BUSAN, LOVE AFTER GI

BUSAN, LOVE AFTER GI
20. ALEA COLLAPS



KIM RAE


Aku, Joon hyung dan Minki hyung sekarang sedang berada di ruang tunggu artis.


Ruangan ini sudah tidak begitu ramai, sepertinya para aktris sudah banyak yang pulang, hanya tinggal beberapa orang saja disana.


"Nari-yaa, penampilan yang sangat bagus", kata ku sambil memeluk Nari.


"Bayi kecil ku, kau membuat ku terpukau", ujar Joon hyung sambil memeluk Nari.


"Nari-yaa....., Kau luar biasa", Minki hyung pun memeluk Nari.


"Euumm...di mana eonni mu?", tanya ku pada Nari.


"Entahlah, sejak turun dari panggung aku belum melihatnya lagi", jawab Nari.


Minki hyung menyenggol lengan ku,


Aku menoleh kepadanya


Dia memberi ku isyarat dengan gerakan kepalanya.


Ku edaekankan pandangan ku pada arah yang di isyaratkan Minki hyung tadi.


Alea....


Dia sedang duduk sendirian di pojok ruangan.


Kepalanya di rebahkan di atas meja rias, wajahnya tersembunyi di antara lengannya.


"Hampiri dia", kata Minki hyung pada ku.


Perlahan ku dekati Alea,


"Hai", sapa ku.


Alea mengangkat kepalanya, memandang ku yang berdiri di sampingnya.


Wajahnya terlihat sangat pucat, apalagi setelah dia tidak lagi menggunakan make up.


Dia meremas perutnya kuat.


Dia mencoba untuk tersenyum padaku.


Dan ketika dia hendak berdiri,


tubuhnya ambruk.


Aku segera menangkap tubuhnya sebelum terjatuh ke lantai.



Semua yang ada di ruangan itu terkejut melihat Alea pingsan.


"Off kan kamera", perintah Sungnim pada kameraman.


dan kameraman segera mematikan kamera yang mereka pegang.


Ku gendong tubuh gadis itu.


Ku bawa ke sofa panjang yang ada di tengah ruangan.


Ku tidurkan Alea disana.


"Alea, Alea", kata ku perlahan.


Aku mencoba menyadarkannya, ku gosok-gosok telapak tangannya yang dingin.


Ku dengar suara tangis Nari di belakang ku.


Aku menggeser tubuhku ketika seorang dokter datang untuk memeriksa Alea.


"Kondisinya cukup buruk, kita harus segera membawanya ke rumah sakit".


Kepala sekolah SSB yang sedang ada disana segera menelfon ambulan.


"Apa yang terjadi padanya?", tanyaku pada dokter yang memeriksa Alea.


"Harus di lakukan pemeriksaan lebih intensif lagi untuk mengetahui penyebab pastinya.


tapi aku cukup yakin ada masalah dengan perutnya.


perutnya sangat keras.


pasti perutnya mengalami nyeri yang luar biasa.


Nafasnya normal, detak jantung dan nadinya juga masih terbilang normal.


Tapi kita tetap harus segera membawanya ke rumah sakit".


"Ambulan akan datang terlambat, jalanan macet karena ada pesta kembang api", kata kepala sekolah SBB.


aku menghantam dinding dengan sangat keras menggunakan ke dua tangan ku karena kalut.


"Tenanglah", Minki hyung mengusap-usap pundak ku mencoba membuat ku tenang


"Bagaimana aku bisa tenang, lihat lah kondisinya hyung", kata ku penuh emosi.


"Tidak bisakah kita membawanya menggunakan mobil kita Sungnim?",


tanya ku pada Sungnim.


"Jika ambulan terjebak macet, maka kemungkinan besar mobil kita pun pasti akan terjebak macet", ujar Sungnim.


"Yang di katakannya benar".


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?


Hanya menunggu seperti ini?", tanyaku frustasi.


"Tenanglah Rae, semua akan baik-baik saja", appa Nari mencoba menenangkan ku.


Dan aku hanya mendengus kesal.


Aku duduk di dekat Alea.


Ku genggam tangannya erat, sambil ku rapal semua do'a untuk keselamatannya.



Tidak ku pedulikan semua mata tertuju padaku.


Yang ku pikirkan saat ini hanyalah tentang keselamatan Alea.


"Ambulan akan tiba 10 menit lagi", kata kepala sekolah SSB.


"Syukurlah", seru hampir semua orang yang ada di sana.


