BROTHER HUG

BROTHER HUG
Jalan-Jalan



[JAKARTA DESSERT CAFE]


Damian dan Kevlar sekarang berada di sebuah cafe Jakarta Dessert Cafe. Mereka mengambil meja paling pojokan dan kemudian memanggil pelayannya. Dan pelayan tersebut pun datang.


"Mau pesan apa, Tuan?"


"Kami pesan stik daging, nasi goreng seafood, Banana Milk, caffe latte, Milk Shake." Kevlar memesan banyak makanan.


"Baik, Tuan!" pelayan tersebut pergi menuju dapur.


Lima belas menit kemudian semua pesanan pun datang dan sudah tertata rapi diatas meja.


Damian dan Kevlar pun mulai menyantap makanan yang sudah tertata di atas meja.


"Habis ini kita akan JKT Mall. Kamu bisa puas belanja disana," kata Kevlar.


"Aish, kak! Aku bukan anak kecil lagi yang harus membeli ini itu," protes Damian.


"Tapi bagi kakak kamu itu masih anak kecil yang harus dimanja dan dilayani," ucap Kevlar tak mau kalah.


"Terserah kakka sajalah," jawab Damian pasrah.


Kevlar hanya tersenyum mendengar jawaban dari adik angkatnya. Kevlar melirik sekilas wajah tampan sang adik lalu tersenyum.


"Kakak melakukan ini padamu hanya untuk membahagiakanmu, Dam! Kakak tahu kamu tidak pernah mendapatkan kebahagiaan dari keenam kakak-kakak kamu. Mereka pun tidak pernah ada waktu untukmu," batin Kevlar.


"Kakak menyayangimu, Dam." Kevlar berucap dengan tulus.


Damian menatap wajah tampan kakak angkatnya. "Terima kasih, kakak. Aku juga menyayangimu. Selamanya!"


"Kakak, aku sudah selesai!" seru Damian.


Kevlar melirik Damian. "Tapi makanan masih ada, Dam. Tambah lagi minumannya juga masih utuh."


"Aish, kak Kevlar Aku tidak kuat lagi. Perutku sudah penuh. Kakak mau buat aku gendut ya," protes Damian dengan bibir yang dimanyunkan.


Kevlar terkekeh dan gemas melihat aksi protes Damian. "Baiklah-baiklah. Makanannya kita bungkus saja."


"Makanannya kita bawa pulang ke rumah kakak saja. Sekalian aku ingin bertemu dengan Papa, Mama dan Kakak Savian." Damian berucap.


"Baiklah, kelinci nakal." Kevlar menjawab perkataan dari Damian sembari menjahilinya.


"Aku ini manusia, kak! Bukan kelinci," lagi-lagi Damian cemberut atas ucapan sang kakak.


Kevlar pun memanggil seorang pelayan. Dan tidak butuh lama, pelayan tersebut datang.


"Ada apa, Tuan?" tanya pelayan tersebut.


"Bisa tolong bungkuskan makanan ini?" tanya Kevlar sembari menunjuk makanan dan minuman yang masih utuh.


"Baik Tuan," jawab pelayan itu lalu membawa makanan dan minuman yang masih utuh untuk dibungkus.


Sepuluh menit kemudian, pelayan tersebut datang dengan membawa dua kantong plastik berisi makanan dan minuman.


"Ini Tuan," ucap pelayan itu dengan menyerahkan dua kantong plastik tersebut.


"Terima kasih," balas Kevlar.


Setelah melakukan pembayaran, Kevlar dan Damian pun pergi meninggalkan Cafe tersebut.


***


[RUMAH KELUARGA CALVIN]


[Ruang Tengah]


Dandy dan kelima adik-adiknya sedang duduk di sofa ruang tengah. Pikiran mereka kacau, kalut, khawatir sesuatu. Jujur, di pikiran mereka saat ini adalah Damian. Damian Calvin adik bungsu mereka. Mereka benar-benar memikirkan Damian. Walaupun mereka mengetahui bahwa adik mereka pergi dengan seseorang, tapi tetap saja mereka khawatir.


"Kakak. Kenapa Damian belum pulang? Inikan sudah pukul delapan malam," ucap dan tanya Daanii.


"Biasanya Damian jam lima sore sudah berada di rumah. Walau Damian lebih banyak menghabiskan waktu diluar," sahut Danesh.


"Dari mana kau tahu, Danesh?" tanya Daniyal.


"Aku selalu mengawasinya, kak Daniyal. Paling lambat Damian pulang ke rumah itu pukul empat sore. Pulang ke rumah Damian langsung masuk kamar dan tidak akan keluar kamar sampai Bibi Hana memanggilnya untuk makan siang atau makan malam," jawab Danesh.


