
[KEDIAMAN CALVIN]
[Meja Makan]
Dandy dan kelima adiknya sudah berkumpul di meja makan, kecuali sibungsu Damian Calvin yang masih di kamarnya.
"Apa Damian belum bangun?" tanya Dayyan.
"Sepertinya belum. Aku tidak mendengar suaranya di meja makan di dapur," jawab Danesh.
Mereka mengalihkan pandangannya melihat kearah dapur. Terlihat Bibi Hana sedang mencuci peralatan bekas masak.
Lalu terdengar suara langkah kaki menuju arah dapur.
Tap..
Tap..
Tap..
Dapat mereka lihat yang dinantikan, yang dipikirkan sedang menuju kearah meja makan dengan ponsel di tangannya. Seperti biasa Damian lebih fokus pada ponselnya dari pada melihat para kakaknya yang tengah menatapnya.
Damian yang menyadari tengah ditatap oleh keenam kakaknya pun akhirnya mengalihkan pandangannya melihat para kakaknya dengan wajah datar dan dingin.
Lalu detik kemudian Damian kembali menatap ponselnya dan melangkah menuju meja makan yang berada di dapur. Dirinya saat ini enggan dan malas duduk satu meja makan dengan para singa ganas. Takut kalau tubuhnya akan diterkam.
"Pagi tuan muda. Bibi sudah siapkan sarapan pagi untukmu," sapa Bibi Hana saat melihat majikannya yang menuju dapur.
Damian yang sedari fokus pada ponselnya sontak terkejut.
"Aish! Bibi Hana mengagetkanku saja. Kalau aku mati kena serangan jantung, bagaimana?" kesal Damian dengan bibir dimajukan.
Bibi Hana hanya terkekeh mendengar penuturan sang majikannya. Sedangkan Damian sudah duduk cantik di kursinya dengan matanya tetap yang masih asyik menatap layar ponselnya.
"Tunggu dulu. Ada yang aneh!" seru Danesh.
"Aneh apanya, Nesh?" tanya Daaris.
"Kalian lihatlah Damian. Kenapa Damian tidak memakai seragam sekolahnya?" tanya Danesh.
Mereka semua dengan kompak memperhatikan Damian dan memang benar kata Danesh. Damian tidak memakai seragam sekolahnya.
"Inikan masih hari kamis," kata Daanii.
"Apa Damian berniat membolos hari ini?" tanya Dayyan.
"Tidak.. Tidak. Damian jangan sampai membolos hari ini. Dia harus pergi ke sekolah," sela Dandy tidak terima adiknya membolos.
"Makan yang banyak, tuan muda. Biar tuan muda tidak sakit," ucap Bibi Hana.
"Tidak ada hubungannya dengan makan banyak dengan sakit bibi Hana. Sakit ya sakit. Makan ya makan. Kita sakit bukan karena gak makan atau telat makan. Kita sakit bisa juga dari faktor lain. Seperti tersiksa dan tertekan batin," jawab Damian yang masih mengurusi ponselnya.
"Uuuhuuk!"
Para kakaknya tersendat ludah mereka sendiri saat mendengar penuturan Damian sang adik.
"Lalu tuan muda mau pergi kemana dengan pakaian rapi seperti ini?" tanya Bibi Hana yang melihat Damian yang sudah rapi dan tampan.
"Kencan," jawab Damian singkat.
Bibi Hana melotot dan mulutnya terbuka lebar saat mendengar jawaban dari Damian sang majikannya. Tak jauh beda dengan Bibi Hana. Para kakaknya yang mendengar jawaban dari adik bungsu mereka juga tercengang dan terkejut.
"Kencan," ucap mereka bersamaan mengulangi perkataan Damian.
Mereka saling lirik satu sama lainnya.
"Kakak. Apa benar yang Damian katakan barusan? Aku tidak salah dengarkan?" tanya Daniyal.
"Kau tidak salah dengar, Yal. Kita juga semuanya mendengar apa yang dikatakan Damian barusan," jawab Dandy..
"Damian tidak boleh pacaran dulu, kak. Damian harus menyelesaikan sekolahnya dulu kemudian kuliah dan meraih sarjana," ucap Daanii.
"Kau benar, Daanii. Aku setuju. Damian harus meraih gelar sarjana baru boleh pacaran," kata Danesh.
"Aish, Bibi! Jangan perlihatkan wajah Bibi seperti itu. Jelek tahu," kata Damian.
"Kamu ini," kata Bibi Hana sambil mengelus rambut Damian dengan lembut. "Sekarang Bibi benar-benar serius. Memangnya tuan muda mau pergi kemana?" tanya Bibi Hana.
"Biasalah, Bi. Memangnya aku mau pergi kemana lagi selain kesana. Bibikan sudah tahu," jawab Damian.