"Sungnim, aku akan mendampingi Alea di dalam ambulan", kata ku sambil tetap menatap Alea.


Sungnim berjalan mendekatiku.


"Itu tidak mungkin, kita harus kembali ke hotel, akan terjadi kehebohan jika ada yang melihatmu menaiki ambulan", kata Sungnim.


"Aku tidak peduli, buatlah cerita apapun jika hal itu terjadi", jawab ku berkeras.


Sungnim memijat kepalanya mendengar jawaban ku.


Mereka semua tau akan percuma mendebat ku, di saat seperti ini aku akan melakukan apapun yang aku mau.


Petugas ambulan datang


Ku gendong Alea dan ku tidurkan dia dengan hati-hati di atas brankar.


Aku telah mengganti jas ku denganĀ  hodie milik Sungnim, aku juga mengenakan masker, topi dan kacamata.


Aku akan mendampingi Alea di dalam ambulan.


Joon hyung, Minki hyung dan Sungnim akan ke rumah sakit bersama hyung, nuna dan Nari menggunakan mobil hyung.


Sedangkan staf akan kembali ke hotel menggunakan mobil L-BOYS.


Tentu saja sebelumnya Sungnim telah meminta kepada semua orang yang ada disana untuk tidak menceritakan apapun yang mereka lihat.


kami semua keluar dari gedung Busan Cinema Center melalui pintu belakang.


Brankar di dorong oleh tim medis dengan setengah berlari.


Sedangkan aku berjalan dengan cepat sambil menundukkan kepala dalam-dalam di belakang mereka.


Kami berhasil masuk ke dalam ambulan tanpa ada gangguan.


Dan ambulan pun segera berangkat menuju rumah sakit terdekat.


Di dalam ambulan tim medis memasangkan selang oksigen pada Alea.


Memeriksa detak jantung dan nadinya.


Serta mengukur tekanan darah Alea.


"Bagai mana?", tanya ku kepada mereka setelah mereka selesai memeriksa.


"Tekanan darah nya cukup rendah", jawabnya.


"Apakah akan berbahaya?", tanyaku cemas.


"Tenanglah, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit, dia akan segera mendapatkan pertolongan".


Kami telah sampai di rumah sakit, dokter telah menunggu di depan pintu masuk UGD.


Beberapa orang perawat segera mendorong brankar memasuki ruang unit gawat darurat.


"Anda tidak boleh masuk, silahkan duduk di ruang tunggu", kata seorang perawat kepadaku.


"Selamatkan dia", kata ku memohon.


"Kami akan berusaha yang terbaik", kata dokter sambil tersenyum.


Aku hanya bisa pasrah menyerahkan semuanya kepada dokter dan tim medis.


Hyung, nuna, Nari, Joon hyung, Minki hyung dan Sungnim telah tiba di rumah sakit, mereka menghampiriku yang tengah berjalan mondar mandir di depan ruang perawatan Unit Gawat Darurat.


"Bagaimana?", tanya hyung.


"Mereka masih memeriksa Alea", jawab ku.


"Duduklah, tenangkan dirimu, semua akan baik-baik saja", kata Joon hyung.


Dan saat aku menuju kursi ruang tunggu....


"Kim Rae-ssi", panggil seseorang yang tiba-tiba saja berdiri di depan ku.


"Ah...ya", kata ku sedikit terkejut.


"Ahhh....aku tidak percaya bisa bertemu dengan anda disini.


Aku sangat senang sekali bisa bertemu anda.


Aku VVIP, aku adalah fans berat anda", kata wanita di hadapan ku itu girang.


"Ah...ya terima kasih atas dukungannya padaku", kata ku sambil membungkukkan badan dan mencoba tersenyum.


"Bolehkan aku foto bersama mu?", tanyanya.


Ku lihat Sungnim segera menghampiriku.


"Maafkan kami nona.


Rae sedang tidak dalam keadaan yang baik, aku harap anda bisa mengerti", kata Sungnim.


"Ahhh...apakah anda sedang sakit?", tanyanya terkejut.


"Tidak, bukan aku, kerabat ku yang sedang sakit", jawab ku.


"Ku harap kerabat anda cepat sembuh", katanya lagi.


"Ah ya, terima kasih banyak.


Mmm...maafkan aku karena tidak bisa berfoto dengan anda, dan bisakah aku meminta 1 permintaan kecil pada anda?", tanyaku padanya.


"Ya tentu saja".


