
[LOKASI BALAPAN]
Damian dan teman-temannya sudah berada di lokasi balapan. Ada empat kelompok yang ikut dalam balapan tersebut dan tiap-tiap kelompok menunjuk satu orang untuk mewakili kelompok masing-masing.
Mereka tersebut adalah Ghazi Padmana dari Geng Warlocks, Ehzar Achazia dari Geng The Refour, Damian Calvin dari Midnight Club, Dalyan Ghassan dari Geng Mongols.
Geng The Refour dan Geng Warlocks adalah musuh dari Midnight Club. Dua geng tersebut adalah musuh bebuyutan Midnight Club. Lebih tepatnya geng tersebut selalu cari masalah dengan Midnight Club. karena Midnight Club selalu saja menggagalkan dan selalu ikut campur dalam aksi-aksi mereka saat dijalan raya. Seperti membuat keonaran, membully orang-orang di jalanan serta memalak.
Ehzar sebagai ketua dari Geng The Refour tidak terima akan sikap sok pahlawannya dari Midnight Club tersebut. Ehzar dan kelompoknya kemudian menghampiri salah satu anggota dari Midnight Club yaitu Damian Calvin.
"Hei, Damian. Kita ketemu lagi. Sudah empat tahun kau menghilang dari dunia balapmu. Aku pikir kau sudah mati saat balapan melawanku empat tahun yang lalu," ejek Ehzar.
Anggota Midnight Club yang mendengar penuturan Ehzar mengepalkan tangan mereka kuat. Mereka menatap tajam kearah Ehzar.
"Jaga ucapanmu brengsek!" Bentak Elvano.
"Hei, tenang bung. Temanmu saja diam saat aku berbicara dengannya. Kenapa kau yang sewot?" sinis Ehzar.
"Kau ini seperti perempuan saja," ejek Fadhil Haiyan.
"Kau... !"
Emosi Elvano yang hendak memberikan pukulan pada kedua tikus tersebut. Tapi ditahan oleh Damian dan Haris.
"El. Sudahlah," cegah Damia.
Haris dan Haikal menarik Elvano ke belakang dan berusaha menenangkan emosinya.
***
[DEPAN RUMAH MEWAH MILIK DAMIAN]
Keenam kakak-kakaknya Damian sudah berada di depan rumah mewah milik Damian.
"Kau yakin ini lokasinya, Daaris?" tanya Dandy.
"Aku yakin kak. GPS yang aku lacak lokasinya disini," jawab Daddris.
"Tapi rumah keliatan sepi tidak ada orang," sahut Danesh.
Saat mereka tengah sibuk memperhatikan rumah tersebut, keluarlah salah satu tetangga Damian. Dan orang itu menghampiri Dandy dan kelima adik-adiknya.
"Kalian siapa? Dan kenapa kalian terus menatap rumah itu?" tanya wanita itu menyelidiki.
"Maaf Bibi. Kami bukan orang jahat. Kami sedang mencari adik bungsu kami. Adik bungsu kami pergi dari jam delapan pagi sampai sekarang belum pulang. Dan kami melacak GPS melalui ponsel miliknya dan lokasinya disini. Di rumah ini," jawab Daaris sembari menunjukkan ponselnya ke wanita tersebut.
"Ooh. Jadi kalian kakak-kakak Damian Altezza ya. Maaf Bibi pikir kalian orang jahat," sahut wanita itu.
"Maaf Bi. Ta-tadi Bibi bilang apa? Damian Altezza," ucap dan tanya Jin.
"Iya. Pemilik rumah mewah ini namanya Damian Altezza. Saat Bibi bertanya siapa namanya. Dia menjawab kalau namanya Damian Altezza," jawab wanita itu.
"Tapi adik kami bermarga Calvin bukan bermarga Altezza," sela Dayyab.
"Ini foto adik bungsu kami," ucap Daniyal sembari menunjukkan foto Damian yang ada ponselnya kepada wanita itu.
"Sekali lagi Bibi minta maaf. Sejak Bibi kenal dengan adik kalian. Adik kalian itu menyebut namanya Damian Altezza, bukan Damian Calvin. Adik kalian itu juga tidak pernah membahas tentang dirinya yang memiliki enam orang kakak. Justru adik kalian itu mengatakan pada Bibi, dia hanya punya dua orang kakak saja. Itupun dari keluarga Altezza. Dan adik kalian juga bilang kalau kedua kakaknya itu sangat amat menyayanginya dan memanjakannya. Dan Bibi sudah bertemu dengan salah satu dari kakaknya itu. Kakaknya itu seorang dokter," tutur wanita tersebut.
"Bibi sarankan. Lebih baik kalian pulang saja. Besok saja kesini lagi. Karena percuma saja kalian menunggunya. Karena adik kalian tidak akan pulang malam ini," ucap wanita itu.
"Memangnya kenapa, Bi?" tanya Daanii.
"Bibi juga tidak tahu. Yang jelas setiap malam pukul delapan, adik kalian itu selalu keluar rumah bersama teman-temannya. Kadang-kadang teman-temannya sering nginap disini, kadang-kadang juga adik kalian nginap dirumah salah satu dari teman-temannya itu," jawab wanita itu.
"Kenapa bibi bisa tahu?" tanya Daanii lagi.
"Adik kalian selalu bercerita pada Bibi. Tetangga-tetangga disini juga sudah akrab dengannya dan pada teman-temannya juga. Bahkan adik kalian bersama teman-temannya banyak membantu para tetangga disini. Salah satunya adalah mengajari anak-anak disini bela diri dan juga membantu saat belajar. Anak-anak disini selalu datang ke rumah adik kalian untuk diajarkan belajar."
"Bibi tahu apa yang dilakukan oleh adik kami saat diluar rumah?" tanya Dandy.
