BUSAN, LOVE AFTER GI

BUSAN, LOVE AFTER GI
14. DANCE WITH YOU



KIM RAE


Aku dengar suara musik instrumen yang sangat aku kenal mengalun dari depan sana.


Itu musik instrumen lagu Black Swan versi orkestra.


Sejenak aku terdiam dan hanya mematung di tempatku berdiri saat ku lihat Alea kembali menggerakkan tubuhnya mengikuti musik instrumen itu.


Segera ku ambil kamera dari dalam tas ransel ku, dan aku mulai merekam Alea.


Dia benar-benar serupa swan.


Gerakannya anggun, lembut tapi penuh dengan energi.


Perlahan aku berjalan menuju ke depan.


ku letakkan kameraku di kursi kayu tinggi yang ada di sana,


Ku posisikan sebaik mungkin untuk bisa menyorot ke panggung, sehingga dapat merekam Alea dengan baik.


Ku letakkan ransel ku di kursi penonton, ku lepas juga topi dan masker ku


Aku berjalan ke atas panggung


Alea mulai menyadari keberadaan ku disana.


"Lanjutkan, jangan berhenti",


Kata ku saat ku lihat Alea akan menghentikan gerakannya.


Dan dia melanjutkan gerakannya meski kulihat ada pertanyaan di raut mukanya.


Aku mendekati Alea dan mulai ikut menggerakkan tubuh ku menyesuaikan dengan gerakan tubuh Alea.


Kami menari bersama mengikuti musik instrumen yang mengalun.



Sesaat ku lihat kernyitan di dahinya.


Aku hanya tersenyum padanya dan melanjutkan gerakan ku.


Tak ku hiraukan sorot matanya yang meminta penjelasan.


Aku sangat menikmati gerakan kami berdua.


Mungkin karena aku rindu menari, sudah cukup lama aku tidak melakukan hal ini.


Dan ini sangat menyenangkan.


Aku merasa kembali hidup.


Instrumen musik telah berakhir.


Ku pandang Alea sambil tersenyum.


Ku kedipkan sebelah mata ku padanya.



"Kau gila??? Apa yang sedang kau lakukan disini?", Tanya Alea.


"Kamu benar-benar keren" ,kata ku sambil berjalan menuju kursi kayu tinggi tempat kameraku berada, aku matikan tombolnya, kemudian ku simpan kembali kameraku kedalam tas ransel hitam ku.


"Kim Rae-ssi, jawab pertanyaan ku", tuntut Alea.


"Hanya mampir".


"Mampir?".


"Ya".


"Bagaiman bila wartawan atau paparazi melihat mu?


bagaimana bila fans mencium keberadaan mu?".


"Kau cerewet sekali.


Kemasi barang mu dan kita pergi dari sini, kau mau semalaman disini", kata ku sambil mulai memakai masker dan topi ku.


Alea mulai mengemasi barang-barangnya dengan sedikit terburu-buru.


Dia kenakan jaket dan maskernya, dia juga mengenakan tudung jaketnya untuk menutupi kepalanya.


"Aku sudah siap.


Kau benar-benar gila", kata Alea.


"Gajja".


Kami berjalan cepat menuju mobil.


Dan segera meninggalkan halaman sekolah.


"Kau sudah makan?


Aku belum makan malam dan sekarang aku merasa sangat lapar.


Jadi kita pergi makan malam dulu", kata ku saat mobil telah meluncur di jalanan.


"Kita makan di rumah".


"Tidak mau, aku bosan, aku ingin makan di luar".


"Kau tau kalau ini gila?


Kau bisa dapat masalah besar jika wartawan, paparazi atau fans mu melihat kita.


Akan ada rumor lagi tentang mu".


"Lalu?".


"Lalu?


Aku bukan seleb terkenal seperti mu, rumor tidak akan mengganggu hidup ku, tapi kau tidak, semua akan menjadi kacau jika itu terjadi".


"Aku ambil resiko itu".


"Kau benar-benar sangat keras kepala".


"Itu aku", kata ku tertawa lebar.


