
ALEA AL ZAHIRA
Aku sudah pulang dari rumah sakit sejak 2 minggu yang lalu.
Sekarang aku sudah benar-benar pulih dan sehat kembali.
Bahkan 1 minggu ini aku sudah mulai memasak makan pagi lagi.
Sebenarnya aku sudah merasa pulih dan sehat sejak keluar dari rumah sakit.
Tapi eonni dan Rae benar-benar tidak membiarkan ku melakukan apapun.
Kata-kata favorid mereka setelah aku pulang dari rumah sakit adalah "ALEA BERISTIRAHATLAH".
Padahal sudah ku bilang bahwa aku baik-baik saja.
Aku sudah sembuh dan tidak merasakan sakit lagi.
Dan aku terlalu bosan untuk tidak melakukan apapun.
Tapi mereka tetap berkeras bahwa aku harus banyak istirahat.
Beberapa hari yang lalu, Rae mengantar ku untuk memeriksakan diri dan konsultasi kepada dokter Nam.
Dan dokter Nam sudah mengijinkan aku untuk kembali ke Indonesia karena kondisiku sudah pulih dan sehat kembali.
Dokter Nam membekali ku beberapa macam vitamin untuk menjaga stamina dan imunitas tubuh ku.
Dan malamnya aku langsung memesan tiket pesawat untuk pulang ke Indonesia dalan minggu ini juga.
Aku merasa sudah terlalu banyak merepotkan keluarga Mr. Kim, aku sangat merasa tak enak.
Dan pada keesokan paginya saat kami sedang makan pagi, aku mengatakan kepada mereka semua bahwa aku akan pulang ke Indonesia dalam beberapa hari ke depan, aku sudah memesan tiket pesawatnya.
Aku melihat ekspresi wajah Rae yang langsung berubah.
Dia menghentikan makannya dan meninggalkan meja makan dengan makanan yang masih tersisa separuh di piringnya.
"Aku selesai", kata Rae saat itu.
"Hai, makanan mu belum habis, selesaikan dulu makan mu", aku memintanya untuk menghabiskan makannya.
"Aku sudah kenyang", katanya sambil berlalu menuju kamarnya.
Dan kami semua yang masih ada di meja makan hanya saling pandang dengan heran.
Karena biasanya dialah yang makan paling banyak.
Tapi saat ini dia meninggalkan meja makan bahkan sebelum menghabiskan makanannya.
....................
3 hari lagi aku akan kembali ke Indonesia.
Tapi ada yang aneh dengan sikap Rae, aku merasa dia jadi lebih pendiam.
Setiap kali aku tanya ada apa?
Rae hanya menjawab, "tidak terjadi apapun, hanya sedang memikirkan satu dua hal saja".
"Apa ingin membaginya dengan ku?", tanya ku saat itu.
"Tidak, ini bukan hal yang penting", jawabnya sambil memalingkan wajahnya.
"Ah, baiklah.
Kau tau kan, aku akan selalu siap mendengar mu".
"Ya, aku tau. Gumawo".
Apakah Rae ada masalah lagi dengan Gi mantan kekasihnya?.
Kenapa harus begini di saat aku akan pulang ke Indonesia.
Sikap Rae membuat ku tidak tenang.
Bagaimana aku bisa meninggalkannya dengan tenang jika badai kembali menghampirinya.
Aku kira dia sudah baik-baik saja.
Sudah sembuh dari rasa sakitnya.
Tapi sepertinya tidak.
Sepertinya dia belum sembuh.
Dia belum baik-baik saja.
Lalu apa yang harus aku lakukan???.
Ada semacam perasaan tidak rela untuk meninggalkannya pulang ke Indonesia jika dia dalam kondisi tidak baik-baik saja.
Aku ingin menjadi payungnya setiap hujan datang menghampirinya.
Kebersamaan kami selama hampir 4 bulan ini cukup berkesan untuk ku.
Bisa di bilang saat ini kami sudah cukup dekat.
Ada banyak hal yang aku dan Rae lakukan bersama.
Bernyanyi bersama.
Olah raga bersama
Tertawa bersama.
Bercanda.
Menjahili Nari.
Kami juga pernah beberapa kali menari bersama.
Kami juga cukup sering selca berdua.
Membuat foto-foto atau video konyol.
