BUSAN, LOVE AFTER GI

BUSAN, LOVE AFTER GI
13. I'M WORRIED ABOUT YOU



KIM RAE


Ku kerjap-kerjapkan mataku yang masih terasa sepat.



Aku terbangun karena gelitik cahaya matahari yang dengan tidak tahu diri menerobos masuk dari jendela kamar ku yang tidak tertutup rapat.


Jam di dinding kamar ku menunjukkan puku 08.41.


Aku menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah itu aku segera ke dapur, perut ku sudah sangat lapar sekali.


Untuk sarapan hari ini Alea masak apa ya?.


Aku jadi semakin lapar karena membayangkan maaakan Alea.


Kenapa sepi sekali?.


Kemana semua orang?.


Hyung pasti sudah berangkat ke kantor.


Nari pasti juga sudah berangkat ke sekolah


Alea? Nuna? Ada di mana mereka berdua.


Sekarang hari sabtu, seharusnya Alea libur latihan hari ini.


Apakah mereka sedang berbelanja?.


Aku menuju halaman belakang.


Ahhh....itu nuna, dia sedang merapikan tanamannya.


"Selamat pagi nuna", sapa ku.


"Pagi Rae, kau sudah bangun?


Apa tidur mu nyenyak semalam?".


"Ya, tidurku cukup nyenyak.


kemana semua orang, kenapa sepi sekali", tanyaku pada nuna.


"Sebenarnya siapa yang kau tanyakan?


Kau tau persis hyung mu sudah pasti ke kantor dan Nari ke sekolah", kata nuna sambil tersenyum menggoda ku.


"Emmm...ya, aku pikir hari ini hari minggu", jawab ku gugup.


"Benarkah? Hahaha".


"Alea pagi-pagi sekali sudah berangkat, katanya hari ini dia ada latihan", ujar nuna sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Aku tidak tanya soal Alea", kata ku sambil memalingkan muka.


"Ahhh...., Baiklah, maaf kan aku, anggap saja aku memberi mu informasi", nuna menggoda ku.


"Ishhh....", Decak ku dan lalu melangkah meninggalkan nuna.


Setelah beberapa langkah, aku berbalik kembali kearah nuna,


"Uummm...bukankah seharusnya dia libur di hari sabtu?".


"Dia? Dia siapa? Siapa yang kau maksud dengan dia?".


"Alea", desis ku pelan.


"Hahaha...., kau lucu sekali Rae.


sepertinya ada sedikit kendala dengan pekerjaannya dan Alea sedang berusaha menyelesaikannya".


"Benarkah?.


Aku harap dia tidak menghadapi kesulitan"


"Ya mudah-mudahan begitu, tapi aku rasa Alea gadis yang hebat, aku yakin dia bisa menyelesaikan semuanya".


"Ya, kau benar nuna".


"Kau sudah makan?".


"Mmm...belum".


"Makanlah, tadi pagi Alea membuat kimbab, dan susu mu yang di buatkan oleh Alea aku letakkan di dalam lemari es".


"Baiklah, aku akan makan".


"Ya bergegaslah, ini sudah cukup siang".


.............


Semalam Alea baru masuk kamar jam 2 dini hari, dan pagi-pagi sekali dia sudah bangun untuk membuat kimbab.


Dia pasti kurang tidur.


Aku merasa bersalah karena semalam memintanya mendengarkan keluh kesah ku.


Apalagi saat ini Alea sedang ada masalah dengan proses latihan untuk pementasannya.


Bahkan aku tidak tau apa masalah yang sedang dia hadapi.


Arggghhh.....bodohnya aku.


Aku malah memintanya menemaniku dan mendengarkan cerita ku saat Alea sendiri sedang menghadapi masalah.


...............


Sudah hampir pukul 5 sore, dan Alea belum juga pulang.


Nari juga belum pulang.


Seharian ini aku merasa frustasi.


Aku merasa sangat bersalah kepada Alea.


Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa.


Aku ingin menghubungi Alea.


Tapi aku tidak tau nomer ponselnya.


Sudah hampir 3 minggu dia tinggal di rumah ini, dan aku tidak tau nomer ponselnya.


Bagus sekali Rae, kau memang benar-payah payah.


Kenapa aku tidak telpon Nari saja, bukankah nari ada di sekolah dan Alea juga ada disana kan?.


Kenapa kau baru memikirkan hal ini sekarang Rae.


Ku ambil ponsel ku dan kutekan nomer kontak Nari.


Terdengar nada panggil beberapa kali.


"Yoboseyo", jawab Nari.


"Nari-yaa".


"Ya oppa, mengapa kau menelpon ku?".


"Kau dimana?".


"Aku masih di sekolah".


"Apa eonni mu ada disana?".


"Ya, dia ada disini sedang melatih Rona".


"Euummm..., Bisakah aku berbicara sebentar dengan eonni mu?".


"Baiklah, tunggu sebentar".


Aku mendengar langkah kaki Nari.



'eonni'.


'ya?'.


'oppa ingin berbicara dengan mu".


'ada masalah apa?'.


'entahlah'.


"Halo", ku dengar suara Alea di ujung sana.


"Alea".


"Ya, ada apa? Apakah ada masalah?".


"Tidak".


Apa kau sedang membutuhkan bantuan ku?".


"Ya aku baik-baik saja.


Yakkk....berhenti mencemaskan ku, aku yang seharusnya mencemaskan mu".


