BUSAN, LOVE AFTER GI

BUSAN, LOVE AFTER GI
31. MOON IN THE DARK SKY



ALEA AL ZAHIRA


Besok aku akan meninggalkan Busan.


Hampir 4 bulan aku disini


Ada banyak sekali kenangan yang aku dapatkan selama di Busan.


Mr. Kim dan nuna yang sangat baik padaku.


Nari yang lucu dan menggemaskan


Dan Rae yang....yang....,


Entahlah.


terlalu banyak ulasan yang harus aku jabarkan tentang Rae.



Malam ini aku tidak dapat tidur.


Ada sesuatu yang tidak dapat terucap.


Mengambil alih paksa kantuk ku.


Membuat ku terus terjaga.


Dan aku terus memikirkan hal itu tanpa jeda..


Aku mengambil selembar kertas.


Aku mulai menuliskan aksara.


Menjadi barisan kalimat untuknya.



Entah mengapa ada yang terasa kosong di hati ku.


Malam ini hujan turun di luar sana.


Malam semakin larut, pekat bagai kerudung hitam seorang penari.


Dan aku masih juga terjaga di sini.


....................


Hari ini aku akan pulang ke Indonesia, menggunakan penerbangan terakhir, pukul 8 malam.


Perasaan ku....


entahlah bagaimana perasaan ku


Aku tidak dapat mengartikannya dengan pasti.


Terlalu banyak kenangan yang aku ciptakan di sini.


Terlalu banyak kisah yang aku rajut di sini.


Terlalu banyak cerita yang terangkai di sini.


Rae....,


Ah...pria itu.


Sejak kemarin aku merasa dia sedikit sensitif.


Dia tidak banyak bicara.



Dan lebih cenderung menghindari tatapan mataku.


Tapi saat aku tidak melihatnya, dia akan dengan intens memandangku lekat-lekat.


Bahkan dia tidak tertarik sama sekali untuk menggoda Nari.


Padahal aku tau, Rae sangat suka menggoda Nari hingga membuat gadis itu menjerit kesal.


Rae menganggap itu adalah hal yang sangat lucu dan menghibur.


Apalagi yang terjadi padamu kali ini pria Busan???.


"Aku akan mengantar Alea ke airport", kata Rae tiba-tiba.


"Itu tidak mungkin Rae, terlalu beresiko.


Di sana tersebar banyak sekali cctv", kata Mr. Kim.


"Aku berkeras hyung", kata Rae keras kepala.


"Kenapa kau keras kepala sekali?", keluh eonni.


Dan Rae sama sekali tidak peduli keluhan eonni.


"Kita harus bicara", kata ku pada Rae.


"Kita bicara di kamar ku", jawab Rae sambil melangkah menuju kamarnya.


Dasar pria sinting.


Kenapa harus bicara di kamarnya?.


Kenapa dia tidak memilih tempat lain saja.


Aku menoleh kepada hyung dan eonni untuk meminta ijin.


"Pergilah", kata mereka.


Saat masuk kamarnya, ku lihat Rae duduk di tepi ranjang.


dan aku memilih duduk di sampingnya.


Ku hadapkan badan ku padanya.


Ku amati dia dengan lekat.



"Ada apa lagi sekarang?.


Kenapa kau keras kepala sekali?", tanya ku.


"Aku hanya ingin mengantar mu ke airport, apa itu sesuatu yang berlebihan?".


"Ya, karena itu sangat beresiko", kata ku.


Rae mendengus kesal.


"Tolonglah, jangan membuat ku merasa tidak enak pada Mr. Kim dan eonni".


Dia menarik nafas panjang,


"Baiklah, tapi penuhi permintaan ku".


"Apa itu?", tanya ku.


"Aku ingin merekam mu mengaji, mengajilah seperti waktu itu".


"Permintaan apa ini?", tanya ku bingung.


"Aku pernah bilangkan kalau aku sangat suka mendengar mu mengaji. Kau akan pulang ke Indonesia dan pasti aku akan merindukan mu".


"Kemarikan ponsel mu", ujar ku kemudian.


Dan aku pun mulai membaca surah an insyirah seperti yang dia pinta setelah menekan tombol rekam suara.


Aku benar-benar tidak mengerti dengan permintaannya ini.


Dia bisa memintaku bernyanyi


Membaca sajak atau mengucapkan sesuatu untuknya.


