
[KEDIAMAN KELUARGA CALVIN]
[Ruang Tengah]
Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Dandy dan kelima adik-adiknya sudah berada di rumah. Mereka semua tengah duduk di ruang tengah.
"Kenapa Damian belum pulang juga ya, kak? Inikan sudah pukul dua siang," tanya Daanii.
"Coba kakak hubungi ponselnya," pinta Daaris.
"Ya, sudah kakak akan hubungi Damian." Dandy pun menghubungi adik bungsunya.
"Panggilan tersambung tapi tidak diangkat oleh Damian," kata Dandy.
"Aish. Kemana dia? Kenapa jam segini belum pulang juga?" batin Dandy.
Saat mereka tengah sibuk memikirkan sibungsu. Lalu terdengar suara motor yang berhenti di depan rumah.
"Itu pasti Damian!" seru Dayyan.
CKLEK..
Pintu rumah dibuka. Damian melangkahkan kakinya memasuki rumah mewahnya tersebut. Setelah masuk tak lupa pintu tersebut ditutup kembali.
Blam..
Damian langsung pergi menuju kamarnya yang berada di lantai dua tanpa melirik sekitar ruangan di dalam rumahnya.
"Dari mana saja? Kenapa baru pulang?" tanya Dandy dengan suara sedikit meninggi.
Damian tak mempedulikan panggilan dan pertanyaan dari kakak tertuanya itu. Dan tetap melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.
"Damian Calvin. Kakak bertanya padamu. Dari mana saja dan kenapa baru pulang jam segini?" teriak Dandy.
Damian menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya menatap kearah kakak-kakaknya, terutama Dandy.
"Itu bukan urusan kalian. Aku dari mana. Mau pulang jam berapa? Itu urusanku. Jangan urusi hidupku," sergah Damian.
"Tapi kami kakak-kakak kamu, Damian! Jangan pernah kau lupakan itu!" bentak Daniyal.
"Aku adik kandung kalian. Selama delapan tahun aku hidup sendiri. Apa-apa sendiri? Tanpa ada yang menemaniku dan memperhatikanku. Jangan pernah kalian lupakan itu!" Damian menjawab perkataan Daniyal dengan menatap tajam wajah kakak-kakaknya.
Setelah itu Damian kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya di lantai dua.
Sedangkan para kakaknya terdiam saat mendengar penuturan Damian.
"Damian benar. Selama ini dia selalu sendiri tanpa ada yang menemaninya. Dan disaat dia sudah terbiasa hidup sendiri, malah justru kita ingin masuk ke dalam kehidupannya dan mencampuri urusannya," tutur Danesh yang matanya sudah berkaca-kaca.
"Seharusnya tadi kakak Dandy bertanyanya secara baik-baik. Tidak seperti tadi," kata Daanii.
"Apa maksudmu, Daanii?" tanya Dandy.
"Tadi saat Damian masuk ke dalam rumah, kak Dandy bertanya pada Damian dengan suara yang sedikit meninggi. Itu yang membuat Damian tidak mau menjawab pertanyaan kakak. Seharusnya kakak bertanya dengan suara yang lembut. Bukankah kita sudah sepakat akan memperbaiki hubungan kita dengannya? Tapi justru kakak melakukan kesalahan lagi," jawab Daanii kesal.
"Bagaimana rencana kita akan berhasil mendekati Damian kembali? Sedangkan kak Dandy tidak bisa menahan emosi. Dan tidak bisa berusaha sabar menghadapi Damian. Damian menjadi seperti sekarang ini itu juga salah kita, kak. Kita yang membuat Damian menjadi berubah. Menjadi Damian yang membangkang," tutur Danesh.
"Sudahlah kak. Aku mau ke kamar dulu," ucap Daanii, lalu pergi meninggalkan kakak-kakaknya menuju kamarnya di lantai dua.
"Aku juga mau ke kamar, kak!" seru Danesh dan langsung pergi menyusul Daanii.
Tinggallah para kakaknya yang masih berdiam diposisi mereka berdiri.
Selang beberapa menit kemudian. Mereka pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar dan larut dalam pikiran mereka masing-masing.
^^^
Danian berada di kamarnya. Dirinya sudah dalam keadaan rapi. Dan sebentar lagi kakak kesayangannya akan datang menjemputnya. Dirinya dan kakak kesayangannya itu akan bersenang-senang.
