
KIM RAE
Kamera staf mulai on dan telah menyorot ku beberapa kali.
"Tersenyumlah, walaupun itu senyum palsu", bisik Joon hyung padaku.
Dan aku mencoba menampilkan wajah tersenyum yang senormal mungkin.
Kamera terus menyorot kami bertiga hingga lampu ruang teater di padamkan.
Pementasan teater yang bertajuk 'MOON ON THE RIVERBAD' atau 'GANGBADAG-E DAL (BULAN DI DASAR SUNGAI)' ini baru saja di mulai.
Menurut Alea, pementasan ini merupakan adaptasi dari kumpulan puisi karya Yun Dong Ju, yang berkisah tentang harapan dalam sebuah perjuangan.
Yang kemudian di implementasikan pada kehidupan saat ini.
Aku tau Yun Dong Ju adalah penyair terkenal di korea.
Yun Dong Ju adalah warga korea yang lahir pada tanggal 30 Desember 1917 di tiongkok.
Yun lahir dan dibesarkan di sebuah keluarga Korea di Jilin, Tiongkok. keluarganya berasal dari Cheongjin di Provinsi Hamgyeong Utara, Korea Utara.
Keluarganya pindah ke Cina pada tahun 1886.
Yun belajar di Sekolah Myeongdong, dan lulus dari Sekolah Menengah Pyongyang Soongsil dan Universitas Seoul Yeonhee.
Selama tahun kedua di Yeonhee College, dia menerbitkan puisi di majalah anak laki-laki.
Setelah menyeberang ke Jepang, ia masuk Universitas Kyoto Doshisha pada tahun 1942 tetapi ditangkap oleh polisi Jepang atas tuduhan gerakan anti-Jepang pada tahun 1943.
Yun Dong Ju meninggal pada tanggal 16 Februari 1945 Saat dipenjara di Fukuoka. Beliau meninggal pada usia 27 tahun.
meninggalkan lebih dari 100 puisi.
Penyebab kematiannya di penjara Fukuoka tidak dapat di pastikan dengan jelas.
Namun ada beberapa rumor yang menyebutkan bahwa Yun Dong Ju meninggal karena eksperimen medis yang di lakukan di penjara tersebut.
Puisi-puisi Yun Dong Ju di terbitkan dengan judul : The Sky, the Wind, the Stars, and the Poem.
Kumpulan manuskrip puisi "The Sky, the Wind, the Stars, and the Poem" itu lha yang di adaptasi oleh Alea dan di jadikan sebagai sebuah pertunjukan teater.
Aku tidak tau banyak tentang puisi-puisi Yun Dong Ju.
Aku memang tidak begitu pandai soal sastra.
Tapi aku tau 1 puisinya
TIDAK ADA ESOK
Berulang ulang mereka bilang
“Besok, besok.”
Aku bertanya ke mereka
“Kapan datangnya?”
Dan mereka menjawab
“Ketika fajar, besok tiba.”
Kucari hari-hari baru sendiri.
Ketika aku bangun dan memandang sekitar
Tak kutemukan besok.
Malah kutemukan hari ini
Yang telah datang
Sahabat
Tidak ada esok!
...............................
Penampilan Nari sangat memukau.
Aku baru tau jika gadis manja ini bisa melakukan tarian kontemporer dengan cukup bagus.
Suaranya juga cukup lantang saat mengucapkan dialog.
"Bayi kecilku yang cantik", kata Joon hyung.
"Tidak akan ada yang mengira bahwa dia adalah gadis manja yang cengeng", sahut ku.
Ini sudah menit kesekian sejak pementasan ini di mulai dan ku lihat kamera masih saja menyorot ke arah kami bertiga.
Setelah Nari tampil, aku menoleh pada manager Sung yang ada di samping ku dan berbisik
"bisakah aku pergi ke belakang panggung sekarang?".
"Baiklah, tunggu hingga kamera fokus ke panggung, baru kau bisa pergi, lewatlah pintu belakang, aku akan segera menyusul mu"
Manager sung berjalan menghampiri kameraman yang menyorot kami bertiga dan kemudian berbisik sesuatu padanya.
Sesaat kemudian kamera berganti arah dan menyorot ke atas panggung.
"Hyung, aku akan pergi ke belakang panggung", bisik ku pada Joon hyung dan minki hyung.
