BROTHER HUG

BROTHER HUG
Igauan Zevan



Zevan langsung mematikan panggilannya secara sepihak. Tidak peduli kalau sahabatnya itu mau marah, kesal ataupun mengamuk sekali pun.


Sepuluh menit kemudian Zevan telah selesai membersihkan dirinya dan juga selesai menyiapkan keperluan untuk dibawa ke kampus. Zevan pun meraih tas ranselnya dan kunci motornya, lalu bergegas turun ke bawah.


Saat sampai di bawah Zevan tidak menemukan para kakak-kakaknya. Tapi Zevan  tidak mempedulikan hal itu. Ia tetap melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.


Setelah tiba diluar, Zevan langsung menaiki motornya, lalu menghidupkannya. Zevan membawa motornya dengan kecepatan sedang.


***


Zevan pun sudah tiba di kampus dan disambut oleh tiga sahabatnya. "Kau telat lima menit, Van!" ujar Vero.


"Memangnya sudah selesai?" tanya Zevan.


"Belum. Masih ada waktu lima menit lagi," jawab Atha.


"Hah!!" Zevan menghela nafas. "Syukurlah. Aku pikir aku terlambat."


Zevan menyadari kalau Alvan menatap dirinya dengan tatapan kekesalan. Tapi Zevan tidak mempedulikan tatapan Alvan. Zevan sengaja melakukannya untuk membuat Alvan bertambah kesal padanya.


"Van. Bagaimana hubunganmu dengan keenam kakak kamu?" tanya Atha.


"Biasa saja," jawab Zevan singkat.


"Apa mereka menyakitimu lagi??" tanya Vero.


"Tidak. Justru aku yang balik menyakiti mereka dengan sikap acuh dan tak peduli terhadap mereka," jawab Zevan.


"Eheemm." Alvan berdehem.


Atha dan Vero melihat kearah Alvan.


"Lo kenapa, Van?" tanya Atha.


Saat Alvan ingin menjawabnya. Zevan sudah terlebih dahulu menjawab pertanyaan dari Atha.


"Tenggorokannya Alvan sakit, Atha!"


"Aaaaa! Apa benar, Van?" tanya


Lagi-lagi Zevan yang menjawabnya. "Iya, benar. Makanya kalian jangan ajak Alvan bicara dulu. Atau suruh Alvan nulis di atas kertas kalau dirinya ingin bicara dengan kita. Kasihan Alvan."


Alvan seketika membelalakkan matanya. Dirinya bertambah kesal atas ulah sikelinci tengil itu. Alvan memberikan tatapan horornya pada Zevan. Zevan yang menyadari tatapan sahabatnya itu seakan-akan ingin memakannya hidup-hidup dirinya pun bergegas pergi.


"Aku mau ke aula duluan ya. Daaaa!"


"Siluman kelinci sialan! Tunggu aku!" teriak Alvan yang langsung mengejar Zevan.


Sedangkan Atha dan Vero kebingungan melihat kelakuan dua sahabatnya itu. Mau tidak mau mereka pun menyusul kedua sahabat-sahabatnya.


^^^


Kegiatan di aula akhirnya selesai. Mereka sekarang bersiap-siap untuk pulang. Mereka melangkahkan kaki menyusuri koridor kampus dan menuju ke parkiran.


"Van," panggil Vero.


"Ya," jawab Zevan.


"Apa kamu sakit? Kenapa wajahmu  pucat sekali?" tanya Vero.


"Aku tidak apa-apa, Vero? Aku hanya sedikit lelah," jawab Zevan.


"Apa kau yakin bisa membawa motor sendiri? Aku goncengin ya?" tanya Alvan khawatir.


"Apaan sih, Mingten? Aku bisa sendiri. Lagian aku baik-baik saja kok. Kau tidak perlu khawatir, oke!" tutur Zevan.


"Tapi kita konvoi ya. Jangan ada yang misah," ucap Atha.


***


Tiba-tiba saja Zevan merasakan sakit di kepalanya.


"Aakkhh. Kenapa sakit ini datang lagi." Zevan berusaha untuk menahannya dan tetap fokus pada pandangannya ke depan. Dia tidak ingin terjadi sesuatu padanya di jalan.


"Kenapa pandanganku kunang-kunang begini? Ada apa denganku?" batin Zevan.


"Oh tidak. Sial!"


Zevan kehilangan fokusnya dengan reflek Zevan membelokkan setang motornya ke kiri untuk menghindari seorang pejalan kaki yang sedang menyeberang. Dan mengakibatkan motor yang dikendarai Zevan oleng dan menabrak sebuah pohon besar. Zevan pun terjatuh. Kepalanya terbentur walau memakai helm dan kakinya terhimpit motor besarnya.


"Zevan!"


Alvan, Atha dan Vero menjerit seperti orang kesetanan saat melihat apa yang terjadi pada Zevan. Mereka menghampiri Zevan dan membantunya.


"Van, bertahanlah." Alvan berucap sambil membantu Zevan. Dirinya sudah menangis.


Alvan membuka helm yang menutupi kepala Zevan. Dapat dilihat darah segar mengalir dari kepala Zevan dikarenakan helm yang dikenakan Zevan retak terkena benturan.


Atha dan Vero mengangkat motor Zevan. Sementara Alvan menarik tubuh Zevan. Dan menjauhkan Zevan dari motornya.


"Van, bangunlah." Alvan menepuk-nepuk pelan pipi Zevan.


Vero berdiri di pinggir jalan untuk menghentikan taxi. Lima menit kemudian taxi pun datang.


"Ayo, angkat Zevan. Kita harus segera membawa Zevan ke rumah sakit!" seru Vero.


"Kalian pergilah bawa Zevan ke rumah sakit. Biar aku disini." Mereka pun pergi meninggalkan Vero sendirian.


Dan sekarang Alvan dan Atha sudah di dalam taxi. Mereka yang membawa Zevan ke rumah sakit. Sedangkan Vero tetap berada di tempat kejadian.


Tinggallah Vero sendiri. "Bertahanlah, Van!" batin Vero.


Vero merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya, lalu dirinya menghubungi Biyan.


"Hallo, kakak Biyan." 


"Ya, Vero. Ada apa?"


"Bisa tidak kakak dan kakak Agung datang ke Rose Stret. Sekarang!"


"Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi?" tanya Biyan.


"Zevan jatuh dari motor, kak. Keadaan sangat parah. Alvan dan Atha sudah membawanya ke rumah sakit. Sedangkan aku masih disini. Kalau bisa bawa satu orang lagi dan datangnya bawa mobil."


"Baiklah.. Baiklah!"


Di seberang telepon Biyan sudah khawatir ketika mendengar cerita dari Vero.


Flashback Off..


"Begitu, kak Marvin ceritanya." Alvan menjawabnya.


Mereka semua menangis mendengar cerita Alvan. Mereka menyesal karena mereka tidak ada disaat adik mereka pergi keluar rumah.


"Maafkan kami, Van. Kami benar-benar kakak yang bodoh. Kakak yang lalai."


Saat mereka sedang meratapi penyesalan dalam diri mereka. Mereka dikejutkan suara igauan yang keluar dari bibir Zevan.


"Papa, Mama. Jemput aku. Aku ingin ikut dengan kalian saja." igauan Zevan disertai air mata yang mengalir.


DEG..


"Van," lirih Kevin yang masih setia menggenggam tangan Zevan.