Dan tentu saja saling bercerita juga.
Bercerita tentang apapun.
Dia bahkan sering bertanya soal agama ku.
Tentang aturan-aturan di dalam islam dan lain sebagainya.
Malam ini aku tidak benar-benar bisa tidur dengan nyenyak.
Aku memikirkan Rae.
Ya, itu ku akui
Aku mengingat kembali tentang semua hal yang pernah aku lakukan bersamanya.
Saat aku menuju dapur untuk memasak makan pagi.
Ku lihat Rae tengah duduk di kursi tinggi yang ada di dapur.
"Selamat pagi", sapa ku padanya sambil tersenyum.
"Pagi".
"Tidak biasanya jam segini kau sudah bangun", tanya ku heran sambil mengenakan celemek.
"Aku tidak bisa tidur".
"Kenapa?.
Apa ada yang sedang kau pikirkan?", Tanya ku dengan harapan dia mau membagi sedikit saja apa yang menjadi beban pikirannya selama ini.
"Hanya satu dan dua hal saja, bukan hal yang penting".
Dan Rae menjawab dengan jawaban yang sama.
"Kau mau masak apa pagi ini?", sambungnya lagi.
"Japchae dan omlet, apa kau menginginkan sesuatu yang lain?".
"Tidak, aku suka itu.
Apa yang bisa ku bantu?", tanyanya sambil mendekati ku.
"Tidak perlu repot, ini bukan hal yang sulit, duduk saja di situ, ini akan cepat tersaji", tolak ku.
"Tapi aku tetap ingin membantu mu.
aku asisten koki yang hebat di dorm L-BOYS.
Jadi apa yang bisa ku lakukan?", katanya bersemangat.
"Baiklah tuan asisten koki.
Pakai dulu celemek mu", aku menyerahkan celemek padanya.
Aku suka melihatnya bersemangat seperti ini.
Dia memutar-mutar celemek pemberian ku, dia terlihat sangat lucu dengan wajah bingungnya itu.
"Hahahaha.....", aku tidak dapat menahan tawaku.
"Sepertinya ini terbalik", katanya nyengir.
"Bagaimana bisa asisten koki tidak tau cara menggunakan celemek", ujar ku sambil mulai membantunya memasang celemek.
"Bagaimana? Aku semakin tampankan?", kata Rae setelah aku selesai memakaikan celemek kepadanya.
Dia berpose dengan meletakkan 1 tangan di pinggang, dan tangan lainnya di pipi.
"Ya ya, kau sangat tampan tuan panda.
Bisa kita mulai sekarang memasaknya?".
"Tentu saja, berikan perintah mu padaku".
"Kupas dan cuci semua ini, lalu potong-potong".
"Oke, kupas, cuci, potong-potong, itu keahlian ku".
"Sudah ku cuci semua, sekarang bagaimana aku harus memotongnya?", tanyanya.
Aku mengambil pisau dan memberinya contoh cara memotong.
"Awas hati-hati jari mu bisa teriris", dia selalu seperti itu padaku,
Perhatiannya sangat besar bahkan pada hal kecil yang aku lakukan.
Kami memasak sambil sesekali bercanda, ini menyenangkan.
Aku suka melihat Rae bertingkah konyol dan tertawa lebar.
Dia sempat mengajak ku selca beberapa kali, Rae juga merekam aktivitas kami dengan ponsel nya.
Aku menyuapinya sesendok japchae,
Dan dia mengangkat 2 ibu jarinya padaku.
Rae mulai menata semuanya di atas meja makan.
Sedangkan aku tengah membuat teh hangat untuk eonni dan Mr. Kim serta susu panas untuk Rae dan Nari.
"Selamat pagi", ku dengar Rae menyapa seseorang.
"Kau membantu Alea memasak ini",
tanya eonni pada Rae sambil memperhatikan japchae, omlet, kimchi dan nasi yang sudah tertata di atas meja makan.
"Ya...dan ini rasanya pasti akan sangat lezat, chef Alea dan chef Rae yang memasaknya", ujarnya bangga.
"Aku tak sabar ingin mencicipinya", kata eonni.
Sesaat kemudian hyung dan Nari telah ikut duduk di meja makan bersama kami.
"Oppa, ini benar-benar enak", kata Nari.
