
Namun detik kemudian terdengar igauan yang keluar dari bibir Zevan.
"Papa.. Mama! Aku merindukan kalian berdua. Aku merindukan kasih sayang kalian. Aku merindukan pelukan hangat dari kalian. Jemput aku Ma, Pa! Tidak ada yang menyayangiku disini. kakak membenciku."
Deg..
Jantung mereka berdegup kencang. Hati mereka sakit saat mendengar igauan adik bungsu mereka. Serapuh inikah adik mereka. Tanpa mereka minta, air mata pun jatuh membasahi pipi mereka masing-masing.
Kevin mendekati Zevan dan membenarkan posisi tidur adiknya itu. Kevin menarik pelan kedua tangan Zevan secara hati-hati agar tidak membuat adiknya terbangun. Usaha Kevin berhasil, Zevan dalam posisi duduk walau matanya masih terpejam.
Lalu tiba-tiba Zevan menjatuhkan kepalanya tepat di perut Kevin. "Kakak... Kakak Kevin!! Aku menyayangimu. Dari dulu sampai sekarang aku tetap menyayangimu. Tapi... Hiks. Kau jahat padaku, kak. Apa kesalahanku, kak? Kenapa kau sangat membenciku."
Tangis Kevin pecah. Hatinya hancur, hatinya sakit mendengar rentetan igauan adik bungsunya. Kevin langsung memeluk Zevan dengan erat seakan tidak akan mau melepaskan adiknya dan berulang kali memberikan kecupan-kecupan sayang di kepala Zevan.
"Maafkan kakak. Maafkan kakak."
"Aku menyayangimu bahkan aku juga membencimu." Zevan kembali mengigau.
"Hiks... kakakĀ menyayangimu, Van. Jangan benci kakak."
Beberapa menit kemudian, Zevan membuka matanya. Dan seketika Zevan terkejut saat melihat dirinya berada dalam pelukan seseorang. Seseorang yang sangat dirinya rindukan sekaligus dibenci. Zevan dengan reflek langsung melepaskan pelukannya dari Kevin.
"Kenapa kalian ada di kamarku? Dan apa yang kalian lakukan?" tanya Zevan ketus dan menatap tak suka keenam kakak-kakaknya.
Mendengar ucapan ketus dan tatapan tak suka Zevan membuat hati mereka sakit. Namun mereka berusaha untuk tidak mempedulikan akan ucapan dan tatapan dari Zevan. Saat ini yang mereka pikirkan adalah untuk mendapatkan kembali kepercayaan dari Zevan. Jika mereka berhasil, mereka semua berjanji akan menjadi kakak yang baik untuk Zevan. Mereka akan melakukan apapun untuk Zevan.
Mereka menatap Zevan dengan senyuman di bibir masing-masing. Dan detik kemudian mereka memeluk Zevan. Menyalurkan rasa sayang, rasa rindu untuk adik mereka.
Zevan menolaknya dan berusaha melepaskan pelukan tersebut. Namun terdengar suara lembut dari salah satu kakaknya.
"Biarkan seperti ini untuk beberapa menit, Van! Kami benar-benar menyayangimu."
Mendengar permintaan tersebut, Zevan pun membiarkan keenam kakaknya memeluknya. Zevan tidak memberikan reaksi apapun seperti dengan membalas pelukan keenam kakaknya. Zevan bersikap biasa saja. Zevan sama sekali tidak merasakan apapun dari pelukan itu. Mungkin hati Zevan sudah mati rasa sehingga Zevan tidak merasakan setiap pelukan yang diberikan oleh keenam kakaknya itu.
Setelah merasa waktu yang diberikan Zevan sudah cukup. Zevan pun akhirnya melepaskan pelukan dari keenam kakaknya itu.
"Lepas!" Zevan berucap dengan nada ketusnya.
Dan pada akhirnya, keenam kakaknya pun melepaskan pelukan mereka. Setelah pelukan terlepas. Mereka semua menatap wajah Zevan. Sementara Zevan menatap ke arah lain.
"Lebih baik kalian keluar dari kamarku."
"Van," lirih mereka semua.
"Keluar!" teriak Zevan.
"Baiklah, kami akan keluar." mereka menjawab dengan kompak.
Dengan hati yang sedih dan terluka, mereka semua pun pergi meninggalkan kamar Zevan. Mereka tidak ingin membuat Zevan makin marah jika mereka masih tetap di kamarnya.
Namun ketika mereka ingin keluar dari kamar Zevan. Kevin menghentikan langkahnya dan membalikkan badan dan menatap Zevan.
"Zevan," panggil Kevin.
"Apa lagi," jawab Zevan dengan ketus tanpa menolehkan wajahnya melihat Kevin.
