BUSAN, LOVE AFTER GI

BUSAN, LOVE AFTER GI
4. SORRY, TO WORRY YOU



KIM RAE


Aku membuka mataku, ternyata aku tertidur saat Alea mengompres dahiku semalam.


Ku lirik sisi kiri ku, dia tertidur disana, Alea duduk dilantai dan meletakkan kepalanya di atas ranjang.


Ku amati wajahnya, ku telusuri mulai dari mata terpejamnya, hidung dan bibirnya yang tertutup lengannya.



Benar kata Nari, bahwa Alea adalah orang yang baik.


Ada yang mengetuk pintu kamar ku, lalu pintu itu terbuka perlahan.


Nuna masuk ke dalam kamar, tapi seketika dia membeku, dia melihatku dan Alea bergantian.


Aku tau sebentar lagi dia pasti akan menjerit, maka ku beri dia isyarat untuk tidak melakukannya, agar Alea tidak terbangun karena terkejut.


Tapi terlambat, dia telah menjerit dengan lantang.


"Apa yang kalian berdua lakukan disini?", jeritnya.


Dan aku hanya mendengus.


Ku lihat Alea tersentak dari tidurnya karena terkejut mendengar suara teriakan nuna ku.


Dia menolehkan kepalanya menghadap nuna sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.


Sekarang hyung sudah berada di ambang pintu.


"Ada apa?", Tanyanya pada istrinya,


"Apa yang terjadi disini?", Sambungnya dengan ekspresi yang sama seperti istrinya, dia menatap ku dan Alea bergantian.


"Maafkan aku, aku..., aku...", kata Alea tergagap sambil membungkukkan badannya berkali-kali masih dalam posisi duduk dilantai.


"Semalam aku hampir pingsan dan dia menolongku", sahut ku.


"Maafkan aku", Alea tetap saja meminta maaf.


"Dasar bodoh, kenapa kau meminta maaf", kata ku pada Alea.


"Apa!!! Semalam kau hampir pingsan?" tanya hyung sambil menghampiriku yang masih dalam posisi tidur di ranjang.


"Semalam kau demam?", Sambungnya mengambil handuk kecil yang masih ada di dahiku.


"Dan Alea yang menolong mu?", Sahut nuna yang masih berdiri terpaku di depan pintu.


"Heemmm....", Jawabku.


"Kenapa kau tidak membangunkan ku Alea?", Tanya hyung pada Alea.


"Dia akan melakukan itu, dan aku melarangnya, karena aku tidak mau kalian menghawatirkan aku", aku yang menjawab pertanyaan hyung, karena ku lihat Alea semakin gugup.


"Aku, aku, maafkan aku" kata Alea sambil menunduk dalam.


"Kenapa meminta maaf terus bodoh", gumam ku heran.


Nuna menghampiri Alea dan memeluknya erat,


"Berhentilah meminta maaf, kau telah menolong Rae kami, entah apa yang akan terjadi padanya bila kau tidak menolongnya. Terima kasih Alea", kata nuna sambil mulai menangis.


"Hai bocah tengik, kenapa kau bisa sampai hampir pingsan? Kau benar-benar harus kami hajar", nuna berdiri menghadapku dan mulai marah tapi dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.


Aku mencoba bangun untuk duduk, dan hyung dengan sigap membantuku.


"Ooohhh...ayo lah nuna, aku baik-baik saja".


"Memang harus begitu, jika kau tidak baik-baik saja, aku akan memaki mu seumur hidup ku".


"Aku tidak mau melihatmu minum soju lagi, kali ini turuti perintah hyung mu".


Mereka berdua bergantian memarahiku, heemmm....hati ku terasa hangat menerima banyak cinta dari mereka.


Ku toleh Alea yang masih saja dudk di lantai dengan ekspresi bingungnya,


"Hai bodoh, mau sampai kapan kau duduk di lantai begitu", sindir ku padanya.


"Ya ampunnn..., Aku sampai melupakannya, Alea ayo istirahatlah dikamar mu, kau pasti lelah semalaman menjaga bocah tengik itu", ujar nuna sambil membantu Alea berdiri.


"Tidak eonni, aku baik-baik saja, aku akan membantu mu memasak", jawab Alea.


"Hanya semalam bersamanya dan kau sudah tertular keras kepalanya. Aku bilang kau harus istirahat".


"B-baik" jawab Alea gugup, dan segera berlari ke kamarnya.


Aku tersenyum melihat tingkah konyolnya.


Aku tersenyum??? Benarkah???.


"Aku akan memanggil dokter".


"Tidak hyung, tidak perlu, aku baik-baik saja".


"Terserah apa katamu, tapi aku akan tetap memanggil dokter", kata hyung sambil berjalan meninggalkan ku.


"Tidurlah lagi, aku akan memasakkan bubur untuk mu, jangan pikirkan apapun, tidur lah yang nyenyak, kau harus segera pulih", kata nuna yang sedang membantu merebahkan ku di ranjang dan membetulkan selimut ku.