"Itu bukan pujian".


"Aku anggap itu pujian".


"Tidak bisakah kita makan di rumah saja?".


"Berhenti mengajak ku berdebat, kau hanya perlu mengikutiku saja, aku pastikan semua akan baik-baik saja", kata ku.


Dan bisa kudengar Alea mendengus dengan kesal.


Dia tau akan percuma berdebat dengan ku.


Ku lajukan mobil ke arah pantai haeundae.


...............


Ponsel ku berbunyi


Ada panggilan video call masuk dari Minki hyung.


Ku geser panel hijau di layar ponsel ku yang menempel di dasbord mobil.


Dan wajah minki hyung muncul disana.


"Yoboseyo", sapa ku.


"Rae, bisakah nanti kau kirimkan materi lagu yang kau tulis tempo hari?".


"Baiklah, nanti akan ku kirim padamu".


"Apa kau sedang menyetir?".


"Ya".


"Aahhh....kemana tujuan mu?".


"Sekedar makan malam, aku bosan di rumah".


'ya eonni?'.


Ku lirik Alea yang tengah menerima telpon.



"Suara siapa itu?', tanya Minki hyung.


'ya, aku bersamanya eonni' Alea menurunkan suaranya, nyaris berbisik, dia menggigit bibir bawahnya dengan ekspresi cemas.


"Hyung, sepertinya aku harus menutup telponnya".


"kau bersama siapa?".


"Nanti aku akan menghubungi mu".


"Jaw....", Kata-kata Minki hyung terputus karena aku mematikan sambungan vidcall dari nya.


'maaf, aku lupa memberimu kabar'.


'ya eonni'.


'baiklah, kami akan berhati-hati'.


Alea menutup ponselnya.


"Sudah ku bilang kan, ini tidak bagus, seharusnya kita makan di rumah saja", kata Alea panik sambil menyimpan ponselnya ke dalam tas.


"Apa tadi nuna yang menelpon mu?".


"Ya, dia bertanya apa aku sedang bersama mu.


Bagaimana sekarang?", Tanya Alea masih dengan ekspresi cemas.


"Apanya yang bagaimana?".


"Hyung mu mencurigai mu sekarang".


"Lalu?".


"Apa yang akan kau lakukan?".


"Tidak ada, memangnya apa yang harus aku lakukan?".


"Jika hyung mu bersikeras bertanya padamu?".


"Akan ku jawab bahwa aku sedang bersama mu".


"Kau benar-benar membuat ku frustasi", jawab Alea sambil menyandarkan kembali punggungnya di sandaran kursi mobil.


"Apa jawaban ku salah?


Bukankah aku memang sedang bersama mu".


"Apa kau harus menjawabnya begitu?".


"Lalu?


Apa kau menyuruh ku untuk berbohong?".


"Bukan begitu.....akkhhh....sudahlah", katanya cemberut.


Aku tertawa melihatnya seperti itu.


"Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja, bukan kah kau bilang bahwa mereka adalah hyung ku?


Mereka akan mengerti", kata ku menenagkan Alea.


"Kau suka seafood kan.


Atau kita makan daging saja?", aku mengalihkan topik pembicaraan untuk menghilangkan kecemasan Alea.


"Kau ingin makan apa?", Tanya Alea.


"Aku sedang ingin makan jjampong".



Jjampong artinya campur.


Jjampong merupakan makanan percampuran budaya antara Korea dan Chinese.


Tidak heran makanan ini banyak di jual di rumah makan tionghoa.


Nama Jjampong diberikan para tentara Jepang saat pendudukan mereka di Korea.


Nama ini diberikan karena mengingatkan mereka pada makanan campuran Jepang dan Chinese yang terkenal di Nagasaki bernama Chanpon.



Walaupun makanan fujian style di sana berbeda dengan bahan dasar kuahnya.


"Baiklah kita makan itu".


"Tidak ada kah yang ingin kau makan?".


"Aku menginginkan ice cream".


"Kita akan pesan ice cream yang banyak", kata ku tersenyum lebar.


