
[Ruang Rawat Zevan]
"Zevan," lirih Kevin yang masih menggenggam tangan Zevan.
Detik kemudian Kevin merasakan Zevan membalas genggaman tangannya.
"Van " panggil Kevin.
Mereka semua memandangi Zevan dengan tatapan sedih dan khawatir.
Berlahan Zevan membuka matanya. Pandangan pertamanya tertuju pada Kevin, kakak tertuanya.
Zevan memandangi wajah kakaknya itu dengan tatapan sendu, wajah sedih dan juga marah. Setelah menatap kakak tertuanya dirinya menatap kakak-kakaknya yang lain tanpa semangat sama sekali dalam dirinya.
"Van," panggil Dallin lembut sambil membelai rambut coklat miliknya. Dallin berdiri di samping tempat tidur Zevan di sebelah kiri.
Tidak ada respon sama sekali dari Zevan. Zevan hanya memberikan tatapan yang sulit diartikan.
"Van, ayolah! Katakan sesuatu. Jangan seperti ini. Jangan hukum kami seperti ini," tutur Marvin.
"Katakan apa saja yang ingin kamu katakan? Kalau kamu ingin marah, silahkan. Kakak terima," ujar Aidan.
"Van. Ayo, bicaralah. Jangan diam saja," ucap Galen yang sudah menangis. Dirinya sudah tidak kuat melihat Zevan yang mendiami mereka semua.
"Van," panggil Abyan.
"Aku tidak butuh kalian. Aku hanya ingin Papa dan Mama ada disini. Aku ingin bertemu dengan mereka," ucap Zevan dengan tegas dan penuh penekanan.
DEG..
Mereka semua terkejut atas apa yang diucapkan oleh Zevan. Mereka benar-benar merasa bersalah dan sangat menyesal. Hati mereka benar-benar sakit.
"Hiks.. Van. Jangan bicara seperti itu. Papa dan Mama sudah tidak ada. Mereka sudah bahagia disana," isak Kevin terisak.
"Justru itu. Aku ingin bertemu dengan Papa dan Mama lalu menyuruh mereka kembali. Siapa tahu dengan kembalinya mereka, kalian tidak lagi berbuat sesuka hati kalian padaku. Dengan mereka kembali, kalian tidak lagi menyalahkanku. Dengan mereka kembali, aku tidak akan lagi disebut sebagai pembawa sial dan adik tidak tahu diri. Dengan mereka kembali, aku akan mendapatkan kasih sayang dan pelukan yang selama ini tidak aku dapatkan."
Zevan menatap penuh kebencian keenam kakak-kakaknya yang saat ini menatap dirinya.
"Dulu aku memang mengharapkan kalian kembali padaku. Selama 8 tahun aku menunggu kalian. Selama 8 tahun itu pula aku mati-matian menahan kesedihan dan kerinduanku terhadap kalian. Aku selalu berdoa semua harapanku terwujud. Namun sayang, doaku tidak terkabul. Kalian makin sulit diraih dan digapai."
"Zevan, tidak!" mereka menangis sembari menggelengkan kepalanya.
"Waktu kalian sudah habis. Sekarang ini hatiku benar-benar tertutup untuk kalian. Hatiku saat ini sudah benar-benar mati rasa. Hatiku sudah tidak bisa merasakan kehangatan dan kenyamanan setiap kalian mendekatiku dan memelukku."
Mendengar perkataan Zevan membuat dada mereka sesak. Hati mereka hancur ketika mendengar perkataan dari adik bungsunya.
"Zevan!" teriak mereka semua.
Mereka langsung memeluk tubuh Zevan dan menangis disana.
"Hiks... Maafkan kami.. Maafkan kami... Hiks," tutur mereka semua disela isakannya.
Zevan hanya diam. Dirinya tidak membalas pelukan dari keenam kakak-kakaknya.
"Lepas," ucap Zevan.
"Zevan... Hiks."
"Aku bilang, lepas!" Zevan berteriak sekeras mungkin.
"Lebih baik kalian pulang. Aku tidak butuh kalian ada disini. Kalau kalian tetap disini itu akan membuat menjadi adik tidak tahu diri."
"Zevan... Hiks. Jangan seperti ini. Kakak mohon. Berikan kami satu kali kesempatan lagi," ucap Dallin dengan menggenggam tangan Zevan.
