
[KEDIAMAN ADDISON]
Keesokan paginya mereka telah berkumpul di meja makan. Hanya Zevan yang belum bergabung.
"Kalian makanlah dulu. Kakak akan panggilkan Zevan," ucap Kevin.
Saat Kevin ingin beranjak dari tempat duduknya terdengar suara kaki melangkah menuju meja makan.
"Eeh, Van! Kau sudah turun rupanya. Kakak pikir kamu belum bangun," ucap Kevin.
Tidak ada senyuman. Tidak sapaan. Yang ada hanya kebisuan yang diberikan oleh Zevan untuk keenam kakak-kakaknya itu. Zevan sama sekali tidak menggubris sapaan kakak tertuanya itu. Zevan mengabaikan kakaknya itu dan melangkahkan kakinya menuju kursi kesayangannya.
"Ini susunya, Tuan muda Zevan," ucap Bibi Arum yang datang membawakan segelas susu untuk Zevan.
"Terima kasih, Bi. Kau benar-benar tahu semua yang aku butuhkan," ucap Zevan tersenyum manis pada bibi Arum.
"Sama-sama tuan muda. Itu sudah menjadi tugas saya. Kalau begitu saya kembali ke dapur," pamit bibi Arum.
Zevan memulai memakan sarapannya. Setelah itu dirinya harus segera bergegas pergi ke kampus, karena ada sesuatu yang harus dikerjakan bersama Alvan.
Lima menit kemudian..
"Aku sudah selesai. Aku berangkat ke kampus dulu," ucap Zevan.
Zevan langsung beranjak dari tempat duduknya. Ketika Zevan ingin melangkahkan kakinya terdengar suara yang menahan langkahnya.
"Apa punggung kamu masih sakit, Van?" tanya Galen.
"Galen, apa maksud kamu?" tanya Kevin yang menatap bingung ke Galen.
Semua menatap Galen kecuali Abyan. Galen tidak menjawab pertanyaan dari kakak tertuanya itu. Dirinya masih fokus terhadap adik bungsunya.
"Zevan, kakak Mohon. Jawab pertanyaan kakak barusan," pinta dan mohon Galen.
Zevan membalikkan badannya dan menatap para kakak-kakaknya. "Itu bukan urusanmu. Sekali pun tubuhku ini merasakan sakit yang amat sangat menyakitkan, tapi aku masih bisa menahannya. Rasa sakit yang aku rasakan saat ini bukan punggungku melainkan hatiku. Sakit di hatiku ini lebih sakit dan tidak akan ada obatnya," ucap Zevan dengan tatapan dingin dan kebenciannya.
Setelah mengatakan itu, Zevan langsung pergi meninggalkan mereka semua.
Seketika Galen menangis ketika mendengar ucapan dari Zevan. Dirinya tahu dan sangat tahu kalau adiknya itu merasakan kekecewaan untuk yang kedua kalinya. Dan rasa percaya Zevan pada dirinya dan kakak-kakaknya sudah tidak ada lagi dalam diri Zevan.
Abyan memeluk Galen dan memberikan ketenangan pada adiknya. "Zevan akan kembali pada kita, Gal. Bersabarlah!"
"Gal. Katakan pada kakak. Apa maksud dari perkataanmu tadi. Kenapa dengan punggung Zevan?" tanya Kevin.
"Kenapa kakak bertanya padaku? Kenapa kakak tidak langsung bertanya pada Zevan? Zevan juga adikmu.Oh ya, aku lupa! Kakak kan orangnya emosional. Kakak tidak akan pernah mau mendengarkan penjelasan orang terlebih dahulu. Itu yang kakak lakukan pada Zevan. Kakak langsung menampar Zevan tanpa mau mendengarkan penjelasan darinya." Galen menjawab pertanyaan dari Kevin dengan tatapan kecewanya.
"Kakak tahu, Gal. Kakak salah. Maafkan kakak. Maafkan kakak," lirih Kevin yang sudah menangis.
"Sudahlah Galen jangan terus menyalahkan kakak Kevin. Sekarang katakan pada kakak, kenapa dengan punggungnya Zevan?" tanya Aidan lembut.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Zevan? Tapi saat aku melewati kamarnya, kebetulan pintu kamarnya tidak tertutup rapat dan aku melihat ada luka lebam atau memar di punggung Zevan. Dan Zevan berusaha menahan rasa sakit itu, Kakak Aidan." Galen berucap lirih.
"Luka itu mungkin didapat saat Zevan berkelahi di kampus." Abyan menambahkan.
"Kami akan cari tahu masalah ini di kampus. Kebetulan Zevan juga memiliki banyak teman di kampusnya. Aku perhatikan Zevan itu gampang berbaur dengan orang lain."
"Ya sudah kalau begitu. Kami akan siap-siap mau ke kampus," ucap Abyan
Abyan dan Galen pergi ke kamar masing-masing untuk bersiap-siap.
Tinggallah Kevin, Dallin, Marvin dan Aidan di meja makan dengan pikiran yang sedang memikirkan sesuatu yaitu Zevan. Mereka memikirkan Zevan.
"Kalian mau bantu, kakak?" tanya Kevin.
"Bantu apa, kak?" tanya Dallin.
"Nanti saat Zevan pulang kuliah kalian cegat Zevan. Jangan sampai Zevan masuk ke kamarnya dulu. Kakak ingin mengobati luka di punggungnya Zevan. Kalian tahukan bagaimana keras kepala Zevan kalau sudah marah?" ucap dan tanya Kevin.
"Keras kepalanya Zevan itu didapat darimu, kakak Kevin." Marvin berbicara sembari mengejek Kevin.
Pletaakk..
Kevin menjitak keningnya Marvin. Sedangkan yang dijitak meringis kesakitan.
"Apa yang kau katakan, hah?! Berani kau mengatakan hal itu pada kakakmu yang tampan ini," ucap Kevin sambil menatap horor adik keduanya.
"Pedemu terlalu tinggi kak. Kalau menurutku wajahmu itu biasa-biasa saja. Hahahah," ejek Marvin lalu berlari meninggalkan kakak tertuanya itu. Dirinya tidak ingin mendapatkan jitakan untuk kedua kalinya.
"Marviiiinnb! Dasar adik durhaka. Awas kau ya. Jatah makan malammu kakak kurangi!" teriak Kevin.
Sedangkan Dallin dan Aidan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku kedua saudara-saudaranya itu.