BROTHER HUG

BROTHER HUG
Memutuskan Hubungan Persaudaraan



Di halaman kampus Zevan dan Alvan bertemu dengan Abyan dan Galen. Abyan dan Galen memang menunggu Zevan untuk pulang bersama.


"Kalau begitu aku duluan ya, Van!" seru Alvan.


"Kau pulang dengan siapa?" tanya Zevan.


"Aku pulang dengan kakakku lah. Kau lupa kalau kakak Nabil itu kakak sepupuku," jawab Alvan.


Zevan hanya tersenyum. "Maaf aku lupa. Ya sudah, kau hati-hati ya." Zevan membalas ucapan dari Alvan.


"Van, wajah kamu kenapa? Kamu berkelahi lagi?" tanya Abyan.


"Ya, sudah. Nanti sampai di rumah tolong kamu jelaskan. Bisa?" tanya Galen lembut.


"Baik kak," jawab Zevan.


Tit..


Tit..


Terdengar suara klason mobil bertanda jemputan sudah datang dan mereka dengan segera menuju mobil tersebut.


Yang menjemput mereka adalah Dallin siberuang kutub. Dallin belum menyadari dengan bekas memar di wajah Zevan.


***


Tibalah mereka di rumah. Yang membukakan pintu tersebut adalah Marvin. Dan saat mereka memasuki rumah tersebut, Kevin, Marvin dan Aidan menatap Zevan kecuali Abyan dan Galen. Sedangkan Dallin langsung pergi karena ada urusan.


"Zevan kenapa wajahmu? Kamu berkelahi lagi, hah!" bentak Kevin.


"Kakak, aku tadi...." ucapan Zevan terpotong. Kevin langsung melayangkan tamparan keras ke wajahnya


Plakk..


"Kakak Kevin!" teriak mereka.


"Kalian diam!" bentak Kevin.


"Kenapa kamu selalu saja cari masalah, Zevan. Tidak bisakah kamu tidak berkelahi sekali saja!" bentak Kevin.


Zevan menatap tajam dan marah ke arah Kevin. Dirinya benar-benar muak dengan semua ini. Baru beberapa jam yang lalu dirinya merasakan kebahagiaan. Tapi kini kebahagiaan itu hilang kembali.


Zevan menghentikan ucapan. Tangisannya pun pecah. Zevan menangis di depan kakak-kakaknya.


"Apa... apa aku ini bukan adik kandungmu? Kau selalu saja seperti ini, seolah-olah aku ini penjahat. Kau tidak tahu masalah yang sebenarnya, tapi kau sudah menuduhku yang tidak-tidak. Kenapa, hah?! Kenapa?! Baru kemarin kau mengatakan kalau kau menyayangiku. Baru tadi pagi di meja makan kau begitu perhatian padaku. Aku sungguh-sungguh bahagia menerima perlakuanmu padaku. Tapi apa ini? Kau balik menyakitiku. Kau menamparku tanpa kau mengetahui masalah yang sebenarnya. Aku kecewa padamu...  aku kecewa! Seharusnya aku tidak percaya dengan ucapanmu kemarin. Aku yang bodoh terlalu berharap kasih sayang darimu. Mulai hari ini dan seterusnya aku akan menyerah dan aku tidak akan lagi mengharapkan kasih sayang kalian. Kalian mau membenciku. Itu hak kalian dan aku tidak akan memohon agar kalian kembali menyayangiku. Karena aku tidak mau disakiti untuk kedua kalinya."


Zevan berbicara dengan penuh amarah. Zevan menatap satu persatu wajah kakak-kakaknya. Setelah itu Zevan kembali menatap wajah kakak tertuanya.


"Dengarkan aku baik-baik. Mulai detik ini kau dan adik-adikmu itu tidak perlu mengurusiku lagi. Aku bisa mengurusi diriku sendiri. Aku sudah tidak butuh kakak-kakak seperti kalian. Aku bisa jaga diriku sendiri. Bukankah selama ini aku memang sendiri. Apa-apa sendiri. Jadi aku sudah tidak mengharapkan kalian sebagi kakak-kakak."


"Satu lagi! Jangan kalian mencampuri masalahku dan mengusik kehidupanku. Apapun yang aku lakukan di luar rumah. Itu semua bukan urusan kalian. Jika kalian malu memiliki adik yang tidak tahu malu, adik yang tidak tahu diri, adik pembawa sial seperti diriku. Aku siap pergi dari rumah ini. Jangan kalian pikir aku akan sedih jika berpisah dengan kalian. Jawabannya adalah Tidak!"


DEG..


Kevin, Marvin, Aidan, Abyan dan Galen terkejut mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Zevan. Mereka semua tidak menyangka jika Zevan akan berbicara seperti itu. Hati mereka benar-benar sakit ketika mendengar ucapan yang begitu kejam dari Zevan. Mereka semua menangis, terutama Kevin.


Zevan menatap penuh kebencian ke arah Kevin. Rasa hormat dan rasa sayang sudah tidak ada lagi ketika menatap Kevib.


Setelah puas mengeluarkan semua kekecewaannya dan amarahnya. Dan setelah puas menatap wajah kakak tertuanya itu. Zevan langsung berlari menuju kamarnya di lantai atas.


Setiba di lantai atas, Zevan membuka pintu kamarnya dan menutup pintu kamarnya dengan kasar.


Blam..


"Zevan," lirih Kevin.


Mereka semua hanya bisa menangis ketika melihat wajah marah dan mendengarkan keluh kesah Zevan yang selama ini dipendam olehnya. 


Galen mengalihkan perhatiannya menatap kakak tertuanya. Dirinya benar-benar kecewa akan sikap kakaknya itu.


"Zevan benar, kakak Kevin! Zevan tidak salah. Dia tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Kau bahkan belum mengetahui alasannya, tapi kau sudah terlebih dahulu menamparnya. Kau kejam kak. Kau kakak yang paling kejam," ucap Galen.


Setelah mengatakan itu, Galen pergi menuju kamarnya di lantai dua.


"Kau tidak berhak menyandang status sebagai kakak. Kau sudah gagal menjadi kakak untuk Zevan. Diantara kita, kaulah yang paling kejam." Abyan juga ikut menyuarakan isi hatinya.


Dan setelah itu, Abyan juga pergi menuju kamarnya di lantai dua.


Sedangkan Marvin dan Aidan. Mereka hanya bisa terdiam. Mereka tidak tahu harus bicara apa? Hati mereka juga terluka saat mendengar ucapan dari Zevan yang begitu menyayat. Mereka benar-benar berdosa pada Zevan.