BROTHER HUG

BROTHER HUG
Kemarahan Dan Ancaman Galen



Tidak mendapatkan respon apapun dari adik bungsunya. Kevin pun melepaskan pelukannya dan menatap wajah adiknya. Kevin membelai rambut Zevan dan mencium keningnya. Tapi Zevan tetap di posisi yang sama tidak merespon sama sekali. Hanya bola matanya saja yang bergerak melirik melihat keadaan sekitarnya.


"Aku mau ke kamar. Aku lelah," ucap Zevan tiba-tiba dan melangkahkan kakinya menuju kamarnya tapi tiba-tiba tangannya langsung ditahan oleh Marvin dan Aidan.


Zevan terkejut saat melihat kedua kakaknya memegangi tangannya. Dan menariknya untuk duduk di sofa.


"Mau apa kalian! Lepaskan tanganku." Zevan berbicara dengan nada ketus dan tatapan mata yang menatap tajam ke arah Marvin dan Aidan.


Mendengar nada ketus dan melihat tatapan tajam dari Zevan membuat hati mereka sakit. Di dalam hati mereka masing-masing mengatakan 'Zevab apa kau membenci kami?'


Dikarenakan mereka semua sadar bahwa merekalah yang menyebabkan adik bungsunya berubah menjadi seperti saat ini. Mereka semua pun tidak akan marah atau pun tersinggung. Bahkan mereka bertekad untuk mengambil hati adiknya itu. Mereka benar-benar ingin berdamai dengan adik bungsunya itu.


Marvin dan Aidan terus menarik tangan Zevan ke sofa sehingga membuat Zevan pun tidak bisa memberontak.


Kini Zevan sudah duduk di sofa dengan menatap tajam satu persatu wajah kakak-kakaknya itu.


Sementara Kevin, Dallin, Marvin, Aidan, Abyan dan Galen berusaha untuk tidak menatap mata Zevan. Hati mereka benar-benar sakit ketika melihat tatapan tajam yang diberikan oleh Zevan.


"Buka ke mejamu, Vab!" Kevin berseru.


Zevan yang mendengar itu membulatkan matanya dan mentautkan kedua alisnya.


"Apa perlu kakak bantu untuk membukakan ke mejamu itu, hum?" goda Abyan.


Walau Zevan dibuat bingung oleh semua kakaknya. Tapi Zevan masih terus menatap penuh kebencian keenam kakaknya itu.


"Jangan menatap kami seperti itu. Apa kau ingin memakan kami hidup-hidup, hum?" tanya Dallin. Dallin juga ikut menggoda adiknya.


Akhirnya Zevan pun membuka ke mejanya. Dan sekarang Zevan dalam keadaan toples di bagian atas.


Kevin,, Dallin, Marvin, Aidan, Abyan dan Galen dapat melihat ada luka lebam di punggung Zevan. Mereka semua menangis melihat luka itu. Dan Kevin pun langsung mengolesi obat di punggung Zevan.


"Maafkan kakak, Van." Kevin berucap lirih.


Kevin terus mengolesi obat di punggung Zevan sehingga membuat Zevan sedikit merasakan sakit di area punggungnya. Zevan memejamkan matanya untuk menahan rasa sakit itu dan tanpa sadar air matanya mengalir di pipinya. Zevan menangis.


Apa Zevan menangis karena menahan rasa sakit di punggungnya atau menangis atas perlakuan lembut kakak-kakaknya. Entahlah! Hanya Zevan yang tahu.


Mereka melihat Zevan menangis. Hati mereka lagi-lagi sakit.


Aidan memberanikan diri untuk memeluk Zevan adik bungsunya.


"Menangislah, Van. Jangan kau menahan rasa sakitmu sendiri. Berbagi dengan kami, kakak-kakakmu. Maafkan kami. Maafkan semua kesalahan kami padamu."


Terdengar isakan yang keluar dari mulut Zevan, lalu kemudian Zevan melepaskan pelukannya dari Aidan dan kembali menatap kakak-kakaknya dengan air mata yang membasahi pipinya.