"Aku? Kenapa? Aku baik-baik saja".


"Kapan kau pulang?".


"Sepertinya akan sampai malam".


"Wae??


Bukan kah seharusnya kau libur hari ini?".


"Ya, tapi ada sesuatu yang harus aku selesaikan".


"Apa itu?".


"Bukan hal yang besar, hanya beberapa hal mengenai latihan".


"Ceritakan padaku".


"Ya, nanti akan ku ceritakan saat aku pulang".


"Ceritakan sekarang".


"Tentu saja tidak bisa, aku sedang melatih saat ini".


"Ahh...ya".


"Baiklah, akan ku serahkan ponselnya pada Nari.


Sampai jumpa di rumah".


"Halo, oppa".


"Nari-yaa, apakah kau juga sedang berlatih?".


"Tidak".


"Lalu apa yang kau lakukan disana?


Cepat pulang sekarang juga", teriak ku pada Nari.


"Yaaaa yaaa, aku akan pulang sekarang juga".


Ku putuskan sambungan telponnya tanpa berkata apa-apa lagi pada Nari.


Haruskah aku ke sekolah Nari untuk menemui Alea???.


Lama aku berpikir tentang apa yang harus aku lakukan.


Hingga.....,


"Aku pulang", ku dengar suara Nari baru saja masuk ke dalam rumah.


Aku akan ke sekolah Nari.


Aku benar-benar tidak tahan dengan semua ini.


Aku harus memastikan Alea baik-baik saja.


Aku segera berganti pakaian.


Aku kenakan hodie hitam ku lalu ku lapisi debgan mantel panjang.


Topi bisbol hitam, masker dan juga kacamata.


Aku sambar tas ransel hitam ku yang ada di meja.


Dan aku ambil kunci mobil yang ada di laci meja.


"Kau akan pergi?", Tanya nuna yang sedang menonton TV.


"Ya", jawab ku singkat sambil terus berjalan.


"Mau kemana?".


Tidak ku jawab pertanyaan nuna.


"Berhati-hatilah, jangan membuat masalah, telpon aku jika terjadi sesuatu", masih bisa ku dengar teriakan nuna saat aku meraih hendel pintu depan.


Aku segera menuju garasi.


Ku nyalahkan mesin mobil ku, ku kenakan sabuk pengaman.


Dan aku langsung meluncur menuju sekolah Nari.


Sekolah Nari tidak begitu jauh dari rumah.


Sesampainya di sekolah Nari, langsung saja ku parkir mobil ku.


Aku kenakan topi ku dalam-dalam.


layar ponsel ku menunjukkan


Pukul 18.43.


Aku lihat sekeliling ku sebelum aku membuka pintu mobil.


Sekolah Nari tampak sunyi,


Karena memang biasanya di hari sabtu pelajaran berakhir pukul 3 sore.


Hanya ada beberapa mobil yang masih terparkir disana.


Segera saja aku turun dari mobil


Kemudian bergegas menuju pintu utama sekolah.


Dan aku langsung menuju ke ruang pertunjukan.


Ya, aku lumayan tau seluk beluk sekolah Nari karena aku pernah beberapa kali kesini.


Aku buka pintu bagian belakang ruang pertunjukan perlahan.


Dan masuk secara diam-diam.


Ku lihat Alea sedang ada di panggung, tengah serius memperhatikan seorang siswa yang sedang menari.


Aku memilih duduk di kursi belakang paling pojok, agar keberadaan ku tidak terlihat.


"Kau melupakan beberapa hal", ujar Alea di depan sana.


"Benarkah?", Tanya siswa tersebut.


"Ya", Alea mulai menggerakkan tubuh nya.


Dan aku terkesima melihatnya


Dia benar-benar bagus.


Gerakannya terasa lembut tapi penuh dengan energi.


Dia juga sangat luwes melakukannya.


Kemudian Alea mengucapkan beberapa dialog.


Aku baru tau bahwa Alea pandai menari juga.


Dia pemain teater tapi dia juga sangat pandai menari.


"Ahh...ya, aku mengerti, maaf kan aku", kata siswa tersebut.


"Tidak masalah", kata Alea sambil tersenyum.


"Bisa tolong lakukan sekali lagi untuk ku", sambungnya.


"Baik", kata siswa tersebut dan kemudian melakukan seperti apa yang di lakukan Alea tadi.


"Bagus, kau tinggal menambahkan sedikit power dalam gerakan mu.


Baiklah, aku rasa ini sudah malam, dan kamu harus segera pulang, kita akhiri latihan kita hari ini sampai disini".


"Baik, terima kasih untuk kerja kerasnya hari ini", kata siswa tersebut sambil membungkukkan badan di hadapan Alea.


"Terima kasih sudah berusaha", balas Alea.


"Ah....rona, apakah aku perlu mengantar mu pulang?.


Ini sudah malam".


"Tidak perlu repot ssem, ayah menjemput ku, aku rasa sebentar lagi dia akan sampai".


"Baiklah, berhati-hatilah di jalan. Selamat malam".


"Selamat malam", balas siswa tersebut kemudian dia pergi meninggalkan Alea.


Sesaat setelah siswa itu menutup pintu ruang pertunjukan, dan aku yakin dia sudah benar-benar pergi, aku berdiri dari kursi ku hendak melangkah menghampiri Alea.


Tapi........