BUSAN, LOVE AFTER GI

BUSAN, LOVE AFTER GI
26. AKAD NIKAH



KIM RAE


Orang tua Alea akan kembali ke Indonesia, karena beberapa hari lagi Zain hyung akan menikah.


Hyung dan nuna akan mengantar mereka ke bandara.


"Cepat sembuh, jaga dirimu baik-baik disini, ibu akan menelfon mu setiap hari", Mrs. Hana memeluk Alea lama serta menciumi seluruh wajah putrinya.


"Ingat kata-kata ayah, turuti Mr dan Mrs. Kim, jangan membuat mereka repot dengan sifat keras kepala mu, kau sudah banyak menyusahkan keluarga mereka", Mr. Adam berkata tegas pada putrinya, kemudian mencium dahi putrinya.


"Hai anak nakal, jaga dirimu baik-baik, jangan membuat semua orang cemas karena ulah mu, dengarkan apa kata dokter, cepatlah pulih dan segera pulang ke Indonesia", Zain hyung memeluk adiknya erat.


"Rae, tolong jaga Alea baik-baik.


Maaf karena merepotkan mu", kata ayah Alea padaku sambil menjabat tangan ku erat.


"Aku pasti akan menjaga Alea, anda jangan khawatir".


"Nak, ibu titip Alea, tolong jaga Alea ya", ibu Alea mengusap lengan ku lembut.


"Tentu ibu, anda tidak perlu khawatir.


Aku akan selalu menjaga Alea".


"Rae, aku serahkan adik nakal ku pada mu, jaga dia baik-baik, jewer telinganya jika dia bandel atau mulai keras kepala.


Kau sudah punya nomor ponsel ku, hubungi aku jika Alea membuat kekacauan lagi", pesan Zain hyung padaku.


"Tentu akan aku lakukan itu hyung, aku akan selalu mengawasi Alea, kau jangan khawatir".


Zain hyung memeluk ku dan menepuk punggung ku.


Dan kemudian mereka semua berangkat ke bandara.


.............................


Pagi ini Zain hyung kakak Alea akan menikah.


Alea dan aku sudah berada di depan laptop sedang melakukan panggilan videocall sejak tadi.


Alea ingin mengikuti prosesi pernikahan kakak nya.


"Kak, kau sangat tampan sekali", puji Alea pada Zain hyung, yang memang terlihat sangat gagah dan tampan.


"Hai hyung, apa kau gugup?", tanya ku pada Zain hyung.


"Ya, aku sangat gugup.


Do'a kan prosesi pernikahan ku berjalan dengan baik".


"Tentu saja, semua pasti akan berjalan dengan baik".


Prosesi pernikahan akan segera di mulai.


"Pakai masker dan topi mu, aku tak mau tamu yang ada disana menjadi heboh karena mu", perintah Alea padaku.


"Iya iya", ku kenakan masker dan topi lalu aku kembali duduk di samping Alea.


Ku lihat Zain hyung sudah duduk di balik meja pernikahan bersama 5 orang laki-laki lainnya.


"Yang akan di lakukan oleh Zain hyung ini prosesi apa namanya?".


"Prosesi akad nikah.


Semacam pemberkatan yang dilakukan oleh umat kristiani saat melakukan pernikahan".


"Ahh...aku mengerti. Akad nikah".


Hal pertama yang aku lihat dalam prosesi pernikahan ini adalah seseorang yang sedang mengaji.


"Mengaji", kata ku pada Alea.


"Ya", jawabnya.


Setelah orang tersebut selesai mengaji, yang kulihat kemudian adalah seseorang yang sedang berpidato.


"Pidato dalam akad nikah?", tanya ku heran.


"Itu di sebut khutbah nikah, semacam nasihat sebagai bekal pasangan pengantin dalam membina rumah tangga".


"Ahhh...khut-bah nikah", eja ku.


"Sekarang prosesi akad nikah akan di mulai", kata Alea setelah khutbah nikah tersebut selesai.


Aku melihat Zain hyung berbincang sebentar dengan pria yang ada di depan sebelah kirinya.


Kemudian zain hyung berjabatan tangan dengan pria separuh baya yang tepat duduk di hadapannya.


Kemudian pria separuh baya tersebut mengucapkan kata-kata.


'Muhammad Zain Hasby bin Adam Muis, aku nikahkan engkau dengan putri ku Nirmala Kirana binti Agung Baskara dangan maskawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas 28 gram di bayar tunai".


Dan di jawab oleh Zain hyung,


'saya terima nikahnya Nirmala Kirana binti Agung Baskara dengan maskawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas 28 gram di bayar tunai'.