"Kalau masalah itu, adik kalian tidak pernah cerita. Tapi Bibi tidak sengaja pernah mendengar percakapannya bersama teman-temannya. Kalau tidak salah Bibi, mereka membahas soal balapan."
"Oh iya, Bi! Sejak kapan Bibi kenal dengan adik bungsu kami?" tanya Danesh.
"Sejak adik kalian memakai seragam SMP. Kelas dua," jawab wanita itu.
"Apa?!" teriak mereka kompak. Dan hal itu membuat wanita itu terkejut.
"Maaf Bi. Maafkan kami," ucap mereka bersamaan.
"Tidak apa-apa."
"Ya, sudah. Kalau begitu Bibi masuk dulu," pamit wanita itu.
"Ya, sudah. Lebih baik kita pulang saja. Besok pagi saja kita kesini lagi," ucap Daniyal.
Dengan rasa kecewa mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah.
***
[LOKASI BALAPAN]
Disudut paling kiri mobil sport Ferrari 458 Convertible warna kuning milik Ghazi telah siap dan disampingnya adalah mobil sport Maybach Exelero milik Dalyan warna hitam yang juga telah siap menderu mobil miliknya.
Ditengah terdapat mobil sport Ferrari F12 Berlinetta warna merah milik Ehzar telah siap, matanya melirik kearah Damian yang berada di sampingnya dengan mobil sport Lamborghini Veneno warna abu-abu tua yang juga sudah siap mobilnya menderu diarena balap untuk bertanding.
"Ready!"
Teriakan wanita yang berdiri ditengah garis start sambil mengayunkan bendera bermotif kotak hitam putih sontak membuat para pengemudi memfokuskan pandangan ke depan.
Damian melirik sekilas kearah Ehzar. Begitu juga sebaliknya Ehzar melirik kearah Damian dan tersenyum menyeringai.
"Aku akan mengalahkanmu kali ini. Kalau perlu aku akan buatmu celaka seperti empat tahun yang lalu," batin Ehzar.
"Aku tahu akal bulusmu, Ehzar. Dan kali ini aku tidak akan jatuh dalam permainanmu," batin Damian.
Damian mengeratkan genggaman disetir kemudi dengan fokus ke depan.
"STAAAAARRRTTTTT!"
Serentak mobil sport mewah dibalik garis start meluncur indah kearena balap.
Mobil merah Ehzar memimpin dimenit pertama, diikuti mobil abu-abu tua Damian, Ghazi dan Dalyan.
Di tikungan pertama mobil Dalyan berhasil menyalip mobil milik Ghazi dengan sempurna. Terus mengejar mobil Damian dan mobil Ehzar yang ada di depan.
"Sial," umpat Ghazi saat melihat mobil Dalyan sudah berada di depan mobilnya
"Kali ini aku tidak akan membiarkan kau menang, Damian! Apa yang terjadi empat tahun yang lalu akan berlaku lagi malam ini."
Seringai Ehzar yang telah melewati putaran pertama dan mobil milik Damian masih berada di belakang.
"Kau lihat. Menurutmu siapa yang akan menang kali ini? Apakah Ehzar akan melakukan hal itu lagi pada Damian?" ucap Naafi menginterupsi di depan layar monitor yang menampakkan kejadian di arena balap.
"Kita lihat saja. Semoga Damian bisa mengatasinya dan lebih berhati-hati dengan kelicikan Ehzar," jawab Mateo yang masih terus fokus pada layar monitor.
"Sepertinya Damian sengaja membiarkan Ehzar untuk tetap berada di depan," kata Lian.
"Kau benar, kak Lian. Seharusnya Damian bisa menyalip di tikungan kedua tadi," sahut Haikal.
"Saat ini diposisi pertama Ehzar dan posisi kedua Damian, karena Damian berhasil menyalip mobilnya Ghazi," ucap Elvano.
"Kita lihat saja HASILNYA. Apa yang akan dilakukan oleh Damian," ujar Kaamil.
Di tikungan terakhir Damian dengan cepat menginjak kopling dan memindahkan gigi dengan lihai. Menginjak pedal gas untuk memperpendek jaraknya dengan mobil Ehzar di depannya.
"Sialan," umpat Ehzar saat melihat mobil sport milik Damian di belakangnya yang semakin mendekat menyamai posisi.
"Tidak akan kubiarkan kau bermain curang kali ini, Ehzar Achazia!" teriak Damian sembari menambah kecepatan dengan menginjak pedal gak mobil Lamborghini Veneno nya.
Garis finish di depan mata. Mobil Ferrari F12 Berlinetta milik Ehzar masih memimpin di depan.
"Maaf Ehzar," gumam Damian dengan senyuman manisnya.
Mobil sport Lamborghini Veneno nya terus melaju mengejar mobil sport. Mobil Ferrari F12 Berlinetta di depan.
"MOBIL MEREKA SUDAH TERLIHAT!" teriak salah satu penonton.
Mereka semua berdiri untuk menyaksikan momen malam ini.
"Mobil Ehzar di depan!"
"Mobil Damian mendekat!" teriak yang lainnya.
Tinggal beberapa meter lagi.....
10 meter...
Mobil Ehzar masih memimpin di depan dan tidak membiarkan mobil Damian bersejajar dengan mobilnya.
5 meter...
3 meter....
Garis Finish.....
"Hanya ada 1 mobil yang melewati garis finish!" teriak penonton.
"Mobil Lamborghini Veneno milik Damian memasuki garis finish pertama. Disusul mobil Ferrari F12 Berlinetta milik Ehzar!" teriak para penonton.
"Yeeeeaaaayy! Kita berhasil!" teriak para anggota Midnight Club.