BROTHER HUG

BROTHER HUG
Permohonan Para Kakak



Damian keluar dari mobilnya. Begitu juga dengan Ehzar. Mereka saling berhadapan dan saling menatap tajam satu sama lain.


"Kau kalah, Ehzar Achazia. Aku sudah tahu taktikmu dan rencana licikmu malam ini. Makanya aku membiarkanmu menang saat menit pertama. Bahkan aku sengaja memberikan selah untukmu agar kau bisa menyalip saat ditikungan pertama dan kedua."


"Brengsek!" umpat Ehzar.


"Mana uangnya?" tanya Damian dengan menadahkan telapak tangannya kearah Ehzar.


"Sesuai perjanjian antar kelompok. Total semuanya Rp 400 juta."


Ehzar meletakkan empat amplop tebal berwarna kuning keemasan berisikan uang pecahan seratus ribuan di tangan Damian.


"Masing-masing amplop ini berisi Rp 100 juta!" kata Ehzar ketus.


"Aku percaya. Senang bisa bertanding balapan denganmu, Ehzar Achazia! Tapi sepertinya ini malam terakhir aku balapan denganmu. Dikarenakan balapan-balapan berikutnya aku tidak akan balapan lagi denganmu," ucap Ehzar.


Damian dan anggota Midnight Club pergi meninggalkan Geng The Refour setelah memenangkan balapan.


"Apa maksud perkataanmu itu, Damian?!" teriak Ehzar.


Damian berhenti dan membalikkan badannya melihat kearah Ehzar lalu tersenyum licik.


"Karena kau bukan tandinganku."


Setelah itu Damian melanjutkan langkahnya.


Sedangkan Ehzar sudah murka mendengar ucapan Damian.


"Brengsek! Awas kau, Damian!"


"Malam ini kita pesta. Datanglah ke rumahku. Jangan ada yang tidak datang," sahut Damian.


"Oke," jawab anggota Midnight Club bersamaan.


"Kalian bebas mau beli makanan atau minuman apapun. Tapi tidak alkohol. Karena kita masih sekolah," ucap Damian mengingatkan.


"Siap, Bos!" jawab anggota Midnight Club lagi.


"Ini." Damian memberikan masing-masing satu amplop yang berikan uang kepada Joe, Fattan, Mateo dan Naafi.


Joe dan Fattab dipercaya oleh anggota Midnight Club untuk bertanggung jawab urusan makanan dan minuman.


Sedangkan Mateo dan Naafi dipercaya oleh anggota Midnight Club untuk bertanggung jawab setiap jadwal atau kegiatan di Club mereka, termasuk kegiatan utama mereka yaitu Bakti Sosial. Dan sisanya membantu tugas yang lainnya.


***


[DIKEDIAMAN KELUARGA CALVIN]


[Di Ruang Tengah]


Dandy dan kelima adik-adiknya sedang duduk di ruang tengah. Pikiran mereka benar-benar berpusat pada Damian adik bungsu mereka.


"Kakak Dandy. Bagaimana ini? Malam ini bukannya Damian ikut balapan. Aku takut terjadi sesuatu padanya," tutur Daanii.


"Bukan kau saja yang khawatir, Daanii. Kami disini juga sama khawatir nya terhadap Damian," sela Daniyal.


"Aku masih kepikiran dengan kata-kata dari Bibi itu. Salah satunya adalah kalau Damian memperkenalkan namanya sebagai Damian Altezza bukan Damian Calvin," ucap Danesh.


"Dan Damian juga mengatakan pada bibi itu kalau dia memiliki dua orang kakak dan salah satunya dokter," kata Daanii.


"Apa Damian sudah tidak menganggap kita hyungnya lagi? Apa kesalahan kita selama ini padanya sulit untuk dimaafkan?" ucap Dayyan.


"Apa Damian benar-benar sudah menyerah untuk mendapatkan perhatian dari kita lagi?" ucap Daaris.


"Apa tidak ada kesempatan lagi untuk kita kembali seperti dulu?" Ujar Dandy.


"Tidak. Tidak kak. Kita tidak boleh menyerah. Damian adik kita. Adik kandung kita. Bagaimana pun caranya, kita harus membawanya kembali pada kita? Kembali ke dalam pelukan kita semua," tutur Daanii.


"Ya. Kau benar, Daanii. Kita harus membawa Damian kembali ke dalam pelukan kita. Dia adik kita. Selamanya akan menjadi adik kesayangan kita," ucap Daaris semangat.


"Hm!!" seru Dandy, Daniyal, Dayyan dan Danesh bersamaan.