Dandy keluar dari kamarnya saat waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Dirinya menuju dapur untuk membuat minuman.
Setelah selesai urusannya di dapur, Dandy menuju ruang tengah dan duduk disana.
"Kakak Dandy," panggil Danesh yang datang bersama dengan empat saudaranya.
Dandy menolehkan wajahnya melihat kelima adik-adiknya datang menghampirinya.
"Yah, kak. Kau tega sekali pada kami. Kau enak-enakan duduk santai disini sambil menikmati segelas cappucino panas. Kau tidak membuatkannya juga untuk kami," protes Daaris.
"Iya, nih. Kakak Dandy payah. Hanya memikirkan kesenangannya sendiri," balas Daanii.
"Dasar kakak tak berperikasih sayang pada adik-adiknya," ucap Dayyan.
"Menikmati kebahagiaan sendiri," sindir Daniyal.
Dandy hanya tersenyum mendengar aksi protes yang dilakukan oleh adik-adiknya.
Danesh tanpa izin terlebih dahulu langsung mengambil cappucino milik kakaknya itu kemudian meminumnya.
Gluk..
Gluk..
"Wah, kakak Dandy! Cappucinonya enak sekali!" seru Dandy saat meminum cappucino kakaknya itu.
"Yah, Danesh! Itu punya kakak," kesal Dandy saat melihat adik bantetnya seenaknya meminum cappucino miliknya.
"Makanya buatkan untuk kami juga," rengek Daanii dan diangguki oleh yang lain.
"Huuuh! Baiklah," sahut Dandy. Lalu Dandy beranjak dari duduknya.
Saat baru dua langkah. Baik Dandy maupun kelima adik-adiknya mendengar suara klason mobil dari luar rumahnya.
Tin..
Tin..
"Kakak Dandy lagi menunggu seseorang ya?" tanya Daniyal pada Dandy.
"Tidak," jawab Dandy.
Lalu terdengar derap langkah kaki menuruni anak tangga.
Tap..
Tap..
Tap..
Dapat mereka lihat adik bungsu mereka yang sudah dalam keadaan rapi dan tampan dengan setelan pakaian yang dikenakannya. Mereka tersenyum menatap adik yang selama ini mereka abaikan.
"Damian," batin mereka.
Damian yang merasa ditatap oleh kakak-kakaknya itu memilih mengabaikan tatapan tersebut. Dirinya melanjutkan langkahnya menuju pintu utama tanpa menolehkan wajahnya melihat wajah kakak-kakaknya. Saat tangannya menyentuh knop pintu, kakak tertuanya bersuara.
"Kau mau kemana, Damian?" tanya Dandy.
Tanpa membalikkan badannya. Damian menjawab pertanyaan kakak tertuanya itu. "Aku ingin keluar mencari kebahagiaanku sendiri. Kebahagiaan yang tidak pernah aku dapat dari kalian."
"Jam berapa kau akan pulang?" kini Daniyal yang bertanya.
"Kenapa? Kalian ingin mengunci pintunya dan mengurungku diluar kalau aku pulang terlambat?" tanya Damian.
Hening sejenak. Tidak ada yang bersuara.
"Lakukan sesuka hati kalian. Kalau kalian ingin mengunci pintunya dan tidak memperbolehkan aku masuk. Masih ada rumah diluar sana yang mau menerimaku. Lagian aku memiliki banyak rumah diluar sana. Jadi tak masalah bagiku," sahut Damian lalu membuka pintu tersebut dan berlalu pergi meninggalkan kakak-kakaknya.
Dandy dan kelima adik-adiknya mengintip dari balik jendela. Jujur! Hati mereka sakit saat melihat kedekatan adik bungsu mereka dengan pemuda yang menjemputnya. Kedekatan keduanya seperti hubungan kakak dan adik. Dilihat bagaimana adik bungsu mereka tertawa lepas saat bersama pemuda tersebut? Dilihat bagaimana pemuda itu memberikan perhatian sebagai seorang kakak terhadap adiknya?
Mereka merutuki kebodohan mereka selama ini. Bagaimana bisa? Mereka yang berstatus kakak kandung seorang Damian Calvin, tapi tidak melakukan tugas layaknya seorang kakak pada adiknya? Apakah ini yang namanya PENYESALAN?
"Damian," batin Daanii dan tanpa sadar air matanya sukses mengalir membasahi wajah tampannya.