Sedangkan Bibi Hana mengangguk tanda mengerti.
"Tapi kali ini ada sedikit permainan, Bi! Dan permainannya itu akan dilakukan nanti malam," pungkas Damian.
"Permainan apa yang akan tuan muda lakukan?" tanya Bibi Hana. Dirinya sudah mulai khawatir. Takut akan kebiasaan sang majikannya dulu kembali lagi.
Damian mendekatkan wajahnya ke telinga Bibi Hana. Lalu membisikkan sesuatu di telinganya. "Aku akan ikut balapan lagi nanti malam. Kali ini balapan mobil."
Setelah mengatakan hal itu, Damian menjauhkan wajahnya dan kembali fokus pada ponselnya.
Sedangkan Bibi Hana belum meloading apa yang diucapkan oleh majikannya itu.
Lalu detik kemudian.....
"Apa?!" teriak Bibi Hana saat sudah menyadarinya dan teriakannya itu membuat keenam majikannya yang lain terkejut.
Tapi Bibi Hana tak peduli. Yang dipedulikan saat ini adalah majikan kelincinya ini.
"Tuan muda. Bibi mohon batalkan saja permainan itu ya? Tuan muda jangan ikut-ikutan. Bibi takut terjadi sesuatu pada tuan muda," pinta Bibi Hana.
"Aish!! Bibi terlalu lebay. Percayalah! Tidak akan terjadi apa-apa padaku. Aku tidak akan mati hanya gara-gara mengikuti permainan itu. Kalau pun aku mati. Berarti itu sudah takdirku. Dan aku tidak akan menyesalinya. Justru aku bahagia," jawab Damian tanpa beban sama sekali.
"Tuan muda cukup. Jangan bicara yang tidak-tidak!" bentak Bibi Hana.
"Maaf Bibi Hana. Aku akan tetap ikut dalam permainan itu nanti malam. Jadi aku tidak akan pulang ke rumah untuk beberapa hari ini. Tolong Bibi Hana sampaikan pada majikan Bibi yang lain," ucap Damian lalu beranjak pergi meninggalkan Bibi Hana yang menatap khawatir padanya dan keenam kakak-kakaknya yang juga menatapnya.
"Apa maksud dari perkataan Damian barusan? Dan kenapa Bibi Hana begitu marah dan khawatir pada Damian?" batin Dandy.
"Danesh. Kenapa Damian bicara seperti itu tadi? Ada apa dengannya?" tanya Daanii pada Danesh. Terlihat raut khawatir di wajah Daanii.
Dandy bangkit dari duduknya lalu melangkahkan kakinya untuk menghampiri Bibi Hana yang masih berdiri dengan wajah khawatir.
"Bibi Hana," panggil Dandy sembari menepuk pelan bahu Bibi Hana.
Bibi Hana terkejut dan dirinya berusaha untuk menghilangkan rasa khawatirnya terhadap majikan kesayangannya itu.
"Apa ada yang ingin Bibi Hana sampai padaku dan adik-adikku?" tanya Dandy yang menatap tepat manik Bibi Hana.
"Mak-maksud tuan muda Dandy apa?" tanya Bibi Hana balik.
Bibi Hana sedikit takut untuk sekedar menatap wajah tampan majikannya itu.
"Apa yang bibi ketahui yang tidak kami ketahui tentang Damian adik kami?" tanya Dandy lembut.
Hening...
Bibi Hana hanya bisa diam. Dirinya bingung harus menjawab apa.
"Tolong beritahu kami, Bibi Hana. Apa yang tidak kami ketahui tentang adik kami selama ini? Apa saja yang sudah dilewati oleh adik kami selama delapan tahun ini?" tanya Daanii dengan air matanya yang sudah mengalir membasahi wajah tampannya yang berjalan menghampiri Bibi Hana dan Dandy diikuti oleh Daniyal, Dayyan, Daaris dan Danesh.
"Maaf tuan muda. Untuk saat ini bibi tidak bisa cerita banyak tentang tuan muda Damian. Hanya tuan muda Damian yang berhak untuk menceritakannya," jawab Bibi Hana.
"Lalu apa yang dimaksud oleh Damian dengan permainan?" tanya Daniyal.
"Bagaimana ini? Apa aku harus mengatakan pada mereka kalau tuan muda Damian akan ikut balapan mobil malam ini," batin Bibi Hana.
"Bibi Hana. Jangan diam saja. Katakan pada kami apa yang akan dilakukan Damian malam ini?!" tanya Dandy sedikit membentak.
"Tuan muda Damian akan ikut balapan lagi," jawab Bibi Hana lantang dengan mengatakan kata 'lagi'.
Deg..
"Apa? Balapan!" teriak mereka bersamaan.
Mereka semua terkejut ketika mendengar jawaban dari Bibi Hana tentang Damian yang akan balapan malam ini.