BROTHER HUG

BROTHER HUG
Kekhawatiran Dan Kesedihan Para Kakak



Kevin yang sedang berkutat dengan panci kesayangannya di dapur. Ia menyiapkan sarapan pagi untuk adik-adiknya.


"Pagi kak Kevin," sapa para adik-adiknya kecuali sibungsu.


"Pagi," balas Kevin.


"Zevan belum bangun, kak Kevin?" tanya Abyan.


"Kayaknya belum, Yan. Bisa bantu kakak untuk membangunkannya?" seru Kevin.


"Baiklah, kak. Aku akan membangunkan sikelinci nakal itu," ucap Abyan.


Abyan pun melangahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamar Zevan.


^^^


Saat tiba di depan pintu kamar adiknya, Abyan mengetuk pintu tersebut.


Tok..


Tok..


"Van, ini hyung. Kakak masuk ya!" teriak Abyan.


Abyan pun langsung membuka pintu kamar Zevan.


CKLEK..


Abyan sudah berada di dalam kamar Zevan. "Kamarnya kosong dan rapi lagi. Kemana Zevan?" tanya Abyan pada dirinya sendiri.


Abyan mengecek kamar mandi tapi tetap yang dicari tidak kelihatan batang hidungnya. Abyan pun kembali ke bawah menuju meja makan.


^^^


Saat Abyan tiba di meja makan, dirinya disuguhkan berbagai pertanyaan dari saudara-saudaranya. "Nah! Zevan nya mana? Bukannya kamu ke kamarnya untuk menyuruh Zevan sarapan?" tanya Dallin.


"Iya, Yan.  Kok malah kamu sendiri yang turun. Kenapa tidak sekalian turun sama Zevan?" tanya Galen.


"Apa Zevan tidak mau sarapan atau dia masih marah sama kita?" tanya Aidan.


"Zevan tidak ada di kamarnya kak, Len!" Abyan pun bersuara.


"Apaa?" teriak mereka.


"Kau bercandakan, Abyan? Masa iya Zevan tidak ada di kamarnya," ucap Kevin.


"Aku tidak bohong, kak Kevin. Kalau tidak percaya cek saja sendiri di kamarnya," jawab Abyan.


"Kalau Zevan tidak ada di kamarnya. Lalu Zevan dimana? Masa Zevan pergi kuliah kita tidak mengetahuinya," tutur Marvin.


"Bibi Arum!" panggil Kevin.


Lalu yang dipanggil pun datang. "Ada apa Tuan muda Kevin?" tanya bibi Arum.


"Apa Zevan memberitahu bibi kalau dia pergi kuliah pagi-pagi sekali?" tanya Kevin.


"Sepertinya tidak Tuan muda. Kalau pun Tuan muda Zevan berangkat kuliah pagi-pagi sekali, Bibi pasti tahu. Karena bibi jam lima pagi sudah bangun," jawab Bibi Arum.


"Zevan tidak ada di kamarnya, Bi!" Kevin berucap dengan nada khawatir.


"Apa?" Bibi Arum Kaget. "Yang benar, Tuan muda?" tanya Bibi Arum yang mulai khawatir.


Bibi Arum ini sudah seperti ibu bagi Zevan, karena bibi Arum yang selalu ada untuk Zevan disaat kakak-kakaknya membenci dirinya.


"Tuan muda kau ada dimana? Semoga kau baik-baik saja," batin Bibi Arum.


"Aku akan menghubungi ponselnya, Zevan!" seru Galen.


Galen mengambil ponselnya, lalu mencari nama kontak adiknya. Setelah mendapatkan nomor adiknya. Galen kemudian menekan nomor itu.


[Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar servis area]


"Ach, Sial! Ponselnya Zevan tidak aktif," ucap Galen kesal.


"Van, kamu ada dimana?" batin mereka semua.


"Berarti Zevan tidak pulang dari kemarin. Kenapa kita tidak menyadarinya? Lagi-lagi kita gagal menjadi kakak yang baik untuk Zevan. Kenapa kita bodoh sekali?" ucap Aidan meratapi kebodohannya.


Semuanya diam. Semuanya membisu. Iya! Mereka gagal menjadi kakak yang baik untuk adik bungsu mereka. Bahkan mereka tidak mengetahui bahwa adik mereka belum pulang ke rumah sama sekali.


Beberapa detik kemudian, ponsel Galen berbunyi. Dan dengan segera Galen melihat siapa yang menghubunginya. Terpampang jelas nama 'My Bunny' di layar ponselnya. Terukur senyuman di bibir Galen.


"Hallo, Van! Kamu ada dimana sekarang? Kenapa tidak pulang?" tanya Galen.


Mendengar Galen menyebut nama Zevan membuat kelima kakak-kakaknya tersenyum bahagia.


"Gal, apa benar itu Zevan? tanya Kevin.


"Maaf kakak Galen. Aku Alvan bukan Zevan," jawab Alvan.


