
Di kamarnya Damian masih berbicara dengan kakak tertuanya itu.
"Sudahlah kak. Kau tidak perlu tahu aku ada dimana dan untuk empat hari ini aku tidak akan pulang ke rumah. Jadi jangan menghubungi atau mencariku."
"Damian! Aku ini kakakmu. Bagaimana pun kau adalah tanggung jawabku?!" teriak Dandy.
"Kakak mohon pulanglah Dam. Dan batalkan balapan itu." kali ini Daanii yang berbicara.
Deg..
"Dari mana kalian tahu kalau aku akan ikut balapan, hah?!" teriak Damian.
"Bibi Hana. Kami memaksa bibi Hana untuk mengaku," jawab Daaris.
"Brengsek!! Sekali pun kalian sudah tahu. Jangan harap aku akan mendengarkan perintah kalian. Kalian bukan siapa-siapaku lagi. Jadi kalian gak ada hak buat mengatur hidupku!"
"Damian. Kau itu adik kami. Jadi kami masih berhak untuk mengatur hidupmu selama itu baik," kata Dayyan.
"Hahahaha! Aku tidak habis pikir dengan otak kalian. Kenapa baru sekarang kalian semua menyadarinya? Selama delapan tahun ini, kalian kemana saja, hah?!" teriak Damian.
Damian berteriak sekencang-kencangnya sambil melempar semua barang-barang yang ada di kamarnya.
Praanngg..
Dan hal itu didengar oleh para kakak-kakaknya di seberang telepon dan juga didengar oleh sahabat-sahabatnya yang sedang berada di bawah.
^^^
Praaannnggg..
"Hei, kalian dengar itu!" seru Gaffi.
"Suara pecahan itu berasal dari kamarnya Damian," kata Naufal.
"Bukan suara pecahan saja terdengar. Tapi teriakan Damian juga," sela Haikal.
Mereka pun berlari menuju kamarnya Damian di lantai dua.
^^^
Damian benar-benar muak dengan sikap keenam kakak-kakaknya.
Cklek.
Pintu dibuka oleh Elvano. Saat pintu terbuka mereka melihat pemandangan yang begitu menyayat hati mereka.
Mereka melihat keadaan Damian yang terduduk di lantai dengan posisi masih berbicara dengan kakaknya di telepon. Jangan lupakan wajah dan tatapan matanya yang memerah menahan tangis. Serta keadaan kamar yang berantakan.
"Cukup! Aku bilang cukup! Aku mohon pada kalian. Jangan mengurusiku lagi seolah-olah kalian telah mengurusku selama ini. Jangan menggangguku lagi. Aku sudah bahagia hidup tanpa kalian. Aku sudah bahagia dengan keadaanku seperti ini. Jangan lagi kalian merampasnya!"
Pip..
Damian mematikan panggilan tersebut lalu melempar asal ponselnya. Damian membenamkan kepalanya pada dua lututnya dan tangannya sebagai tumpuannya.
***
[RUMAH KELUARGA CALVIN]
Setelah berbicara dengan Damian adik bungsu mereka. Kali ini mereka benar-benar khawatir terhadap adik mereka. Apalagi mereka sempat mendengar suara pecahan. Mereka takut terjadi sesuatu pada adik mereka.
"Kakak. Bagaimana ini? Aku takut terjadi sesuatu pada Damian," kata Daanii.
"Saat kita berbicara dengannya tadi, kita mendengar suara barang-barang yang dibanting. Aku takut kalau Damian melukai dirinya sendiri," ujar Danesh.
"Kakak... Kakak Dandy... Hiks." Daanii terisak.
Dayyab langsung merangkul Daanii dan mengusap punggung adiknya itu.
"Apa tidak ada harapan untuk kita kembali seperti dulu?" tanya Daanii.
"Dulu kita sangat amat menyayangi Damian, memanjakan Damian, selalu perhatian pada Damian. Apa-apa tentang Damian? Tapi setelah kepergian Papa dan Mama, kita semua berubah drastis. Kita mengabaikannya, tidak peduli dengannya. Bahkan kita sering memarahinya dan membentaknya," tutur Danesh yang sudah menangis.
"Disaat dirinya jauh dari kita. Kita baru menyadari bahwa kita memiliki adik yang begitu imut dan menggemaskan," kata Daaris.
"Maafkan kakak. Awal dari kebencian ini dimulai dari kakak. Kakak yang memulai membenci Damian. Sampai akhirnya kakak menyuruh kalian untuk menjauhinya. Bahkan kakak dengan tega mengatakan bahwa kematian Papa dan Mama penyebabnya adalah Damian," ucap Dandy yang air matanya sudah turun membasahi wajah tampannya.