"Baiklah, jangan membuat kekacauan", pesan Joon hyung pada ku yang kubalas dengan tepukan pelan di lengannya tanda bahwa aku mengerti.
Aku beranjak keluar ruang teater dengan hati-hati dan berusaha untuk tidak menimbulkan suara.
Di depan ruang teater sudah ada 2 orang bodyguard yang menunggu ku dan siap mengawal ku kemana pun aku pergi.
Aku sedikit berlari menuju belakang panggung di ikuti oleh kedua bodyguard ku.
"Kami akan menunggu di depan sini", ujar salah satu bodyguard ketika kami sampai di depan pintu ruang belakang panggung.
"Baiklah, terima kasih", ucap ku kepada mereka.
Aku masuk ke ruangan tersebut, ku lihat wajah-wajah yang sedikit tegang, mereka pasti sedang gugup.
Ku dapati Alea sedang berdiri di pintu masuk panggung.
Sebenarnya dia tampak mengagumkan dengan kostum dan riasan wajah itu, seandainya bukan pada situasi yang seperti ini, aku akan sangat menikmati pertunjukkan yang Alea suguhkan.
Ku ambil ponsel ku, dan ku potret Alea secara diam-diam.
Ku lihat Nari berdiri tidak jauh dari Alea, sepertinya sebentar lagi dia akan kembali masuk ke panggung.
"Nari-yaa, kau hebat sekali, penampilan mu luar biasa, berikan yang terbaik untuk kami", kata ku memberi semangat pada Nari.
"Kau baik-baik saja?", Tanya ku pada Alea.
"Ya. Kenapa kau disini?
Kenapa tidak duduk saja di bangku penonton?", Tanya lea.
"Lebih mengasikkan melihat dari sini".
"Nari, Dae Hoo bersiaplah", ujar Alea.
Dia tampak serius sekali, saat seperti ini Alea terlihat sangat keren dan mengagumkan.
Nari masuk ke panggung, beberapa saat kemudian di ikuti oleh Dae Hoo.
Nari benar-benar bagus, saat berada di panggung kesan manja dan cengengnya langsung menghilang.
Aku menikmati sekali semua adegan yang di lakukan oleh Nari.
Dan perhatian ku pada Nari tersita begitu aku melihat Alea meremas perutnya dengan mimik wajah menahan sakit.
"Kenapa?", tanya ku khawatir.
"Tidak, aku hanya gugup", jawabnya.
"Perut mu sakit?".
"Tidak, saat aku gugup, perut ku akan terasa sedikit tidak nyaman, itu hal yang biasa.
Diam lah, sebentar lagi giliran ku masuk".
Beberapa menit kemudian ketika lampu panggung padam, Nari dan beberapa orang temannya keluar panggung dan Alea segera bersiap untuk masuk.
"Bismillah", ku dengar Alea menggumamkan kata itu, entah apa artinya, mungkin penggalan dari dialognya.
Lampu panggung menyorot pada Alea yang telah berada di posisi senter.
Dia mulai bergerak perlahan, gerakannya lembut tapi penuh energi, dengan bentuk gerak yang sangat jelas.
"Gerakan yang indah", aku menoleh kepada suara yang ada di sebelah ku, Sungnim telah berdiri di sampingku.
"Hyujin dan Minki akan sangat senang bila bisa menari bersamanya", lanjut Sungnim.
Aku hanya diam saja dan fokus menatap Alea.
"Tutuplah mulut mu, jika kau tidak ingin ada serangga masuk kesana", kata manager Sung lagi.
Aku baru sadar bahwa sedari tadi aku menikmati gerakan Alea dengan mulut yang terbuka lebar.
Lampu panggung kembali padam.
Alea keluar dari panggung dan beberapa orang aktris lainnya masuk ke dalam panggung.
Alea merapat kan tubuhnya ke dinding, nafasnya berat, tangannya meremas perutnya.
"Kenapa? Apa yang terjadi", tanya ku panik.
Sungnim memberiku air mineral.
Segera ku buka tutup botolnya dan ku angsurkan pada Alea, ku bantu dia untuk minum.
Alea mendudukkan dirinya di lantai, mencoba untuk mengatur nafasnya.
"Kau baik-baik saja?", tanya ku lagi ketika ku lihat Alea sudah mulai bisa mengatur nafasnya.
"Ya".
Aku duduk di hadapan Alea, ku tatap dirinya intens sambil ku usap-usap lengan nya.
