BROTHER HUG

BROTHER HUG
Membahas Tentang Balapan



[KEDIAMAN KELUARGA CALVIN]


[Ruang Tengah]


Dandy dan kelima adik-adiknya tengah duduk di ruang tengah. Pikiran mereka saat ini benar-benar kacau. Mereka memikirkan dimana adik bungsu mereka sekarang ini berada.


Sibungsu mereka pergi dari pukul delapan pagi sampai sekarang pukul sembilan malam belum juga kembali. Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, mereka benar-benar menyesal karena sudah gagal melindungi adik kecil mereka.


"Kakak. Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita tidak akan mungkin membiarkan Damian kedinginan dan juga kelaparan diluar sana kan? Bagaimana pun Damian adik kita, kak? Damian tanggung jawab kita," ucap dan tanya Daanii.


"Kakak tahu, Daanii. Kakak sangat sangat tahu. Damian itu adik kita dan selamanya akan seperti itu. Dan kakak juga tahu kalau Damian itu tanggung jawab kita semua. Sekarang ini kakak juga khawatir terhadap Damian dan kakak tidak mau kalau sampai sesuatu terjadi padanya," jawab Dandy.


"Kak Daaris. Coba kakak cek nomor ponselnya Damian. Apa Damian memasang GPS? Bukankah saat itu kakak pernah mengatakan pada kami, kalau kakak memasang alat pelacak diponselnya Damian?" tanya Danesh.


"Astaga!"


Daaris menepuk jidatnya. "Kenapa aku bisa lupa masalah yang satu itu," ujar Daaris.


Kelima saudara-saudaranya hanya bisa menghela nafas dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan si otak jenius.


"Yak, kak! Kau kemanakan saja otak jeniusmu itu. Kami disini semua sedang memikirkan dimana keberadaan Damian. Tapi kakak justru malah ikut ikutan bodoh disini," ucap Daanii dengan kejamnya.


Bruukk..


Daaris melemparkan bantal sofa tepat di wajah tampan Daanii. Sedangkan Daanii merengut kesal. Dandy, Daniyal, Dayyan dan Danesh terkekeh pelan melihat kedua saudaranya.


"Ris. Langsung saja kau lacak keberadaan Damian dimana? Biar bisa kita kesana dan mencegah Damian ikutan balapan itu," pinta Dandy.


"Hm!" Daaris mengangguk.


Beberapa detik kemudian..


"Ketemu!" teriak Daaris.


Dan hal itu sukses membuat mereka semua terkejut akan teriakan Daaris sekaligus senang. Lalu mereka mendekat pada Dasris.


"Damian berada di Pondok Indah!" seru Daaris.


Mereka saling lirik lalu kemudian mengangguk.


"Tunggu apa lagi. Ayo kita kesana," sahut Dayyan semangat.


Mereka pun pergi meninggalkan rumah untuk menjemput adik bungsu mereka.


***


[RUMAH MEWAH DAMIAN]


[Di kamar Damian]


"Hiks." terdengar suara isakan Damian.


Damian membenamkan wajahnya dilipat kedua lututnya. Isakan demi isakan lolos begitu saja dari bibirnya.


Semua sahabat-sahabatnya yang sudah berada di kamarnya mendekatinya. Terutama Elvano dan Haikal. Karena mereka bertiga sangat dekat.


"Dam, sudahlah. Kamu jangan bersedih begitu. Ada kita disini," ucap Elvano yang duduk di sampingnya dan mengelus punggung Damian.


Damian mendongakkan wajahnya dan menatap satu persatu wajah sahabat-sahabatnya itu. Lalu kemudian berakhir menatap Elvano.


"Aku bingung, Vano. Aku benar-benar bingung dengan sikap keenam kakak-kakakku beberapa hari ini," ucap Damian.


"Memangnya kenapa mereka?" tanya Elvano.


"Mereka berusaha mendekatiku. Mereka berusaha untuk bicara denganku. Mereka berusaha untuk tidak mengabaikanku lagi," jawab Damian dengan air mata yang masih mengalir.


"Itu bagus dong, Dam. Bukankah itu yang kamu inginkan selama ini," ujar Kenzo.


"Tapi aku tidak yakin pada sikap mereka itu kak Kenzo. Sikap mereka kadang-kadang sering berubah. Kemarin malam aku habis bertengkar dengan mereka. Ya, lebih tepatnya dengan kak Dandy." Damian menjawab perkataan dari Kenzo.


"Bertengkar kenapa, Dam?" tanya Haris.