"Ya, ini lezat.
Lea, bolehkah aku membawa japchae ini untuk bekal makan siang ku di kantor?", tanya Mr. Kim.
"Aku juga mau, bekal japchae".
"aku akan menyiapkannya", kata ku sambil beranjak dari kursi.
"Aku saja yang menyiapkannya untuk mereka, nikmati saja makan pagi mu", ujar eonni menghentikan pergerakan ku.
"3 hari lagi kau akan kembali ke Indonesia, nikmatilah sisah waktu mu disini, bersenang-senanglah.
Rae, antarkan dia berkeliling kota Busan, selama tinggal di sini, Alea belum sempat berkeliling Busan", kata Mr. Kim.
"Tidak perlu Mr. Kim, itu akan sangat merepotkan Rae-ssi, aku tidak mau ada masalah karena itu", jawab ku.
"Tidak akan ada masalah, aku hebat dalam menyamar", jawab Rae.
"Rae benar, jadi kau tak perlu khawatir Alea", ujar eonni.
"Ayo Nari, appa sudah terlambat.
Selamat bersenang-senang Alea.", kata Mr. Kim.
"Selamat bersenang-senang eonni", Nari memeluk ku dan mencium pipiku.
"Kami berangkat....".
"Aku akan bersiap-siap, jadi kau juga harus bersiap-siap.
Kita harus segera berangkat, banyak tempat yang harus kita kunjungi", perintah Rae pada ku.
...................
30 menit kemudian, Rae sudah menunggu ku di ruang tamu.
Seperti biasa, aku menggunakan hodie, masker, kacamata dan topi.
Tak jauh beda darinya, aku juga menggunakan jaket, masker dan kacamata.
"Sudah siap?", tanya Rae.
"Ya, emmm....tidak masalahkah?", tanyaku ragu.
Rae tidak menghiraukan perkataan ku.
"Nuna, kami berangkat", teriaknya sambil menarik tangan ku.
"Ya, berhati-hatilah, jaga Alea baik-baik untuk ku Rae.
Selamat bersenang-senang", sahut eonni.
...............
Mobil yang kami tumpangi meluncur di jalanan Busan dan entah mengarah kemana.
"Kita mau kemana?", tanya ku.
"Kamu orang yang suka menikmati karya seni kan?".
"Ya".
"Aku akan mengajak mu ke tempat di mana seluruh area yang akan kita datangi ini adalah karya seni".
"Musium?", tanya ku lagi.
"Lebih hebat dari itu", jawab Rae sambil tersenyum.
Saat ini kami telah sampai di sebuah desa yang sangat indah, dengan latar belakang gunung yang megah.
Aku terkesima melihat pemandangan yang ada di hadapanku ketika mobil telah berhenti.
"Gamcheon Culture Village, Santorini Korea, Machu Picchu of Busan", gumam ku.
"Kau tau tempat ini?", tanya Rae
"Tentu saja, tempat pengungsian pada tahun 1950an saat perang civil Korea yang kemudian pada tahun 2009 di ubah menjadi destinasi wisata yang mengagumkan", kata ku dengan mata berbinar-binar.
"Wooww....kamu tau rupanya, siap mengelilingi desa ini?".
"Kaki ku cukup kuat untuk itu, gajja", seru ku bersemangat.
Gamcheon Culture Village ini serupa dengan kampung Jodipan dan kampung Tridi yang ada di kota Malang Indonesia.
Kampung atau desa dengan rumah yang di cat warna warni di hiasi lukisan mural di setiap incinya.
Sama seperti Jodipan dan kampung Tridi yang awalnya merupakan perkampungan kumuh.
Gamcheon Vulture Village ini awalnya juga merupakan tempat pengungsian kumuh warga Korea saat terjadi perang civil Korea yang berakhir dengan terpecahnya korea menjadi 2, Korea Selatan dan Korea Utara.
Saat itu Busan adalah satu-satunya kota yang tidak mendapatkan serangan, maka banyak warga Korea dari berbagai kota lari ke busan untuk bersembunyi dan menyelamatkan diri. Dan di desa inilah mereka mendirikan kampung pengungsian.
Kami berjalan mengelilingi desa Gamcheon yang jalanannya serupa dengan labirin, banyak sekali gang-gang dan lorong-lorong di desa ini, tapi tidak perlu khawatir tersesat, jika tersesat kita tinggal mengikuti ikan (papan penunjuk jalan berbentuk ikan).
