BROTHER HUG

BROTHER HUG
Kebingungan Zevan Dan Kesedihan Damian



Ke esokan paginya di meja makan, keenam pemuda bermarga Addison telah berkumpul untuk melakukan kegiatannya yaitu sarapan pagi.


"Zevan mana? Apa dia belum bangun?" tanya Aidan saat melihat Zevan yang tidak bersama mereka.


"Galen, tolong panggilkan Zevan di kamarnya. Ini sudah jam berapa nanti kalian bertiga bisa terlambat ke kampus," titah Kevin.


"Baik kak," kata Galen dan langsung berdiri dari duduknya.


Saat Zevan hendak melangkahkan kakinya, ia mendengar suara langkah kaki Zevan. "Itu Zevan, kak!" seru Galen tersenyum.


"Pagi, Van." para kakak-kakaknya menyapa dirinya.


"Pa-pagi ka-kakak," jawab Zevan terbata-bata.


Mereka hanya tersenyum melihat Zevan yang masih canggung dan takut. "Kamu kenapa?" tanya Kevin yang menatap wajah adiknya yang menggemaskan.


"Ti-tidak apa-apa kak," jawab Zevan.


Kevin yang mengerti tentang sang adik langsung memeluk Zevan dan memberikan kenyamanan pada adiknya.


Sedangkan Zevan merasakan kenyamanan di dalam pelukan sang kakak. Dirinya merasa bahagia keenam kakak-kakak telah kembali padanya.


Tapi Zevan tidak bisa pungkiri, rasa takut itu tetap ada dalam dirinya. Dia takut tersakiti lagi. Jadi Zevan memilih untuk bersikap biasa saja.


"Ayo, Van. Duduk dan makan sarapanmu nanti kau bisa terlambat ke kampus," ucap Dallin.


"Baik kak," jawab Zevan dan langsung duduk di kursi meja makan.


Mereka makan dengan suasana hening tanpa ada yang membuka suara. Ada kecanggungan diantara mereka terutama sibungsu keluarga Addison.


Beberapa detik kemudian..


"Aku Selesai," ucap Zevan memecahkan keheningan. Semua mata memandanginya.


"Zevan! Kamu berangkat kuliah bersama Abyan dan Galen ya. Gallin yang akan mengantar kalian." kata Kevin.


Lalu Zevan menatap Dallin, Abyan dan Galen. Yang merasa ditatap juga balik menatap Zevan. Mereka tersenyum dan berkata.


"Kakak akan mengantarmu," ucap Gallin. "Kau harus berangkat kuliah dengan kami dan tidak ada penolakan," ucap Abyan dan Galen bersamaan. mereka terkekeh melihat wajah canggung Zevan.


Zevan hanya menganggukkan kepalanya "Baiklah."


"Kalau begitu kami berangkat, kak!" seru Abyan dan Galen dan mereka langsung menggandeng tangan Zevan menuju mobil.


***


[Markas BRAINER]


Damian, Haris, Haikal dan Elvano berada di markas mereka yaitu Markas Brainer. Itulah nama kelompok Damian.


Elvano masih merangkul Damian. Dirinya tahu bahwa sahabatnya yang satu ini memang benar-benar butuh sandaran, butuh penopang.


"Sudahlah, Dam! Lupakan kata-kata mereka. Jangan kau pikirkan terus. Anggap saja kau tidak pernah mendengarnya," hibur Elvano.


"Apa yang dikatakan Elvano benar, Dam? Sudah dan lupakan," kata Haikal.


Terdengar suara pintu dibuka


CKLEK!!


Masuklah pemuda-pemuda tampan ke dalam Markas Brainer. Mereka menatap Damian khawatir.


"Bagaimana keadaan Damian?" tanya Kaamil pada Haris.


"Dari tadi Damian tidak menunjukkan reaksi apapun. Sepertinya Damian masih memikirkan masalah kemarin," jawab Haris.


DRTT!!


DRTT!!


Terdengar bunyi ponsel menggema dalam Markas tersebut.


"Damian. Itu ponselmu berbunyi. Seperti ada yang menghubungimu!" seru Haikal.


Damian melirik sekilas nama yang tertera di layar ponsel miliknya, lalu terukir senyuman manis di bibirnya itu.


Melihat senyumannya itu membuat sahabat-sahabatnya turut bahagia dan juga gemas.


Damian pun menjawab panggilan tersebut dengan hati yang sedikit tenang.


"Hallo, kakak Kevlar!"


"Hallo, Damian. Kau ada dimana?"


"Pertanyaan macam apa itu, kak? Kau lupa, pikun atau bagaimana? Jam segini selain di sekolah memang dimana lagi?"