Dan semua tamu di sana mengatakan 'SAH'



Aku tidak paham artinya.


mungkin seperti sebuah perjanjian pernikahan.


tapi aku ikut terhanyut dalam suasana pernikahan yang begitu sakral


Apalagi saat ku lihat pria separuh baya yang tangannya di jabat erat oleh zain hyung itu terisak saat mengucapkan kata-kata yang aku tak tau makna nya itu.


Setelah prosesi perjanjian itu, seorang pria mengaji lagi, tapi kali ini cara mengajinya agak lain.


Aku menoleh pada Alea ingin bertanya sesuatu.


tapi aku urung melakukannya saat ku lihat Alea tengah memejamkan matanya dengan tangan menenggadah.


Apakah dia sedang berdo'a?.


"Aamiin", ku dengar gumam pelan Alea.


Ahh...ya, Alea sedang berdo'a.


Jadi laki-laki itu bukan mengaji tapi sedang melantunkan do'a.


Aku meniru apa yang di lakukan Alea, aku menenggadahkan tangan ku dan ikut mengucap amin saat Alea mengucap amin.


Sesaat kemudian Alea mengusap mukanya dengan kedua telapak tangannya.


Dan aku pun ikut melakukan hal itu.


"Kakak ku sekarang sudah menjadi seorang suami, meraka sudah menikah secara sah".


"Ahhh....Syukurlah, aku ikut senang.


Tapi dimana pengantin wanitanya? Mengapa kakak mu hanya melakukan prosesi itu sendiri saja tanpa pengantin wanitanya?".


"Nanti akan ku jelaskan, kita beri ucapan selamat dulu kepada kakak Zain".


"Kak, selamat atas pernikahan mu, mudah-mudahan sakinah mawadah warahma, dan cepatlah beri aku keponakan kecil yang lucu", kata Alea.


"Hahahah....aamiin, terima kasih cantik ku".


"Hyung, selamat untuk pernikahan mu, aku mendo'a kan kebahagiaan kalian".


"Terima kasih banyak Rae.


Baiklah akan ku tutup telponnya, aku harus menjemput pengantin ku".


"Nanti aku akan menelpon mu lagi kak, assalam'mualaikum".


"Ya, baiklah, wa'alaikum salam".


Aku melambaikan tangan ku pada Zain hyung sebelum akhirnya Alea menutup laptopnya.


"Ok, jelas kan padaku tentang prosesi pernikahan Zain hyung tadi",


Aku berpindah duduk menghadap Alea, aku begitu antusias ingin mendengar tentang prosesi pernikahan Zain hyung.


Alea tersenyum manis kepada ku,


"Jadi prosesi pernikahan dalam islam di sebut akad nikah atau ijab qobul.


Arti dari akad nikah adalah kesepakatan pernikahan, maksudnya disini adalah kesepakatan antara wali pengantin wanita dengan pengantin laki-laki.


Sedangkan arti ijab adalah menetapkan sesuatu dan arti qobul adalah persetujuan,


jadi ijab qobul merupakan proses alih kuasa atau serah terima, dimana wali pengantin wanita menyerahkan putrinya untuk di nikahi oleh pengantin laki-laki dengan di saksikan oleh minimal 2 orang saksi.


Di dalam islam, anak perempuan adalah milik ayahnya sampai dengan dia menikah.


Saat seorang perempuan telah di nikahkan oleh ayahnya kepada seorang laki-laki maka segala bentuk tanggung jawab seorang ayah kepada puteri nya beralih kepada laki-laki yang menikahinya.


Tanggung jawab untuk membimbing, menafkahi dengan layak, menjaga, mencintai dan lain-lain yang pada awalnya merupakan tanggung jawab seorang ayah menjadi tugas dan tanggung jawab laki-laki yang telah menikahinya".


"Ini sangat menarik.


Tapi dari penjelasan mu, mengapa aku jadi merasa seolah-olah dalam islam wanita di samakan dengan barang yang di perjual belikan, mengapa harus menggunakan kata-kata serah terima?".


"Bukan begitu.


Justru ijab qobul itu gambaran betapa seorang wanita begitu di muliakan dan di jaga dengan baik.


Saat seorang anak perempuan lahir, tugas ayahnyalah untuk menjaganya, memberinya pendidikan yang layak, memberinya kehidupan yang layak, memberinya banyak cinta dan lain sebagainya.


Maka saat menikah seorang ayah menyerahkan tugas tersebut kepada suaminya untuk di teruskan, seorang suami bertanggung jawab atas pendidikan istrinya, bertanggung jawab atas kehidupan yang layak untuk istrinya, bertanggung jawab untuk kebahagiaan lahir batin istrinya dan lain sebagainya.