Rumah yang bercat warna warni serta lukisan mural yang tersebar di seluruh lorong, atap, dinding dan aspalnya membuat ku tidak berhenti mengucap kata woowww.
Kami mengambil banyak sekali foto dan rekaman video di setiap sudut desa Gamcheon.
"Ini benar-benar surganya seni jalanan", kata ku kagum.
Aku membeli banyak cinderamata untuk oleh-oleh keluarga dan kerabat ku di Indonesia.
Kami juga membeli camilan-camilan yang banyak di jual di sana, es cream, es loli, hoettoek, kue tetes hujan dan masih banyak lagi.
Setelah puas berkeliling desa Gamcheon, kami kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan kami ke tempat wisata berikutnya.
"Kau lelah?", tanya Rae pada ku saat berada di dalam mobil.
"Tidak, aku sangat bersemangat".
"Apa kau lapar?.
Kau ingin makan dulu sebelum kita lanjutkan perjalanan".
"Perutku masih sangat kenyang, aku makan camilan sangat banyak di dalam sana tadi", kata ku sambil mengusap perut.
"Baiklah, kita berangkat sekarang", dan dia mulai mengemudikan mobil nya.
Mobil telah kembali melaju di jalanan busan.
"Kemana kita sekarang?", tanya ku.
"Kau akan tau nanti.
Kau begitu hebat di atas panggung, tapi aku tidak yakin nyali mu sehebat itu di tempat ini".
"Tempat uji nyali rupanya, kau mau bertaruh dengan ku?.
Kau boleh minta apa saja jika ternyata aku memang tak punya nyali disana", kata ku.
"Benarkah? Setuju.
Kau boleh minta apapun padaku jika ternyata kau memang seorang pemberani", Rae menyanggupi tantangan ku.
"Sepakat", ujar ku penuh percaya diri.
.........................
"Oryukdo Skywalk", jerit ku ketika kami telah sampai di lokasi wisata.
"Kau ingin menguji nyali ku disini? Gajja, akan ku tunjukkan padamu seberapa besar nyaliku", sambung ku.
"Kau juga tau tempat ini?.
Daebak".
Jembatan kaca ini serupa dengan Glacier Skywalk yang ada di Kanada tapi dalam versi kecil.
Jika Glacier Skywalk di Kanada yang berbentuk setengah lingkaran itu memiliki panjang 400 meter dengan ketinggian 280 meter dari permukaan tanah.
Oryukdo Skywalk di Busan memiliki ketinggian 35 meter di atas laut dengan rentang 15 meter menjorok ke laut dan berbentuk hutuf "U".
Meskipun Oryukdo Skywalk ini tidak sebesar Glacier Skywalk di Kanada, tapi tetap saja ini sangat luar biasa, apalagi letaknya berada di atas permukaan laut dengan pemandangan yang sangat indah.
"Aaahhh.....ini sangat cantik", seru ku saat berada di atas Oryukdo Skywalk.
"Dari jembatan ini kita bisa melihat pulau Oryukdo (gugusan 5-6 pulau)
5-6 pulau tergantung pasang surutnya air laut", jelas Rae sambil menunjuk gugusan pulau di depan kami.
"Apa pulau-pulau itu berpenghuni?", tanya ku kemudian.
"Tidak, kecuali pulau Deungdaedo, pulau Deungdaedo itu memiliki mercusuar".
"Baiklah, apa aku perlu melompat-lompat disini untuk membuktikan nyali ku?", tanya ku sambil tersenyum jahil.
"Tidak, jangan lakukan itu, baiklah aku kalah, kau boleh minta apapun dari ku".
"Eemmm....belum terpikirkan.
nanti akan ku beritahukan pada mu jika sudah ada yang aku inginkan", ujar ku.
Kembali kami mengambil benyak foto dan rekaman video di Oryukdo Skywalk.
Kami mampir ke sebuah restoran untuk makan sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat wisata selanjutnya.
Setelah makan, kami melanjutkan perjalanan wisata kami.
Mobil yang di kendarai Rae telah meluncur kembali membelah jalanan kota Busan.
Enatah kemana lagi dia akan membawaku.