
ALEA AL ZAHIRA
Ku tutup mushaf yang telah ku baca.
Meskipun aku sedang berada di korea, sebisa mungkin setiap hari, entah setelah sholat subuh atau sholat magrib aku sempatkan untuk membaca al quran meskipun hanya 1 ayat saja.
Saat aku akan menyimpan al quran di laci meja, kulihat pantulan bayangan Rae di cermin meja rias.
Dia sedang berdiri di balik pintu kamar ku yang memang sedikit terbuka.
Aku segera menuju pintu dan membukanya lebar.
"Apakah suara ku terlalu keras?.
Apa kau merasa terganggu dengan bacaan ku?.
Maafkan aku bila itu mengganggu mu", kataku padanya.
"Suara mu bagus", jawabnya.
"Apa???", Aku tidak mengerti maksud perkataannya.
"Apa yang tadi sedang kau lakukan?
Itu terdengar seperti nyanyian.
Boleh aku masuk?", Tanyanya tanpa menjawab pertanyaan ku.
"Oh, ya masuklah", aku menepi memberinya jalan untuk masuk ke dalam kamar ku.
Dia menuju kursi di depan meja rias dan duduk disana.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku", kata Rae setelah duduk di kursi itu.
"Pertanyaan? Pertanyaan apa?", Tanya ku bingung.
Dia memutar matanya lucu,
"Apa yang sedang kau lakukan tadi?.
Apakah kau sedang bersenandung?".
"Ooohhh..., aku tadi mengaji", aku tidak berharap dia mengerti dengan penjelasan ku.
"Mengaji?
Apa itu mengaji", seperti yang ku duga, Rae tidak paham dengan penjelasan ku.
"Aku membaca kitab suci ku", jelas ku kembali.
"Aahhh...aku mengerti sekarang", katanya menganguk-anggukkan kepalanya.
"Apa suara ku terlalu keras?
Apa itu mengganggu mu?
Maaf jika itu mengganggu mu", aku mengulang kata-kata ku tadi.
"Tidak, suara mu bagus.
Bacalah kitab suci mu itu setiap hari dengan suara yang keras, agar aku dapat mendengarnya, aku suka mendengar kau membacanya".
Aku tidak mengiyakan kata-katanya, akan terlalu riskan membaca al quran dengan suara yang keras di rumah ini.
Keluarga di sini berbeda keyakinan dengan ku, tentu saja aku harus menghormati mereka dan tidak boleh membuat mereka terganggu dengan aktivitas ibadah ku.
Mereka memang menerima ku dan memperlakukan ku dengan baik, tapi soal keyakinan itu urusan yang berbeda, itu terlalu sensitif, jadi aku harus sangat berhati-hati agar tidak membuat mereka tersinggung.
Melihat ku hanya diam saja, Rae kembali berkata,
"Tidak perlu merasa canggung, kami keluarga yang cukup terbuka, tidak masalah apapun keyakinan orang lain, kami tidak pernah mempermasalahkan hal itu.
Jadi beribadahlah dengan bebas, kau boleh membaca kitab suci mu itu sesering mungkin dengan suara yang keras.
Lagi pula suara mu sangat merdu, kau begitu pandai membacanya".
"Bukankah saat Nari tinggal di rumah mu di Indonesia, kau selalu mengantar Nari ke gereja setiap minggunya.
Kau bahkan akan mengomel bila dia malas pergi ke gereja", sambungnya lagi.
"Apakah Nari menceritakan hal itu padamu?", Tanya ku.
"Cerita soal apa? Soal kau yang suka mengomel?".
"Yakkk..., Aku tidak seperti yang kau katakan".
"Hahahaha, ya kau tukang ngomel, hahahaha", dia tertawa terbahak-bahak.
Senang melihat Rae tertawa seperti ini, matanya terlihat lebih bersinar.
"Kenapa kau bangun dari tempat tidur mu?
Kau seharusnya tetap beristirahat di sana", kata ku.
"Aku bosan, aku rasa aku sudah terlalu banyak tidur", jawab Rae sambil membuka buku ku.
"Tapi kau memang harus melakukan hal itu agar kau cepat pulih".
"Aku sudah merasa lebih baik".
"Tetap saja kau harus banyak beristirahat.