"Lalu Zevan dimana? Kenapa ponselnya kamu yang pegang?" tanya Galen lagi.


"Aku.. aku ingin mengabari tentang Zevan. Zevan kecelakaan motor saat pulang dari kampus kemarin. Sekarang Zevan dirawat di rumah sakit Pladys Hospital di kamar rawat VIP. Maafkan aku kalau aku terlambat memberi kabar pada kakak. Kemarin itu kami sangat kalut dan takut. Ditambah lagi ponsel Zevan mati. Jadi kami tidak tahu nomor kakak dan kakaknya Zevan yang lainnya," tutur Alvan.


Galen yang mendengar Zevan kecelakaan tanpa sadar air matanya mengalir di pipinya.


"Oke, baiklah! Kami akan segera kesana," jawab Galen dan langsung mematikan panggilan tersebut.


"Gal, ada apa?" tanya Kevin.


Galen menangis dan menatap sendu kakak-kakaknya.


"Kakak... Hiks," isak Galen.


"Gal, katakan ada apa? Jangan seperti ini," kata Dallin.


"Zevan kecelakaan motor, kak! Sekarang Zevan dirawat di rumah sakit Pladys Hospital kamar VIP. Barusan Alvan yang menghubungiku menggunakan ponselnya Zevan." Galen menjawab pertanyaan dari Dallin dengan berurai air mata.


"Tapi kenapa baru sekarang mereka menghubungi kita?" tanya Aidan kesal.


"Kata Alvan kemarin mereka kalut dan takut dengan kondisi Zevan. Tambah lagi ponsel Zevan juga mati. Jadi mereka tidak bisa ngabari kita. Lagian mereka juga tidak menyimpan nomor kita. Dan mungkin baru pagi ini mereka ingat untuk menghubungi kita setelah mereka mengisi daya ponsel Zevan," jawab Galen.


"Ya, sudah! Habiskan sarapan kalian. Lalu kita siap-siap ke rumah sakit," pinta Kevin.


"Baik, Kak." mereka semua menjawab bersamaan.


***


Rumah Sakit Pladys Hospital..


Mereka sudah berada halaman rumah sakit. Mereka berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Hati mereka dilanda kesedihan dan kekhawatiran terhadap adik bungsu mereka. Mereka telah sampai di depan ruang rawat Zevan. Lalu Kevin membuka pintu tersebut.


CKLEK..


Mereka pun memasuki ruangan tersebut. Air mata mereka berjatuhan membasahi wajah-wajah mereka saat melihat orang yang mereka sayangi terbaring lemah di ranjang pesakitan.


Kevin menggenggam tangan Zevan dan menciumnya. Lalu kemudian Kevin mengusap lembut rambut dan wajah tampan adik bungsunya. Air matanya tak henti-hentinya mengalir.


"Van! Ini kakak. Kakak datang kesini untuk kamu. Kakak mohon buka matamu."


Dallin berada di samping kiri ranjang Zevan. Dirinya juga tak kalah sedihnya melihat adiknya. Ia mencium pucuk kepala adiknya yang diperban.


"Bangunlah kelinci nakal, kakak. Kakak datang kemari bukan untuk melihatmu tidur. Jadi kakak mohon bukalah mata bulatmu itu."


Abyan dan Galen yang berdiri di samping Kevin sudah menangis sejadi-jadinya. Abyan dan Galen pun memberikan kecupan sayang di kening Zevan yang dililit perban.


"Bukalah matamu, Zevan." Abyan dan Galen berucap lirih.


Marvin dan Aidan juga tak kalah sedihnya melihat kondisi adik bungsu mereka. "Van, cepat bangun. Kami ada disini," kata Aidan.


"Alvan. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Zevan bisa kecelakaan seperti ini?" tanya Marvin.


Flashback On..


Zevan berada di kamarnya. Dirinya sedang asyik bergelut dengan laptop kesayangannya. Saat dirinya sedang lagi asyik-asyiknya, suara bunyi ponsel miliknya mengganggu kesenangannya. Dengan hati terpaksa Zevan mengambil ponsel tersebut. Raut wajahnya langsung berubah muram seketika mengetahui siapa yang telah berani mengganggu dirinya?


"Dasar pengganggu," gumam Zevan.


Zevan pun menjawab panggilan tersebut. "Hallo, Hitam, Mingtem, Kedelai Hitam. Bisa tidak sekali saja kau tidak mengganggu ketenanganku. Ada apa kau menghubungiku, hah?!" tanya Zevan sedikit kesal.


"Yak, Van!! Tega sekali kau menghinaku. Bagaimana pun aku ini sahabatmu."


"Ya, sahabat. Sahabat yang selalu mengganggu ketenangan sahabatnya sendiri. Ada apa?"


"Van! Kau harus ke kampus sekarang? Semua mahasiswa dan mahasiswi fakultas komputer disuruh ke kampus. Dan berkumpul di aula untuk membahas tentang lomba yang akan diikuti oleh kampus kita."


"Baiklah. Aku segera kesana."