"Permintaan ku yang ke-2", katanya setelah aku selesai mengaji.


"Kenapa banyak sekali permintaan mu?", Cibir ku.


"Meskipun kau telah kembali ke Indonesia, aku ingin kita tetap saling memberi kabar.


Telponlah aku, jangan hanya Nari saja.


Jika kau mengganti nomer ponsel mu, kabari aku.


jangan pernah menghilang.


bisa kah kau berjanji pada ku untuk hal itu?", Rae memintaku untuk berjanji.


"Baiklah, aku berjanji padamu, akan selalu memberimu kabar.


Sekarang giliran ku meminta sesuatu pada mu.


Di Oryukdo Skywalk kau pernah berjanji akan memenuhi apapun permintaan ku".


"Ya aku ingat, katakan apa yang kau inginkan?", kata Rae.


"Eemmm...kau sekarang sudah tidak merasakan sakit lagi.


Kau sudah baik-baik saja.


Jadi aku minta kau berjanji padaku untuk tidak sakit lagi.


jangan pernah sakit lagi.


bahagialah selalu.


Sekarang sudah waktunya kau mempersiapkan diri untuk kembali ke dunia entertaiment.


Fans mu pasti sudah sangat merindukan mu.


Buatlah karya-karya indah yang hebat dan mengagumkan.


Kau harus memenuhi permintaan ku ini, karena kau berjanji akan memberikan apapun yang aku minta".


Sejujurnya mata ku terasa sangat panas saat mengatakan hal ini karena menahan air mata.


Aku pun dapat mendengar suara ku sedikit bergetar menahan isak.


Tapi tentu saja aku tidak boleh menangis di hadapannya.


Aku tidak ingin dia menghawatirkan ku.


"Kau tidak ada disini.


siapa yang akan mendukung ku sebaik dukungan mu pada ku?", atanya tampak putus asa.


"Bukankah aku sudah berjanji bahwa aku akan sesering mungkin menelpon mu.


Tentu saja aku akan selalu mendukung mu.


Sekarang badai mu sudah berlalu, hujan mu telah redah.


Aku tidak perlu lagi menjadi payung mu.


Kau sudah bisa melangkah lagi sekarang tanpa takut terseret badai.


Aku yakin kamu mampu melakukan itu".


Sekuat tenaga ku tahan air mata ku.


Ku gigit bibir bagian dalam ku.


Dan.....,


Ku lihat dia menangis.


Ya Rae menangis.



Aku mengusap air mata yang bergulir di pipinya.


Aku tersenyum padanya,


agar dia tau semua akan baik-baik saja.


"Sepertinya sudah waktunya aku pergi.


jaga dirimu baik-baik.


Jangan sakit.


Bahagialah selalu.


Ingat jangan menyusahkan Mr. Kim dan eonni lagi, jangan buat mereka khawatir.


Jangan terus-terusan menggoda Nari, teriakannya sungguh memekahkan telinga.


Jangan menyusahkan hyung-hyung mu di Seoul.


Aku akan segera menelpon mu begitu aku sampai di Indonesia", kata ku sambil tersenyum.


Kemudian aku memeluknya,


Aku berbisik padanya.


"Senang bisa mengenalmu.


aku akan sangat merindukan mu oppa.


jangan lupakan aku ya".


Dan dia membalas pelukanku dengan sangat erat.


"Tetaplah disini.


kau tidak perlu mengantarku keluar, karena itu akan membuatku sulit untuk melangkah pergi",


pinta ku pada Rae saat pelukan kami terurai.


Aku tidak mau Rae mengantarku pergi.


Aku tidak ingin mengucapkan selamat tinggal padanya.


Dan ku lihat Rae hanya menunduk mendengarkan kata-kata ku.


"Baca ini setelah aku pergi",


aku memberinya sepucuk surat yang aku tulis semalam.


Lalu aku berbalik dan mulai melangkah pergi meninggalkan kamarnya.


Aku baru saja menutup pintu kamar Rse.


Tapi aku sudah sangat merindukannya.


KIM RAE


bulan ku di langit malam.


KIM RAE


Penghias malam gelap ku.


KIM RAE


Cahaya penerang malam ku.


KIM RAE


Sinar terang di langit hati ku.


Aku akan selalu merindukan mu pria Busan ku.