"Bisakah anda merahasiakan tentang pertemuan kita hari ini?", tanya ku,


"Aku tidak ingin VVIP mencemaskan aku, dan jika wartawan tau, akan terjadi ya....".


"Kehebohan besar", sambungnya.


"Ahhh...ya, itu maksud ku".


"Baiklah, aku akan melakukannya untuk anda.


Semoga kerabat mu cepat sembuh.


Senang sekali bisa bertemu dengan mu", katanya lagi.


"Ya, terima kasih" ,jawab ku.


Setelah wanita itu pergi, kami semua menghembuskan nafas lega.


Dan tepat pada saat itu seorang perawat keluar menemui kami.


"Dokter ingin berbicaraa pada wali pasien atas nama Alea", kata perawat tersebut.


"Ya, aku walinya", jawab ku segera.


Tidak ku pedulikan tatapan putus asa dari semua orang.


"Silahkan ikut dengan ku" kata perawat tersebut.


Aku mengikutinya menuju ke ruang dokter yang ada di dalam unit gawat darurat.


"Selamat malam dokter", sapa ku saat memasuki ruangannya


"Selamat malam, silahkan duduk".


"Apakah kondisi Alea menghawatirkan dokter", tanyaku cemas.


"Pasien mengalami pendarahan di lambungnya, yang disebabkan oleh tukak lambung yang telah parah".


Dokter memperlihatkan padaku foto scan organ perut Alea.


"Ini adalah tukak lambung yang telah pecah dan mengakibatkan pendarahan.


Tukak lambung ini merupakan kelanjutan dari penyakit maag yang pasien derita.


Pasien menderita maag yang cukup kronis, sehingga menimbulkan tukak atau bisul di lambungnya.


Asam lambung yang naik secara drastislah yang menyebabkan tukak lambungnya pecah dan mengakibatkan pendarahan di lambungnya.


Karena itu pasien memerlukan tindakkan operasi saat ini juga.


Apalagi tekanan darah pasien juga rendah".


"Apakah ini operasi besar yang berbahaya dokter?", tanyaku.


"Akan lebih berbahaya jika tidak segera dilakukan operasi.


Karena pendarahannya harus segera di hentikan".


"Baiklah dokter, lakukan apapun yang terbaik untuk menyembuhkan Alea".


"Tentu saja kami akan berusaha sebaik mungkin.


Silahkan menuju ke bagian administrasi untuk melengkapi dokumen yang di perlukan.


Kami akan melakukan persiapan operasi sekarang juga".


"Saya berharap banyak kepada anda", kata ku sambil menjabat tangannya.


Semua dokumen yang di perlukan sudah ku lengkapi dan ku tandatangani.


Aku juga telah membayar biaya awal yang di perlukan.


"Bagaimana?", tanya Sungnim.


"Alea mengalami pendarahan di lambungnya, dan dia akan segera di operasin malam ini juga", kata ku pada mereka.


"Aku sudah mengurus semuanya.


Hyung, nuna sebaiknya kalian pulang, Nari pasti sangat lelah.


Aku akan tetap disini menunggu Alea".


"Sebaiknya memang begitu.


Joon dan Minki kalian juga harus kembali ke hotel.


Aku akan menemani Rae disini.


Kalian berdua terlalu mencolok.


Akan terjadi kekacauan jika berita ini menyebar", ucap Sungnim.


"Apa tidak masalah kau sendirian disini?", tanya hyung.


"Jangan khawatir hyung, Sungnim menemani ku disini", jawab ku.


"Baiklah, kami akan pulang sekarang, beri tahu kami jika terjadi sesuatu", kata hyung.


"Baiklah, berhati-hatilah di jalan", jawab ku.


"Oppa jagalah eonni ku", ucap Nari.


"Tentu saja, aku akan menjaga eonni mu baik-baik", ku peluk Nari.


"Jaga diri baik-baik", nuna memeluk ku.


"Tentu", kata ku.


"Ayolah, aku akan mengantar kalian ke hotel", kata hyung kepada Joon hyung dan Minki hyung.


"Rae, selalu kabari kami apapun yang terjadi", pesan Joon hyung padaku.


Minki hyung memeluk ku,


"Aku akan selalu mendukungmu", katanya padaku, yang ku balas dengan tepukan di punggungnya.


Saat ini hanya aku dan sungnim saja yang berada disini.


Mudah-mudahan oprasi Alea berjalan dengan lancar.


Kau berhasil membuat ku kalut Alea.