
Lima belas menit yang lalu Zevan sudah meninggalkan ruang Rektor. Saat Zevan melangkahkan kakinya menuju taman, dirinya dihadang oleh kelompok Monsta.
"Hallo, Zevan." Kinza tersenyum menyeringai.
"Mau apa lagi kau, hah?! Apa yang kemarin belum cukup?" tanya Zevan sinis.
"Jangan sombong. Kemarin itu kau hanya beruntung saja, Zevan." Kinza berbicara dengan ketus dan tatapan sinis.
"Lalu sekarang kau mau apa, hah?!" tanya Zevan menantang.
"Seperti biasa. Kau jadi anak buahku dan mematuhi semua perintahku termasuk perintah teman-temanku dan kakakku," jawab Kinza.
"Didalam mimpi kau baru bisa mendapatkan itu semua, Kinza. Tapi selama kau masih di dunia nyata. Simpan saja semua keinginanmu itu," tutur Zevan.
"Kau berani melawanku, Zevan Addison!" bentak Kinza.
"Kenapa aku harus takut. Memangnya kau siapa?!" teriak Zevan tersenyum mengejek.
"Kau...!" bentak Kinza lalu melayangkan tinju ke wajah Zevan dan dengan cepat Zevan menahan tangan Kinza dengan kuat, lalu mendorong Kinza hingga membuat tubuhnya terhuyung ke belakang.
"Kau pikir kali ini aku akan diam saja saat kau ingin memukulku. Oooh tidak Kinza Hamlet! Kau salah besar. Aku akan melawanmu setiap kau mencari masalah denganku," ancam Zevan.
Setelah itu, Zevan pun pergi meninggalkan kelompok Monsta.
Tanpa Zevan sadari, Kinza memberi kode pada Celio untuk menyerang Zevan dari belakang.
ZEVAN... AWAAASS!" teriak Alvan dari jauh.
Alvan dan keempat teman-temannya memang sedang mencari Zevan dan melihat Zevan yang sedang dihadang oleh kelompok Monsta.
Dengan reflek Zevan memberikan satu tendangan keras tepat di perut Celio dan membuat Celio tersungkur ke tanah.
Setelah itu Zevan pergi begitu saja dan menghampiri teman-temannya.
"Kau tidak apa-apa, Van?" tanya Agung.
"Aku tidak apa-apa, kak." Zevan menjawab pertanyaan dari Agung.
"Ya, sudah! Lebih baik kita pulang saja. Kita tunda saja acara ngumpul kita. Lagian teman-teman kita yang lainnya juga tidak bisa hadir. Dan sepertinya Zevan juga tampak kelelahan," tutur Ferrel.
"Kakak setuju apa yang dikatakan, kak Ferrel. Kita pulang ke rumah masing-masing," ucap Agung menambahkan.
"Tunggu apalagi. Ayo, kita pulang!" seru Vero.
Dan akhirnya mereka pun memutuskan untuk ke rumah masing-masing dan beristirahat.
***
[Kediaman Addison]
Galen dan Abyan sudah berada di rumahnya. Galen terus saja menangis setelah mendengar semua pembicaraan teman-temannya Zevan.
"Zevan," lirih Galen.
"Kenapa dengan Zevan? Ada apa dengannya, Galen?" tanya Dallin mulai khawatir.
Galen mendongakkan kepalanya dan menatap wajah kakak-kakaknya, lalu Galen menatap wajah kakak tertuanya yaitu Kevin.
"Kak Kevin, kau telah melakukan kesalahan yang sangat besar terhadap Zevan. Kau telah menampar Zevan karena kau menuduh Zevan berkelahi lagi. Ka-kakak... Hiks... Zevan sama sekali tidak pernah berkelahi maupun membuat onar. Zevan itu selalu rajin di kampus. Kenapa Zevan pernah pulang dengan wajah yang lebam? Itu dikarenakan Zevan sering diganggu oleh kelompok Monsta nama geng di kampus kami. Mereka selalu mencari masalah dengan Zevan. Sementara Zevan tidak pernah melawannya. Kemarin kakak menampar Zevan dan kakak tidak mendengar penjelasannya terlebih dahulu."
"Hiks... kakak tahu tidak apa yang sudah dilakukan Zevan?" tanya Galen disela isakannya.
"A-apa? Apa yang sudah dilakukan, Zevan?" tanya Kevin yang sudah menangis.
"Zevan membelamu, kak. Zevan membela keluarga kita. Zevan membela kedua orang tua kita yang sudah meninggal. Kelompok Monsta menghina keluarga kita, menghina Papa dan Mama dan menghina dirimu, karena Zevan tidak mau menurut perintah mereka. Awalnya Zevan hanya pasrah dirinya dihajar habis-habisan. Zevan tidak peduli. Tapi saat kelompok Monsta itu bawa-bawa keluarga kita, Zevan akhirnya mengamuk. Kalau bukan Alvan sahabatnya itu menenangkan emosi Zevan mungkin salah satu dari kelompok Monsta ada yang mati," tutur Galen.
Semua terdiam dan menangis mendengar penjelasan dari Galen tentang Zevan adik bungsu mereka, terutama Kevin. Kevin syok dan merasa bersalah karena sudah menampar Zevan dan tidak mau mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu.
Saat mereka masih dalam keadaan menangis dan hening, tiba-tiba terdengar suara Bell berbunyi.
Ting..
Tong..
Bibi Arum pun berlari dan membukakan pintu. Dan terlihat seorang pemuda tampan yang sudah berdiri di depan pintu rumahnya
"Tuan muda Zevan. Anda sudah pulang " sapa bibi Arum.
Zevan memberikan senyuman manisnya kepada bibi Arum.
"Bi. Buatkan aku makanan yang enak ya. Aku lapar. Di kampus aku tidak sempat makan, karena banyak tugas yang harus aku selesaikan." Zevan berucap begitu lembut kepada bibi Arum.
"Baiklah. Bibi akan siapkan. Kalau begitu bibi ke dapur dulu."
Sedangkan Zevan masih di depan pintu. Bibi Arum melangkahkan kakinya menuju dapur dan melewati ruang tengah.
"Bibi Arum. Apa itu Zevan?" tanya Kevin lembut.
"Benar tuan muda Kevin," jawab Bibi Arum.
"Kalau begitu saya ke dapur dulu tuan muda Kevin. Saya mau menyiapkan makanan untuk tuan muda Zevan. Karena tuan muda Zevan belum makan sama sekali di kampus," ucap Bibi Arum.
"Apa? Zevan belum makan di kampus. Ini sudah jam berapa? Kalau seperti ini terus Zevan bisa jatuh sakit," batin mereka.
"Aku pulang!" terdengar suara Zevan yang memasuki ruang tengah.
Semua kakak-kakaknya melihatnya. Memandanginya dengan tatapan penyesalan. Dan tiba-tiba Kevin menghampirinya dan memeluknya.
"Maafkan kakak. Maafkan kakak, Van." Kevin berucap lirih dan jangan lupa air matanya yang sudah mengalir membasahi pipinya.
Sementara Zevan sama sekali tidak memberikan respon apapun ketika kakak tertuanya itu memeluknya. Bahkan Zevan berdiri tanpa memberikan pelukan kakak tertuanya itu. Bahkan Zevan dapat merasakan tubuh kakak tertuanya ini bergetar.