"Ya baiklah".


...............


"Bagaimana dokter? Dia baik-baik sajakan?", Tanya hyung kepada dokter yang sedang memeriksaku.


"Ya, dia baik-baij saja.


untunglah kau segera menghisap inhaler mu dan kau tidak sampai pingsan, akan sangat fatal jika kau pingsan dan kehabisan oksigen", kata dokter Park sambil terus memeriksa ku.


"Saat ini dia hanya perlu beristirahat, jangan biarkan dia stres, stres akan memicu sesak nafasnya kambuh kembali".


"Baik dokter", jawab hyung.


"Dan sementara ini jauhkan dia dari soju, lambungnya dalam kondisi tidak baik", lanjut dokter Park.


Aku hanya tertawa kecil melihat hyung melotot padaku.


"Aku meresepkan beberapa vitamin untuknya, aku juga meresepkan inhaler yang baru", dokter Park menyerahkan secarik resep kepada hyung.


"Baik".


"Jaga kesehatan mu baik-baik Rae, jangan terlalu stres, cobalah untuk sedikit santai, nikmati cuti mu", pesan dokter Park sambil menepuk pundak ku.


"Baiklah dokter, terima kasih", jawab ku.


Hyung mengantar dokter Park keluar kamar.


Aku menarik nafas panjang, aku tau aku telah merepotkan banyak orang.


Tapi sekali lagi aku katakan, aku benar-benar tidak berdaya, rasa sakit yang Gi berikan membuat ku benar-benar hancur.


Aku tak tau apa yang harus aku lakukan dengan kecewa dan rasa sakit yang begitu menguasai ku ini.


Gi, kau benar-benar berengsek karena telah membuat ku menjadi seperti ini.


...................


Ku buka mata ku perlahan, ku sentuh dahiku, syukurlah pusing ku telah menghilang, aku pun tidak lagi demam.


"Oppa, kau sudah bangun? Apa kau baik-baik saja?".


Aku mendengar suara Nari di sebelahku.


"Ya, aku baik-baik saja", jawab ku sambil tersenyum.


"Kau membuatku khawatir, kau tak boleh sakit", katanya dengan ekspresi cemas.


Aku duduk dan bersandar pada tumpukan bantal.


"Kau menghawatirkan ku? Benarkah bayi kecil ku ini menghawatirkan ku? Bukankan kemarin kau menyuruhku kembali ke Seoul?", Goda ku padanya.


Dan kulihat wajah lucunya yang cemberut,


Ku cubit gemas pipi tembemnya.


"Jangan khawatir, oppa sudah jauh lebih baik sekarang".


"Benarkah?".


"Ya".


"benar kah eonni Alea yang merawat mu semalam?", Tanyanya lagi.


"Hemmm...", Jawabku sambil mengangguk.


"Sudah ku bilangkan, eonni ku memang sangat baik dan keren".


"Kau selalu memuji dia, tapi tidak pernah memuji aku. Apa aku tidak terlihat keren?", Tanyaku pura-pura merajuk.


"Saat ini kau sama sekali tidak keren".


"Benarkah?.


Tapi aku merasa masih sangat tampan".


"Tidak, kau terlihat sangat jelek, karena kau tidak pernah lagi tertawa".


Aku sedikit tersentak dengan jawabannya.


Beberapa bulan ini aku pasti terlihat sangat buruk.


Tok tok tok


Ku lihat Alea berdiri di depan pintu kamar sambil membawa nampan berisi makanan.


"Masuklah".


"Eonni memintaku memberikan bubur ini untuk mu", katanya sambil menaruh nampan itu di meja sebelah tempat tidur.


"Nari suapilah oppa mu, kalau tidak dia tak kan menghabiskan makanannya", kata Alea pada Nari.


"Tidak mau, eonni saja yang menyuapinya, dia tadi menggodaku".


"Mana bisa begitu".


"Tentu saja bisa, bukankah semalam eonni yang telah merawatnya.


Oppa bilang kau merawatnya dengan sangat baik, kata oppa, kau orang yang keren", ujar Nari sambil memperlihatkan dua ibu jarinya pada Alea.


"Hai, kapan aku bilang begitu?.


Kemari kau, akan ku jewer telinga mu".


Dan Nari berlari keluar kamar sambil tertawa sebelum aku sempat menggapainya.


"Benarkah aku keren?", tanya Alea padaku.


"Aishhh..., Jangan bermimpi".


"Aku keren kan?".


"Tidak".


"Katakan aku keren".


"Tidak".


"Ishhh..., nih makan sendiri bubur mu dan habiskan", kata Alea menyerahkan semangkuk bubur pada ku kemudian beranjak pergi.


"Hai...hai, kau tak akan menyuapiku?".


Blam...


Dia menutup pintu kamar ku.


Hahahahaha....ternyata dia sangat konyol.