"Masalah aku pergi dengan kak Kevlar dan pulangnya sudah pukul sembilan malam. Mereka marah padaku, karena aku mereka tidak bisa tidur hanya untuk menunggu kepulanganku. Aku pikir mereka semua benar-benar mengkhawatirkanku, aku pikir mereka benar-benar menungguku. Tapi apa yang aku dapat dan aku dengar saat aku pulang ke rumah. Mereka lagi-lagi menyakiti hatiku dengan perkataan pedas mereka," jawab Damian.


"Sudahlah. Ngapain juga mikiran keenam singa-singa liar itu. Lebih baik aku makan dan bersiap-siap untuk pergi ke arena balap. Malam ini aku akan ikut balapan dan akan berpesta!" seru Damian dan langsung pergi begitu saja meninggalkan para sahabatnya yang masih memasang wajah cengo menuju lantai bawah.


"Dasar kelinci sialan! Disaat kesedihannya sudah mereda dan kondisinya sudah membaik. Kita dianggap angin lalu. Seenaknya saja dia pergi. Memangnya kita ini siapanya sih?" umpat Haikal kesal.


"Kamu itu tiang listrik. Jadi tak dianggap," sela Elvano.


"Diam kau, Hitam!" jawab Haikal kesal.


Lalu terdengar suara teriakan dari bawah. "Wooii. Kalian ngapain di kamar gue. Kalau mau berantem, jangan di kamar gue. Kamar gue itu bukan tempat adu mulut kalian. Hitam! Tiang listrik! Keluar kalian!"


"Hahahaha."


Semua seketika tertawa puas dan nista saat mendengar teriakan dari sikelinci yang tak berperikemanusiaan. Lalu mereka pun pergi meninggalkan kamar Damian menuju lantai bawah.


^^^


[Ruang Tengah]


Saat tiba di bawah, mereka melihat Damian yang sedang duduk santai di sofa dengan makanan dan minuman yang berada di meja.


Plaakk..


Haikal dan Elvano memukul kepala Damian dari belakang. Lalu mereka berdua melangkahkan kaki menuju meja makan.


Sedangkan Damian mendengus kesal saat kepalanya dipukul oleh kedua mahkluk jadi-jadian itu.


Mereka semua duduk di sofa ruang tengah. Dan membahas masalah balapan malam ini.


"Apa kau yakin ikut balapan, Dam?" tanya Elvano.


"Hm!" jawab Damian.


"Apa kau yakin. Ini balapan pertamamu setelah empat tahun kau berhenti balapan, Dam?" tanya Haikal.


"Aku tahu. Maka itu aku akan membiasakan diriku untuk ikut balapan. Jadi kalau ada balapan lagi, aku tidak akan canggung lagi. Aku ingin balapan lagi seperti dulu," jawan Damian mantap.


Mereka menatap Damian khawatir. Terutama Haikal dan Elvano. Damian sudah dilarang untuk tidak ikut balapan lagi. Karena kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkan.


Damian yang menyadari sedang ditatap oleh sahabat-sahabatnya, terutama Haikal dan Elvano. Kembali menatap balik wajah sahabat-sahabatnya itu.


"Hei, kenapa dengan tampang-tampang kalian itu, huh?! Sudahlah. Kalian jangan memperlihatkan tampang jelek kalian seperti itu. Tidak akan terjadi apa-apa padaku. Percayalah!" tutur Damian.


"Kami ini khawatir padamu bodoh," umpat Joe.


"Ya. Aku tahu dodol," jawab Damian.


"Dasar otak keras kepala," kata Gaffi.


"Dasar otak kerak telor," balas Damian.


"Siluman kelinci kampret," kata Farzan.


"Dasar kecoak bunting," jawab Damian.


"Kelinci stres linglung kesasar," kata Fattan.


"Jakrik tengil," balas Damian.


"Yaakk, STOOOOP! Kenapa kalian malah jadi adu mulut begini sih?!" teriak Lian.


"Cepat buruan habiskan makanan kalian. Kapan kita akan berangkatnya kalau kalian berantem begini," kata Noah.


"Aku dapat pesan dari anggota Midnight Club kita. Mateo dan Dava sudah mempersiapkan arena balapnya. Max dan Moris sudah mempersiapkan mobil balap yang paling bagus dan keren untukmu, Dam! Dan Naafi sudah menyiapkan semua keperluan balapnya," ujar Yuan.


Damian tersenyum bahagia. "Mereka berdua memang yang terbaik. Mereka tahu seleraku."


"Ya, sudah. Ayo berangkat!" seru Damian dan langsung bangkit dari duduknya.


Semuanya mengangguk. Dan mereka pun pergi meninggalkan kediaman Damian untuk menuju arena balapan.