Apa kau membutuhkan sesuatu? Panggil saja aku bila kau membutuhkan sesuatu", pungkas ku.
"Apa sekarang kau menjadi pengasuh ku?", tanyanya sambil membulatkan matanya.
"Bukan begitu, tapi kau memang harus banyak beristirahat, itu kata doktermu".
"Kau mulai mengomel, ternyata memang benar kau tukang ngomel hahahahaha",
Rae kembali tertawa terbahak-bahak.
"Di mana semua orang, kenapa rumah ini sepi sekali?", tanyanya padaku.
"Eonni sedang mengantar Nari membeli baju, dia terus saja merengek kepada eommanya untuk membelikannya baju baru.
Kalau Mr. Kim sepertinya dia sedang ada acara bersama teman-temannya, begitu tadi dia berpamitan kepada eonni", jelas ku pada Rae.
"Si tengil itu, selalu saja merengek, dan Nuna tidak pernah bisa menolak rengekannya", katanya sambil beranjak dari duduknya dan berjalan ke luar.
"Kau tak lapar?", tanya Rae pada ku saat dia sudah berada di depan pintu kamar ku.
"Apa kau lapar?.
Apa kau belum makan malam?", kataku kembali bertanya padanya.
"Aku sudah makan, tadi nuna mengantar makanan ku ke kamar, tapi sepertinya aku ingin makan sesuatu".
"Kau mau ku buatkan sesuatu?.
Katakanlah, akan ku buatkan untukmu, tapi mungkin tidak akan seenak masakan eonni".
"Tidak, tidak, tak perlu repot, aku ingin makan eomuk di depan minimarket", katanya.
Dikenal dengan nama eomuk atau odeng.
Tapi jangan salah eomuk dan odeng itu berbeda.
Walau sekilas makanan ini sama, namun sejarah dan penampilan kedua makanan ini berbeda.
Eomuk dalam bahasa Korea mengacu pada kue ikan yang dibuat dengan cara menumbuk ikan sampai halus, dan menambahkan bahan lain kedalam adonan.
Sementara odeng dipercaya sebagai versi evolusi dari Jepang.
bedanya dengan eomuk, odeng memiliki bentuk yang panjang dan datar.
Menurut legenda, awalnya odeng bernama "dengaku”, terinspirasi dari masakan Jepang yang terbuat dari tahu yang dipotong-potong panjang dan diolesi miso (bumbu masakan asal Jepang yang dibuat dari fermentasi rebusan kedelai, beras, atau campuran keduanya dengan garam).
Di Cina, dahulu kue ikan disajikan untuk Qin Shihuang (Kaisar Pertama dari negara Qin).
Di Korea, ada masakan bernama saengseon sukpyeon (sup ikan rebus) di tahun 1719 yang dipercaya sebagai asal muasal kue ikan.
Sedangkan di Jepang disebut sebagai kamaboko, hidangan yang ditemukan pada jaman Heian lebih dari seribu tahun yang lalu.
Pada masa penjajahan Jepang, banyak orang Jepang yang tinggal di Busan, Mokpo, dan Laut Cina Selatan.
Di sana banyak pabrik yang membuat bakso ikan yang disukai orang Jepang.
Setelah Korea merdeka dari Jepang, kue ikan dan bakso ikan terus diproduksi.
Eomuk dan odeng sangat terkenal di Korea Selatan, terutama Busan.
Karena Busan merupakan kota yang letaknya di pesisir.
Hasil laut di Busan sangat melimpah.
Di sana banyak pabrik yang membuat bakso ikan dan kue ikan.
Karena itulah makanan yang paling terkenal dari kota Busan adalah kue ikan.
Bahkan kue ikan menjadi makanan Nasional setelah krisis kekurangan protein yang di alami negeri ginseng ini pasca Perang civil Korea.
"Mau ku belikan?", tanya ku kembali kepada Rae.
"Emmm..., bagaimana kalau kita membelinya bersama, aku ingin berjalan-jalan sebentar di luar".
"Aku rasa itu bukan ide yang bagus, kau masih belum boleh banyak beraktivitas", tolak ku.
"Hei, aku tidak akan pingsan hanya karena berjalan ke sana".
"Siapa yang akan tau.
asal kau tau tuan, badan mu sangat berat sekali, aku hampir kehabisan nafas saat kemarin membantumu", kata ku serius.
