
ALEA AL ZAHIRA
Sepertinya Rae telah selesai melakukan sambungan telponnya.
Tapi dia tetap terduduk di situ dengan wajah meneggadah ke atas.
Ku langkahkan kaki menghampirinya.
Dan ikut duduk di sampingnya.
Bisa kudengar dengan jelas tarikan nafasnya yang panjang.
"Nari sudah masuk ke kamarnya?", Rae membuka pembicaraan.
"Ya", jawab ku singkat.
Dia melihat layar ponselnya sesaat,
"Apa kau sudah mengantuk?", Tanyanya lagi.
"Belum, sepertinya tadi sore aku terlalu banyak tidur.
Apa kau sudah mengantuk?.
Masuklah ke kamar mu, biar aku yang membereskan semuanya disini".
"Tidak, aku belum ingin tidur".
Jeda sesaat.
"Tolong temani aku disini malam ini, aku mohon", pintanya kepada ku sambil menunduk.
"Baiklah, akan ku temani kau menghitung bintang-bintang disini", ucap ku bercanda.
"Aku merindukan mereka".
"Siapa?", Tanya ku.
"Hyung L-BOYS ku".
"Sangat jelas sekali", jawabku sambil tertawa kecil.
"Benarkah?".
"Itu yang tertulis di mata mu", aku menunjuk mata Rae dengan jari telunjukku.
"14 tahun aku bersama mereka, jadi kami mempunyai semacam ikatan khusus".
"Ya, aku mengerti maksudmu. Pasti sangat tidak mudah bagi mu".
"Ya ini sulit, tapi aku harus, agar saat kembali ke sana nanti, tidak ada rasa canggung.
Aku harus benar-benar sembuh dari rasa sakit'.
"Kau sedang sakit?", Tanya ku.
"Ya, sampai rasanya mau mati".
"Aku lihat kau baik-baik saja.
Di mana yg sakit?", Tanyaku melihatnya dengan teliti.
"Disini", Rae menunjuk dadanya.
"Apa kau sedang mengalami cidera?".
"Ya, cidera karena di campakkan,. kekasih ku mencampakkan ku"
Aku tidak terkejut dengan apa yang dikatakan Rae, karena aku telah mendengarnya dari Nari.
Tapi aku pura-pura tak tau, agar dia tidak merasa canggung padaku.
"10 tahun kami menjalin cinta, tapi hanya dalam waktu beberapa menit saja dia membuang ku.
Dia mengatakan padaku bahwa dia mencintai orang lain, dan ingin mengakhiri hubungan kami.
Aku rasa salah satu peyebab putusnya kami adalah pemberitaan yang terlalu berlebihan.
Mungkin dia terlalu lelah dengan semua pemberitaan itu
Kami di beritakan sering melakukan hubungan intim.
Padahal sekali pun kami tidak pernah melakukan hal itu.
Ya, kami memang sepasang kekasih, kadang kami juga tidur di kamar yang sama, tapi hanya tidur dalam artian yang sebenarnya.
Kalo soal berciuman dan saling raba aku rasa itu hal normal, semua pasangan kekasih melakukannya.
Dan dia orang yang sangat brengsek karena telah mencampakkan aku"
"Wanita mana yang begitu bodoh mencampakkan Kim Rae, idola paling hits di dunia, saat banyak wanita di luar sana menghayalkan jadi kekasih seorang Kim Rae".
"Kekasih ku seorang pria.
Gi, Miyung Gi, salah satu member L-BOYS.
dia adalah kekasih ku".
"Hmmm....dia akan menyesal telah meninggalkan mu".
"Tampaknya kau tidak terkejut".
"hmmm....", Jawab ku dengan mengedikkan bahu.
"Ahhh...kau pasti telah mengetahuinya, tidak mengherankan, beritanya selalu menjadi Trending Topic".
"Tidak, aku tidak begitu suka mengikuti berita scandal selebritis".
"Aku menjijikkan bukan?", Tanyanya. sambil menatap mata ku.
Pandangan matanya tak bisa ku baca.
Entah itu rasa marah atau rasa sedih
Atau mungkin rasa kecewa.
"Tidak", jawab ku tegas.
"Hah???", Ucapnya mengernyitkan dahi.
"Apa kau berharap aku mengatakan hal itu?.
Cinta itu anugrah, tidak ada seorang pun yang dapat menolak kehadirannya".
"Aku tau, tapi kekasih ku seorang pria, dan itu tidak normal bagi kebanyakan orang".
"Ya memang benar, tapi menjadi normal atau tidak itu adalah hak mutlak seseorang.
Itu masalah yang sangat berbeda dengan cinta.
Kau tidak dapat menolak hadirnya cinta,
Tapi kau bisa memilih cinta mana yang akan kau perjuangkan, seperti halnya kau memilih seorang pria sebagai kekasih mu, padahal kau bisa saja memilih wanita menjadi kekasihmu".
"Aku tidak normal".
"Jangan menilai dirimu sendiri dengan terburu-buru.
Benarkah kau tidak normal?".
"Maksud mu?", Tanya Rae tak mengerti.
"Ada beberapa faktor yang membuat seseorang menjadi tidak normal.
Apa kau mempunyai kecenderungan itu sejak kau masih dalam kandungan?.
Atau itu hanya disebabkan dorongan nafsu saja?.
Atau itu disebabkan pengalaman seksual mu sebelumnya?.
Atau penyebabnya dari pengaruh lingkungan?".
"Jadi menurut mu ada kemungkinan bahwa aku normal, meskipun sangat jelas aku mencintai pria itu?", Tanyanya lagi.
