
"Terima kasih untuk jalan-jalannya, kak Kevlar. Hari ini hari yang sangat-sangat indah untukku," tutur Damian dengan senyuman manisnya.
"Sama-sama. Kakak sangat bersyukur bisa melihatmu bahagia seperti ini," kata Kevlar.
"Ya, sudah. Masuklah ke dalam. Hari sudah malam dan cuaca pun dingin. Kakak tidak mau kamu jatuh sakit," kata Kevlar sambil mengecup kening adiknya.
"Baiklah, kak!"
Damian berjalan dengan cara mundur agar dirinya bisa melihat kakaknya benar-benar pergi.
Sedangkan Kevlar tersenyum gemas melihat kelakuan adiknya. Kevlar pun masuk ke dalam mobilnya.
Setelah berada di dalam mobil, Kevlar menyalakan mesin mobilnya itu. Sebelum menjalankan mobilnya, Kevlar melihat kearah adiknya yang masih melihat kearahnya.
Kevlar melambaikan tangannya pada adiknya. "Kakak pulang dulu, Damian! Selamat malam dan mimpi indah. Bye!"
Damian pun membalas lambaian dari kakaknya itu. "Selamat malam juga kak. Bye!"
Mobil Kevlar pun pergi meninggalkan perkarangan rumah mewah keluarga Calvin.
Setelah mobil sang kakak tak tampak lagi, Damian membalikkan badannya menatap pintu rumahnya dengan senyuman manis di bibirnya.
Damian berlahan membuka pintu rumah tersebut.
Cklek..
^^^
Pintu rumah tersebut pun terbuka. Damian melangkah masuk dan tak lupa menutup pintu tersebut dan menguncinya.
"Dari mana saja? Kenapa baru pulang?" tanya Dandy dengan nada suara sedikit tinggi.
Deg..
Damian menghentikan langkahnya saat mendengar suara dari kakak tertuanya. Karena sikap acuh, cuek dan sikap dinginnya, Damian memilih mengabaikan pertanyaan yang dilontarkan oleh kakak tertuanya itu lalu melanjutkan langkahnya menuju kamarnya di lantai dua dengan kedua tangannya menenteng barang belanjaannya.
Baru dua langkah kakinya melangkah, Damian kembali berhenti karena mendengar panggilan dari kakaknya.
"Damian Calvin. Apa kau tidak mendengar pertanyaan dari kakak Dandy, huh?!" bentak Daniyal.
Dengan terpaksa Damian membalikkan badannya melihat para kakaknya. "Apa perlu aku menjawab pertanyaan dari kakak kesayangan kalian itu? Atau Pertanyaan dari kalian semua?" tanya Damian dingin.
"Damian, jaga ucapanmu itu. Bagaimana pun kami ini kakak-kakak kamu!" bentak Daniyal.
"Oh ya? Sejak kapan kalian berstatus menjadi kakak-kakakku? Setahuku selama ini kalian tidak pernah menunjukkan kalau kalian itu adalah kakak-kakakku. Selama delapan tahun kita tinggal satu atap, tapi kita tidak pernah saling kenal, tidak pernah saling tegur, tidak pernah saling berbicara. Bukankah begitu?" ucap dan tanya Damian menatap sinis wajah kakak-kakaknya.
"Kau....," tunjuk Damian pada Dandy. "Kau sebagai kakak tertua. Apa pernah kau memberikan perhatianmu, kasih sayangmu, rasa pedulimu padaku? Apa pernah kau memberikanku kebahagiaan? Kau memiliki enam orang adik. Tapi kau memberikan kasih sayangmu, rasa pedulimu, perhatianmu hanya untuk kelima adik-adikmu saja. Sedangkan aku hanya kau berikan rasa benci, diacuhkan, dihina, dimaki dan diabaikan. Tapi aku tidak pernah protes atau pun mengeluh pada kalian semua."
"Dan sekarang disaat aku sudah mendapatkan semua yang aku inginkan selama ini dari orang lain. Kenapa kalian malah protes dan marah-marah kepadaku, hah?!" bentak Damian dengan air matanya yang sudah mengalir membasahi pipinya. "Kenapa kak? Kenapa?!" teriak Damian.
Plaakk..
"Aakkhh!"
"Kakak Dandy!" teriak Danesh dan Daanii.
Dandy memegang pipinya dengan tatapan matanya yang menyiratkan amarah.
"Ooh! Sudah berani main tangan rupanya, hah! Papa sama Mama saja tidak pernah main tangan pada putra-putranya, walau putra-putranya melakukan kesalahan. Tapi kau sudah berani sekarang melakukan hal itu padaku. Apa salahku, hah?! Kenapa kalian pilih kasih padaku? Kenapa kalian membenciku? Apa karena kematian Papa sama Mama sehingga kalian berubah padaku? Bagaimana caranya agar aku bisa membawa kalian kembali padaku? Kembali menyayangiku dan memanjakanku seperti dulu. Katakan padaku, bagaimana caranya.. Hiks?!" teriak Damian disela isakannya.