"Tuan muda Damian selalu menghabiskan waktunya hanya di kamarnya dan tidak akan keluar dari kamarnya kalau tidak ada keperluan. Dia akan keluar dari kamarnya disaat Bibi memanggilnya dan saat jadwal sekolahnya!" seru Bibi Hana yang tak sengaja lewat dan mendengar pembicaraan Dandy dengan adik-adiknya.


"Apakah adikku makan dengan baik? Apakah adikku selama ini dalam keadaan sehat? Apakah adikku pernah mengeluh atau menangis, Bi? " tanya Dandy yang tanpa diminta air matanya sudah mengalir.


Bibi Han tersenyum mendengar rentetan pertanyaan dari Dandy. "Tuan muda Damian selalu makan dengan baik, karena Bibi selalu memperhatikan pola makannya, walau kadang-kadang Bibi selalu dibikin kesal karena tuan muda Damian sering mengabaikan waktu makannya. Tuan muda Damian selama ini selalu kelihatan baik-baik saja di depan Bibi. Tapi nyatanya di belakang Bibi, tuan muda Damian selalu menangis. Tuan muda Damian tidak pernah protes dengan kehidupannya yang selama ini dijalaninya. Hanya saja dia berpikir, kenapa dia harus dilahirkan kedunia ini kalau tujuannya hanya untuk dibenci." Bibi Hana menangis kala mengingat bagaimana rapuh majikannya itu.


"Maaf tuan muda Dandy. Kalau begitu Bibi ke dapur dulu," pamit Bibi Hana.


***


[JKT MALL]


Sesuai janjinya pada adiknya, kini Kevlar dan Damian sudah berada di sebuah Mall.


"Belanjalah sepuasmu, Dam!" seru Kevlar.


"Aish, kakak! Aku ini bukan anak kecil lagi yang lari kesana kesini untuk minta dibelikan sesuatu. Kalau aku ingin beli sesuatu, aku bisa beli sendiri. Lagian kan aku punya uang sendiri. Kakak lupa kalau aku sudah memiliki pekerjaan dan sudah menghasilkan uang sendiri," ucap Damian.


Kevlar tersenyum mendengar ucapan Damian. Memang benar apa yang dikatakan oleh Damian. Damian sudah memiliki pekerjaan dan penghasilan sendiri. Dan penghasilannya itu lumayan wow. Kevlar juga mengetahui. Dari penghasilannya itu adik kelinci kesayangannya itu juga sudah memiliki rumah mewah sendiri, mobil dan motor sport. Dan pekerjaan adiknya itu pun tidak terlalu membuang banyak tenaga. Melukis. Itulah pekerjaan sang adik.


"Iya, ya! Kakak tahu dan kakak bangga padamu. Kamu masih sekolah, tapi sudah bisa menghasilkan uang sendiri. Pasti orang tuamu bangga diatas sana," sahut Kevlar sembari mengacak-acak rambut Damian.


Saat mendengar kata orang tua sontak membuat Damian terdiam dan tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja membasahi wajah tampannya.


"Hei. Kenapa menangis, hum?" tanya Kevlar saat melihat adiknya menangis.


"Aku merindukan mereka, kak. Tidak terasa sudah delapan tahun memasuki sembilan tahun kepergian mereka. Aku berharap ini hanya mimpi," jawab Damian.


"Bagaimana kalau besok kita menjenguk mereka. Bukankah kamu sudah lama tidak kesana?"


"Apa kakak mau menemaniku?"


"Eemm! Kakak akan menemanimu kesana," jawab Kevlar.


Mendengar jawaban dari kakak angkatnya seketika terukir senyuman manis di bibir Damian.


"Ya, sudah. Ayo kita beli sesuatu. Kalau perlu kita borong semua yang ada di Mall ini," celetuk Kevlar.


"Memangnya kakak bawa uang banyak?" tanya Damian.


"Uang kakak banyak kok," jawab Kevlar santai.


"Apa cukup untuk memborong semua isi Mall ini?" tanya Damian.


Kevlar terdiam sejenak. Mereka saling melirik satu sama lain. Detik kemudian mereka pun tertawa


"Hahahaha."


***


[RUMAH KELUARGA CALVIN]


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Namun yang ditunggu belum juga pulang.


"Kakak. Ini sudah pukul sembilan malam. Tapi Damian belum juga pulang," kata Daanii.


"Aku akan menghubunginya," sela Daaris, lalu menekan nama kontak adiknya 'Kelinciku'.


Panggilan tersambung..


"Aish! Dasar kelinci nakal," ucap Daaris kesal.


"Kenapa, Ris?" Tanya Dandy.


"Panggilan tersambung. Tapi tidak diangkat sama Damian," jawab Daaris.


"Kita disini mengkhawatirkan dia. Sedangkan dia lagi enak-enakan diluar sana bersama kakak barunya itu," ucap Daniyal kesal.


Disaat mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Lalu terdengar suara bunyi klason mobil.


Tin..


Tin..


Lalu mereka semua mengintip di balik jendela. Dapat mereka lihat adik bungsu mereka terlihat sangat bahagia.