"Kenapa kalian seperti ini padaku? Kenapa sikap kalian selalu berubah-ubah? Belum puaskah kalian menyakitiku selama ini. Kenapa kak? Kenapa?!" teriak Zevan.


"Oh, aku tahu! Apa ini salah satu trik kalian agar aku luluh akan sikap kalian, hah?! Setelah itu kalian bisa kembali bersikap buruk kepadaku."


"Zevan," lirih mereka semua.


Kevin mengangkat tangannya ingin mengusap air mata Zevan yang membasahi pipinya. Namun Zevan menepis tangan Kevin dengan kasar.


"Sudah cukup! Jangan permainan aku lagi. Aku lelah. Dan benar-benar lelah menghadapi sikap kalian itu! Seperti yang aku katakan kemarin. Menjauhlah dariku. Jangan usik kehidupanku lagi. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Dan aku sudah tidak membutuhkan kalian lagi!"


"Zevan!" teriak Kevin, Dallin, Marvin, Aidan, Abyan dan Galen bersamaan dengan menggelengkan kepalanya masing-masing.


Baik Kevin, Dallin maupun Marvin, Aidan, Abyan dan Galen tidak terima apa yang barusan dikatakan oleh Zevan.


"Hiks... Vab. Kakak mohon. Jangan lakukan itu... Hiks," isak Galen.


"Aku tidak peduli. Sekali lagi aku katakan. Jangan mengusikku."


Setelah mengatakan itu, Zevan langsung berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan kakak-kakaknya menuju kamarnya.


Tinggallah mereka berenam di ruang tengah sekarang. Mereka menatap kepergian Zevan menuju kamarnya dengan tatapan sedih. Mereka menangis. Hati mereka terluka saat mendengar penuturan dari Zevan. Tidak ada lagi kepercayaan dalam diri sibungsu untuk mereka. Bahkan adik bungsu mereka sudah tidak mengharapkan mereka lagi.


Galen berdiri dari duduknya, lalu menatap penuh amarah ke arah Kevin. Dan jangan lupa air matanya yang masih mengalir membasahi pipinya.


"Ini semua salahnya kak Kevin!" teriak Galen.


"Galen," lirih Kevin.


"Kak Kevin sudah menghancurkan semuanya. Awalnya Zevan sudah bahagia ketika kita semua kembali padanya. Menunjukkan sikap kita yang sebenarnya padanya bahwa selama ini kita tidak benar-benar membencinya. Bahkan kakak juga memeluknya untuk pertama kalinya setelah sekian lama kakak tidak memberikan pelukan itu untuk Zevan. Setelah Zevan merasakan kebahagiaan itu, kakak kembali menyakitinya dengan menampar Zevan hanya karena Zevan pulang dalam keadaan luka lebam di wajahnya!"


"Kak Kevin jahat. Gara-gara ulah kak Kevin. Kita semua kena imbasnya. Seharusnya hanya kak Kevin saja yang dibenci oleh Zevan. Tapi kenapa kami dibawa-bawa, terutama aku dan Abyan!"


"Pokoknya aku tidak mau tahu. Zevan harus kembali lagi padaku. Jika Zevan tidak kembali padaku, maka aku juga akan menjauh dari kakak."


Mendengar perkataan dari Galen membuat Kevin, Dallin, Marvin, Aidan dan Abyan terkejut. Mereka semua tidak menyangka jika Galen akan berkata seperti itu.


"Galen!" bentak Dallin, Marvin dan Aidan.


Sementara Kevin sudah menangis mendengar penuturan dari Galen.


Setelah mengatakan itu, Galen berlari menuju kamarnya di lantai dua.


"Galen," lirih Kevin


Kevin, Dallin, Marvin dan Aidan melihat ke arah Abyan.


"Abyan," panggil Marvin lembut.


"Maafkan aku kak. Aku juga sama seperti Galen. Aku ingin Zevan kembali padaku."


Setelah mengatakan itu, Abyan pergi meninggalkan keempat kakaknya untuk menuju kamarnya di lantai dua.