Sedetik kemudian Alea berdiri kembali.
Dia mulai mengatur dan memperhatikan aktris-aktrisnya lagi.
"Dia mirip seseorang", kata manager Sung sambil melirik ku.
Kulihat kini dia mengganti warna lipstiknya dengan warna merah menyala.
Sepertinya dia bersiap untuk masuk ke panggung lagi.
Dia menghampiriku dan meminta air minum yang tadi aku berikan padanya, segera ku serahkan botol air mineral yang aku pegang kepada Alea.
"Kau akan masuk lagi?", tanya ku.
"Ya".
"Kau yakin baik-baik saja?".
"Ya, tolong kaitkan ini", dia menyerahkan sebuah peniti ke pada ku, dia memintaku untuk mengkaitkan hijab belakangnya yang terlepas.
"Gumawo", ucapnya padaku.
Setelah itu Alea menghadap ke manager Sung dan membungkukkan badannya.
"Apakah anda staf BS?", tanya Alea.
"Ya, saya Sung, salah satu manager L-BOYS", manager Sung mengulurkan tangannya pada Alea dan lea menjabat tangan Sungnim.
"Maafkan saya karena tidak menyapa dan menyambut anda dengan baik.
Saya Alea.
Ah...maaf saya harus kembali masuk", kata Alea.
"Ya tentu saja, silahkan", jawab Sungnim.
Alea mengedipkan satu matanya padaku, kemudian dia membuka kipas lebar yang dia genggam dan kembali masuk kedalam panggung teater.
"Aku tidak akan terkejut jika kau tertarik pada gadis itu Rae", Sungnim merangkul pundak ku.
"Bukan seperti itu hyung, Alea mentor Nari dan sudah begitu dekat dengan Nari.
3 bulan ini Alea tinggal di rumah kami, jadi aku juga merasa dekat dengannya. Ku rasa hanya sebatas itu saja",
jawab ku dengan pandangan mata tetap terfokus pada Alea yang berada di tengah panggung.
Ku lirik manager Sung sekilas, dan dia hanya tersenyum pada ku.
Gerakan Alea lebih atraktif di bandingkan yang awal tadi.
Dia banyak bermain dengan kipasnya.
Aku harap nanti aku bisa meminta salinan rekaman pertunjukkan ini pada staf BS.
Aku menyambut Alea saat dia keluar panggung, kipas yang di pegangnya terlepas dari genggamannya, dia kembali meremas perutnya, nafasnya tersenggal-senggal, aku bisa merasakan tangannya yang mencengkram lengan ku sedikit gemetar.
"Sungnim, dia membutuhkan oksigen, tolong carikan oksigen" kata ku panik
Manager sung segera beranjak.
Aku mambantu Alea duduk di lantai.
"Lurus kan kaki mu",
Ku seka keringat di dahinya dan ku pijat kakinya pelan.
sesaat kemudian Sungnim kembali bersama 2 orang (mungkin tim medis) dengan botol oksigen di tangannya.
Sungnim menyerahkan botol oksigen itu kepadaku.
"Hirup ini".
Alea berusaha menghirup oksigen yang ku dekatkan di hidung dan mulutnya.
"Eonni...,
apa yang terjadi padanya oppa", Nari menghampiri ku dan Alea.
"Sepertinya dia kesakitan", jawab ku.
Nari akan memeluk Alea tapi ku cegah.
"Jangan lakukan, itu akan membuatnya semakin sesak".
Setelah beberapa saat ku jauhkan botol oksigen itu dari Alea, dan ku bantu dia untuk minum air.
selesai Alea minum, ku dekatkan kembali botol oksigen kepadanya.
"Kau perlu melonggarkan kostum mu", kata seorang tim medis itu.
"Tidak", jawab Alea.
"Menurutlah", ujar ku memohon.
"Tidak, aku harus masuk lagi", jawabnya lemah.
"Kau tidak mungkin masuk kembali dalam kondisi seperti ini.
Jangan paksakan dirimu Alea",
kata ku kalut.
"Aku baik-baik saja".
"Kau tidak dalam kondisi baik-baik saja".
Alea tidak menghiraukan kata-kata ku.
Alea mengusap bibirnya dengan telapak tangannya. Lalu mengambil sesuatu dari saku leging yang dia kenakan.
Di bukanya tutup benda kecil itu kemudian di oleskan pada bibirnya.