"Terserah apa katamu, aku akan tetap berangkat membeli eomuk di sana, dengan mu atau tanpa mu", kata Rae keras kepala.
"Baiklah baiklah, aku ikut, aku akan mengenakan jaket ku dulu", akhirnya aku yang mengalah.
Aku tidak mau dia keluar rumah sendirian dan pingsan di jalan.
"Ya, aku juga akan mengambil jaket ku".
Aku sudah mengenakan jaket dan tengah menunggu Rae di ruang tamu.
5 menit kemudian dia berdiri di hadapan ku, dengan mengenakan hoodie hitam, topi bisbol hitam dan masker.
Dari sini aku tidak bisa melihat wajahnya sama sekali karena topi yang di lesakkan begitu dalam dan masker yang menutupi separuh wajahnya.
Ahhh....ya aku lupa, dia selebritis terkenal di dunia, dengan jutaan fans, siapa pun pasti mengenalnya, apa jadinya jika para fansnya disekitar sini tau dia tengah membeli eomuk di pedagang kaki lima.
"Emmm..., sepertinya akan lebih baik jika aku saja yang keluar membeli eomuk untukmu", kata ku pada Rae.
"Kau mulai mengomel lagi", sahutnya.
"Bukan begitu, bagaimana jika fans mu tau dan merek datang mengerubuti mu?
Atau mungkin akan ada paparazi yang akan mengikuti mu", kataku cemas.
"Itulah sebabnya aku menggunakan hoodie, topi dan masker ini".
"Mmm..., menurut ku penampilan mu semakin mencolok dengan itu semua, kau mirip sekali dengan penguntit, kau akan semakin menjadi pusat perhatian" kata ku serius.
"Kita jalan sekarang", katanya menarik lengan baju ku tanpa menghiraukan kata-kata ku.
"Aku akan habis di marahi oleh eonni dan Mr. Kim bila mereka tau hal ini", kata ku sambil berjalan.
"Itu tidak akan terjadi", jawab Rae.
"Kau yang harus bertanggung jawab bila mereka marah, aku sudah melarang mu, tapi kau terlalu keras kepala".
Saat di jalan, aku sering sekali menolehkan kepala ku ke kiri, kanan dan belakang, aku takut ada paparazi yang mengikuti Rae, atau tiba-tiba ada sekumpulan fans yang menghampirinya.
"Kenapa kau selalu menolehkan kepala mu?.
Kau membuat kita terlihat mencurigakan, kita jadi seperti seorang pencuri tau", geramnya padaku.
"Sssttt....diamlah, aku hanya waspada saja".
Setelah hampir sampi di penjual eomuk, aku menyuruhnya tetap diam di belakang ku.
"Diamlah di belakang ku, aku yang akan membeli, aku tidak mau ada kehebohan disana karena seorang super star sedang membeli eomuk".
"Hhhemmm....", Sahutnya.
Dan dia menuruti kata-kata ku, Rae hanya diam saja di belakang pungung ku sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan menundukkan kepalanya dalam.
Merepotkan sekali berjalan dengan seorang selebriti, padahal hanya untuk membeli eomuk.
Setelah membeli eomuk, Rae mengajak ku duduk di taman untuk memakan eomuk yang kami beli.
Ku lihat taman ini cukup sepi, kurasa akan aman, baiklah, kita duduk di sini sebentar.
Kasihan juga dia selalu terkurung di rumah, dia pasti sangat bosan.
Cukup menyenangkan duduk disini sambil menikmati eomuk.
Ku lihat Rae lahap sekali memakan eomuknya.
"Apa kau begitu sangat lapar tuan super star?", sindir ku padanya.
"Entahlah, aku merasa ***** makan ku tiba-tiba saja membaik", jawabnya di sela aktivitas mengunyahnya.
"Baiklah, makan yang banyak tuan super star, makan juga eomuk milik ku".
"Benarkah?.
Apa kau tidak suka ini?.
Kau tak lapar?", tanyanya sambil mengambil eomuk yang aku sodorkan padanya.
"Aku suka, tapi melihat mu makan sudah membuat ku merasa sangat kenyang", kata ku sambil tertawa.
Dan dia pun ikut tertawa.