"Cinta yang bagaimana?.
14 tahun kalian hidup bersama, berjuang bersama, berbagi suka dan duka, aku tidak akan heran jika diantara kalian tumbuh rasa cinta, tapi cinta yang bagaimana?".
"Aku mengerti maksudmu.
Jadi aku harus menilai kembali apa yang aku rasakan".
"Ya.
Dan saat kau sudah yakin dengan apa yang kau rasakan, maka kau akan dapat memutuskan apakah kau perlu sekecewa ini?.
Apakah kau perlu sesedih ini?.
Apakah kau perlu seterpuruk ini?. Apakah kau perlu semarah ini?.
Atas putusnya hubungan mu dengan dia.
Apa benar dia brengsek seperti yang kau katakan pada ku tadi.
atau dia hanya sekedar sadar lebih dulu darimu atas perasaannya yang sesungguhnya, sehingga dia memutuskan hubungan asmara kalian".
Rae menatap ku intens,
"Alea, gumawo.
kau benar-benar telah banyak membantu ku", katanya kemudian.
"Senang bisa membantu mu tuan super star", kata ku sambil tersenyum.
Dia merebahkan dirinya di atas rumput, menatap bintang dengan wajah tersenyum.
"Sekarang aku merasa lega, benar-benar merasa lega, dan semua ini karena mu Alea".
"Kalau begitu beri aku hadiah", ujar ku tersenyum jahil.
"Katakan apa yang kau inginkan?", katanya serius sambil menoleh pada ku.
"Hahahahaha....aku hanya bercanda, aku tidak menginginkan apa pun", kata ku tertawa.
"Kau tidak ingin foto dan tanda tangan ku?".
"Tidak".
"Akan ku berikan banyak kepadamu".
"Hahahahah".
"Mengapa kau tertawa?.
Aku terlihat sangat tampan saat di foto".
"Uuhhhh....benarkah???".
"Kau tau kan, penggemar ku tersebar di seluruh dunia dan tak terhitung jumlahnya".
"Dan apa jadinya bila penggemar mu tau, idol nya ini makan dengan begitu banyak sampai-sampai abs nya hampir menghilang, hahahaha".
"Yakkk..., Sudah ku bilang abs ku tidak menghilang, mereka tetap ada di tempatnya.
Akan ku tunjukkan abs ku padamu",
Rae menggerakkan tangannya seolah-olah akan melepas sweter nya.
"Berhenti, jangan lakukan itu", kataku sambil melebarkan mata.
"Wae?".
"Tidak, tidak, jangan lakukan itu?".
"Wae?.
Kau ingin melihat abs ku kan?.
Akan ku perlihatkan padamu".
"Berhenti kata ku, mataku akan kotor karena melihat itu".
"Hahahaha, ini keberuntungan mu, semua wanita ingin melihat abs ku, tapi mereka tidak bisa".
"Tidak, aku tidak ingin melihatnya", kata ku sambil menutup mata dengan kedua tangan.
"Baiklah, jangan sampai menyesal karena kehilangan kesempatan melihat abs ku, hahahaha".
"Ishhhh.....", cibir ku.
Rae merebahkan kembali tubuhnya di rumput.
"Sekarang giliran mu, ceritakan tentang dirimu Alea".
"Apa yang harus aku ceritakan?
Tidak ada yang istimewa tentang ku. Hidup ku biasa saja, tidak sefantastis kehidupan mu".
"Ceritakan tentang apa saja",
Rae merubah posisi tidurnya
"Kalau kupikir, kita belum saling memperkenalkan diri dengan baik".
Sekarang dia duduk tegak menghadap ku.
"Perkenalkan dirimu agashi".
"Emmm.....nama ku Alea Al Zahira,
Usia ku 24 tahun,
Aku berasal dari Indonesia".
"Lanjutkan".
"Lanjutkan apa".
"Hobi mu, keinginan mu, apa saja".
"kau seperti sedang mengintrogasi aku tuan".
"Ahh...aku lupa memberikan ini padamu, ini minumlah", dia memberikan sebuah bungkusan padaku.
"Apa ini?".
"Tonik ginseng merah.
Ku lihat tadi sore kau tampak begitu kelelahan, ini bisa menjaga staminamu".
"Aku membutuhkan ini, terima kasih", kata ku sambil mencoba membuka 1 sacet.
"Sini, biar ku bukakan", dia mengambilnya dari tangan ku dan membantuku membukanya.
"Rasanya enak", kataku setelah meminumnya.
"Sepertinya aku harus mulai membereskan semua ini", sambung ku.
"Ayo kita lakukan", kami berdua bangkit berdiri dan mulai berkemas-kemas.
Aku membereskan peralatan makan, dan Rae membereskan pemanggang serta mengembalikan meja dan kursi pada tempatnya.
"Tidurlah, aku akan mencuci piring dulu", kata ku pada Rae.
"Tidak, aku akan membantu mu, ini terlalu banyak untuk kau lakukan sendiri".
Beberapa saat kemudian,
"Bagus, sudah beres semua", katanya tersenyum puas.
"Kau masih ingin ku temani?
Kalau tidak aku akan pergi tidur sekarang".
Dia melihat jam di dinding dapur yang menunjukkan pukul 01.50.
"Ini sudah dini hari, tidurlah", katanya sambil megusap puncak kepalaku.
"Selamat tidur Alea", katanya sebelum aku pergi menuju kamar ku.
"Selamat tidur juga untuk mu", sahut ku.