
[RUMAH MEWAH DAMIAN]
Damian sudah berada di rumah miliknya. Rumah yang dibeli olehnya dari hasil melukisnya.
Damian merasa bosan sendirian di rumahnya, lalu dia mengirim sebuah pesan di chatroom untuk menghilangkan kebosananannya.
...[BRAINER GRUP]...
10:20
Damian : Wooi para makhluk tak kasat mata. Masih hidupkah kalian??
Gaffi : Dasar kelinci sialan.
Elvano : Dasar kelinci kurap.
Kenzo : Adek laknat, kelinci kampret.
Kaamil : Adek laknat,kelinci kampret (2)
Noah : Kelinci tengil.
Yuan : Kami ini manusia, kelinci sialan.
Okan : Kami ini manusia, kelinci sialan (2)
Lian : siluman kelinci kudisan.
Rafael : Sialan kampret.
Joe : Psikopat.
Okky : Sialan lo.
Haris : Dasar kelinci bangsat.
Haikal : Dasar siluman kelinci psikopat.
Farzan : Manusia setengah jadi-jadian.
Fattan : Buntelan kelinci gila.
Justin : Anak kampret hitam.
Damian : Itu semua pujian untuk gue ya. terima kasih, hahahaha...
Haris : Gila.
Okky : Gila.
Joe : ^ 3
Lian : ^ 4
Okan : ^ 5
Yuan : ^ 6
Noah : ^ 7
Naufal : ^ 8
Kaamil : Sakit lo, Dam?
Kenzo : Sakit lo, Dam? (2)
Elvano : ^ 3
Haikal : ^ 4
Farzan : ^ 5
Fattan : ^ 6
Justin : ^ 7
Damian : Gue bukan sakit lagi. gue udah stress berat. kalau bukan mikirin amanah orang tua gue, udah dari dulu gue pergi dari dunia ini. sialan nyiksa banget tahu.
Haikal : Lo kenapa?? berantem lagi ama kakak-kakak lo?
Farzan : Ada apa sih Dam?. ceritain pada kami semua.
Fattan : Sabar aja, Dam. Kami ada bersama lo dan gak akan ninggalin lo. percayalah!!!!
Haris : Yang kuat Dam.
Elvano : Emangnya lo diapain lagi ama keenam singa lo tu, Dam?
Okky : Lo jangan patah semangat. Walau keenam kakak-kakak lo tak peduli ama lo, ada kita Dam.
Joe : Lo jangan nyerah ya. tetap semangat, walau keenam kakak lo tak peduli ama lo. ada kami Dam.
Lian : Sabar aja diperbanyak kook. siapa tahu keenam setan di rumah lo tu nyadar akan pentingnya lo buat mereka.
Okan : Waw, pedas dan mantul ucapan lo, Lian. iya itu benar Dam apa yang dikatakan Lian. lo sabar aja, kita ada untuk lo.
Yuan : Lo gak dapet perhatian dan kasih sayang dari keenam kakak lo, kami disini yang akan kasih itu semua buat lo Dam.
Noah : Sabar ya kelinciku sayang. jangan nyerah hanya perlakuan keenam kakak-kakak lo. lo udah melangkah jauh selama delapan tahun ini. masa lo mau nyerah gitu aja. gak banget iih.
Yuan : Sabar ya Dam. lo gak sendiri, ada kita semua.
Gaffi : Sabar ya kelinciku sayang. anggap aja gak ada makhluk hidup lain di rumah lo selain lo ama bibi hana. anggap aja mereka makhluk tak terlihat.
Kenzo: Lo diapain lagi ama keenam kutu kupret itu. perlu kita basmi mereka..
Kaamil : Kita bumi hanguskan aja mereka.. hahahaha.
Damian : Huuuaaaa. gue baper. gue terharu ama ucapan kalian. eeh salah!! tulisan kalian. tapi cuma dikit, hahaha.
Kaamil : Kita nulis panjang lebar gini. lo ngehargainya cuma dikit doang. sialan lo siluman kelinci. manusia jadi-jadian.
Kenzo : ^ 2
Gaffi : ^ 3
Yuan : ^ 4
Noah : ^ 5
Yuan ^ 6
Okan : ^ 7
Lian : ^ 8
Okky : ^ 10
Naufal : ^ 11
Elvano : Dasar siluman kelinci tak berperikeotakan. manusia setengah setan.
Haris : ^ 2
Fattan : ^ 3
Farzan : ^ 4
Haikal : ^ 5
Justin : ^ 6
Damian : Hahaha! ke rumah gue sekarang! gue hampir mati kebosanan disini. Sekalian membahas soal balapan ntar malam. Jangan lupa bawa makanan dan minuman. gue gak punya makanan di rumah. kalian jangan ampe salah rumah.