Setelah puas melepaskan semua rasa sesak di dadanya selama ini, Damian memilih pergi meninggalkan para kakaknya menuju kamarnya di lantai dua.
Sedangkan para kakaknya telak bungkam setelah mendengar rentetan kekecewaan dari sang adik.
"Kalian berdua benar-benar keterlaluan. Aku kecewa dengan kakak Dandy dan kakak Daniyal. Seharusnya kalian bisa lebih sabar menghadapi Damian. Bukankah niat awal kita ingin memperbaiki hubungan dengan Damian. Kita ingin kembali seperti dulu lagi menyayangi dan memanjakan Damian. Tapi apa yang sudah kalian lakukan? Kalian membuat kesalahan lagi. Kalian membentaknya. Kalau begini caranya kita akan tambah jauh dari Damian dan susah untuk kita gapai!" teriak Daanii.
Setelah mengatakan hal itu, Daanii pergi ke kamarnya.
"Aku kecewa dengan kalian, kak. Kalian berdua benar-benar keterlaluan," ujar Danesh dan pergi menyusul Daanii diikuti oleh Dayyan dan Daaris.
Setelah kepergian adik-adik mereka. Dandy dan Daniyal merutuki kebodohan mereka. Kenapa mereka tidak bersikap sabar dan lembut pada adik bungsu mereka. Seharusnya mereka sadar. Yang membuat adik bungsu mereka seperti itu adalah kesalahan mereka sendiri.
"Maafkan kakak, Dam." Dandy dan Daniyal membatin.
***
[Kediaman Addison]
Zevan berada di kamarnya. Setelah selesai mandi, dirinya lebih memilih berdiam di kamarnya dari pada harus turun ke bawah dan bertemu dengan kakak-kakaknya.
Dan tanpa Zevan sadari ternyata Galen sedang mengintip dari sela pintu kamarnya yang tidak tertutup rapat. Zevan dalam keadaan sedang toples bagian atas. Dengan kata lain, Zevan tidak mengenakan atasan, karena Zevan tidak mengenakan atasannya kalau dirinya berada di dalam kamar. Zevan memang seperti itu setiap berada di kamarnya.
Galen yang sedang mengintip dapat melihat dengan jelas bentuk tubuh atletis sang adik dari depan. Dirinya sangat mengagumi bentuk tubuh adiknya itu.
Saat Zevan membalikkan badannya, tepatnya membelakanginya. Galen sontak kaget sembari menutup mulutnya. Galen melihat ada memar kebiruan di punggung Zevan. Tanpa diminta air matanya langsung mengalir begitu saja membasahi pipinya. Hatinya sakit melihat memar di punggung adik bungsunya.
"Zevan," batin Galen.
Galen menarik pintu kamar Zevan, lalu menutupnya berlahan. Setelah itu Galen kembali ke kamarnya. Dirinya menangis dan makin menangis mengingat apa yang dirinya lihat.
Abyan yang berada di bawah memutuskan untuk ke kamarnya dan saat dirinya melewati kamar Galen. Abyan terkejut mendengar suara tangisan yang berasal dari kamar Galen.
Abyan membuka pintu kamar Galen yang kebetulan tidak dikunci oleh penghuninya. Abya langsung memasuki kamar Galen.
Ketika sudah berada di dalam kamar Galen. Abyan sangat terkejut saat melihat Galen yang sudah menangis di tepi tempat tidurnya.
"Galen, kau kenapa? Ada apa denganmu, hah?" tanya Abyan khawatir.
Galen mendongakkan kepalanya dan melihat Abyan.
"Zevan," lirih Galen.
"Kenapa dengan Zevan, Len? Apa dia sakit lagi?" tanya Abyan dengan kekhawatirannya menjadi bertambah.
"Tadi aku mau ke bawah dan otomatis melewati kamar Zevan. Pintu kamar Zevan tidak tertutup rapat jadi aku sempat mengintip apa yang dilakukan Zevan di kamarnya. Yang buat aku terkejut dan sampai aku menangis seperti ini karena aku melihat punggung Zevan ada luka lebam atau memar kebiruan. Dan aku melihat Zevan yang sedang berusaha menahan sakit di punggungnya, Yan." Galen menjelaskan apa yang dilihat olehnya di kamar Zevan.
"Aku bisa melihat luka di punggung Zevan, karena kau kan tahu Zevan tidak pernah memakai bajunya kalau berada di kamarnya," ucap Galen.
"Apa luka itu didapat saat Zevan berkelahi di kampus kemarin?" tanya Abyan.
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Yan? Aku tidak mau Zevan sakit lagi," ujar Galen khawatir.
"Kita akan mengawasinya, Gal. Kau maukan?" tanya Abyan.
"Aku akan melakukan apapun untuk adikku," balas Galen.