"Hehehe. Iya, ya. Kakak minta maaf dech."


"Ada hal apa kak Kevlar meneleponku?"


"Kau ada acara tidak hari ini?"


"Eeemmm... Sepertinya tidak. Memangnya kenapa, kak?"  


"Kakak ingin mengajakmu berkencan."


"Apa? Kencan?!" teriak Damian.


Mendengar teriakan Damian membuat sahabat-sahabatnya terkejut.


"Kakak! Aku ini adikmu bukan kekasihmu. Kau masih waraskan kak?"


"Memangnya kenapa? Apa ada larangan seorang kakak ingin mengajak adiknya berkencan. Itu tanda ungkapan sayang dan perhatian kakak padamu."


"Kakaaakk."


Tanpa sadar air matanya mengalir membasahi wajah tampannya.


"Terima kasih, kak. Kau selalu ada untukku. Aku pikir hidupku bakal hancur saat kepergian kedua orang tuaku. Aku pikir tidak akan ada yang peduli lagi denganku. Tapi kakak dan keluarga kakak menjadikanku bagian dari hidup kalian. Memberikan apa yang aku butuhkan selama ini."


Mendengar penuturan Damian. Membuat hati para sahabat-sahabatnya menangis. Ya! Mereka benar-benar menangis.


"Heeiii, Kamu menangis, Damian. Sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan. Yang lalu biarlah berlalu. Fokuslah kemasa depan. Kau berhak untuk bahagia. Jangan buang air matamu sia-sia. Kakak menyayangimu. Selamanya menyayangimu."


"Aku juga menyayangimu, kakak. Kau orang kedua di hatiku setelah Mommy dan Daddy."


"Eeemm... Tidak tahu. Mungkin untuk saat ini keenam kakak-kakakku tidak masuk daftar list di hatiku. Tapi tidak tahu juga untuk ke depannya."


"Kalau misalnya mereka berubah dan kembali menyayangimu, peduli denganmu, perhatian seperti dulu. Bagaimana? Apa mereka masuk daftar list di hatimu? Lalu akan kamu taruh urutan keberapa?"


"Eemm... Urutan keberapa ya? Yang terpenting kakak Kevlar akan selalu berada didaftar list dalam hatiku. Selamanya!"


"Ya, sudah. Kakak akan jemput pukul 4 sore. Jadi kau harus sudah bersiap-siap!"


"Oce, Bos!"


Tutt..


Tutt..


"Eehheeemm." 


"Yang lagi asyik telpon-telponan sampai lupa waktu dan kita semua diangguri," ejek Joe.


Damian melempari Joe dengan bantal boneka miliknya dan tepat mengenai wajah tampannya.


Bugh!!


"Aww! Sialan kau, Dam!" umpat Joe. Sedangkan Damian hanya tersenyum.


"Damian," panggil Lian.


"Hm!"


"Kira-kira kita semua yang ada disini masuk daftar list keberapa di hatimu? Secara kan kita selalu ada untukmu. Kita sayang dan peduli padamu. Bukan kakak Kevlar saja," goda Lian.


Damian hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dari Lian.


"Bukannya dijawab malah tersenyum," protes Kenzo.


"Tanpa aku jawab pun. Kalian pasti sudah tahu jawabannya. Kalian semua  sama statusnya seperti kakak Kevlar. Kalian keluarga keduaku setelah keluarga asliku," tutur Damian.


Mereka tersenyum hangat pada Damian.


***


Seorang pemuda sedang terduduk di bangku taman di kampusnya. Suasana saat ini yang sepi menjadi pilihannya untuk mendiami dirinya. Ia menatap kosong langit biru diatasnya itu. Ia tersenyum menikmati angin sayup yang membelai lembut wajahnya. Matanya terpejam merasakan dan menghirup udara segar di bawah pohon. Headseat hitamnya dengan manis bertengger di kedua daun telingannya.


Zevan Reviano Addison


Zevan memilih tempat ini untuk menjadi waktunya saat jam kuliah belum dimulai. Dia dan sahabat-sahabatnya saja yang selalu berada disini.


Zevan memilih untuk berdiam sementara di taman belakang kampusnya yang jarang didatangi oleh mahasiswa-mahasiswi lainnya. Dia menikmati alunan lagu yang dengan perlahan mendatangkan kantuknya di siang hari ini.


Namun Zevan kembali membuka matanya ketika sesuatu menyentuh pundaknya dengan lembut. Dia memutar kepalanya ke belakang untuk melihat siapa yang menemuinya kali ini.