Haris : dasar kelinci sialan. oke, segera meluncur.
Fattan : kelinci streesss. segera meluncur ketempat lo sialan.
Farzan : kelinci sakit jiwa. segera meluncur.
Haikal : dasar manusia psikopat. segera berangkat.
Justin : gue kesana sekarang, nyet!
Lian : siluman kelinci pelit. uang lo banyak. untuk makanan aja, minta dibelikan, dasar.. segera meluncur ketempat lo.
Joe : pura-pura sedih, pura baper.. ujung-ujungnya modus juga lo ya. dasar siluman kelinci kudisan. segera meluncur ke rumah lo.
Okky : modus tingkat dewa. kelas kakap, ikan teri. meluncur kesana sialan.
Elvano : sedih dan baper cuma acting doang. ternyata ujung-ujungnya modus. modusnya stadium akut lagi. gue datang.
Naufal : ^ 2
Noah : ^ 3
Yuan: ^ 4
Okan : ^ 5
Kaamil : ^ 6
Kenzo : ^ 7
Gaffi : ^ 8
__
Setelah puas berkirim pesan di grup. Damian tak henti-hentinya tertawa membaca isi pesan dari semua sahabat-sahabatnya itu.
"Hahahaha!"
"Terima kasih kalian selalu ada buatku. Aku bersyukur memiliki kalian," ucap Damian pada dirinya sendiri.
Damian beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju kamarnya di lantai dua, lalu tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan panggilan masuk.
Damian melihat nama 'Kakak Dandy' di layar ponselnya.
"Cih! Mau apa dia meneleponku?" gumam Damian.
"Hallo," jawab Damian ketus sembari melangkahkan kakinya menuju kamarnya di lantai dua.
Dandy meloundspeaker panggilannya agar adik-adiknya yang lainnya bisa mendengar dan ikut berbicara dengan Damian.
"Kenapa ketus sekali menjawab panggilan dari kakak, Dam?"
"Jangan basa basi. Langsung saja pada poinnya. Ada apa?"
Dapat Damian dengar helaan nafas dari seberang telepon.
"Kamu ada dimana? Kenapa tidak pulang?"
"Kenapa kau ingin mengetahui keberadaanku? Bukankah itu lebih baik aku tidak ada di rumah?" tanya Damian dingin.
Damian sudah berada di depan pintu kamarnya. Pintu tersebut dibuka.
Cklek..
Damiab pun masuk ke dalam kamarnya dan tak lupa menutupnya kembali.
Blam..
Dandy dan kelima yang di seberang telepon sana dapat mendengar dengan jelas suara pintu dibuka dan ditutup.
"Kenapa kamu bicara seperti itu, Dam? Bahkan kamu tidak menyebutku kakak.
"Eemm. Apakah masih pantaskah kalau kau dipanggil kakak olehku?"
"Damian. Jaga ucapanmu. Bagaimana pun kakak Dandy dan kami semua ini masih berstatus kakak-kakak kamu," sahut Daniyal yang berusaha bicara lembut.
"Cih!"
Dua puluh lima menit setelah berperang digrup, terdengarlah suara teriakan yang melengking dari arah depan.
"Kami dataaaaaannnngg!" teriak Joe dan Gaffi.
Mereka melangkahkan kaki masuk ke rumah mewah milik Damian dan langsung menuju ruang tengah.
Sesampainya di ruang tengah keenam diantara mereka meletakkan makanan dan minuman di atas meja lalu menata makanan dan minuman itu.
Kenapa teman-temannya Damian bisa masuk ke dalam rumahnya? Itu karena mereka sudah tahu kode pin rumah Damian dan mereka sudah sering dan hampir setiap hari bermain di rumah Damian.
Sejak pertama kali Damian membeli rumah sampai sekarang ini. Makanya mereka bisa bebas keluar masuk rumah Damian tanpa harus menunggu Damian membukakan pintu.
"Yak! Dimana bocah kelinci itu? Kenapa dia tidak menyambut kedatangan kita?" tanya Yuan.
"Iya, ya! Kemana dia?" sela Kenzo.
Mereka mengedarkan pandangan setiap sudut dan ruangan yang ada di rumah tersebut, tapi mereka tak menemukan keberadaan kelinci nakal mereka.
"Mungkin Damian sedang mandi di kamarnya," sahut Hoe.
"Atau mungkin sedang bersemedi di dalam kamar mandi sehingga tidak mengetahui kedatangan kita," balas Elvano.
"Hahahaha. Kau benar, No! Damian kalau sudah di dalam kamar mandi pasti lama keluarnya. Mungkin sudah jatuh cinta ama tuh kamar mandi," sela Haris.
"Hahahaha." tawa mereka semua.