BROTHER HUG

BROTHER HUG
Mengetahui Kejadian Yang Sebenarnya



Kampus..


Kelompok Leopark tengah berkumpul di taman belakang kampus. Mereka sering menghabiskan waktu bersama ditaman itu.


"Sikelinci sama simingtem kemana sih? Kenapa mereka lama sekali keluar kelasnya?" gerutu Cavero Carim yang sering dipanggil dengan nama Vero.


"Sabar kenapa sih, Vero? Sebentar lagi mereka juga datang. Kau pikir mereka itu sama sepertimu yang bermalas-malasan dalam belajar dan ingin buru-buru keluar dari kelas. Mereka berdua itu sangat rajin kalau urusan kuliah. Apalagi Zevan. Dia tidak mau sampai ketinggalan materi kuliahnya, walau hanya dua menit." Atha Zander atau sering dipanggil dengan Atha berucap sambil mengejek Vero.


"Sialan kau," umpat Vero sambil melemparkan kacang yang ada di tangannya ke wajah Atha.


Sedang Biyan dan Agung hanya geleng-geleng kepala dan tertawa melihat tingkah laku Vero dan Atha.


^^^


Galen sedang mencari Zevan dan kebetulan Galen bertemu dengan teman sekelas Zevan, lalu Galen memberanikan diri untuk bertanya pada orang itu.


"Permisi," panggil Galen.


Lalu orang yang dipanggil pun menoleh. "Ada apa?" jawab orang itu lembut.


"Bukankah kau teman sekelas Zevan? Apa Zevan sudah keluar dari kelasnya?" tanya Galen.


"Ooh, sudah! Kelas kami sudah bubar sepuluh menit yang lalu. Dan kelasnya pun sudah kosong."


"Kira-kira kau tahu tidak dimana biasanya tempat nongkrong Zevan dan teman-temannya?" tanya Galen.


"Tahuu," jawab orang itu.


"Dimana ya? Bisa beritahu aku dimana Zevan dan teman-temannya nongkrong?" pinta Galen.


"Mereka biasa nongkrong di taman belakang kampus. Hanya mereka yang selalu kesana. Tidak ada orang lain yang berani kesana."


"Ooh! Kalau begitu terima kasih untuk informasinya," ucap Galen.


Tanpa pikir panjang lagi, Galen langsung ke taman belakang kampus untuk mencari informasi mengenai luka di punggung adiknya.


^^^


Sampailah Galen di taman belakang kampus. Galen dapat melihat ada enam pemuda yang sedang tertawa. Dan Galen tidak melihat keberadaan Zevan adiknya.


"Kenapa Zevan tidak ada? Kemana Zevan? Apa orang itu salah memberikan informasi padaku?" monolog Galen.


Saat Galen ingin melangkahkan kakinya pergi meninggalkan taman tersebut, Galen mendengar salah satu dari mereka menyebut nama Zevan adiknya. Dan pada akhirnya Galen membatalkan niatnya untuk pergi dari sana dan menguping pembicaraan mereka.


"Oh iya! Aku dengar kemarin Alvan dan Zevan diganggu oleh kelompok Monsta. Apa itu benar?" tanya Atha.


"Ya. Itu memang benar," jawab Agung.


"Mereka meminta Zevan untuk mematuhi perintah mereka, karena yang mereka tahu Zevan adalah tipikal orang yang tidak gampang diatur dan disuruh-suruh. Jadi mereka terus mencari celah agar Zevan mau mematuhi perintah mereka," jawab Agung.


"Apa mereka berhasil?" tanya Atha.


"Yah, tidaklah! Kau pikir Zevan mau begitu saja mematuhi perintah mereka," sahut Agung.


"Lalu apa yang terjadi pada Zevan dan Alvan, Gung?" tanya Biyan.


"Mereka berdua dipukuli. Kinza mendorong Zevan sangat kuat sampai punggungnya membentur dinding. Lalu sisanya mengeroyok Alvan. Kinza tetap terus memaksa Zevan agar mau mematuhinya, tapi Zevan tetap pada pendiriannya. Itu yang membuat Kinza emosi dan memberikan pukulan demi pukulan ke wajah Zevan. Bahkan Kinza juga memberikan pukulan bagian perut Zevan."


