkap dari nada suara Rae.


Sepertinya Rae memang sudah baik-baik saja.


Sudah tidak ada rasa sakit, sedih, marah dan kecewa dalam dirinya kepada Gi.


Aku menarik nafas lega.


Setelah dia berbincang beberapa saat dengan para hyungnya, dia matikan sambungan video callnya.


Rae menoleh pada ku dengan wajah berbinar.


Aku meletakkan tangan ku didadanya,


"Benarkah sudah tidak terasa sakit lagi?", tanya ku padanya untuk kembali memastikan jawaban darinya.


Rae menggenggam tangan ku yang ada di dadanya dengan lembut.


"Ya, aku tidak merasa sakit lagi, aku bahkan tak merasakan apapun".


"Itu bagus, sangat bagus", kata ku tersenyum lebar.


Aku menarik tanganku yang ada di dada Rae, tapi Rae menahannya.


Dia tetap menggenggam tangan ku, dan kali ini dia menggenggam tangan ku lebih erat.



Kami duduk di tepi pantai cukup lama, berbincang-bincang tentang apa saja sambil menghitung bintang, seperti yang pernah kami lakukan dulu di belakang rumah.


Aku sudah memastikan Rae dalam keadaan baik-baik saja.


Tapi....,


Mengapa masih tetap ada rasa mengganjal di dalam hati ku?.


Adakah yang bisa menjawab pertanyaan ku???.