"Kakak juga yang selalu memancing keributan disaat Damian pulang terlambat."
"Sudahlah, kak. Semuanya sudah terjadi dan kita tidak bisa mengubahnya. Yang penting sekarang ini bagaimana caranya kita bisa kembali seperti dulu lagi? Kita bawa adik kecil kita kembali kepangkuan kita. Kita perbaiki semua yang sudah kita sia-siakan dulu. Kita buat kenangan baru bersama adik bungsu kita. Kita belum terlambat kak Dandy." Daniyal berusaha meyakinkan kakak tertuanya itu dan juga adik-adiknya.
"Kau benar, Yal. Kita harus melakukan hal itu. Kita harus bawa pulang adik kita. Damian adik kita. Selamanya akan begitu," jawab Dandy.
"Yang terpenting saat ini kita harus menggagalkan rencana Damian untuk ikut balapan. Kita harus cari tahu Damian dimana sekarang!" seru Danesh.
Semuanya mengangguk.
***
[Kediaman Addison]
Zevan sekarang berada di kamarnya. Setelah membersihkan diri, Zevan memutuskan merebahkan tubuhnya di kasur empuk miliknya. Dan tak lama kemudian Zevan pun terlelap. Lalu detik kemudian terdengar pintu kamarnya dibuka.
CKLEK..
Yang membuka pintu kamarnya itu adalah Bibi Arum. Bibi Arum membawakan makanan beserta segelas susu untuk Zevan.
Saat Bibi Arum sudah berada di kamarnya, ia melihat majikannya sedang tertidur lelap dan Bibi Arum tidak tega untuk membangunkannya. Bibi Arum akhirnya membawa kembali makanan itu ke bawa.
Saat tiba dibawa Kevin yang melihat pun menghampiri Bibi Arum.
"Bibi Arum, kenapa makanannya dibawa lagi kebawa? Apa Zevan tidak mau makan?" tanya Kevin.
"Bukan begitu tuan muda Kevin. Tuan muda Zevan sedang tertidur. Sepertinya tuan muda Zevan kelelahan. Bibi tidak tega untuk membangunkannya. Tidurnya begitu nyenyak," tutur Bibi Arum lalu berlalu pergi ke dapur.
Lalu datang adik-adiknya menghampiri Kevin dan sukses membuat Kevin terlonjak kaget.
"Kakak Kevin," sapa adik-adiknya, kecuali Abyan dan Galen.
"Ada apa kak? Apa terjadi sesuatu?" tanya Dallin.
"Zevan," jawab Kevin singkat.
"Kenapa dengan Zevan, kak?" tanya Abyan panik.
"Kakak khawatir terhadap Zevan. Kakak takut kalau Zevan jatuh sakit. Zevan belum makan sama sekali sepulang dari kampus. Bahkan Zevan juga tidak ada makan selama di kampus," tutur Kevin.
"Kalau begitu kita ke kamarnya sekarang, kak!" seru Aidan dan diangguki oleh yang lain.
Mendengar seruan dari Aidan. Galen dan Abyan sudah terlebih dahulu berlari ke kamar Zevan.
Melihat Galen dan Abyan yang sudah terlebih dahulu pergu menuju kamar Zevan membuat Kevin, Dallin, Marvin dan Aidan hanya menggelengkan kepalanya. Dan mereka pun pergi menyusul kedua adiknya itu ke kamar Zevan.
Tap..
Tap..
Tap..
Bunyi langkah kaki mereka menaiki anak tangga menuju kamarnya Zevan. Sekarang mereka telah berada di depan pintu kamar Zevan. Kevin membuka pintu kamar tersebut.
CKLEK..
Pintu kamar itu terbuka dan mereka semua memasuki kamarnya Zevan. Dapat mereka lihat pemandangan yang begitu indah. Terukir senyuman di bibir mereka masing-masing.
"Adik bungsu kita begitu menggemaskan, kak!" seru Aidan.
"Kau benar, Dan. Adik kita benar-benar menggemaskan dan wajahnya begitu manis," sahut Dallin.
"Bahkan wajahnya saja terlihat cantik seperti perempuan. Seandainya saja Zevan terlahir sebagai perempuan dan Zevan bukan adikku. Aku bersedia menjadi kekasihnya," ucap Marvin terkekeh.
Mereka terus memandangi wajah adik mereka yang tengah tertidur lelap.