Merasakan tangannya digenggam, Zevan langsung menariknya. "Kesempatan kalian sudah habis. Kalian telah menyia-nyiakan kesempatan itu."
"Cukup!" teriak Galen.
Galen menatap tepat di manik coklat adiknya. Dirinya tidak ingin adiknya menjauhinya.
"Zevan, kakak mohon. Jangan lakukan itu pada kakak. Jangan membenci kakak. Lebih baik kamu tampar kakak, marahi kakak, bentak kakak. Tapi jangan menjauh dari kakak. Jangan mengabaikan kakak... Hiks," ucap Galen terisak.
Mereka menatap wajah Zevan dengan air mata bercucuran di wajah mereka masing-masing.
Dallin menghapus air mata Zevan dan memberikan kecupan di kening adiknya.
"Maafkan kakak. Maafkan kesalahan selama ini pada kamu. Kakak sungguh sangat menyayangimu. Sumpah demi Tuhan kakak sangat menyayangimu. Selama ini kakak tidak benar-benar membencimu. Asal kau tahu, selama 8 tahun ini kakak selalu mengawasimu dan menjagamu dari jauh. Apa kau masih ingat saat kau duduk di bangku SMA. Kamu meminta kami untuk menghadiri acara di sekolahmu. Tapi kami semua mengacuhkanmu. Setelah kamu pergi meninggalkan kami dan masuk ke kamarmu. Kami semua memutuskan untuk menghadiri acaramu itu. Dan kami semua mengambil setiap moment-momenmu disana." Dallin berbicara sembari menceritakan ketika dirinya dan saudara-saudaranya yang lain datang ke acara adik bungsunya.
Zevan tidak memberikan respon apapun. Namun tatapan matanya menatap intens tepat di manik hitam Dallin. Zevan dapat melihat ada kejujuran terpancar di sana.
"Iya, Van. Apa yang dikatakan oleh kakak Dallin benar. Kita semua hadir di acara sekolah kamu saat ini," sahut Aidan.
Zevan tetap di posisinya dengan menatap tak suka ke arah keenam kakak-kakaknya. Zevan hanya diam. Dirinya sama sekali tak memberikan respon apapun.
"Van, kakak mohon. Jangan benci kakak. Kembalilah!" Galen menggenggam tangan Zevan.
"Tak apa jika kamu tidak ingin langsung memberikan maaf untuk kakak dan kakak kamu yang lainnya. Tapi biarkan kami ada di samping kamu untuk jagain kamu," ucap Abyan.
"Terserah kalian. Aku tidak peduli. Lakukan apa yang ingin kalian lakukan. Tapi aku tidak akan pernah lagi percaya dengan setiap perkataan dan perbuatan kalian."
Setelah mengatakan itu, Zevan membuang pandangannya ke arah lain. Dan Zevan melihat sahabat-sahabatnya berada di ruangan yang sama.
"Alvan, Atha."
Mereka yang dipanggil pun mendekati ranjang Zevan.
"Bagaimana keadaanmu, Van? Apa ada yang sakit?" tanya Alvan khawatir.
Zevan menggelengkan kepalanya. "Kau tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja."
"Kau itu bandel sih. Padahal saat di kampus, aku sudah menawarkan diri agar kau pulang bersamaku. Tapi keras kepalamu itu tidak bisa dilawan. Kau tetap saja nekat pulang sendiri," kesal Alvan.
"Bukan Zevan Addison namanya kalau sampai sikap keras kepalanya hilang begitu saja," celetuk Atha.
"Aish." Zevan mempoutkan bibirnya.
"Oh ya. Vero mana? Kenapa tidak bersama kalian?" tanya Zevan saat dirinya tidak menemukan keberadaan Vero.
"Kami meninggalkan Vero di tempat kejadian itu. Karena saat itu kami hanya memikirkan dirimu. Sama halnya dengan Vero. Dia sangat mencemaskan kondisimu saat itu," ucap Atha.
"Terima kasih Hitam, kurus." Zevan berucap dengan menyebut gelar salah satu sahabatnya.
"Yak! Siluman kelinci sialan. Lagi sakit begini masih bisa mencela orang," protes Alvan.
Zevan hanya terkekeh menanggapi protes Alvan. Tidak jauh beda dengan para kakaknya Zevan. Mereka ikut tersenyum melihat kekompakan adik mereka dengan sahabatnya.
"Kami berjanji akan selalu menjaga senyumanmu itu, Van!" batin mereka.