"Apa kamu lupa? Kamu meminta Bibi Arum untuk membuatkan makanan untuk kamu. Kamu bilang belum makan di kampus. Bibi Arum sudah memasakkannya untuk kamu, tapi saat bibi Arum membawakannya ke kamar kamu, tapi kamu nya tidur," tutur Kevin.
Mendengar ucapan dari kakak tertuanya itu membuat Zevan tersadar dan ingat apa yang dia minta kepada Bibi Arum.
Setelah itu, Zevan langsung berlari menuruni anak tangga menuju dapur.
"Yaak, Van!" teriak mereka kompak saat melihat Zevan yang berlari menuruni anak tangga. Mereka khawatir kalau Zevan sampai jatuh.
^^^
Di Meja Makan..
"Bibi," panggil Zevan.
Yang dipanggil pun segera datang. "Tuan muda Zevan. Ada apa memanggil, bibi?"
"Eeemm! Maafkan aku ya, Bi. Aku benar-benar lupa. Bibi sudah memasak makanan untukku kan? Mana, Bi? Biar aku habiskan," tutur Zevan tersenyum.
"Kalau begitu tunggu sebentar tuan muda. Bibi akan panaskan dulu," ujar Bibi Arum dan pergi ke dapur.
Para kakak-kakaknya pun datang. Dan mereka semua berkumpul di meja makan. Sedangkan Kevin sudah berada di dapur membantu Bibi Arum.
Mereka menatap Zevan dengan gemas. Yang ada pikiran mereka, Zevan itu sangat imut seperti anak kecil berusia 5 tahun sekalipun dalam keadaan moodnya yang buruk. Mereka yakin dan sangat yakin bahwa adik bungsu mereka tidak benar-benar marah pada mereka. Dan mereka akan berusaha untuk mengambil hati adik mereka kembali.
Zevan yang merasa dirinya ditatap oleh kakak-kakaknya, kembali balik menatap kakak-kakaknya itu.
"Kenapa kalian menatapku? Apa ada yang salah dengan wajahku?" tanya Zevan dengan wajah datarnya.
"Kakak selama ini telah salah dengan mengabaikanmu, Van. Seharusnya kakak menyadarinya dari awal kalau kakak memiliki adik yang begitu tampan dan manis. Kenapa kakak bisa bodoh seperti ini ya? Seharusnya kakka tidak melakukan hal itu," goda Galen.
"Ya, Kau benar sekali, Gal! Kita memang benar-benar bodoh telah mengabaikan, membenci dan menjahati adik yang begitu lucu, imut dan menggemaskan ini." Dallin menambahkan.
"Bukan itu saja kak. Adik bungsu kita ini selain wajahnya tampan dan imut, wajahnya juga cantik. Kenapa ya kita bisa bodoh seperti ini sampai tidak menyadarinya?" ucap Abyan yang menahan tawanya.
Zevan tidak mempedulikan ocehan-ocehan yang tidak penting dari kakak-kakaknya itu.
"Makanannya udah selesai!" teriak Kevin yang datang membawakan masakan yang dimasak olehnya dan diletakkan di atas meja tepat di hadapan Zevan.
Seketika terukir senyuman manis di bibirnya saat melihat makanan kesukaannya ada di hadapannya. Zevan pun langsung melahap makanan itu.
Melihat senyuman manis Zevan ketika melihat makanan kesukaannya membuat para kakak-kakaknya tersenyum bahagia. Apalagi ketika melihat Zevan yang begitu lahap memakannya.
"Bagaimana Van? Enak tidak masakan kakak?" tanya Kevin.
"Biasa saja," jawab Zevan tanpa perasaan.
Mendengar jawaban dari Zevan membuat hati Kevin sakit. Dirinya berharap adik bungsunya itu memuji masakannya.
Melihat wajah sedih Kevin. Dallin yang duduk di sampingnya langsung mengusap-ngusap lembut punggung kakaknya.
"Jangan dimasukkan ke dalam hati apa yang barusan Zevan ucapkan. Aku yakin Zevan bicara seperti itu karena Zevan masih marah dengan kita. Jika Zevan sudah baikan dengan kita, maka Zevan orang pertama yang akan memuji masakan kakak."
"Apa yang dikatakan oleh kakak Dallin benar, kak Kevin? Jadi aku harap kakak tidak berkecil hati akan ucapan Zevan barusan," sela Marvin.
"Iya. Kakak tidak sama sekali tidak marah apalagi tersinggung akan ucapan Zevan. Jika masakan kakak tidak enak. Mana mungkin Zevan selahap itu memakannya," sahut Kevin yang melihat adik bungsunya begitu menikmati makanannya.
Mendengar perkataan Kevin, mereka semua tersenyum. Mereka tersenyum melihat Zevan yang begitu lahap memakan makanan yang dibuatkan oleh Kevin dan bibi Arum.
Sementara Zevan tetap fokus pada makanannya. Dirinya tidak mempedulikan keenam kakaknya yang menatapnya sambil ghibahin dirinya.