Pemuda dengan rambut coklatnya sedang tersenyum manis di hadapan Zevan sehingga menampakan matanya yang kini berbentuk seperti bulan sabit.


"Eoh?" kaget Zevan, dirinya langsung menegakkan tubuhnya.


Pemuda itu tanpa basa-basi langsung duduk di samping Jungkook. Zevan menoleh ke arahnya dan menggoreskan senyumannya. Lalu dia menghadap ke depan lagi, menatap kosong kolam hias di depannya. Dia melepas satu headseat dari daun telinga kanannya.


"Apa yang kau lakukan disini, Van?"


"Kurasa tempat ini sangat enak. Jadi aku hanya menikmati suasana disini. disini sangat membuatku nyaman, Alvan." Zevan menjawab pertanyaan dari Alvan dengan matanya yang masih menatap kosong ke depan.


"Tak ku sangka kau juga suka tempat ini, aku juga sangat suka tempat ini" tambah Alvan yang kini juga ikut menatap kolam hias itu.


"Hmmmmm," gumam Zevan sembari mengangguk.


Zevan masih menikmati alunan lagu yang keluar dari headseatnya yang sukses membuat Alvan bingung menaikan alisnya.


"Kau sedang mendengarkan apa?" tanya Alvan penasaran.


Mendengar pertanyaan Alvan seketika Zevan tersenyum sekilas. Lalu mengambil 1 headseat nya yang sedari tadi dibiarkannya menggantung dibawah sejak Alvan datang.


Alvan semakin menaikan alisnya ketika Zevan menggantungkan headseat di daun telinga kanannya.


Alvan mengerti akan sikap Zevan untuk ikut mendengarkan apa yang didengarkan oleh Zevan. Sesaat mereka saling terdiam. Alvan kembali menghadap ke Zevan


"Kau suka musik jazz?" tanya Alvan kembali penasaran.


"Ya, aku sekali. Memangnya kenapa, kau baru tahu ya," ucap dan tanya Zevan tersenyum.


"Aiissh! Oh ya, Van! Beberapa hari ini aku sering melihatmu disini. Ada apa?" tanya Alvan.


"Aku lagi bingung, Alvan."


"Bingung kenapa sih, Zevan?"


"Aku bingung harus bersikap seperti apa pada keenam kakakku," jawab Zevan.


"Memangnya mereka kenapa lagi? Apa mereka masih terus menyakitimu?" tanya Alvan.


"Mereka tidak menyakitiku lagi. Tapi sebaliknya. Mereka kembali menyayangiku," jawab Zevan.


"Seharusnya kau bahagia karena keinginanmu terpenuhi. Bukannya ini yang kau mau. Kau ingin mereka kembali menyayangimu," ujar Alvan.


"Ya, aku tahu. Tapi ini seperti mimpi, Van! Mereka semua menyayangiku secara tiba-tiba. Saat aku sadar, mereka semua sudah berada di kamarku. Mereka semua menangis. Saat itu aku benar-benar bingung. Mereka bilang padaku kalau aku pingsan dan aku juga demam. Aku takut, Van!" Zevan berbicara dengan suara lirihnya.


"Apa yang harus kau takutkan, hum? Mereka sudah kembali menyayangimu, Van." Alvan berusaha menghibur Zevan.


"Enam tahun mereka membenciku. Dan tiba-tiba mereka menyayangiku kembali. Dan aku takut mereka kembali menyakitiku lagi," lirih Zevan.


Lalu terdengar suara seseorang yang mereka kenal. "Jalani saja seperti biasanya, Zevan!" seru Agung.


Zevan dan Alvan langsung melihat kesumber suara dan dengan kompak menjawab. "Kakak Agung!"


Lalu pemuda itu duduk di samping Zevan. Berarti posisi mereka Alvan, Zevan dan Agung.


"Jalani saja kehidupanmu seperti biasanya saat mereka masih membencimu. Jangan kau perlihatkan rasa bahagiamu depan mereka. Dari situ kau bisa melihat apa mereka benar-benar sudah kembali menyayangimu atau hanya kepura-puraan saja." Agung berucap sembari memberikan saran kepada Zevan.


"Aku Setuju apa yang dikatakan oleh kakak Agung. Lakukan saja, Van! Jadi kau tidak perlu bingung lagi," ujar Alvan.


"Baiklah," balas Zevan.


"Ya, sudah! Lebih baik kalian kembali ke kelas. Sebentar lagi bell masuk akan berbunyi. Kalian tidak ada niatan untuk membolos kan," tegur Agung.


Akhirnya mereka memutuskan kembali ke kelas. Mereka juga tidak ada niatan untuk membolos.