BROTHER HUG

BROTHER HUG
Kerinduan Zevan



Di sebuah kamar yang besar dan mewah terdapat seorang pemuda yang tampan sedang meringkuk di tempat tidur.


Detik kemudian terdengar suara ketukan dari luar kamarnya.


Tok..


Tok..


"Tuan muda Zevan! Ayoo, bangun! Ini sudah pukul tujuh. Nanti tuan muda bisa terlambat ke kampus!" teriak Bibi Linda.


Saat Bibi Linda ingin mengetuk pintu kamar Zevan sekali lagi, terdengar suara kunci dan knop pintu berbunyi.


Pintu kamar terbuka dan menampakkan sosok yang di panggilnya.


"Aku sudah bangun, Bi!" Zevan berucap pelan.


"Tuan muda Zevan! Tuan muda kenapa? Kenapa wajahmu pucat sekali? Apa tuan muda sakit?" tanya Bibi Linda.


Wanita paruh baya itu menempelkan telapak tangannya ke kening Zevan.


Detik kemudian...


"Astaga! Tuan muda anda panas sekali. Tuan muda demam," ucap Bibi Linda panik.


"Aku tidak apa-apa, Bi. Aku hanya kelelahan saja. Ya, Sudah!! Aku akan siap-siap dulu mau ke kampus," ucap Zevan.


"Apa? Dalam keadaan seperti ini, tuan muda akan tetap kuliah?" tanya Bibi Linda khawatir.


"Ya, Bi!"


"Kalau begitu, Bibi ke bawah dulu," pamit bibi Linda.


^^^


Di Meja Makan


Para kakak-kakaknya Zevan telah berkumpul di meja makan. Mereka menatap kursi yang kosong. Kursi yang biasa diduduki sibungsu.


Mereka sebenarnya tidak benar-benar membenci Zevan tapi keegoisan merekalah yang terlalu besar sampai melupakan adik mereka sendiri.


Saat mereka sedang fokus pada pikiran masing-masing, tiba-tiba bibi Linda datang menghampiri mereka.


"Mana anak itu, Bi! Apa dia tidak kuliah? Ini sudah jam berapa?" tanya Kevin sedikit kesal.


"Maaf tuan muda Kevin! Tuan muda Zevan sedang demam. Wajahnya sangat pucat dan badannya juga panas. Dan Bibi juga sudah katakan untuk tidak pergi kuliah, tapi tuan muda Zevan akan tetap kuliah."


Mendengar ucapan dari bibi Linda membuat Kevin dan kelima adik-adiknya khawatir. Mereka khawatir dengan sibungsu.


Saat mereka sedang sibuk memikirkan Zevan, orang yang dipikirkan muncul.


"Bibi Linda! Apa bibi sudah membuatkan susu untukku?" tanya Zevan yang suara sedikit pelan.


"Maaf tuan muda, Bibi Lupa. Bibi buatkan sekarang ya. Tuan muda duduk dulu disini," ucap Bibi Linda sambil membantu Zevan untuk duduk di kursi meja makan.


Tanpa Zevan sadari, keenam kakak-kakaknya sedang memperhatikan dirinya dengan raut khawatir.


"Zevan," batin mereka.


"Sial. Kenapa kepalaku sakit sekali," batin Zevan.


Karena tidak tahan dengan sakit yang ia rasakan. Zevan reflek menjatuhkan kepalanya di atas meja dengan tangan sebagai bantalnya.


Melihat Zevan yang tiba-tiba menjatuhkan kepalanya di atas tumpuan tangannya membuat Kevin dan yang lainnya tambah panik dan berteriak.


"Zevan!" teriak mereka dan mendekati Zevan.


Kevin menyentuh kening Zevan "Astaga. Badan Zevan panas sekali."


"Bawa Zevan ke kamarnya, kak." Abyan benar-benar khawatir akan adiknya.


"Naikkan Zevan ke punggung, kakak," titah Kevin.


Lalu mereka mengangkat tubuh lemah Zevan dan meletakkan ke punggung Kevin.


"Aidan! Kau hubungi Paman Ditmar, sekarang!" perintah Kevin.


"Baik kak," jawab Aidan.


^^^


Zevan sudah berada di kamarnya. Dan Dokter pun datang dan memeriksa Zevan.


"Papi, Mami!! Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Aku mau ikut dengan kalian. Papi, Mami," ucap Zevan mengigau.


"Secara fisik adik kalian baik-baik saja. Tapi secara batin adik kalian mengalami trauma, tertekan dan stres. Seperti yang kalian dengar igauannya barusan kalau adik kalian sangat kehilangan orang tua kalian. Apalagi saat kecelakaan itu terjadi, adik kalian selamat dan dia saksi dari kejadian itu. Ditambah lagi, adik kalian pernah mengalami koma selama sebulan. Kalau kondisinya seperti ini terus, ini bisa membahayakan nyawanya. Obat untuk kesembuhan adik bungsu kalian adalah kalian sendiri. Berikan perhatian dan dukungan padanya. Sayangilah adik kalian seperti dulu lagi. Kalian tidak mau merasakan kehilangan untuk yang kedua kalinyakan? Sebelum terlambat lakukan sekarang? Dan untuk demamnya, Paman sudah memberikan suntikan penurun panas dalam beberapa jam panasnya akan hilang." Dokter Ditmar berbicara sembari memberikan nasehat pada Kevin dan adik-adiknya.


Dokter Ditmar sudah lama kenal dan dekat dengan keluarga Addison. Dan sudah sangat lama menjadi Dokter keluarga Addison.


"Kalau begitu paman permisi dulu," ucap dokter Ditmar.