"Dan. Coba kau hubungi Damian. Siapa tahu Damian mau menjawab panggilan darimu," ucap Daniyal.


"Baiklah. Aku akan coba," sahut Daanii.


***


[KEDIAMAN RUMAH DAMIAN]


[Ruang Tengah]


Saat ini mereka tengah mengadakan pesta ala Midnight Club. Pesta kecil-kecilan tanpa musik, tanpa keributan.


"Dam. Aku ikut bahagia. Kau berhasil. Awalnya aku benar-benar mengkhawatirkanmu. Aku takut kejadian empat tahun yang lalu terulang kembali," kata Elvan.


"Terima kasih kau telah mengkhawatirkanku. Sesuai janjiku padamu dan yang lainnya kalau aku akan baik-baik saja saat balapan. Dan Tuhan mendengarkan doaku," balas Damian.


Lalu tiba-tiba ponsel milik Damian berbunyi.


DRTT..


DRTT..


Damian mengambil ponselnya dan dapat dilihat olehnya di layar ponsel miliknya tertera nama 'Kakak Daanii' otomatis ekspresi wajahnya berubah dingin.


Hal itu dapat dilihat oleh para anggota Midnight Club.


"Mau apa kakak Daanii menghubungiku malam-malam begini?" batin Damian.


Damian pun terpaksa menjawab panggilan tersebut.


"Hallo."


"Hallo, Dam. Kamu ada dimana?"


"Apa urusanmu menanyakan keberadaanku?"


"Dam. Ayolah! Jangan hukum kami seperti ini. Kami tahu dan sangat tahu kesalahan kami. Kami mohon, Dam! Berikanlah satu kesempatan untuk kami agar bisa menjadi kakak yang baik untukmu," ucap Daniyal.


"Pulanglah, Damian. Pulanglah adikku. Adik kesayangannya kakak," ucap Dandy.


Tiba-tiba air mata Damian mengalir saat mendengar kata-kata yang diucapkan oleh kakak tertuanya itu.


"Kenapa kau menyuruhku pulang, hah?! Apa mulutmu itu sudah gatal untuk membentakku?"


"Tidak, Dam. Tidak! Kalau kakak boleh jujur padamu. Selama ini kami semua tidak benar-benar membencimu. Kami selama ini selalu mengawasimu. Kami selalu memikirkanmu. Hanya saja kami tidak menunjukkannya padamu, karena rasa gengsi kami." Dandy berucap dengan suara lirihnya.


"Pulang ya, Dam." Daaris berucap sembari memohon.


"Kami mohon. Pulanglah!" pinta Danesh.


"Aku akan pikirkan dulu. Aku mau pulang atau tidak?"


Pip..


Damian mematikan panggilan secara sepihak.


"Dam," panggil Farzan yang kebetulan duduk didekatnya.


Damian mengalihkan pandangannya melihat kearah Farzan, lalu tersenyum. "Ya. Ada apa, Zan?"


"Kau baik-baik saja?" tanya Farzan.


"Hm!! Aku baik-baik saja."


"Siapa yang menghubungimu? Apa salah satu kakak kamu?" tanya Joe.


"Ya," jawab Damian. "Mereka ingin aku pulang. Aku bingung," ucap Damian.


"Pulanglah, Dam. Berbaikanlah dengan mereka. Bagaimana pun mereka adalah kakak-kakak kandungmu? Bukalah hatimu untuk mereka secara berlahan. Dan berikanlah mereka kesempatan untuk memperbaiki semuanya," tutur Kenzo menasehati.


"Aku takut," jawab Damian.


"Takut apa, Dam. Kita semua ada disini dan tidak akan pernah meninggalkanmu," ucap Kaamil.


"Ya, Dam. Kita semua ada disini dan selamanya kita akan tetap bersama," kata Haris.


"Aku takut kalau mereka akan menyakitiku untuk yang kedua kalinya," jawab Damian.


"Kau kan belum mencobanya. Bagaimana bisa kau mengatakan mereka akan menyakitimu lagi," sela Noah.


"Kalau memang nantinya mereka mengulangi kesalahan yang sama yaitu menyakitimu. Barulah kau mengambil sebuah tindakan," ucap Yuan.


"Ada sebuah kata yaitu kata PENYESALAN dan kata KESEMPATAN KEDUA. Kedua kata-kata itu ditujukan untuk keenam kakakmu. Mereka pantas mendapatkannya, Dam!" ujar Okan.


Damian menatap satu persatu wajah wajah tampan para sahabatnya. "Baiklah. Besok pagi aku akan pulang."


Mereka semua tersenyum bahagia mendengar penuturan dari Damian.