..................


Kami sampai di sebuah restoran di dekat pantai haeundae, yang lumayan sering ku kunjungi.


Ku kenakan topi dan masker ku sebelum turun dari mobil.


Dan Alea juga melakukan hal yang sama.


Untunglah malam ini tidak terlalu banyak pengunjung disini.


Setelah masuk ke dalam restoran, aku memilih meja di pojok ruangan.


meja ini sedikit tersembunyi, tertutup dekorasi restoran, jadi kami dapat lebih bebas makan tanpa harus was-was.


Seorang pelayan mendatangi kami untuk mencatat pesanan kami.


Dan sekarang kami tinggal menunggu pesanan kami datang.


"Pinjam ponsel?", Kata ku pada Alea.


"Ha?", Tanya Alea bingung.


"Aku pinjam ponsel mu", ulang ku dan Alea menyerahkan ponselnya padaku.


Ku ketik nomer ponsel ku di ponsel Alea dan menyimpannya, kemudian ku telpon ponsel ku sendiri.


"Nih" ku serahkan kembali ponsel Alea dan kemudian dia menyimpan kembali ponselnya kedalam tas ranselnya


"Sekarang ceritakan apa masalah yang sedang kau hadapi?", Kata ku membuka obrolan.


"Bukan masalah besar dan sudah terselesaikan".


"ceritakan pada ku, aku ingin tau".


"Beberapa hari yang lalu direktur SSB memanggil ku, beliau bilang bahwa naskah puisi yang di kirim pada ku ternyata tidak lengkap, ada 1 bagian yang kurang.


Naas nya bagian tersebut merupakan bagian yang penting dan karena masih berupa puisi tentu saja harus aku visualkan menjadi gerak untuk di sajikan di panggung teater.


Saat mereka mengirimiku naskah puisi tersebut, memang aku merasa ada yang janggal, aku merasa ada yang kurang karena ceritanya melompat, dan hal tersebut sudah aku tanyakan, tapi pihak SSB mengatakan bahwa mereka sudah memeriksa naskah tersebut dan semua sudah benar.


tapi sebenarnya aku yakin ada yang kurang dalam naskah tersebut, dan aku harus membuat sebuah plot agar jalan ceritanya tidak melompat.


Jadi kemarin aku harus membuat tambahan plot lagi untuk naskah yang tertinggal itu dan harus menghapus beberapa  adegan yang aku buat."


Alea berhenti berbicara ketika makanan yang kami pesan datang.


"Terima kasih", kata ku pada pelayan tersebut.


"Lalu?", Tanya ku pada Alea setelah pelayan itu meninggalkan kami.


"Tentu saja Aku harus melatih beberapa aktris ku adegan yang baru itu.


Karena itu aku butuh waktu khusus untuk melatih mereka secara personal, agar mereka bisa segera menguasai adegan tersebut dan bisa segera mengikuti latihan bersama yang lain nya".


Ku tahan pergelangan tangan Alea saat akan menyuap jjampong.


"Aku lupa mengatakan padamu kalau Itu sangat pedas, apa kau bisa memakan makanan pedas? atau aku perlu memesankan lagi yang tidak pedas untuk mu?".


"Tidak perlu, aku suka makanan pedas".


"Selamat makan", ucap ku padanya.


"Selamat makan", balasnya padaku.


"Syukurlah jika semua sudah terselesaikan, aku ikut senang mendengarnya".


"Ya, sekarang tinggal memastikan mereka menguasai adegan yang baru".


"Bila ada masalah lagi, cerita kan padaku.


Jangan membuat ku terlihat bodoh dengan bercerita tentang masalah ku padahal kau sendiri sedang ada masalah".


"Ini bukan masalah yang besar".


"Tapi tetap saja menguras energi mu".


"Ya, aku akui itu".


"Bagaimana? Enak?", Tanyaku.


"Ya, ini sangat enak"


Pesanan makanan penutup kami datang.


Aku memesan ice cream rasa coklat dan vanilla ukuran besar untuk Alea.