"Sesakit apapun pukulan yang dirasakan Zevan. Zevan tetap pada pendiriannya. Sampai akhirnya Kinza menghina keluarganya. Kinza menghina orang tuanya yang sudah meninggal. Bahkan Kinza menghina Kevin Addison, kakak tertuanya Zevan."


"Dari situlah emosi Zevan tak terkendalikan. Zevan melayangkan satu tendangan tepat di perut Kinza dan mengakibatkan Kinza tersungkur dengan darah yang keluar dari mulutnya. Zevan terus memberikan tendangan pada perut Kinza. Dia tidak peduli dengan keadaan Kinza saat itu. Dan Alvan! Saat melihat Zevan yang terus-terusan menghajar Kinza berhasil melepaskan diri dari kelompok Monsta dan berlari menghampiri Zevan. Alvan memeluk Zevan dari belakang berusaha menenangkan emosi Zevan. Alhasilnya, Alvan berhasil menenang emosi Zevan. Kalau tidak Kinza bisa mati saat itu juga. Karena posisi kaki Zevan tepat di leher Kinza." Agung menceritakan sesuai dengan apa yang diceritakan oleh Alvan kepadanya.


"Tapi sayangnya pengorbanan Zevan tidak dihargai sama sekali oleh kakak-kakaknya. Lebih tepatnya oleh kakak tertuanya Kevin Addison!" seru Alvan yang tiba-tiba datang dan langsung menyambar pembicaraan teman-temannya.


"Yak, Alvan! Kau ini kebiasaan sekali. Datang-datang langsung main masuk dalam pembicaraan orang lain. Kau sama sekali tidak ada sopan santunnya," ujar Atha.


"Van! Apa maksud perkataanmu barusan? Kau mengatakan bahwa pengorbanan Zevan tidak dihargai oleh kakak-kakaknya?" tanya Cody.


"Zevan ditampar oleh kak Kevin. Padahal saat itu Zevan sangat kelelahan. Ditambah lagi Zevan mati-matian menahan nyeri di punggungnya. Zevan ditampar oleh kak Kevin, karena kak Kevin berpikir kalau Zevan sering berkelahi di kampus, karena Zevan pernah pulang dalam keadaan wajah lebam. Padahal Zevan tidak pernah berkelahi maupun buat onar," tutur Alvan.


Galen yang masih menguping pembicaraan teman-temannya Zevan sudah tidak bisa membendung air matanya. Dirinya menangis tersedu-sedu saat mengingat kejadian saat Zevan ditampar oleh kakak tertuanya.


"Zevan. Maafkan kakak yang tidak menolongmu saat itu. Jujur! Kakak bangga padamu. Kau adalah kebanggaan kakak." monolog Galen.


Galen memutuskan pergi meninggalkan taman tersebut. Dia sudah tidak kuat lagi untuk mendengarkan semua perkataan teman-temannya Zevan. Dan tanpa disadari, Galen menabrak seseorang. Orang itu adalah Abyan.


"Galen, kau kenapa? Kenapa kau menangis, hah?" tanya Abyan khawatir.


"Abyan," lirih Galen.


"Sudah.. Sudah!! Lebih baik kita pulang. Kau jelaskan nanti sampai di rumah," hibur Abyan.


"Dari tadi kita berbicara soal Zevan, tapi orang yang kita bicarakan sampai sekarang belum kelihatan batang hidungnya. Memangnya Zevan kemana?" tanya Ferrel.


"Van!! Bukannya kau sekelas dengan Zevan. Kenapa kau tidak bersamanya?" tanya Agung.


"Tadi Zevan bilang padaku kalau dia akan ke ruang Rektor ada urusan. Selesai dari sana, Zevan akan langsung kesini." Alvan menjawab pertanyaan dari Agung kakak sepupunya.


"Tapi ini sudah setengah jam, tapi Zevan belum juga datang. Atau jangan-jangan kelompok Monsta cari gara-gara lagi dengan Zevan," tutur Vero.


Tanpa berpikir panjang lagi. Mereka pun berlari meninggalkan taman tersebut untuk mencari Zevan.