Dan dokter Ditmar pun pergi meninggalkan kamar Zevan diantar oleh Marvin. Tinggallah mereka berenam.


Galen langsung naik ke tempat tidur Zevan adiknya. Ia menggenggam tangan Zevan dengan lembut dan air matanya yang sudah mengalir.


"Van, maafkan kakak. Kakak telah jahat padamu. Kakak mengabaikanmu selama ini padahal kau sangat membutuhkan kakak. Kakak menyayangimu, Van."


Kevin menangis melihat kondisi adik bungsunya. Ia tidak menyangka kalau kecelakaan yang terjadi lima tahun yang lalu menimbulkan dampak seperti ini. Adik bungsunya mengalami trauma, tertekan dan juga stres. Dan dia sebagai kakak tertua dikeluarga, malah bersikap acuh, dingin, cuek dan tidak peduli atas apa yang dialami sibungsu.


"Van. Maafkan kakak. Kakak sangat menyayangimu. Sungguh! Kakak benar-benar menyayangimu. Kakak tidak benar-benar membencimu," ucap Kevin yang menangis. Kevin memberikan kecupan sayang di kening Zevan.


"Zevan. Kakak menyayangimu," ucap Abyan yang sudah berada didekat Zevan dan membelai rambut Zevan dengan lembut.


Sedangkan Aidan dan Dallin tak kuasa menahan kesedihan mereka. Mereka juga naik ke atas tempat tidur Zevan.


"Van, kakak menyayangimu. Kakak sangat menyayangimu. Kakak merindukan senyuman kelincimu itu. Kau boleh meminta apapun kepada kakak. Kakak akan menurutinya. Asal kau selalu baik-baik saja. Buka matamu, Van," ucap Aidan.


"Hei, bocah! Bangunlah. Kamu jangan seperti kakak yang tukang tidur. Hanya kakak saja yang boleh seperti itu. Kamu tidak boleh. Bangunlah, Van. Buka matamu. Kakak tidak pernah membencimu. Kakak menyayangimu," ucap Dallin.


Tiba-tiba Marvin datang. "Bagaimana Zevan? Apa Zevan masih tidur? Apa dia tidak mau bangun? Apa Zevan marah pada kita, karena selama ini kita mengabaikannya, mengacuhkannya, dan tidak peduli dengannya?" ucap dan tanya Marvin yang sudah menangis.


Disaat mereka tengah merutuki rasa bersalah mereka pada sibungsu, tiba-tiba igauan sang adik kembali terdengar oleh mereka bahkan disertai air matanya yang mengalir di pipinya.


"Kakak... Kakak."


"Van, ini kakak. Kakak Kevin. Buka matamu. Kami semua disini menemanimu," ucap Kevin yang menggenggam tangan Zevan dan mengelus rambutnya.


Berlahan Zevan membuka kedua matanya. Ia dapat melihat keenam hyung ada di kamarnya, tepatnya di sampingnya.


"Ka-kakak," lirih Zevan.


"Van," ucap mereka semua.


"Apa ada yang sakit, hum? Katakan pada kakak," tanya Kevin lembut sambil membelai rambutnya.


"Kamu mau sesuatu. Biar kakak ambilkan?" ucap Galen.


"Ayolah, Van. Jangan diam saja. Bicaralah dan katakan sesuatu," ujar Abyan.


"Apa kau ingin kakak memijat kakimu," ujar Aidan.


"Atau kau ingin kakak menemanimu seharian di kamarmu," ucap Dallin.


"Kau ingin bermain dengan kakak," kata Marvin.


"Maafkan aku," ucap Zevan pelan dan masih didengar oleh kakak-kakaknya. Dan itu berhasil membuat kakak-kakaknya makin merasa bersalah.


"Untuk apa? Kenapa kamu minta maaf?" tanya Kevin.


"Karena aku yang sudah membuat Papi dan Mami pergi meninggalkan kita. Kalau saja mereka tidak menjemputku di sekolah mungkin Papi dan Mami masih ada bersama kita disini," jawab Zevan yang sudah berlinang air mata.


"Hiks... Maafkan aku... Maafkan aku, kak... Hiks. Lebih baik aku pergi saja dari dunia ini. Aku tidak mau hidup lagi," ucap Zevan disela isakannya.


"Kamu jangan bicara seperti itu. Kamu tidak salah. Kakak yang salah. Kakak banyak salah sama kamu. Lihat kakak. Tatap mata kakak," ucap Kevin.


Zevan memberanikan diri untuk menatap mata sang kakak tertuanya. Tersirat kesedihan dan penyesalan dalam manik mata kakaknya itu. Zevan menangis.


"Kakak menyayangi kamu. Sangat menyayangi kamu. Kakak tidak benar-benar membenci kamu," tutur Kevin.


"Benarkah? Kakak menyayangiku dan tidak membenciku?" tanya Zevan polos.


"Iya, Van! Itu benar," jawab Kevin lembut.


"Bagaimana dengan kakak yang lain nya?" tanya Zevan lalu menatap kakak-kakaknya yang lain dengan rasa takut.


"Kakak juga menyayangimu, kamu. Sangat!" jawab Galen tersenyum dan diangguki oleh Abyan yang ada di samping Galen dan tidak lupa tangan Abyan yang membelai rambut Zevan.


"Kami juga menyayangimu, Van!" seru Dallin, Marvin dan Aidan barengan.


Zevan pun tersenyum dan memperlihatkan gigi kelincinya. Dan membuat keenam kakak-kakaknya menjadi gemas.


"Kami merindukan senyuman itu, Zevan," batin mereka.