Dia mengganti lipstiknya dengan warna merah tua hampir hitam.
Aku tau dia tengah bersiap-siap untuk masuk panggung kembali.
"Ayolah Alea, jangan lakukan ini", mohon ku padanya.
"1 kali lagi, dan pementasan ini akan selesai", jawabnya.
"Ini gila Alea", kata ku frustasi.
"Tolong, biarkan aku menyelesaikan ini, aku sudah merasa jauh lebih baik sekarang".
Alea bangkit berdiri, aku dengan sigap membantunya berdiri.
Dia meminum airnya lagi, merapikan kostum dan hijabnya, kemudian menarik nafas panjang.
Dan dia kembali masuk ke panggung.
Aku menggigit bibir ku cemas.
Ku lihat gerakannya semakin kuat dan atraktif.
Ini benar-benar gila.
Dia sudah gila.
"Rae, kau harus kembali ke kursi mu.
Pertunjukkannya sebentar lagi selesai, kami perlu menyorot mu kembali.
Dan kalian bertiga perlu naik ke atas panggung untuk melakukan sesi pemotretan bersama anggota dewan beserta jajarannya",
Kata Sungnim.
"Aku tidak bisa melakukan itu hyung, aku benar-benar mengkhawatirkan kondisi Alea".
"Kau harus.
aku akan tetap disini untuk mengawasi Alea", Sungnim berkata tegas.
Dengan sangat terpaksa aku kembali ke kursiku di temani oleh 2 bodyguard ku.
"Bagaimana di dalam, semua baik-baik sajakan?", Tanya Joon hyung saat aku kembali duduk di tempat ku.
"Kau terlalu berlebihan Rae, lihatlah penampilan Alea sangat luar biasa", kata Minki hyung.
"Dia sedang kolaps", jawabku muram.
"Apa?", Tanya Joon hyung.
"Alea tidak dalam keadaan baik hyung, dia kolaps, dia hampir pingsan di belakang sana".
"Benarkah?
Tapi lihat lah dia, gerakannya penuh energi, seimbang tidak goyang sedikit pun, ekspresinya juga begitu bagus", Minki hyung tidak percaya.
"Aku yakin dia menahan rasa sakitnya sekuat tenaga", jawab ku.
"Waahhhh...., Aku benar-benar tidak percaya.
Lihatlah penampilannya tidak menampakkan kalau dia sedang dalam keadaan tidak baik", ujar Minki hyung.
"Dia mirip sekali dengan mu.
kau ingat, kau juga pernah hampir pingsan saat konser, tp kau bersikeras tetap ikut melanjutkan konser, bahkan kau tidak mau kami melepaskan ikat pinggang mu, dan di atas panggung kau tetap menari dan bernyanyi dengan antusias", kata Joon hyung.
Alea mengakhiri gerakannya dengan sangat indah.
aku berdiri dari duduk ku untuk memberikan applause atas pertunjukan yang baru saja berakhir ini.
Riuh tepuk tangan para penonton terdengar begitu semarak.
Ini pementasan yang luar biasa.
Bagaimana bisa Alea mengubah puisi menjadi pertunjukkan teater seperti ini???.
Bagaimana bisa dia tetap menari dalam kondisi hampir pingsan.
Sesaat kemudian semua aktris 'MOON ON THE RIVERBAD' atau 'GANGBADAG-E DAL' berdiri di atas panggung untuk melakukan salam penghormatan kepada penonton.
2,5 jam yang benar-benar memukau.
Direktur SSB memberikan sedikit sambutan.
Beberapa anggota dewan dan pejabat terkait naik ke atas panggung untuk mengucapkan selamat.
Dan sekarang giliran kami naik ke atas panggung untuk mengucapkan selamat.
Aku membawa buket mawar merah yang akan ku berikan pada Alea.
Joon hyung membawa buket mawar pink untuk di berikan kepada Nari.
"Selamat untuk pertunjukkan mu yang luar biasa", kata ku pada Alea sambil memberinya buket.
Dia tersenyum dengan manis, wajahnya pucat, peluh menetes di kening dan pipinya, tapi dia bersikap seolah semua baik-baik saja.
Akhirnya berakhir juga acara pada malam hari ini.
Kami bertiga segera bergegas keluar dari ruang teater di dampingi oleh bodyguard dan staf BS untuk menuju ruang tunggu artis.