Bisa kah kau lihat, betapa seorang perempuan begitu sangat di muliakan dan di jaga, hingga saat menikah perlu sebuah perjanjian besar untuk proses alih tanggung jawab itu.


Saat seorang laki-laki mengucapkan ijab qobul, itu artinya laki-laki tersebut menerima alih tanggung jawab dari wali perempuan yang sekaligus merupakan bentuk perjanjian dari seorang laki-laki yang menyatakan kesanggupannya untuk membimbing, menjaga, mencintai dan membahagiakan perempuan itu seumur hidupnya.


Dan perjanjian yang di ucapkan oleh pengantin pria itu adalah perjanjian langsung kepada Tuhan.


Karena itulah dalam islam dikenal istilah 'mitsaqon ghilizah' yang artinya perjanjian yang berat, dimana saat seorang laki-laki mengucapkan ijab qobul itu maka berguncanglah langit ke 7 karena perjanjian yang sangat berat itu.


Perjanjian yang berat karena, seorang suami mempunyai kewajiban yang besar kepada istrinya, yang jika tidak di penuhi kewajiban tersebut maka suami mendapatkan dosa yang besar".


"Aku mengerti sekarang.


Tubuh ku meremang mendengar penjelasan mu.


Lalu mengapa dalam proses perjanjian itu pengantin wanita tidak ada di sana?".


"Sebenarnya boleh-boleh saja pengantin wanita ikut duduk di sana saat proses akad nikah.


Hanya saja tradisi di keluarga ku begitu.


Saat proses akad nikah berlangsung pengantin wanita tidak ikut duduk disana, pengantin wanita ada di ruangan lain tapi tetap bisa mendengar proses akad nikah dengan jelas".


"Mengapa tradisi di keluarga mu seperti itu?", tanya ku.


"Karena bagi keluarga kami, suamilah yang berhak terlebih dahulu melihat pengantin perempuannya, sebelum tamu undangan melihatnya.


Kami memberi keistimewaan itu kepada pengantin laki-laki.


Selain itu, laki-lakilah yang harus menghampiri dan menjemput perempuan, bukan perempuan yang menghampiri laki-laki, itu demi terjaganya harga diri seorang perempuan".


"Wowww...., Itu sungguh sangat romantis".


"Itu kah sebabnya seorang perempuan muslim di wajibkan untuk menggunakan hijab?".


"Ya, untuk menjaga kesucian dirinya, selain itu untuk menjaga mata lawan jenisnya juga.


Mana yang akan kau pilih, kue yang tertutup bungkus atau kue yang tanpa bungkus?".


"Tentu saja kue yang tertutup bungkus", jawab ku yakin.


"Kenapa?", Tanya Alea.


"Karena lebih higienis, terbebas dari serangga, kuman dan virus", jawab ku lagi.


"Tepat sekali, serupa itulah kegunaan hijab kami, untuk menjaga kami agar tetap suci.


Hanya mukhrim kami yang boleh melihat kami secara keseluruhan".


"Apa itu mukhrim?".


"Mmm...mukhrim itu orang-orang yang di larang untuk menikahi kami di karenakan garis keturunan atau pernikahan, seperti suami, anak, ayah kandung, kakak kandung, adik kandung, paman, sepupu dan lain-lain"


"Jadi aku bukan mukhrim mu dan seharusnya aku tidak boleh melihatmu tanpa hijab?".


"Ya, harusnya memang seperti itu, ini memang.....".


"Ssstttt.....diamlah", aku memutus kata-kata Alea.


Aku berjalan menuju tas pakaian Alea, ku ambil sesuatu dari dalam tas itu.


Aku kembali ke hadapan Alea.


Ku tatap Alea lekat-lekat tanpa kedipan.


Aku menyusuri setiap detail wajahnya.


lalu ku simpan wajah Alea tanpa hijab itu dalam memori kepala ku.


Setelah itu aku bentangkan kain hijab yang tadi ku ambil dari tas pakaian Alea, dan kemudian ku tutupkan kain hijab itu di atas kepalanya.


Dia terkejut dengan perlakuan ku.


"Kenakan hijab mu.


Jangan biarkan siapa pun melihat dirimu dengan jelas, termasuk aku.


Karena kau begitu istimewa bagi agama mu.


Tuhan menjaga mu dengan baik, maka kau pun harus menjaga dirimu dengan baik",


aku tersenyum kepada Alea.


Bagi ku Alea adalah perempuan istimewa yang sangat luar biasa dan harus ku jaga baik-baik.